Tubuh Aruna yang gemetar semakin lemah di pelukan Rafael.
Wajahnya pucat, napasnya tersengal, dan sebelum Rafael sempat berkata apa pun, gadis itu ambruk tak sadarkan diri di dadanya.
“Aruna!” Rafael memanggilnya panik. Ia segera memeluk tubuh itu erat, menepuk pipinya lembut. “Hey, bangun… lihat aku.”
Namun Aruna tak bergerak. Tubuhnya dingin, tangannya kaku menggenggam ujung kemeja Rafael.
Rafael menatap Darren dengan tatapan tegas namun penuh kecemasan.
“Panggil dokter sekarang juga! Cepat!”
Darren langsung berlari keluar. Rafael mengangkat tubuh Aruna ke dalam pelukannya, langkahnya lebar tapi tergesa menuju kamar di lantai atas.
Saat ia meletakkan Aruna di atas ranjang, wajah keras dan dingin Rafael perlahan runtuh.
Ia menyentuh dahi gadis itu — panas, tapi tubuhnya menggigil hebat.
“Sial…” gumamnya pelan. “Dia terlalu ketakutan.”
Rafael duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari wajah Aruna yang tenang tapi penuh bekas luka kecil di pipi akibat tamparan tadi.
Ia menggenggam tangan Aruna perlahan, jemarinya besar dan kasar, tapi sentuhannya lembut seperti seseorang yang takut membuatnya hancur.
“Aku tak seharusnya membiarkanmu di sini sendirian…” katanya lirih.
“Aku… gagal melindungimu.”
Tak lama kemudian dokter pribadi Rafael datang, memeriksa Aruna dengan saksama.
“Dia hanya syok berat dan kelelahan, Tuan. Butuh waktu untuk pulih, tapi secara fisik tidak ada luka parah.”
Rafael mengangguk, tapi matanya tetap tak beranjak dari wajah Aruna.
“Pastikan dia dijaga. Tak seorang pun boleh masuk ke kamar ini tanpa izin dariku.”
Setelah semua keluar, Rafael tetap duduk di sana.
Ia bersandar di kursi dekat tempat tidur, memandangi Aruna yang tertidur dengan wajah pucat namun damai.
Perlahan, tangannya menyibak helaian rambut di kening gadis itu.
“Kau gadis bodoh… bahkan setelah semua ini, kenapa aku malah takut kehilanganmu?”
Ia tersenyum getir.
"Apa sebenarnya kekuatan yang kau miliki Aruna. Bahkan saat ini kau memenuhi pikiranku, dan aku tidak rela jika kau pulang kembali bersama ibu."
Di luar, hujan mulai turun perlahan, menetes di jendela besar kamar itu.
Rafael menatap langit kelabu di balik kaca malam yang kelam, tapi untuk pertama kalinya di hidupnya, ada seseorang yang membuatnya merasa hidup.
Di ruang tamu yang luas, cahaya lampu kristal menyorot wajah Rafael yang dingin dan tegas, berdiri dengan tangan disilangkan di depan d**a. Mariana menatapnya dengan mata memohon, dan Aruna duduk di sofa, menunduk, masih terguncang oleh peristiwa malam sebelumnya.
“Aku bersedia mengembalikan Aruna, Rafael,” ucap Mariana lembut, suara bergetar. “Asal kau berjanji dia aman, dan aku ingin dia kembali ke rumah kami.”
Rafael menatap Mariana dalam-dalam, ekspresinya tak berubah, namun ada ketegangan yang samar di matanya.
“Aku bisa melakukannya… tapi bukan sekarang,” jawabnya dingin. “Aruna… tetap di sini karena aku yang memutuskan. Dan sampai aku mengatakan sebaliknya, dia tidak akan kemana-mana.”
Mariana menghela napas panjang, menahan air mata. “Tapi… dia putriku. Dia berhak hidup normal!”
Rafael melangkah perlahan mendekati Aruna, suaranya rendah dan menekan, namun bukan marah, melainkan dominan:
“Aruna… aku bisa mengembalikanmu kapan pun aku mau. Tapi saat ini… aku tidak mau melepaskanmu. Kau tetap di sini, bukan karena aku ingin menyakitimu… tapi karena kau perlu dilindungi. Kau… berarti lebih dari sekadar permainan bagiku.”
Aruna menatapnya dengan mata terbelalak. Jantungnya berdebar cepat, takut dan bingung bercampur.
“Melindungi…?” gumamnya pelan, tidak yakin apakah harus marah atau merasa lega."Kau melibatkan aku dalam bisnis berbahayamu itu, kau bilang melindungi?"Aruna menyorot tajam wajah Rafael.
Rafael mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya tajam, namun matanya tetap lembut.
“Ya, melindungi. Dunia ini kejam, Aruna. Aku bisa membuatmu aman, tapi itu hanya bisa kulakukan di sini, di sampingku. Jika kau pergi sekarang… kau akan menghadapi bahaya yang bahkan aku tak bisa jamin kau selamat darinya.”
Mariana terdiam, menyadari bahwa meski hati seorang ibu ingin memulangkan anaknya, ia tak bisa memaksa Rafael yang sangat berkuasa itu."Nak, ikuti saja apa kata tuan Rafael, demi kebaikanmu, nanti kalau sudah aman. Ibu yakin, dia akan mengizinkanmu pulang."
Aruna menarik napas panjang, tubuhnya masih gemetar, namun sedikit keberanian muncul. Ia menatap Rafael, mencoba membaca niatnya yang misterius.
“Kalau begitu… aku akan tetap di sini… tapi jangan menganggap aku lemah,” bisiknya pelan, hampir seperti tantangan.
Rafael tersenyum tipis, ada rasa puas di wajahnya, namun d******i dan kewaspadaan seorang mafia tetap melekat.
“Aku tidak pernah menganggapmu lemah, Aruna. Tapi kau akan belajar… bahwa dunia ini tidak ramah pada orang yang tidak kuat. Dan aku akan memastikan kau kuat, di sisiku.”
Lampu kristal di atas mereka berkilau lembut, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Malam itu, meski ketegangan masih terasa, ada benih pengertian dan rasa saling menjaga yang mulai tumbuh di antara mereka.
Malam itu, mansion terasa lebih sunyi. Lampu-lampu lembut menyala, menyoroti koridor panjang dan ruang tamu yang kini kosong setelah Mariana kembali ke kamar tamu. Aruna duduk di sofa, menatap jendela yang memantulkan cahaya lampu jalan di luar. Napasnya masih agak tersengal, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya — keberanian kecil yang mulai muncul.
Rafael masuk dari pintu samping, langkahnya pelan. Ia duduk di kursi dekat Aruna, menatap gadis itu dengan tatapan yang biasanya dingin, tapi malam ini ada lembut yang samar.
“Aruna…” suaranya rendah, hampir terdengar seperti bisikan. “Kau baik-baik saja?”
Aruna menoleh, menatap mata tajam Rafael. Tanpa ragu, ia menggeleng dan berkata dengan suara pelan tapi tegas:
“Aku tidak mau lagi bersembunyi di sini… aku ingin tahu apa yang terjadi di dunia ini, bahkan jika aku takut.”
Rafael menatapnya lama, tercengang sesaat. Biasanya gadis-gadis akan menunduk, takut pada kekuasaannya, tapi Aruna… dia menatap balik dengan mata yang penuh tekad meski masih sedikit cemas.
“Tekadmu… menarik,” gumam Rafael, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia mencondongkan tubuh ke arah Aruna, menepuk lembut tangannya.
“Aku bisa mengajarkanmu. Bukan hanya cara bertahan… tapi juga cara menjadi kuat. Di sisiku, kau akan aman. Dan aku… akan memastikan kau tahu dunia ini tidak sekejam yang kau kira.”
Aruna menelan ludah, sedikit gugup, tapi ada rasa lega di hatinya.
“Kalau begitu… aku akan belajar. Tapi jangan terlalu mengatur aku,” jawabnya, setengah menantang.
Rafael tersenyum, kali ini senyum yang lebih hangat.
“Aku tidak akan mengaturmu. Aku akan melindungimu, tapi kau yang memutuskan seberapa jauh kau mau berjalan bersamaku.”
Malam itu, di dalam mansion Black Rose yang luas dan sunyi, dua jiwa yang bertolak belakang, satu keras, dingin, dan berkuasa; satu lembut, takut, tapi berani mencoba , mulai saling memahami.
Rafael, untuk pertama kalinya, merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar permainan dalam dirinya.
Dan Aruna, meski takut, perlahan mulai percaya bahwa di sisi pria itu, ia bisa merasa aman, bahkan mulai menaruh hati padanya tanpa ia sadari.