Mengakui Perasaan

1218 Words
Rafael masih mencari dalang dari kejadian yang menimpa Aruna. Karena hanya orang terdekat yang tahu keberadaan Aruna. Dan dimana Aruna berada. "Bagaimana bisa dia bisa masuk ke kamar Aruna, dan siapa yang memberitahunya. Aku harus mencari siapa yang berani mengusik milikku,"Bisik Rafael. "Tuan...Sepertinya anda berbeda, "ujar Reno. "Apa maksudmu?"Rafael mengernyitkan keningnya dengan matanya memicing tanda heran. "Ayolah... selain aku ini sudah lama mengenalimu, tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya pada wanita."Reno terkekeh pelan menahan tawanya. "Jangan berlebihan, kurasa itu biasa saja. Tak ada yang istimewa, dia ...cuma gadis yang butuh pertolongan. Kuakui dia saat ini wanitaku." "Maksudmu kekasihmu?Karena tak ada wanita yang kau sebut my girl selain Aruna,"ucap Reno. "Aku..tidak tahu Reno, selama ini aku bisa bersikap tegas, dan garang pada musuhku, membaca pergerakan mereka. Tapi Aku tak bisa menebak isi hatiku."Rafael menatap kosong ke arah jendela besar rumahnya. "Kurasa...kau jatuh cinta, lalu...apakah kau sudah...memilikinya seutuhnya?Maksudku adalah...menikmati malam bersama?"Reno menautkan alisnya. "Tidak...itu belum terjadi,"ucap pelan Rafael. Gelak tawa terdengar dari Reno, "Ha ha ha seorang Rafael Adrianno belum melakukan making love dengan wanitanya?Sungguh luar biasa, kau sangat menghargainya." "Jujur, aku ingin sekali melahapnya setiap kali memandangi kecantikannya, tapi ...kepolosannya dan keberaniannya menghalangiku. Aku ingin melakukan itu atas dasar saling mencintai bukan paksaan."Rafael nampak berbicara perlahan dan ragu. "Apa dia ...mencintaimu?" "Kurasa...dia belum mencintai ku,"jawab pelan Rafael. "Wanita itu...sangat mudah tersentuh Rafael, lakukan apa yang dia sukai, jangan lakukan hal yang dia benci, itu pasti akan membuatnya perlahan menyukaimu."Reno menepuk pundak bos sekaligus sahabatnya itu. Rafael terdiam menatap datar. Pikirannya menerawang jauh membayangkan wajah cantik Aruna. Hatinya terasa hangat, dan darahnya mengalir deras, jantungnya berdegup kencang. Saat dia membayangkan wajah gadis tersebut. Hari-hari berikutnya di mansion itu terasa berbeda. Rafael yang biasanya berbicara dengan nada tegas dan tajam kini sering terlihat menatap Aruna dengan pandangan yang lembut, bahkan senyum tipis kadang terukir di wajah dinginnya — sesuatu yang tak pernah disangka siapa pun. Bagi orang luar, Rafael tetaplah “Rafael Black Rose” yang ditakuti — pemimpin dengan tatapan tajam, suara berat, dan aura dominan yang membuat siapa pun menunduk. Ia masih memimpin rapat bisnisnya dengan keras, memberi perintah tanpa banyak bicara, dan siapa pun yang menentangnya tahu risiko yang harus ditanggung. Namun, semua sisi keras itu lenyap begitu ia melangkah melewati pintu kamarnya, tempat Aruna berada. Saat melihat Aruna duduk di balkon, rambutnya tersapu angin, Rafael seakan berubah menjadi sosok lain. Ia mendekat pelan, lalu meletakkan jaketnya di bahu Aruna. “Kau bisa sakit kalau duduk di luar terlalu lama,” ucapnya pelan, nadanya teduh — sesuatu yang bahkan para pengawal tak pernah dengar dari tuannya. Aruna menatapnya, sedikit tersenyum. “Kau berubah,” katanya lembut. Rafael hanya mengangkat alis. “Berubah?” “Ya… dulu kau selalu memerintah dengan nada tinggi. Sekarang kau seperti…” Aruna menatap matanya, “…lebih manusiawi.” Rafael tertawa kecil, sesuatu yang jarang sekali terjadi. “Mungkin karena aku baru belajar jadi manusia sejak kau datang.” Aruna terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tapi senyum tipisnya sudah cukup membuat Rafael mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya lembut. Sementara itu, di luar kamar, para pelayan berbisik-bisik takjub. "Mereka sangat serasi,"gumam Dora. "Iya ...tuan juga terlihat lebih tenang, bahkan mau menjawab saat kita menyapa,"gumam early dengan mata bebinar. Mereka tahu, hanya Aruna yang bisa membuat Rafael menurunkan suaranya, menatap dengan mata hangat, dan bersikap sabar. Bagi dunia luar, Rafael tetaplah sosok berbahaya yang memimpin klan hitam dengan tangan besi. Namun di hadapan Aruna, ia hanyalah seorang pria, yang perlahan belajar bagaimana rasanya mencintai tanpa harus memiliki, dan melindungi tanpa harus menakut-nakuti. "Hari ini cuacanya sangat sejuk, dan cerah."Aruna memejamkan