Ciuman Paksa

1126 Words
Sore itu, Aruna baru saja menurunkan baki gelas dari meja makan ketika langkah kaki beberapa orang wanita terdengar dari arah koridor utama. Suara tawa menggema pelan, berbaur dengan aroma parfum mahal yang menusuk hidung. Ia menoleh. "Siapa mereka? Cantik sekali,seksi pula."Aruna menggerutu dalam batinnya. Dia terpaku melihat para wanita cantik melewati koridor ruang tamu. Dua anak buah Rafael tampak menuntun seorang wanita berpenampilan mencolok , gaun hitam ketat, bibir merah menyala, langkah percaya diri yang kontras dengan kesederhanaan rumah tangga yang tadi sibuk di dapur. “Siapa dia?” bisik salah satu maid di belakang Aruna. "Dia..salah wanita yang dipilih khusus untuk melayani tuan Rafael malam ini,"ujar Dora pada Hilda. "Owh...lumayan seksi dan ..cantik,"bisik Hilda. "Mana mungkin tuan Rafael dengan wanita seperti kita, sudah pasti dia akan memilih wanita-wanita yang cantik dan seksi, kamu gimana sih." "Ku dengar ...mereka juga banyak yang terpaksa karena faktor ekonomi,"Dora kembali berbisik. "Ssst, sudah ahh, nanti ada dengar, bisa bahaya kita, ayo lanjut kerja." Aruna hanya terdiam. Tapi matanya menangkap dengan jelas saat wanita itu melangkah menuju tangga, menebar senyum pada penjaga, lalu menaiki anak tangga menuju lantai atas, ke arah kamar Rafael. "Ya Tuhan....sungguh aku tidak mau...jika nasibku sama seperti wanita-wanita itu."Batin Aruna. Jantung Aruna tiba-tiba berdegup lebih cepat tanpa alasan. Ada perasaan aneh di dadanya, campuran bingung, muak, dan… entah kenapa, sedikit perih."Dasar laki-laki kejam, dan m***m. Ternyata dia... suka sekali bermain wanita."Aruna kembali menggerutu dalam batinnya. Salah satu pelayan Rafael sempat berhenti di dekat Aruna dan berujar datar, “Jangan heran, dalam Dunia Tuan Rafael memang begitu. Kau bukan satu-satunya yang ada di rumah ini.” Aruna menggenggam tangan di depannya, menahan getar di dadanya. Ia tidak tahu kenapa ia peduli, seharusnya ia membenci pria itu, bukan merasa terguncang. "Aku tidaj peduli, apapun yang dia lakukan, bagiku dia hanya laki-laki kejam dan mesum."suara lirih Aruna.Nampak tatapannya menyorot tajam arah kamar Rafael. Beberapa jam kemudian, mansion itu sunyi. Para maid sudah pergi ke kamar masing-masing, namun Aruna masih terjaga. Dari balkon kamarnya yang kecil, ia melihat cahaya lampu di lantai atas masih menyala samar."Huffft, laki-laki itu pasti sedang bersenang-senang, tapi mengapa aku harus mengetahui semua ini?Dan kenapa aku memikirkan hal itu?" Ia memandang ke arah jendela kamar Rafael, perasaannya campur aduk. “Dia pria kejam,” bisiknya pelan. Namun, d**a Aruna tetap terasa sesak, "Jika disampingnya banyak wanita, lalu ...apa gunanya dia mengurungku di rumahnya?"Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dibenaknya.Perasaan yang campur aduk saat ini. Dan di sisi lain, Rafael duduk di ruangannya, sendiri. Wanita yang dikirim anak buahnya sudah ia usir sejak tadi. Ia tak butuh siapa pun malam itu. Tapi entah mengapa, bayangan gadis keras kepala yang menatapnya dengan mata penuh amarah terus muncul di pikirannya. Rafael meneguk minumannya pelan dan berbisik lirih, Beberapa saat sebelumnya.... Langkah kaki terdengar melalui sepatu berhak tinggi. Nampak dua orang wanita cantik dan seksi dengan aroma parfum menyeruak ke seluruh ruangan, tengah berjalan menuju kamar utama milik Rafael. "Tok tok."Suara ketukan dari balik pintu kamar Rafael. "Ada apa?"Jawaban dari Rafael. "Tuan...aku datang bersama para wanita, yang akan memijat dan menemani anda malam ini,"ujar Reno. "Heumm, masuklah."Perintah Rafael. "Baik tuan."Reno menyuruh dua orang wanita tersebut untuk masuk. "Masuklah."Mereka pun mengangguk. Saat dua wanita itu masuk. Dan mulai melakukan satu persatu tugas mereka. Namun entah kenapa, saat salah satu wanita mengelus wajah Rafael. Dia mendorong wanita tersebut. Bayangan wajah polos Aruna terlintas di benaknya. "Pergi...Tinggalkan aku sendiri!"Rafael kembali memakai Kimononya, dia menatap jauh ke jendela besar kamarnya. Kedua wanita itu saling menatap bingung, tak tahu harus bagaimana, karena mereka hanya mengikuti perintah. "Bbaik tuan."Mereka pun berlalu dari hadapan Rafael. “Ada apa denganku?Kenapa Aruna… bisa membuat pikiranku berantakan begini?”Rafael menggenggam erat gelas berisi wine. Tatapannya tajam menembus dinding kamarnya. Malam itu, Rafael merasa perlu untuk merilekskan tubuhnya. "Aku ingin ke sauna, siapkan semuanya. "Perintah Rafael pada samg asisten. "Baik tuan." Uap hangat memenuhi ruangan sauna yang luas dengan dinding kayu dan aroma peppermint yang menenangkan. Aruna melangkah perlahan, membawa nampan berisi minuman dingin sesuai perintah salah satu pelayan senior. Sedangkan saat Aruna hendak istirahat, tiba-tiba saja sebuah ketukan pintu terdengar."Aruna...kamu di suruh ke ruang sauna, untuk membawakan minuman untuk tuan Rafael,"ujar Rafael. "Aaku?" "Iya ...kamu."Dora mengangguk pelan. "Tapi...ini sudah malam." "Ayolah...kamu tahu bukan, akibatnya kalau menolak."Dora kembali mengernyitkan keningnya. "Huhhh, baiklah."Aruna menarik napas pelan. Aruna menuju dapur dan membuka rak khusus wine. Dia membawa nampan dan berjalan dengan perasaan campur aduk.Rasa gugup dan takut pastinya menyelimuti hatinya saat ini. "Pak, ini...dibawa kemana ?"Tanya Aruna pada Reno. “Bawa ke ruang sauna, Tuan Rafael sudah menunggu,” begitu katanya. Aruna menarik napas panjang sebelum."Huhhhhh."Dia membuka pintu kaca besar itu. Seketika, semburan uap panas menyambutnya dan matanya membulat sesaat melihat Rafael duduk santai di tepi kolam air hangat. "Arrgggh," Tubuhnya hanya terbalut handuk di pinggang, d**a bidangnya basah berkilau oleh embun panas. Aruna buru-buru menunduk, wajahnya memanas. “Mi… minumannya, Tuan,” ucapnya terbata, berusaha tetap tenang. Rafael menoleh perlahan, senyumnya samar,.dingin tapi menggoda. “Taruh di sini,” katanya sambil menunjuk meja kecil di dekatnya. Aruna menelan ludah, melangkah hati-hati mendekat, berusaha tidak menatap pria itu. Tapi setiap langkah terasa seperti ujian kesabaran,. hawa panas dari sauna bercampur dengan gugup yang membuat wajahnya semakin merah. “Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Rafael datar, suaranya rendah dan serak. “Ap… apa, Tuan?” “Kau seperti orang yang takut melihatku.” Aruna menunduk lebih dalam, menahan diri agar tidak membalas. Tapi Rafael berdiri, melangkah perlahan ke arahnya, air menetes dari tubuhnya, langkahnya tenang namun mengintimidasi. “Dengar, Aruna,” ucapnya pelan, namun tajam. “Kalau kau mau hidup di bawah atap ini, berhentilah gemetar setiap kali aku bicara. Aku bukan monster.” Aruna mendongak sejenak, menatap matanya yang tajam, mata yang dulu membuatnya takut, tapi entah kenapa kini membuat dadanya berdebar aneh. “Kalau Tuan bukan monster,” ujarnya lirih, “kenapa Tuan memperlakukan orang lain seperti b***k?” Rafael menatap lama. Tak ada jawaban. Hanya tatapan yang entah marah atau kagum pada keberanian gadis itu. Hening beberapa detik, lalu Rafael berbalik menuju kolam, suaranya tenang namun dalam. "Apa...kau merasa seperti b***k?Kurasa...kau yang memilih jalan itu bukan?"Rafael dengan senyuman smirknya. "Kau....menjebakku sehingga aku seperti ini."Aruna dengan nafas memburu. "Ha ha ha, kau...bisa saja menjadi ratu di rumahku asalkan....kau mau melayaniku dengan baik." "Jangan mimpi."Aruna dengan nada tegas. Rafael meradang dan menangkup wajah Aruna kemudian mencium ganas bibir Aruna. Dan dia membuat Aruna tak bisa bergerak. Aruna nampak berontak memukul d**a Rafael namun dia tak berdaya. "Ehmmmpppt, lepas." Rafael melepas ciuman paksanya. “Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran.” Aruna menunduk cepat, berbalik dan keluar dengan langkah cepat. Tapi saat pintu tertutup di belakangnya, Rafael memejamkan mata, menenggelamkan diri ke air hangat. Untuk pertama kalinya, ada suara lembut yang mengusik pikirannya lebih kuat dari suara apapun di dunia kelam yang ia miliki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD