Malam itu begitu gegap gempita. Alunan musik dan banyak tamu juga menjadi pesta semakin meriah. Bahkan ada yang unik dalam pesta ulang tahun Rafael. Dimana semua tamu berpakaian hitam dan memakai topi koboi. Serta mereka membawa wanita cantik. Bahkan tak ada tiup lilin atau pun cake ulang tahun pada umumnya. Terdapat gelas minuman yang disusun seperti piramida. Dan dituang minuman anggur diatasnya.
Rafael nampak sangat tampan memakai setelan jas dan kemeja hitam.Diantara para mafia dia memang paling tampan. Sehingga banyak wanita yang mendekat dan terpikat pada ketampanannya.
Sosok Brittany memakai dress dengan belahan sampai ke paha mulusnya dan belahan d**a yang menampilkan keseksian tubuhnya.
Rafael masuk ke kamar dengan langkah pasti, tatapannya tajam seperti biasa.
“Aruna,” katanya singkat, menatap gadis itu. “Kau tidak keluar malam ini.”
Aruna menoleh, terkejut.
“Tapi… Tuan Rafael, aku hanya ingin melihat pesta… melihat teman-teman Anda…”
Rafael melangkah mendekat, suaranya dingin namun tegas:
“Tidak. Demi keamananmu, kau tetap di sini. Dunia luar malam ini… terlalu ramai, terlalu liar. Aku tidak ingin ada yang mengganggumu.”
Aruna menunduk, sedikit kecewa tapi tak bisa membantah.
“Ya… Tuan Rafael,” jawabnya pelan, suaranya gemetar.
Rafael menatap Aruna dengan mata yang lembut namun masih memancarkan d******i.
“Di sini, kau aman. Dan percayalah… bahkan jika kau tidak melihat pesta, aku akan memastikan semua yang penting ada di sini tetap menyenangkan untukmu.”
Aruna menatap kolam renang dari jendela, melihat wanita-wanita cantik melayang di air dan tawa teman-teman Rafael. Di satu sisi ia ingin bergabung, tapi di sisi lain ia merasakan perlindungan yang aneh dari Rafael.
“Aku… tidak boleh menentang dia, tapi rasanya… aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini,” pikir Aruna dalam hati.
Rafael kemudian melangkah ke balkon, menatap pesta dari atas, matanya tajam namun ada senyum samar. Ia menyadari Aruna menonton dari jauh.
“Kau diam di sini saja, Aruna,” bisiknya, hampir terdengar seperti janji. “Aku akan memastikan malam ini tetap menyenangkan… untukmu juga, meski kau tidak berada di luar.”
"Maksudnya?Bukankah anda menikmati pesta di sana, lalu... apa maksud menyenangkan untukku?"
"Aku punya permintaan untukmu, setelah mereka pergi,aku punya permintaan sebagai hadiah ulang tahunku."
"Euhmm apa itu?"
"Aku akan mengatakannya nanti,"Rafael tersenyum sekilas sambil melangkah kemudian punggungnya terlihat semakin jauh.
Di kamar itu, Aruna duduk di kursi dekat jendela, memandangi pesta dari kejauhan.
Ia merasa canggung, tapi juga penasaran dan perlahan mulai merasakan dunia Rafael yang glamor, liar, dan berbahaya sekaligus tempat di mana ia mulai belajar tentang rasa aman dan perhatian dari pria yang selama ini ia anggap dingin dan menakutkan.
Suara musik keras dan tawa para tamu masih menggema di area kolam renang. Lampu-lampu pesta berpendar lembut di antara riuhnya suara gelas beradu. Tak seorang pun menyadari bahwa di lantai atas mansion, bahaya sedang mengintai dalam diam.
"Selamat Ulang Tahun Monster,"lirih Aruna.
Dari kejauahan seorang wanita dewasa dengan penampilannya yang anggun dan cantik. Nampak berbisik pada seorang pria bertubuh tegap. Dan pria itu nampak mengangguk seolah menandakan bahwa dia mengerti.
"Aku punya tugas untukmu, dan kau harus janji tidak akan mengatakan pada Rafael bahwa aku yang menyuruhmu."Bisik wanita tersebut.
"Baik Nyonya, apa itu."Jawab laki-laki tersebut.
"Kau temui wanita yang ada dikamar lantai atas, jendelanya menghadap ke kolam renang.Kau sangat mudah menemukannya. Lakukan apapun yang kau mau."Bisik wanita itu, lalu memberikan sejumlah uang.
"Baik Nyonya, beres!"Laki-laki itu menarik sudut bibirnya. Dia nampak senang mendapat tugas kali ini. "Dapat uang, sekaligus aku bisa bersenang-senang."Laki-laki itu segera bergegas menuju lantai atas, dimana Aruna berada. Sementara Rafael nampak bersama teman-teman kolega dan rekan bisnisnya.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan jas hitam, salah satu tamu undangan, berjalan menuju koridor.
