Pagi itu, mentari baru saja menembus tirai jendela kamar sempit Aruna. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu bergegas menyampirkan tas kanvasnya ke bahu, meneguk seteguk air putih, lalu berlari kecil ke halte bus. Hidupnya sederhana, kuliah sambil bekerja paruh waktu di kafe, demi mewujudkan cita-cita menjadi arsitek.
"Nak, hari ini kamu kuliah?"Tanya Mariana ibu Aruna.
"Ehmmm, iya bu,"jawab Aruna sambil mengunyah sarapannya.
"Baiklah, hati-hati ya, semoga kamu segera menyelesaikan kuliah kamu ya. Dan bisa menggapai cita-cita kamu,"seru Mariana.
"Tring."Suara sendok dan san garpu diletakkan di piring.
"Ehmm... sebaiknya kamu tidak usah berangan-angan terlalu tinggi, Mariana. Lihat dia, sudah waktunya mencari laki-laki kaya untuk menaikkan derajat keluarga kita!"Terdengar suara bariton dari seorang laki-laki paruh baya, bernama Bimo ayah Aruna.
"Suamiku, kenapa kamu bicara begitu?Apa kamu tega membiarkan anak kita menikah dengan laki-laki yang bukan dia cintai?"Mariana dengan suara rendah namun menekan.
Aruna nampak mengernyitkan keningnya, merasa heran dan makin bingung dengan pernyataan sang ayah, dia bukannya memberi semangat padanya, tapi malah mengatakan hal yang membuatnya takut.Takut jika dia harus menghadapi hal yang tidak dia inginkan.
Namun di balik semangatnya, Aruna menyimpan luka yang tak banyak orang tahu. Ayahnya, Bimo, dulunya pria baik, kini berubah menjadi pemabuk dan penjudi berat sejak kepergian sang istri. Semua harta keluarga habis untuk meja judi, sementara Aruna tetap berusaha tegar menutup aib ayahnya dari dunia luar.
Hari itu, tanpa ia tahu, nasibnya mulai berubah.
"Ayah, ibu, Aruna berangkat dulu ya."Aruna mencium punggung tangan ayah Ibunda.
"Hati-hati ya sayang, "Mariana mencium kening putri kesayangannya.
Aruna melangkah menuju halte bus. Dia menatap dengan berbinar. "Mana busnya ya, kok lama banget.,"gumam pelan Aruna."
Tanpa dia sadari seseorang tengah mengintainya, dari kejauhan.
*******
Di sudut kota, Rafael Adrianno, pria berjas hitam dengan tatapan tajam dan aura berbahaya, menerima laporan dari anak buahnya: “Tuan, target bernama Bimo masih menunggak. Katanya… dia akan menyerahkan sesuatu untuk melunasi hutangnya.”
"Sesuatu?Apa itu, dia mau bermain teka teki denganku!"
Rafael tak pernah menyangka, “sesuatu” itu adalah kejutan yang akan membuat segalanya berubah.
*****
Aruna dan Maria sedang di kampus, kebetulan jam kosong. Bisa makan dikantin atau duduk di taman.
Lalu orang suruhan Rafael ini datang untuk menagih hutang. Lebih dramatis. Apalagi disaksikan oleh beberapa temannya yang 'mengolok-olok' Aruna.
Sementara orang suruhan itu menagih hutang, Rafael menunggu Aruna di mobil, dia melihat dari kejauhan. Itu bisa jadi momen pertemuan pertama mereka.
Ketika pulang kuliah, Aruna berjalan tiba-tiba dia melihat sebuah mobil hitam berhenti di depan gang rumahnya. Dari dalamnya keluar seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jas hitam dan kacamata gelap. "Loh, kok ada mobil?Punya siapa ini?"Aruna mengernyitkan keningnya.
Dengan penuh raut bingung Aruna berjalan menuju rumahnya. Perlahan dia melangkah mengendap-ngendap karena dia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu, di rumah kecil di ujung gang sempit, Bimo masih tergeletak di lantai ruang tamu. Bau alkohol bercampur asap rokok memenuhi ruangan. Di meja, botol kosong berserakan bersama kartu remi yang terlipat. Lelaki itu bahkan tak sadar bahwa pagi telah menjelma siang.
Suara deru mesin mobil mewah memecah keheningan gang kecil itu. Beberapa warga sempat mengintip dari balik jendela ketika sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan rumah Aruna. Dari dalam, keluar tiga orang berpakaian hitam rapi, tubuh tegap, tatapan dingin. Salah satunya, pria berwajah tegas dengan sorot mata tajam dan langkah berwibawa, adalah Rafael Adrianno.
Ia menatap rumah reyot itu dengan datar.
“Ini alamatnya?” tanyanya singkat.
“Ya, Bos. Orang bernama Bimo tinggal di sini. Utangnya sudah tiga bulan lewat jatuh tempo,” jawab salah satu anak buahnya.
Rafael mendengus pelan, lalu melangkah masuk tanpa mengetuk. Sekali dorong, pintu reyot itu terbuka.
Bimo yang masih terlelap terbangun kaget, mengerjap beberapa kali sebelum menyadari siapa yang datang.
“Si... siapa kalian?!” suaranya serak dan panik.
“Namaku Rafael,” ucap pria itu dingin, menatap tajam. “Aku datang menagih sesuatu yang seharusnya sudah kau lunasi berbulan-bulan lalu.”
Bimo menelan ludah. Wajahnya pucat, tangannya gemetar mencari botol yang tersisa di lantai.
“Hu-hutang itu... aku belum punya uangnya... beri aku waktu sedikit lagi,” katanya terbata.
Rafael berjongkok di hadapannya, tatapannya menusuk.
“Waktu? Aku sudah memberimu waktu. Sekarang, kau bayar dengan apa yang kau punya.”
Bimo terdiam. Napasnya tersengal, matanya melirik ke arah pintu kamar Aruna yang tertutup rapat. Ada kilatan ketakutan, cuma yang di ruangan dipakai api juga keputusasaan.
“Kalau begitu...” ucapnya pelan, suaranya bergetar.
“Aku... aku akan serahkan sesuatu padamu. Seseorang, lebih tepatnya.”
Rafael mengerutkan kening, menunggu lanjutannya.
Dan saat itulah, keputusan terburuk, sekaligus awal dari segalanya, akan dibuat.
Pria yang kelak akan mengguncang seluruh hidupnya: Rafael Adrianno.
Semakin dekat, Aruna mendengar suara ayahnya dari dalam rumah, keras, terbata, dan terdengar takut. Ia mendorong pintu, dan pemandangan yang ia lihat membuatnya membeku.
Di ruang tamu, tiga pria berpakaian hitam berdiri dengan wajah kaku.
"Aya...h ada apa ini?Siapa mereka?"Aruna dengan raut wajah bingung dan penuh tanya.
Salah satunya duduk di kursi reyot milik ayahnya, menatap Bimo seperti menatap sampah. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kuasa.
“Ayah...Ibu... siapa mereka?” suara Aruna gemetar.
"Mereka....penagih hutang nak,"lirih Bimo dengan nafas tersengal. Dia nampak kesakitan di bagian wajahnya Akibat pukulan dari anak buah sang penagih hutang.
"Hutang?"Aruna mengernyitkan keningnya.
Bimo menoleh cepat, matanya merah dan linglung.
“Aruna dengar, Nak… Ayah… Ayah cuma butuh sedikit waktu,” ucapnya terbata.
Rafael bangkit perlahan, tatapannya berpindah ke arah gadis itu. Ia sempat terdiam. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda dengan wajah lembut, mata jernih, dan pakaian sederhana, sama sekali tidak seperti dunia yang biasa ia kenal.
“Jadi ini... yang kau maksud ‘sesuatu’ untuk melunasi hutangmu?” Rafael menoleh pada Bimo, suaranya tenang tapi menusuk.
Bimo menunduk dalam-dalam.
“Dia... dia anakku, Aruna. Aku... aku tidak punya apa-apa lagi selain dia,” katanya lirih, hampir berbisik.
Dunia Aruna seakan berhenti berputar.
“Apa maksud Ayah…? Aku… tebusan hutang?” suaranya pecah, air mata mulai menggenang.
"Lumayan, bagiku...wanita cantik dan seksi sudah biasa aku temui.Lalu apa kelebihannya dibanding wanita-wanita yang pernah aku temui hahh!" Rafael menyeringai.
"Kau tak pantas disebut manusia...bahkan wanita kamu anggap sebagai barang?"Aruna dengan lantang namun gemetar.
"Kau....."Rafael mencengkram dagu Atuna dengan kencang, hinggga memerah dan dia berkata,"berani sekali kau...gadis kecil, hoooh kau sangat menantang...wajahmu juga cantik...bersiap-siaplah, aku akan membuatmu berlutut dihadapanku!"
"Itu takkan pernah terjadi tuan yang kejam."Aruna menatap tajam pada Rafael."Ayah....katakan ini semua tidak benar!"
Bimo tak berani menatap anaknya, dia menunduk diam, tak berdaya dan menangis.
Mobil hitam Rafael Adrianno membawa Aruna . Meski dengan perlawanan dari gadis itu. Namun tenaga Aruna tak kuasa menahan para anak buah Rafael.
"Diamlah...kau hanya akan menghambat perjalanan ini."Suara bariton terdengar. Dari Rafael Adrianno. Mata indah Aruna dan mata biru Rafael bertemu. Meski ada kebencian yang membakar keduanya saat ini. "Mata itu..."Suara batin Rafael.
"Mau kalian bawa kemana aku."