Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai tipis kamar besar itu. Aruna masih duduk di tepi ranjang dengan pakaian yang sama seperti semalam, kemeja putih lusuh dan rok kampus yang kini kusut. Matanya sembab karena menangis, tapi sorotnya tetap keras.
Beberapa maid masuk perlahan sambil membawa pakaian bersih dan perlengkapan mandi. Mereka saling pandang dengan ragu sebelum salah satu dari mereka berbicara lembut,
"Tok tok."Suara ketukan dari balik pintu terdengar jelas. "Siapa ?"Tanya ragu Aruna.
“Nona… mohon maaf, Tuan Rafael meminta kami membantu Anda bersih-bersih dulu. Setelah itu, sarapan sudah disiapkan di ruang makan.”
Aruna menatap mereka tajam. “Aku tidak butuh bantuan siapa pun.”
“Tapi, Nona…”
“Aku bilang tidak!” suaranya meninggi, membuat para maid saling berpandangan ketakutan."Nona...kami mohon, nona harus patuh, jika tidak mau...."
"Tidak mau apa?Memangnya siapa dia ?Dia itu monster menakutkan yang hanya berani pada orang lemah!"Aruna dengan nada gemetar. Dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
Ia bangkit, berdiri tegak meski tubuhnya lemah. “Kalian pikir aku akan berpura-pura nyaman di sini? Aku bukan tamu, aku tebusan hutang! Jadi berhenti memperlakukanku seperti orang yang ingin tinggal di sini.”
Maid yang paling tua menunduk, suaranya bergetar, yaitu Dora.
“Tuan Rafael akan marah kalau kami tak melakukan tugas kami, Nona…”
Aruna menatap mereka sejenak, lalu berkata dingin,
“Itu urusan kalian. Aku tidak akan mengganti pakaian, dan aku tidak akan menyentuh apa pun dari rumah ini. Aku tidak sudi!"
"Nona...ayolah...kasihanilah kami."Dora berusaha membujuk.
Ketegangan itu akhirnya terdengar sampai ke bawah. Seorang penjaga melapor kepada Rafael yang tengah membaca laporan di ruang kerjanya. Dengan wajah datar, pria itu berdiri dan melangkah naik ke lantai dua.
"Tuan... gadis itu...sepertinya melawan saat para maid hendak membersihkan dan menggantikan pakaiannya,"ujar seorang anak buah Rafael bernama Arnold.
Rafael dengan tatapan datar ke arah balkon sambil menyeruput segelas kopi pun menanggapinya, "Heumm...biar aku yang menangani gadis itu."Rafael pun bergegas dengan kimononya. Dia baru saja selesai mandi. Dengan langkah panjangnya dia berjalan ditemani anak buahnya, menuju kamar yang didiami Aruna.
Begitu pintu kamar terbuka, para maid langsung menunduk ketakutan.
Rafael berdiri di ambang pintu, menatap Aruna yang masih berdiri tegak di tengah ruangan. Gadis itu menatap balik tanpa gentar.
“Kenapa kau menolak mereka?” tanyanya datar.
Aruna menegakkan bahunya. “Karena aku tidak akan bersikap seperti b***k yang berterima kasih sudah dikurung di istana yanv dingin dan menyeramkan ini.”
Rafael mendengus pelan, kemudian melangkah masuk.
“Kau bisa membuat hidupmu di sini lebih mudah kalau tidak melawan. Aku tidak akan menyakitimu, Aruna. Tapi aku juga tidak akan mentolerir pembangkangan.”
Aruna menatapnya dengan mata basah, suaranya lirih tapi tegas,
“Lalu apa bedanya kau dengan penculik? Kau mengambilku dari rumahku, dari hidupku, lalu bilang aku bebas kalau utang ayahku lunas? Aku bahkan tidak tahu berapa besar hutang itu.”
Rafael terdiam. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar, rasa yang aneh, antara kesal dan kagum. Ia menatap gadis itu lama, lalu berkata dengan suara dalam,
"Kalian semua keluar!"Rafael mengibaskan tangannya. Hanya dengan satu kode saja, para pelayan dan anak buahnya sudah faham.
"Baiklah Nona, kuharap...kau tahu posisimu, kau hanya gadis tebusan, bukan siapa-siapa, dan jangan berpikir...aku tertarik untuk menyentuhmu."Rafael menatap Aruna dari kepala hingga kakinya."Dan satu hal, nasib keluargamu, bergantung padamu. Kurasa...kau gadis yang cerdas, kau pasti mengerti apa yang ku katakan. Jadi menurutlah dan patuhi perintahku!"Rafael menakup wajah Aruna, yang terlihat gemetar dan pucat.
“Cucilah wajahmu. Sarapan. Lalu ...temui aku di kamarku."
Namun Aruna tetap diam.
Mata mereka saling mengunci , dingin melawan keras kepala, dua dunia yang begitu berbeda, tapi perlahan mulai saling mengguncang.
Akhirnya Rafael menarik napas dan berbalik.
“Baik. Kalau kau ingin perang dingin, aku tak masalah. Tapi kau akan tetap makan hari ini, mau tidak mau.”
Pintu menutup perlahan, meninggalkan Aruna yang mulai menangis diam-diam.
Ia membenci Rafael. "Aku benci laki-laki kejam itu, dia seperti monster, jahat dan tidak punya perasaan."Aruna mengeratkan rahangnya. Tangannya pun mengepal.
"Aku berjanji, tak kan pernah mau tunduk pada laki-laki itu."
Tapi di balik semua ketakutan dan kebencian itu, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh, perasaan yang belum ia mengerti.
Rafael turun ke ruang kerjanya dengan langkah tenang, wajahnya tanpa ekspresi. Ia menyalakan sebatang rokok, duduk di kursi kulit hitam, dan menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion.
Anak buahnya, Marco, masuk membawa laporan keuangan dari bisnis malam sebelumnya, namun ia ragu-ragu membuka percakapan.
“Bos… gadis itu, putri Si Bimo, dia menolak makan dan mandi. Mau kami paksa?”
Rafael menghembuskan asap rokoknya perlahan, lalu tersenyum tipis. senyum tanpa emosi.
“Tidak perlu. Biarkan dia lapar. Cepat atau lambat, dia akan menyerah sendiri.”
Marco menelan ludah. “Baik, Bos. Tapi… gadis itu terlihat ketakutan. Dia...."
“Cukup.” Suara Rafael tajam. “Jangan bicara seolah aku peduli.”
Ia mematikan rokok di asbak kaca, lalu menatap Marco tajam.
“Dia hanya bagian dari permainan. Tak lebih dari alat untuk memastikan Bimo tak bisa kabur dari tanggung jawabnya. Setelah aku puas, setelah semua urusan selesai, gadis itu akan bebas. Tapi sampai saat itu tiba, dia milikku, sepenuhnya.”Nada suaranya datar, namun dinginnya menembus udara. Tak ada belas kasihan dalam tatapan matanya, hanya kalkulasi dan kekuasaan.
"Ayo...kita berangkat ke markas."Rafael bangkit dari kursi singgasananya. Dan berjalan dengan tegak menuju tangga.
Sementara itu, di kamar lantai dua, Aruna masih duduk memeluk lutut di pojok tempat tidur. Ia mendengar langkah kaki para penjaga di luar pintu, tapi tak ada yang berani masuk. Perutnya sudah mulai terasa lapar, namun gengsinya menahan semua itu.
“Kalau aku menyerah sekarang,” bisiknya pelan, “aku akan benar-benar kehilangan diriku.” Aruna nampak sudah mandi, namun dia mandi sendiri tanpa bantuan maid. Tanpa disengaja saat Aruna menatap ke arah halaman mansion Rafael, nampak Rafael pun menatap Aruna dari halamannya. Mata mereka bertemu dan saling menatap untuk beberapa saat.
Malam mulai turun. Rafael naik ke lantai dua, bukan untuk menemuinya, hanya melintas menuju kamarnya sendiri. Tapi saat melewati kamar Aruna, ia berhenti sejenak. Dari balik pintu, samar-samar terdengar suara isakan kecil.
"Hiks hiks hiks, ibu...aku mau pulang."Suara isakan tangis tertahan, dari dalam kamar Aruna terdengar.
Rafael diam. Tak ada rasa iba, tak ada niat untuk menenangkan.
Baginya, belas kasihan hanyalah kelemahan , sesuatu yang tak boleh dimiliki seorang pria seperti dirinya."Gadis lemah, dia kira dengan menangis, semua akan berubah!"
Ketukan keras terdengar di pintu kamar. Sebelum Aruna sempat menjawab, pintu terbuka, dan Rafael melangkah masuk dengan langkah tenang namun mengintimidasi. Para maid langsung menunduk dalam, lalu mundur keluar meninggalkan mereka berdua.
Aruna berdiri kaku, menatap pria itu dengan mata waspada.
Rafael menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki — pakaiannya masih sama seperti kemarin, wajahnya pucat, dan rambutnya kusut.
“Jadi ini caramu menunjukkan perlawanan?” suaranya dalam dan dingin.
“Aku tidak berhutang apa pun padamu,” jawab Aruna tegas. “Kalau kau pikir aku akan berubah hanya karena tinggal di rumah besar ini, kau salah.”
Rafael tersenyum sinis, langkahnya perlahan mendekat.
“Berani sekali bicara seperti itu padaku.” Ia berhenti tepat di depannya, menatap lurus ke mata Aruna. “Kau berada di rumahku, di bawah perintahku. Dan aku tidak suka wanita yang keras kepala.”
“Aku tidak peduli.”
Rafael mendengus pelan. “Kalau begitu, aku akan berikan dua pilihan padamu.”
Ia berjalan memutar, suaranya datar namun menusuk.
“Kau bisa memilih untuk bekerja di sini — membantu para maid, melakukan pekerjaan rumah, menjadi seseorang yang berguna.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap tajam.
“Atau… kau bisa tetap keras kepala, dan aku akan memastikan kau belajar dengan cara yang tidak menyenangkan.”
Aruna menegakkan bahunya, menatap tanpa gentar meski jantungnya berdegup kencang.
“Lakukan apa pun sesukamu. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan harga diri hanya karena takut padamu.Tuan Rafael Adrianno."Suara tegas dari seorang gadis muda bertubuh kecil nan rapuh itu nampak sangat menusuk. Hening sejenak. Tatapan Rafael mengeras, tapi di balik dinginnya, ada sesuatu yang sulit diuraikan, rasa kagum yang tidak ia inginkan.
Akhirnya ia melangkah mundur.
“Baik. Kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan keberanianmu.”
Ia menatap para maid di luar pintu. “Berikan dia pakaian kerja. Mulai hari ini, dia akan membantu kalian di dapur, dan pekerjaan lainnya."
"Baik tuan."Jawaban dari kedua maid Rafael.
******