matanya sambil menghirup udara pagi itu. "Kau mau jalan-jalan di sekitar perkebunan?" "Mau, aku suka sekali mengunjungi tempat-tempat yang sejuk dan asri."Aruna dengan senyuman dan matanya yang indah mampu membuat seorang mafia kejam itu membeku sejenak. "Ttuan... hei tuan...Anda kenapa?" "Akh tidak, ayo."Rafael berjalan mendahului Aruna. Masih bersikap dingin. Dan Aruna menatap punggung Rafael yang tegap sejenak. Jantung Aruna pun berdegup kencang tiba-tiba. "Apa ini, oh Tuhan...kenapa jantungku."Aruna nampak mengelus dadanya. Pagi itu, udara di area perkebunan belakang mansion terasa segar dengan aroma rerumputan basah. Rafael berdiri gagah mengenakan kemeja putih yang dilipat sampai siku dan celana hitam kulit, tampak santai namun tetap memancarkan aura berwibawa. Di sampingnya, berdiri Aruna yang masih kikuk dengan sepatu boot tinggi dan rambut dikuncir sederhana. “Kau pernah menunggang kuda sebelumnya?” tanya Rafael sambil memeriksa tali kekang. “Belum,” jawab Aruna jujur, jemarinya gemetar memegang tali. “Kalau begitu, hari ini kau akan belajar dari pemilik kuda paling sabar di dunia.” “Kau?” Rafael menatapnya dan tersenyum tipis. “Tidak. Dari dia.” Ia menunjuk seekor kuda putih besar dengan surai keperakan yang berdiri tenang. “Namanya Luna. Dia satu-satunya kuda yang kupelihara sejak kecil. Jangan takut.” Rafael menggandeng tangan Aruna dan membantunya naik ke pelana. Sentuhan itu membuat Aruna gugup, tapi juga hangat. Rafael lalu berdiri di sampingnya, memegang kendali kuda dengan tangan kokoh. “Tarik perlahan. Dengarkan langkahnya. Jangan lawan ritmenya.” Suara berat Rafael terdengar seperti irama yang menenangkan. Perlahan kuda itu bergerak, dan Aruna tersenyum gugup namun bahagia. Rafael menatapnya, matanya melembut, pemandangan yang bahkan sinar matahari pun tak bisa tandingi. Namun, dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan mereka dengan sorot yang lain, dingin, penuh rasa iri. Angela, ibu tiri Rafael, berdiri di balkon mansion lantai atas dengan gaun satin pagi yang lembut menempel di tubuhnya. Ia menatap Rafael yang tertawa kecil saat menuntun kuda Aruna, dan jemarinya menggenggam pagar balkon dengan kuat. “Dia tersenyum lagi… dan bukan karena aku,” gumam Angela pelan dengan nada getir. Ia tahu perasaannya pada Rafael terlarang — tetapi sejak menikah dengan Tuan Adriano, ayah Rafael yang jauh lebih tua, Angela selalu melihat Rafael bukan sebagai anak tiri… melainkan pria yang memikat. Aura maskulin Rafael, ketegasan, dan tatapan tajamnya membuat Angela selalu kehilangan kendali. Sekarang, melihat Aruna, gadis polos yang bahkan tak sepadan dengan dunia gelap mereka, mampu membuat Rafael tersenyum, hatinya meletup dengan rasa benci. “Kau pikir bisa menggantikan tempatku di hatinya, gadis kecil?” bisiknya dengan mata menyipit. “Kita lihat… sampai kapan kau bisa bertahan di dunia yang kau tak pahami ini.” Dari bawah, Rafael tanpa sadar menoleh ke arah balkon. Ia sempat melihat siluet Angela berdiri di sana, namun tak memperdulikannya. Ia kembali fokus pada Aruna yang kini sudah berani menepuk lembut leher Luna. “Lihat? Dia sudah menyukaimu,” kata Rafael. Aruna tersenyum manis. “Aku juga mulai menyukai semuanya di sini… meski kadang terasa asing.” “Kau hanya perlu waktu,” jawab Rafael lembut."Bagaimana denganku, apa kau mulai menyukaiku?"Rafael berucap tanpa memandang wajah Aruna. Dia tersenyum sambil mengelus sang kuda. "Euhh aku tidak tahu, tapi aku mulai tidak takut lagi padamu,"gumam Aruna. "Tapi kau selalu melawanku sejak awal. Apa kau takut padaku?"Rafael mengernyitkan keningnya. "Setelah aku perlahan mengenalimu, aku tahu sedikit tentang kepribadianmu, kau punya masa lalu yang menyakitkan, dan rasa kehilangan.Hanya itu yang kutahu."Aruna menundukkan kepalanya. "Kau benar, aku hancur saat kehilangan ibuku."Rafael dengan mata mengecil. menahan air mata. "Ibumu...sudah bahagia di sana, tapi .." "Tapi apa?"Rafael mengernyitkan keningnya. Dia menelisik wajah Aruna mencari jawaban dari wajah Aruna. "Ibu mu juga akan sedih jika kamu berbuat yang tidak baik."Aruna mencebikkan bibirnya. Rafael hanya diam, dia terus memandang jauh savana miliknya. Namun, tanpa mereka sadari, senyum Angela di atas balkon perlahan berubah menjadi senyum berbahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD