Beberapa malam kemudian, Aruna duduk di tepi balkon mansion, angin malam menyapu rambutnya. Matanya menatap langit gelap yang dipenuhi bintang, pikirannya masih campur aduk antara takut, benci, dan rasa penasaran terhadap Rafael.
Rafael muncul dari dalam, membawa secangkir teh hangat. Tanpa kata, ia duduk di samping Aruna dan menyerahkan teh itu. Aruna menatapnya, sedikit canggung, tapi menerima dengan tangan gemetar.
“Terima kasih…” bisiknya pelan.
Rafael menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke langit malam. Suaranya rendah dan berat, berbeda dari nada dinginnya biasanya.
“Aruna… kau pernah bertanya kenapa aku seperti ini, dingin, arogan… seolah tak punya hati?”
Aruna menatapnya, mata membesar. Ia menggeleng, memberi Rafael ruang untuk berbicara.
“Aku… aku punya masa lalu yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun,” kata Rafael perlahan. “Kehidupan ini… keras sejak aku masih muda. Aku kehilangan orang yang kusayangi, dan itu membuatku belajar bahwa kelemahan berarti kematian. Aku menjadi seperti ini… untuk bertahan.”
Aruna menggenggam secangkir teh itu lebih erat, perlahan mendekat.
“Tapi… tuan Rafael, itu bukan alasan untuk membuat orang lain takut pada Anda,” bisiknya lembut.
Rafael tersenyum samar, mata tajamnya berubah hangat ketika menatap Aruna.
“Aku tahu. Dan aku tidak ingin kau melihat sisi itu dari diriku. Tapi… sejak kau datang ke hidupku, sesuatu berubah. Kau… membuatku ingin menjadi lebih dari sekadar orang kuat yang dingin. Aku ingin kau aman, aku ingin kau bahagia… bahkan jika itu berarti aku harus membuka hatiku padamu.”
Aruna menahan napas. Kata-kata Rafael terdengar jujur, berbeda dari sikap arogan dan dingin yang selalu ia tunjukkan.
“Jadi… kau peduli padaku?” tanya Aruna pelan, suara hampir tak terdengar.
Rafael mencondongkan tubuh, menatap matanya.
“Lebih dari yang bisa kau bayangkan. Kau bukan sekadar gadis yang harus kubela… kau… penting untukku, Aruna.”
Aruna menunduk, pipinya memerah, tapi ada senyum kecil yang muncul.
“Aku… tidak tahu harus berkata apa.”
Rafael tersenyum lebih hangat, menepuk lembut tangan Aruna.
“Tidak perlu berkata apa-apa. Hanya… percayalah padaku. Aku tidak akan pernah menyakitimu.”
"Hufft, menurutmu, apa aku akan percaya, pada laki-laki yang terkenal kejam dan juga pemain wanita yang menculiknya?"Aruna menatap tegas dengan sorot mata penuh tanya. Namun Rafael hanya menarik sudut bibirnya.
"Kau... sungguh pemberani Aruna...Kuakui kau sangat berbeda dengan seluruh gadis yang kutemui selama ini."Rafael tersenyum samar. Dan kembali berekspresi datar seperti biasanya.
"Bagiku juga sama, kau berbeda dengan...laki-laki yang pernah kutemui selama ini!"Aruna sambil.menunduk memainkan kukunya.
"Apa?Katakan...siapa laki-laki itu, aku akan..."
"Hei... kau mau apa?Membunuhnya?Seperti yang kau lakukan?"Aruna mengernyitkan keningnya. "Dalam hidupku pasti aku bertemu laki-laki dan perempuan, aku bukan orang tinggal di hutan belantara."Aruna mencebikkan bibirnya.
"Katakan siapa laki-laki itu, sekarang juga."Tatapan Rafael nampak sangat tajam ke arah Aruna. Nampak Aruna merasa sedikit gemetar.
"Ttuan...tenanglah, laki-laki itu ayahku...dan..."
"Dan siapa?"Rafael mendekatkan wajahnya ke arah Aruna.
"Ppamanku,huhhh." Aruna langsung menghembuskan nafas lega.
Rafael mengangguk pelan."Aku tidak mau mendengar ada laki-laki lain yang mendekatimu , siapapun itu."Rafael mengeratkan rahangnya.
"Duh...hampir saja, gimana kalau dia tahu, ada laki-laki yang selalu mengejarku di kampus?"Batin Aruna. Dia mengerjapkan matanya. Kemudian menepuk keningnya sendiri.
"Ada apa heumm?"Tanya Rafael.
"Euhhh tidak,.tidak ada apa-apa kok."Aruna tersenyum garing. "Tapi....kenapa kamu marah?Lagipula kau bukan siapa-siapaku."Aruna mencebikkan bibirnya.
"Kau wanitaku, kau juga...mengingatkanku pada seseorang."Rafael menatap sendu wajah Aruna. Aruna berusaha mencari kejujuran dari sorot mata Rafael.
"Siapa wanita itu,"Aru yang penuh perasaan tanda tanya.
Di balkon itu, di bawah cahaya bintang dan angin malam yang sejuk, dua hati yang saling berlawanan perlahan menemukan kedekatan, benih rasa saling percaya mulai tumbuh, dan ketegangan antara takut dan cinta mulai memudar.
"Sudah malam, tidurlah."Rafael melangkah meninggalkan Aruna di balkon lantai mansion Rafael.
"Syukurlah...aku bisa tidur di kamarku."Semenjak sakit Aruna berada di kamar Rafael. Suara sepatu Rafael semakin menjauh. Aruna melangkah menuju kamarnya. Saat membuka kamarnya...matanya terbelalak kagum melihat perubahan pada kamarnya. Dekorasi nya hampir sama seperti kamarnya di rumahnya dulu.
"Indah sekali,"ujar Aruna. Dia perlahan melangkah sambil melihat sekeliling kamarnya. Ada pajangan pernak pernik khas gadis remaja. Dan sebuah buket bunga mawar berwarna pink dan juga beberapa boneka dari berbagai karakter.
"Aku...jadi merasa kembali ke kamarku, terimakasih monster tampanku,"gumam pelan Aruna tanpa sadar sambil memeluk boneka teddy bear biru muda dengan love di dadanya.
"Hei...sekarang namamu Monsfel, alias monster Rafael."Aruna menepuk nepuk kepala boneka tersebut. Dia memeluk boneka tersebut dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang beralaskan seprei berwarna pink. Rasanya kamar itu bisa di sebut kamar seorang gadis dengan hiasan bunga disetiap sudutnya. Bahkan ada beberapa buku dan novel.
"Selamat malam monsfel."Aruna tersenyum dan memejamkan matanya.
Sementara Rafael nampak duduk di sofa kamarnya. Dengan segelas wine. Dia masih membayangkan wajah Aruna yang berani menatapnya dengan kepolosannya. Entah kenapa dia tak bisa berbuat yang kejam pada Aruna. Tiba-tiba wajah seorang wanita yang sangat dia sayangi muncul diingatannya. Sosok Aruna memngingatkannya akan wanita tersebut.
"Aruna..."Suara Rafael pelan hampir tak terdengar. malam terus bergerak. Hingga hampir pagi dan Rafael kini terbaring di ranjang mewahnya. Biasanya dia akan tidur kala menjelang pagi. Dan pergi ke klub malam bersama timnya. Dan bersenang-senang bersama wanita-wanita cantik. Namun ada rasa berbeda yang membuatnya bosan dan enggan menjalani dunia malam.
****
Pagi itu, matahari menyinari mansion Black Rose, menerobos tirai besar di ruang tamu. Aruna berdiri di dapur bersama Dora, mencoba belajar menyiapkan sarapan sederhana, telur mata sapi, roti panggang, dan teh hangat.
Awalnya, tangannya gemetar, takut salah, tapi Dora dengan sabar membimbingnya.
“Tenang saja, Nak. Kau pasti bisa,” kata Dora lembut.
Aruna menarik napas panjang, menatap bahan-bahan di hadapannya.
“Aku… aku ingin belajar Dora,” katanya pelan. “Aku tidak ingin hanya menjadi gadis yang pasif di sini. Aku ingin… merasa lebih kuat.”
"Kau memang gadis yang tegar dan juga sangat gigih."Dora mengelus pundak Aruna.
Hilda nampak mencebikkan bibirnya, "Hei... kamu enggak usah main peran disni dech, kemarin malam saja kamu masih ada tidur di kamar Tuan Rafael."
"Hilda!"Dora menatap tajam Hilda.
"Kenapa, itu benar kok, dia sudah berhasil menggoda dan naik ke ranjangnya tuan Rafael, dimana suatu hari nasibnya akan sama seperti wanita-wanita itu, dicampakkan meskipun dapat uang dari tuan Rafael."
"Benarkah, jadi ...maksudmu aku sudah menggoda dan berusaha merayu tuan Rafael agar naik ke ranjangnya, begitu?"Aruna dengan suara pelan namun tegas. Tatapannya tajam menghunus mata Hilda. "Aku tidak pernah mau datang ke rumah ini, kalau menurutmu aku begitu, kenapa kau tidak mencobanya, bukannya itu hal yang mudah?"
Tiba-tiba Rafael masuk ke dapur, matanya menyapu ruangan dengan ekspresi dingin khasnya. "Eheum."Suara Rafael mengalihkan semua orang.
Wajah panik nampak jelas di wajah Hilda dan maid lainnya.
"Sselamat pagi tuan Rafael,"sapa seluruh maid.
Tapi kali ini, ada sedikit senyum samar saat menatap Aruna yang sibuk mencoba menyiapkan sarapan."Heumm...pagi."Pertama kalinya Rafael menjawab sapaan dari para maid.
"Kau...yang menyiapkannya?"Rafael mengernyitkan keningnya.
"Iya, jika rasanya kurang sesuai... sebaiknya bilang saja, biar diganti dengan yang lain."Aruna terbata.
“Kau benar-benar berusaha,” katanya, nada suaranya lebih hangat daripada biasanya."Kurasa ini...sangat menarik."Rafael dengan gaya khasnya.
Aruna menoleh, pipinya memerah.
“Terimakasih tuan,” jawabnya cepat..”
Rafael melangkah mendekat, menatap Aruna dengan tatapan campur antara kagum dan penasaran.
Rafael mulai duduk di kursinya, Aruna menatap setiap gerakan Rafael. "Mudah mudahan, dia suka."
Sepanjang hari itu, Aruna mencoba berbagai hal merapikan kamar, membantu Dora di dapur, bahkan belajar mengatur ruang tamu yang luas agar lebih nyaman. Setiap kali Rafael lewat, ia menunduk sopan, tapi tak lagi terlihat takut seperti dulu.
“Aku mulai mengerti… mansion ini memang besar, tapi aku bisa menyesuaikan diri,” pikir Aruna dalam hati.
"Nona, Tuan Rafael meminta anda datang ke taman belakang."Dora dengan tergesa-gesa.
"Ada apa ya?"Aruna nampak bingung.