Tak mau kehilanganmu

1338 Words
Sementara itu, di dalam mansion, Aruna berusaha melepaskan diri dari genggaman para penyerang. Salah satu dari mereka menyalakan kamera ponsel, hendak merekamnya untuk mengirim ke Rafael sebagai ancaman. Namun tiba-tiba lampu mansion padam. Semua orang terdiam. Hanya terdengar suara langkah kaki berat dari arah pintu depan. Pintu terbuka perlahan, dan di ambang pintu berdiri Rafael, dengan tatapan membunuh, wajahnya dingin tanpa ekspresi. “Lepaskan dia… atau kalian semua mati malam ini.” Suara itu rendah, pelan, tapi membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Penyerang menoleh, tapi sebelum sempat bereaksi — dor! dor! Dua tembakan cepat terdengar. Dua orang jatuh seketika. Yang terakhir mencoba menodongkan senjata ke Aruna, tapi Rafael melangkah cepat, menendang keras senjata itu hingga terpental, lalu meninju wajah pria itu berkali-kali sampai darah mengucur deras. “Kau berani menyentuhnya…” Rafael mendesis lirih, napasnya berat, “kau bahkan tak pantas mati dengan cepat.” Ia menatap Darren. “Bawa dia ke ruang bawah. Aku akan urus sendiri.” Darren menuruti tanpa bicara. Aruna yang masih gemetar akhirnya berlari mendekat, dan untuk pertama kalinya, memeluk Rafael erat-erat. “Aku takut… mereka hampir membunuhku…” Rafael menatap gadis itu, tangannya menyentuh kepala Aruna lembut. “Selama aku hidup, tak ada yang akan menyentuhmu lagi.” Malam itu, untuk pertama kalinya, Rafael benar-benar marah, bukan karena kekuasaan, tapi karena rasa takut kehilangan seseorang yang diam-diam mulai berarti baginya. Tubuh Aruna yang gemetar semakin lemah di pelukan Rafael. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, dan sebelum Rafael sempat berkata apa pun, gadis itu ambruk tak sadarkan diri di dadanya. “Aruna!” Rafael memanggilnya panik. Ia segera memeluk tubuh itu erat, menepuk pipinya lembut. “Hey, bangun… lihat aku.” Namun Aruna tak bergerak. Tubuhnya dingin, tangannya kaku menggenggam ujung kemeja Rafael. Rafael menatap Darren dengan tatapan tegas namun penuh kecemasan. “Panggil dokter sekarang juga! Cepat!” Darren langsung berlari keluar. Rafael mengangkat tubuh Aruna ke dalam pelukannya, langkahnya lebar tapi tergesa menuju kamar di lantai atas. Saat ia meletakkan Aruna di atas ranjang, wajah keras dan dingin Rafael perlahan runtuh. Ia menyentuh dahi gadis itu — panas, tapi tubuhnya menggigil hebat. “Sial…” gumamnya pelan. “Dia terlalu ketakutan.” Rafael duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari wajah Aruna yang tenang tapi penuh bekas luka kecil di pipi akibat tamparan tadi. Ia menggenggam tangan Aruna perlahan, jemarinya besar dan kasar, tapi sentuhannya lembut seperti seseorang yang takut membuatnya hancur. “Aku tak seharusnya membiarkanmu di sini sendirian…” katanya lirih. “Aku… gagal melindungimu.” Tak lama kemudian dokter pribadi Rafael datang, memeriksa Aruna dengan saksama. “Dia hanya syok berat dan kelelahan, Tuan. Butuh waktu untuk pulih, tapi secara fisik tidak ada luka parah.” Rafael mengangguk, tapi matanya tetap tak beranjak dari wajah Aruna. “Pastikan dia dijaga. Tak seorang pun boleh masuk ke kamar ini tanpa izin dariku.” Setelah semua keluar, Rafael tetap duduk di sana. Ia bersandar di kursi dekat tempat tidur, memandangi Aruna yang tertidur dengan wajah pucat namun damai. Perlahan, tangannya menyibak helaian rambut di kening gadis itu. “Kau gadis bodoh… bahkan setelah semua ini, kenapa aku malah takut kehilanganmu?” Ia tersenyum getir. Di luar, hujan mulai turun perlahan, menetes di jendela besar kamar itu. Rafael menatap langit kelabu di balik kaca, malam yang kelam, tapi untuk pertama kalinya di hidupnya, ada seseorang yang membuatnya merasa hidup. Pagi mulai menyelinap di kamar mansion, sinar matahari menembus tirai tipis, menciptakan garis cahaya lembut di lantai kayu. Aruna masih tertidur, tubuhnya menggigil perlahan, dan bibirnya gemetar saat menyebut nama ibunya. “Ibu… tolong…” bisiknya pelan, seolah meminta perlindungan dari dunia yang terlalu menakutkan baginya. Matanya tetap tertutup rapat. Rafael menatapnya dari kursi di samping ranjang, bingung. “Kenapa kau tak membuka mata, Aruna?” gumamnya pelan, nadanya cemas namun lembut. Aruna menggeliat sedikit, tangannya masih menutup wajahnya. “Aku… takut…” suaranya nyaris tak terdengar. “Takut kalau aku melihatmu…” Rafael mengerutkan alis, tubuhnya menegang. Ketakutan Aruna membuatnya panik sekaligus marah. “Takut? Takut apa, Aruna? Aku di sini. Aku yang melindungimu!” Namun gadis