Rafael, yang duduk di kursi depan, menoleh perlahan. Tatapannya dingin namun mata itu menyiratkan sesuatu yang sulit dijelaskan, bukan sekadar amarah, tapi ada rasa iba yang berusaha ia abaikan.
“Diam,” ucapnya datar. “Semakin banyak kau berontak, semakin lama perjalanan ini terasa.”
Aruna menatapnya dengan penuh benci, suaranya bergetar,
“Kau pikir kau siapa? Penculik?! Penjahat?!”
Rafael hanya menarik napas, tidak menanggapi. Mobil pun melaju meninggalkan gang sempit itu, sementara Aruna terus menatap ke luar jendela. rumahnya semakin jauh, kecil, lalu menghilang di balik tikungan.
Hening memenuhi mobil. Hanya suara mesin dan isak tertahan dari Aruna yang terdengar.
Sesekali Rafael melirik lewat kaca spion, melihat gadis itu menunduk dengan wajah sembab. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak nyaman. Biasanya, ia tak peduli dengan siapa pun yang menjadi penebus hutang,.tapi gadis ini berbeda. Terlalu muda. Terlalu polos untuk dunia kelamnya.
Ketika mobil berhenti di depan sebuah mansion megah, Aruna menatap dengan ngeri. Pagar besi tinggi, kamera pengintai di setiap sudut, dan penjaga berseragam hitam. Semua terasa menakutkan.
Rafael keluar lebih dulu, membuka pintu dengan tenang.
“Turun,” katanya dingin.
Aruna memandangnya tajam. “Kalau aku menolak?”
Rafael menatap balik tanpa ekspresi. “Kau bebas mencoba kabur. Tapi aku jamin, tak akan semudah itu. Kau harus ingat, keselamatan orangtuamu, bergantung padamu!"Rafael mendekatkan bibirnya pada telinga Aruna. Membuat Aruna meremang, dan merasa tak percaya yang dilakukan.
"Ayahmu punya hutang yang tak akan bisa dia bayar seumur hidupnya,” katanya dingin. “Dan sekarang, kau, yang akan menggantikannya.”
“Tidak!” Aruna menjerit. “Aku bukan barang! Aku bukan sesuatu yang bisa dijadikan penebus hutang,”
Namun anak buah Rafael sudah lebih dulu menahan lengannya."Ayooo." Mereka sudah sampai di mansion mewah milik Rafael
Rafael hanya menatap, masih dengan wajah dingin, tapi hatinya mulai terasa aneh. Ada rasa bersalah yang tak seharusnya ia rasakan. "Sungguh malang nasibmu gadis kecil,"Bisik Rafael, meski dia ragu dan ada rasa kasihan pada Aruna. Tapi dia harus memberi Bimo ayah Aruna pelajaran.
Aruna berusaha memberontak sambil menangis.
“Lepaskan aku! Aku tidak salah apa-apa, Ayaaah, tolong aku ayah!"Aruna berteriak histeris.
"Semua sudah terlambat !"Rafael dengan senyuman smirknya seraya berbisik.
Rafael menarik napas panjang, lalu berucap pelan namun tegas,
“Mulai malam ini, kau tinggal denganku. Sampai hutang ayahmu lunas.”
Tubuh Aruna kaku, matanya kosong lidahnya tercekat.
Aruna ditarik paksa menuju sebuah ruangan Air matanya menetes tanpa henti.
Dengan langkah gemetar, Aruna turun dari mobil memasuki dunia asing dan berbahaya, tempat di mana ia tak tahu apakah akan menemukan kebebasan… atau kehilangan dirinya sendiri.
"Tempat apa ini?Seperti istana, tapi sangat dingin."Aruna hanya bisa berbisik.
Begitu kakinya menjejak lantai marmer dingin di dalam mansion itu, Aruna langsung merasa kecil. Segala sesuatu tampak begitu megah, chandelier kristal berkilau di langit-langit, karpet tebal berwarna merah marun terbentang dari pintu masuk hingga tangga besar di tengah ruangan. Tapi di balik keindahan itu, udara terasa mencekam.
Beberapa pria berpakaian hitam yang tampak seperti bodyguard menunduk hormat pada Rafael, lalu menatap Aruna penuh curiga. Gadis itu menelan ludah, berusaha menahan gemetar di tangannya.
“Bawa dia ke kamar tamu di lantai dua,” perintah Rafael datar tanpa menatapnya lagi. “Pastikan dia tidak keluar tanpa izin.”
“Baik, Tuan Rafael,” jawab salah satu penjaga, lalu menghampiri Aruna.
Aruna spontan mundur satu langkah. “Aku bisa jalan sendiri!” serunya lantang, suaranya masih bergetar namun penuh keberanian.
Rafael berhenti melangkah. Ia menoleh pelan, menatap gadis itu. Ada sedikit senyum sinis di sudut bibirnya.
“Keberanianmu bagus. Tapi di tempat ini, keberanian bisa jadi bumerang.”
Aruna menatapnya tajam. “Aku tidak peduli siapa pun kau. Aku tidak akan diam saja dijadikan alat bayar utang!”
Tatapan Rafael berubah dingin. Ia melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini hanya sejengkal. Aura kekuasaan yang kuat membuat Aruna menahan napas.
“Kau pikir aku ingin kau di sini?” suaranya rendah namun tegas. “Aku hanya menjalankan perhitungan yang ayahmu ciptakan sendiri.”
Aruna menahan air mata yang nyaris jatuh. “Ayahku memang salah… tapi bukan berarti aku harus menanggung semuanya.”
Rafael terdiam beberapa detik, entah kenapa, kalimat gadis itu seperti menampar sisi kemanusiaannya yang lama ia kubur. Ia menarik napas panjang, kemudian melangkah mundur.
"Kau hanyalah gadis polos yang naif, di mansion ini...Aku akan mengajarkanmu, apa itu kehidupan."Rafael dengan tangan satu di saku celana nya. Tubuhnya yang tinggi dengan wajah yang tegas. Menampilkan sosok seorang laki-laki yang berkuasa dan kejam. Namun entah kenapa, Aruna nampak tak gentar menghadapi laki-laki kejam itu.
“Bawa dia ke kamar. Jangan ada yang menyentuhnya tanpa perintahku,” katanya akhirnya, lalu pergi meninggalkan mereka.
Dua penjaga mengantar Aruna menaiki tangga besar. Setiap langkah terasa berat. Di lantai dua, mereka membawanya ke sebuah kamar luas, terlalu mewah untuk seorang “tawanan”. Ada tempat tidur besar, lemari rapi, bahkan balkon menghadap taman.
Begitu pintu dikunci dari luar, Aruna langsung terduduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar, matanya menatap kosong ke dinding.
"Aku tidak mau tinggal di sini, Tuhan... tolong keluarkan aku dari sini...Ini seperti penjara. Aku mau mengejar cita-citaku,"lirih Aruna sambil terisak.
Semua terasa seperti mimpi buruk.
Tapi di lubuk hatinya, ada satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan menyerah.
Jika dunia ini ingin menelannya hidup-hidup, maka ia akan melawan. meski harus menghadapi Rafael Adrianno, pria dingin yang kini memegang kendali atas hidupnya.
"Aku harus kuat, dan mencari jalan keluar."Aruna mulai bangkit dari duduknya, dia berjalan mengelilingi kamarnya yang dua kali lipat dari kamarnya di rumah orangtuanya.
Di sisi lain, Rafael berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang mulai gelap. Ia meneguk segelas wine, namun pikirannya tak bisa tenang. Wajah gadis itu terus terbayang, tatapan mata yang penuh luka tapi juga keberanian.
“Kenapa aku peduli?” gumamnya pelan. Namun ia tahu, sejak sore tadi… hidupnya juga mulai berubah.
"Wajahnya.... mengingatkanku pada seseorang, yang sangat berarti dalam hidupku. Meski dia sangat membangkang."Rafael menghisap cerutunya, sambil memandang ke arah luasnya perkebunan di sekitar mansionnya.
"Tok tok."Suara dari balik pintu.
"Tuan...anda memanggil saya?"Seorang pelayan wanita memasuki kamar Rafael.
"Heumm. urus gadis yang ada di kamar tamu. buat dia tunduk padaku!"Rafael dengan nada dinginnya.
"Baik tuan, akan saya lakukan." Dora menunduk kemudian berlalu dari hadapan Rafael.
"Lihat saja Aruna, tidak lama lagi, kau akan bertekuk lutut dihadapanku,"gumam pelan Rafael.
Sementara di kamarnya, Aruna masih mengenakan pakaian yang sama. Meski takut, namun tekadnya untuk tetap melawan pada laki-laki yang menculiknya itu sangat kuat.
"Aku enggak boleh tunduk sama dia.Enggak !"