“Aku cuma mau ke toilet…” katanya sambil tertawa kecil. Tapi langkahnya terus berlanjut, hingga berhenti di depan pintu kamar Aruna."Sepertinya...kelinci kecil itu, ada disini, sangat cantik."
Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat bayangan seseorang gadis berambut panjang, kecoklatan dengan gaun sederhana yaitu Aruna.
“Hmm… ternyata Rafael menyembunyikan bidadari di sini,” gumamnya seraya mendorong pintu perlahan.
Aruna yang tengah duduk di tepi ranjang menoleh kaget.
“Siapa Anda?!” serunya panik, berdiri dan berusaha menjauh.
Pria itu tersenyum miring, bau alkohol menyeruak dari tubuhnya.
“Tenang saja, manis… aku hanya ingin berkenalan,” katanya sambil melangkah mendekat, matanya memandang Aruna penuh nafsu.
Aruna mundur hingga punggungnya menabrak meja rias, tangannya bergetar.
“Pergi! Aku akan memanggil Tuan Rafael!”
Pria itu tertawa kasar.
“Rafael? Dia sibuk berpesta dengan para tamu. Dia tidak akan peduli kalau kau bersamaku.”
"Tidak, jangan mendekat...aku akan membunuhmu jika kau mendekat."Aruna segera mengambil sebuah vas bunga.
"Awww aku takut, ha ha ha, kau...sangat cantik dan menggemaskan honey, aku menyukainya, come here baby, kita bersenang-senang,"ujar laki-laki tersebut. Sementara suara musik begitu kencang, hingga mustahil ada yang mendengar teriakan Aruna.
"Pergi...pergi kau...Apa yang mau kau lakukan, kumohon pergilah."Aruna dengan terisak dan rasa takut.
"Ha ha ha, bagaimana bisa aku bisa meninggalkan gadis secantik dirimu,"gumam laki-laki tegap itu.
Rafael sangat gembira dan sesekali dia melihat ke arah jendela Aruna. Namun entah kenapa dia tak melihat Aruna berdiri lagi di depan jendela.
"Kemana dia, kenapa tidak terlihat di jendela?"Batin Rafael.
"Ayolah Rafael, kita bersenang-senang, wanita-wanita itu, terlihat sudah siap melahapmu, pesonamu memang luar biasa Rafael,"ucap salah satu teman Rafael.
"Tidak tertarik!"jawab singkat Rafael
"Ha ha ha, ada apa denganmu, seorang mafia tampan dan kaya sepertimu tidak suka bersenang-senang, bukan kah ini pesta milikmu?"
"Ya, tapi aku sedang tidak ingin melakukannya."Rafael kembali meneguk minumannya.
Sementara di kamarnya Aruna bergelut denhan nasibnya. Tak ada yang menolong, bahkan suara jeritannya tak terdengar.
"Ya Tuhan tolong Aku."Aruna terus saja berdoa.
"Kau mau kemana cantik."Laki-laki itu perlahan maju . Dan Aruna harus mundur. Hingga sampai di pintu jendela.
"Kalau kau sampai mendekat, aku akan melompat."
"Kau jangan sampai melompat, sayang jika gadis secantik dirimu mati sia-sia."Laki-laki itu menarik sudut bibirnya.
"Aku tidak sudi jika aku harus disentuh Laki-laki sepertimu."Aruna perlahan mundur. Dia nampak gemetar dan mulai menuju jendela. "Aku lebih baik mati."
"Kau hanya mengancam, ancaman mu tidak membuatku takut,"ujar laki-laki itu."Dengan cepat laki-laki itu menangkap pergerakan Aruna. Dan dia mengunci pergerakan Aruna. Tubuhnya yang mungil, harus melawan laki-laki yang bertubuh kekar.
"Lepas... lepas..."Aruna berontak dan menggigit tangan laki-laki itu.
"Arrrrgh."Laki-laki tersebut berteriak kesakitan akibat gigitan Aruna. Hingga melepaskan pegangannya pada Aruna.
Kau sangat gigih ternyata. Aruna berlari keluar kamar namun tiba-tiba saja ada tangan yang menariknya.
"Mau kemana kau heumm."Laki-laki itu mampu mengejar Aruna dengan cepat.
"Tidak...jangan..kumohon lepaskan aku."Aruna sekuat tenaganya melepaskan diri dari laki-laki itu.
Laki-laki itu dengan mudah membawa kembali Aruna ke kamar dan menutup pintu kamar Aruna dengan mudah. "Ceklek."
Apa yang akan terjadi pada Aruna. Apakah dia akan menjadi korban aksi bejad laki-laki tersebut. Atau ada yang menolongnya?