itu tetap diam, seolah ketakutannya lebih besar daripada rasa aman yang ia rasakan. Melihat itu, Rafael berdiri, napasnya berat, dan memanggil para dokter pribadinya dengan suara memerintah: “Kalian ini dokter atau hanya pajangan?! Cepat lakukan sesuatu! Gadis ini syok, tapi kalian malah berdiri melihat!” Para dokter yang hadir langsung tersentak. Salah satu mencoba menjelaskan: “Tuan Rafael… Aruna dalam keadaan trauma psikologis berat, bukan sekadar fisik. Kami bisa merawat fisiknya, tapi mentalnya—” Rafael memotong dengan nada mengancam: “Aku tidak peduli dengan alasan kalian! Aku bilang, pulihkan dia! Jangan sampai aku harus menyesal karena kalian gagal!” Gadis itu sedikit menggeliat lagi, bibirnya bergetar, menahan napas. Rafael menunduk, menatap wajahnya dari jarak dekat. “Aruna… dengar aku. Aku di sini. Aku bukan monster yang kau bayangkan. Aku tidak akan menyakitimu. Tidak pernah.” Mata Aruna berkaca-kaca, tapi tetap menutup rapat. Suara hatinya terdengar di setiap desahan napasnya: ketakutan, benci, tapi juga… perlahan mulai ada rasa aman yang aneh ketika Rafael ada di dekatnya. Rafael menarik napas panjang, berlutut di samping ranjang, dan dengan lembut menggenggam tangan kecil Aruna. “Dengarkan aku, Aruna. Kau boleh takut. Kau boleh menangis. Tapi jangan tutup matamu dari kenyataan bahwa aku… aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk aku sendiri.” Aruna menggeliat sekali lagi, tubuhnya masih lemah, tapi hatinya seakan mendengar ketulusan di suara Rafael. “Aku… takut…” bisiknya pelan. Rafael menunduk, menempelkan dahinya ke tangannya yang sedang menggenggam tangan Aruna. “Aku tahu… aku juga pernah takut kehilangan hal yang penting. Tapi kau berbeda, Aruna. Kau bukan sekadar permainan atau taruhan bagiku. Kau… sesuatu yang membuatku ingin menjadi lebih dari sekadar mafia kejam.” Di sudut ruangan, para dokter tersentak, menyadari bahwa mereka tidak bisa memaksa Aruna pulih. Hanya ketulusan Rafael yang mampu menembus tembok ketakutan gadis itu. Sore itu, kamar Aruna terasa hangat. Matahari menembus tirai tipis, memantul di lantai kayu yang mengkilap. Aruna masih berbaring di ranjang, tubuhnya lemah namun napasnya lebih stabil daripada pagi tadi. Dora, pelayan yang sangat dekat dengan Aruna, berdiri di dekat jendela sambil menatap gadis itu penuh perhatian. “Tuan Rafael… aku rasa Aruna… dia sangat merindukan ibunya,” ucap Dora pelan. “Dia selalu bicara tentang ibu, tentang makanan yang ibu buat… dia ingin sekali bertemu ibu dan merasakan hangatnya rumah lagi.” Rafael menatap Dora, wajahnya serius. Hatinya tersentuh, tapi ia tak menunjukkan terlalu banyak emosi. “Aku mengerti,” katanya dingin tapi tegas. “Siapkan mobil, bawalah Mariana ke sini. Dia akan menemui putrinya malam ini.” Dora tersenyum lega, segera berlari menyiapkan semuanya. Tak lama kemudian, mobil hitam mewah berhenti di depan mansion, dan Mariana, ibu Aruna, turun dengan langkah tergesa-gesa namun wajahnya penuh cemas. Saat pintu kamar terbuka, Aruna langsung menggeliat, matanya berkaca-kaca. “Ibu…” bisiknya lemah. Mariana berlari menghampiri, memeluk putrinya erat-erat. Aruna menempelkan wajahnya di bahu ibunya, air matanya jatuh tanpa terkendali. “Aku… aku takut, Bu… aku tidak tahu apa yang akan terjadi…” Mariana mengelus rambut Aruna, menenangkan. “Shh… semuanya sudah aman, Nak. Ibu di sini sekarang. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi.” Rafael berdiri di sudut ruangan, menatap momen itu. Ia merasa sedikit canggung, tapi hatinya hangat melihat Aruna tersenyum kembali saat berada di pelukan ibunya. “Dia… terlihat lebih hidup sekarang,” gumam Rafael pelan pada diri sendiri. Aruna pun duduk perlahan di ranjang, kini ditemani ibunya. Dora membawa nampan berisi makanan hangat, masakan sederhana namun harum, aroma yang selalu dikenalnya sejak kecil. Aruna memakan sedikit demi sedikit, wajahnya tersenyum kecil. “Rasanya… seperti rumah, Bu,” bisiknya dengan mata berbinar. Aruna mencoba menyembunyikan perasaannya. Rafael mengamati dari jauh, merasakan sesuatu yang baru di dadanya, perasaan ingin melindungi bukan karena kewajiban atau permainan, tapi karena dia benar-benar peduli pada Aruna. Dan malam itu, kedamaian kecil menyelimuti mansion, meski Rafael tahu ancaman dari musuh belum benar-benar hilang. Namun untuk pertama kalinya, Aruna tersenyum lega di hadapannya, dan hatinya mulai membuka diri untuk merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa takut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD