Sementara ditengah pesta dengan alunan musik yang menggema, hingga memekik di telinga. Aruna sedang bertarung dengan nasibnya. Agar melepaskan diri dari laki-laki yang ingin berbuat jahat padanya. Aruna sudah tak berdaya, melawan laki-laki yang bertubuh tegap tersebut.
BRAK!
Kalimat itu tak sempat selesai. Pintu kamar mendadak terbuka keras, dan Rafael muncul dengan wajah dingin dan mata berapi. Dua pengawalnya menyusul di belakangnya.
“Lepaskan dia.”
Suara Rafael dalam dan bergetar menahan amarah.
Pria mabuk itu berbalik, wajahnya pucat seketika.
“Ra… Rafael, aku... aku hanya tersesat..”
BUK!Buk!
Tinju keras Rafael menghantam wajahnya hingga pria itu terjatuh ke lantai, darah menetes dari sudut bibirnya.
“Kau berani menyentuh wanitaku di rumahku sendiri?” suaranya menggelegar. “Aku seharusnya menembakmu sekarang.”
Aruna menjerit kecil, menutupi mulutnya dengan tangan. "Aaaaaa."Tubuhnya gemetar hebat. "Jjangan lakukan tuan Rafael, tidak ...orang ini harus mendapat hukuman, dia tidak seharusnya langsung mati."Aruna memegang tangan Rafael. Seolah dia tidak rela jika ada kekerasan di hadapannya.
"Kau...ku ampuni, bawa dia ke ruang bawah tanah, dan berikan dia hukuman supaya dia tahu dia sudah berhadapan dengan siapa."
"Baik tuan."Reno membawa laki-laki tersebut.
"Kumohon Rafael, kita sudah saling kenal, sejak lama. Ampunin aku."laki-laki itu memohon.
Rafael menatapnya sekilas, matanya melunak, lalu memberi isyarat pada anak buahnya.
“Bawa dia keluar. Pastikan dia tidak pernah muncul lagi di hadapanku.”
Dua pengawal menyeret pria itu keluar, sementara Rafael perlahan menghampiri Aruna.
“Aruna kau baik-baik saja?” tanyanya pelan, nada suaranya kini berubah lembut.
Aruna hanya mengangguk, air matanya jatuh tanpa sadar. Rafael menyentuh pundaknya, memberi kehangatan di tengah ketakutan.
Aruna masih terisak, tubuhnya gemetar hebat."Rafael...laki-laki itu. Laki-laki itu hampir saja menodaiku, aku takuf."Rasa takut belum sepenuhnya pergi; bayangan pria mabuk yang hampir menyakitinya masih melekat kuat di benaknya.
Rafael berdiri di hadapannya, napasnya berat karena amarah yang belum reda, namun tatapannya kini lembut saat melihat gadis itu ketakutan seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Tanpa berpikir panjang, Aruna tiba-tiba melangkah maju dan memeluk Rafael erat-erat.
Tubuh mungilnya seolah mencari perlindungan, wajahnya menempel di d**a pria itu, air matanya membasahi kemeja Rafael.
“Aku… aku takut sekali…” bisiknya lirih.
Rafael terdiam sejenak. Tangan besarnya sempat menggantung di udara, tapi kemudian perlahan turun memeluk balik Aruna, menepuk punggungnya lembut.
“Sudah… sudah, tenanglah. Aku di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi,” ucapnya rendah, nyaris berbisik.
Tangis Aruna makin pelan, tapi pelukannya justru makin erat, seolah tak ingin melepaskan.
Rafael akhirnya mengangkat tubuh mungil gadis itu dengan mudah, seperti seseorang yang mengangkat anak kecil yang ketakutan, dan membawanya ke sofa di dekat jendela.
Ia mendudukkan Aruna perlahan di pangkuannya, membiarkannya bersandar di dadanya hingga napasnya mulai teratur.
Rafael menatap gadis itu, merasakan sesuatu yang asing di dadanya: bukan hanya tanggung jawab, tapi juga perasaan hangat yang sulit ia jelaskan.
“Aruna,” katanya lembut, “jangan pernah takut untuk berlindung padaku. Aku janji… aku tidak akan biarkan siapa pun menyentuhmu lagi.”
Aruna mengangguk pelan, masih memeluknya, matanya tertutup oleh rasa aman yang perlahan menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya, Rafael merasakan ketenangan di tengah kekacauan hidupnya sendiri, gadis polos itu tanpa sadar mulai menyembuhkan sisi gelap dalam dirinya.
"
“Aku sudah bilang… dunia ini berbahaya. Aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu, Aruna.”
Aruna menatapnya, mata yang penuh air kini mencerminkan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Terima kasih… aku benar-benar takut…”
Rafael menarik napas panjang dan berkata pelan,"Sudahlah, aku akan pastikan pengamananmu diperketat, dan aku akan selidiki siapa yang memberitahunya akan keberadaanmu di rumah ini."Rafael menatap datar meski suara lebih rendah.
"Lalu ....apa bedanya aku dengan...maid lainnya, bukankah aku juga seorang pelayan?Apalagi aku hanya penebus hutang ayahku,"lirih Aruna. Dia berkaca-kaca hingga tak terasa bulir crystal pun jatuh di ujung mata indahnya.
Rafael mengepalkan tangannya, seorang mafia kejam dan tegas itu, nampak tak berkutik, mematung sejenak dihadapan gadis bernama Aruna."Kau memang seorang pelayan, tapi...kau berbeda.Kau...."Rafael tidak melanjutkan ucapannya. "Sekarang tidurlah, pelayan akan menemanimu sampai pagi."Rafael nampak berdiri dan berbalik menuju pintu kamar Aruna.
"Terimakasih, atas kebaikanmu hari ini.Teruslah berbuat kebaikan."Ucapan Aruna terasa menyentuh relung hatinya. Ada rasa yang aneh yang membuatnya damai dan tenang. Sejenak Rafael memejamkan matanya. Dan dia nampak sangat marah saat keluar dari kamar Aruna.
"Reno...Aku akan menemui si b******k itu, dia harus diberi pelajaran."
"Baik tuan,"jawab Reno. Mereka menuju ruang bawah tanah dimana Yosef dikurung. Ruang lembab dan dingin itu menjadi tempat yang menakutkan bagi siapapun yang melakukan kesalahan.
Langkah sepatu terdengar semakin jelas mendekat. Membuat gemetar seluruh tubuh Yosef. Dia salah karena telah mengusik seorang Rafael Adrianno. "Ya Tuhan..tolong aku, agar bisa lolos dari hukumannya."Yosef sambil gemetar dan berkeringat. Sementara Rafael dan anak buahnya semakin mendekat. Hingga akhirnya dia berada dihadapan Yosef.
"Heumm kurang ajar, berani sekali kau menyentuh wanitaku hahh."
"Ctak, ctak."Suara cambuk menghantam punggung Yosef. Suara teriakan menggema di seluruh ruang bawah tanah.
"Arrrrgh."Pekik Yosef. Menjerit dengan kencang. Hingga akhirnya Rafael memberikan kuasa pada anak buahnya untuk menginterogasi laki-laki itu sampai. mengaku.
Malam itu terasa tenang. Hanya suara lembut angin yang berhembus dari jendela terbuka, membawa aroma hujan yang baru saja reda.
Aruna masih bersandar di d**a Rafael, napasnya mulai stabil, matanya menatap jauh ke luar jendela.
Rafael menatap wajahnya lama, seolah baru kali itu benar-benar memperhatikan setiap detail — mata yang lembut, pipi yang masih sedikit basah oleh air mata, dan ketenangan yang perlahan menggantikan rasa takut.
“Kau tahu…” suara Rafael nyaris berbisik, “aku tidak pernah merasa… begini sebelumnya.”
Aruna menoleh pelan, menatapnya dengan tatapan lembut dan bingung sekaligus.
“Maksudmu?”
Rafael menarik napas, menatap dalam ke matanya.
“Aku sudah lama hidup dalam dunia yang keras, Aruna. Tapi sejak kau datang… rasanya seperti ada sesuatu yang membuatku ingin berhenti berperang, setidaknya, untuk malam ini.”
Mata Aruna tertutup rapat, sementara Rafael merasakan dadanya bergetar oleh perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Ia tidak hanya menatap Aruna lebih lama. Dalam diam itu, keduanya berbagi keheningan yang hangat, seolah waktu berhenti di antara mereka. Perlahan Rafael mengelus pipi wanita yang kini mulai menyusup dan mengisi relung hatinya. Hati yang dulu dingin dan keras itu perlahan menghangat, dan lebih damai. Meski tiba-tiba masih bergejolak dan menggelegar setiap ada yang mengusiknya.
Rafael mengangkat tangannya, menyentuh lembut pipi Aruna yang dingin.
“Terima kasih… sudah tetap di sini,” katanya perlahan."Aku takkan pernah membiarkan siapapun menyentuhmu,"gumam Rafael.
Aruna nampak tidur dengan tenang.
Keheningan kembali turun, hanya mata mereka yang saling bicara.
Dalam momen itu, tanpa kata, perasaan mereka saling tersampaikan, bukan lewat tindakan, tapi lewat tatapan yang dalam dan kejujuran yang tak diucapkan.
Dan malam itu menjadi titik balik bagi keduanya:
Aruna tak lagi sekadar gadis yang diselamatkan, dan Rafael bukan lagi pria yang hanya tahu cara memerintah mereka mulai saling menyembuhkan.
Sementara di sebuah rumah mewah di dalam kamarnya seorang wanita nampak panik. Wanita yang kini berusia 40an itu nampak cemas. "Aku tidak boleh membiarkan Yosef menyebut namaku, jika dia sampai menyebut namaku, habislah aku."Wanita tersebut mondar mandir ke sana kemari. "Aku harus cari cara agar Yosef tidak buka mulut selamanya. "
Malam berangsur naik. Berganti pagi yang perlahan menampakkan sinarnya melalui celah gorden mewah nan klasik di kamar Aruna. "Huaahhhh, badanku sakit semua."Aruna meregangkan tubuhnya.
"Tok tok."Suara ketukan terdengar.
"Nona...kami akan melakukan pemijatan untuk anda agar tubuh nona lebih segar."Salah maid yang terampil memijat berjalan dan menyiapkan peralatannya.
"Tttapi...aku.."Aruna belum sempat menjawab maid sudah membukakan pakaiannya diganti dengan handuk. Bekas dari kejadian semalam Aruna melawan dan berontak laki-laki yang hendak berbuat jahat padanya. Membuat tubuhnya sakit .
"Hahhhh, rasanya enak sekali pijatannya."Aruna nampak menikmati.
Sementara kabar buruk datang dari ruang bawah tanah. "Tuan Laki-laki itu...sudah mati, kami tidak membunuhnya. Sepertinya dia bunuh diri. Atau ada mata-mata yang membunuhnya agar tutup mulut,"ucap Reno.
"Apa? Lalu siapa dalang dari semua ini?