Peduli

1248 Words
Setelah Rafael.meninggalkan mansion bersama para ajudannya dan anak buahnya. Nampak situasi menjadi tegang. Ketegangan berlangsung hingga malam hari. Setelah, klan Black Rose kini mulai beraksi. Karena mereka sudah menguasai wilayah lawan. "Ayo..kita tunjukkan siapa kita!"Rafael dengan suara lantang menggema ke seluruh tempat tersebut. Malam itu, langit gelap tanpa bintang. Udara di sekitar mansion terasa tegang, seolah badai akan datang. Aruna yang tengah membereskan ruang tengah tiba-tiba mendengar suara gaduh dari luar, suara langkah cepat, lalu teriakan panik para penjaga. Beberapa detik kemudian, dentuman keras terdengar dari arah gerbang. Dorr! Dorr! Dorr! Peluru-peluru beterbangan, menghantam tembok dan kaca jendela. Aruna menjerit dan bersembunyi di balik sofa. Dari balik kaca besar, ia bisa melihat puluhan pria bersenjata berpakaian hitam saling tembak dengan brutal. Api menyala dari moncong senjata, suara ledakan membuat jantungnya nyaris copot. “Lindungi Tuan Rafael!” teriak salah satu pengawal. Dan di tengah kekacauan itu, Rafael muncul, tanpa rasa takut sedikit pun. Jasnya terbuka, menampakkan senjata di kedua tangannya. Tatapannya tajam seperti binatang buas yang sedang mengamuk. “Habisi mereka semua. Tak satu pun boleh lolos!” Suara Rafael menggema di udara, dingin tapi penuh wibawa. Ia maju ke garis depan, memimpin sendiri baku tembak itu. Aruna hanya bisa menatap dengan napas tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Dari lantai atas kamarnya dimana itu kamar Rafael. Dia bisa merasakan bagaimana Rafael bertrung melawan musuh mereka. "Apa yang terjadi saat ini?Kenapa mereka belum pulang, apa yang terjadi padanya?"Aruna mengernyitkan keningnya. Dia menggerutu pelan. Seraya meremas kedua tangannya. "Apa yang kupikirkan, kenapa aku mikirin dia,"gumam pelan Aruna. Hampir tak terdengar. Sementara di tempat klan Black Rose bertarung melawan musuh. Peluru melesat di sekelilingnya, tapi pria itu bergerak cepat, presisi , satu peluru darinya, satu musuh tumbang. Namun darah mulai menodai sisi bahunya. “Dia terluka…” bisik Aruna dengan mata melebar. Suara ledakan terakhir mengguncang halaman depan. Bau mesiu memenuhi udara. Setelah beberapa menit yang terasa seperti seabad, semuanya kembali hening. Rafael berdiri tegak di tengah puing dan asap, dengan darah menetes dari lengan kirinya. Aruna menatap dari kejauhan, ketakutan dan rasa iba bercampur jadi satu. Untuk pertama kalinya, ia melihat monster itu terluka, dan entah mengapa, ada sesuatu di dadanya yang bergetar halus. Malam semakin larut. Bau mesiu masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma darah dan tanah basah. Para penjaga sibuk membersihkan area depan mansion, menyingkirkan sisa pertempuran yang baru saja berakhir. Di dalam rumah, suasana mencekam. Aruna bersembunyi di balik dinding, memandangi langkah Rafael yang tertatih menuju ruang tengah. Bahunya berlumur darah, dan langkahnya goyah. Meski ia berusaha tegak, tubuhnya jelas kehilangan banyak tenaga. “Hahah… Tuan Rafael!” salah satu anak buahnya memanggil panik. “Kita harus ke rumah sakit.” “Tutup mulutmu.” Rafael menepis kasar. Suaranya berat, tapi napasnya terdengar berat. “Tak boleh ada pihak luar yang tahu kejadian malam ini.” Begitu para penjaga pergi, Aruna masih bersembunyi. Namun saat melihat Rafael jatuh berlutut di lantai, darah mengalir deras dari lukanya, nuraninya berteriak lebih keras daripada rasa takutnya. Tanpa pikir panjang, Aruna berlari menghampiri. "Tuan...apa yang terjadi?"Aruna menghampiri Rafael yang digandeng anak buahnya. "Arrrgh."Rafael nampak memekik kesakitan saat harus di dudukkan di sofa. "Kau terluka tuan, aku akan coba panggil dokter." "Jangan!"Rafael.mencegah Aruna. "Aku tidak apa-apa, kau tidak usah panggil dokter." “Baiklah jangan bergerak ya, biar aku obati!” serunya dengan suara gemetar, sambil menarik kain dari meja makan dan menekannya ke luka Rafael. Aruna merupakan mahasiswa kedokteran yang masih berkuliah, sebelum akhirnya dia menjadi tawanan Rafael. Rafael membuka matanya perlahan, menatap gadis itu dengan pandangan lemah tapi tetap tajam. “Kenapa kau… peduli?” tanyanya serak. Aruna menggigit bibir, air mata menetes tanpa sadar. “Aku… aku hanya tidak bisa diam melihat seseorang sekarat di depanku. Bahkan kalau dia sejahat apa pun.” Rafael menatapnya lama, seolah mencoba memahami sesuatu di balik mata Aruna yang jujur itu. Tatapan itu membuat waktu terasa berhenti sesaat. Ketika Aruna berusaha menghentikan darahnya dengan kain seadanya, Rafael tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, menahan dengan lembut. “Aruna…” suaranya berat, nyaris berbisik. “Dunia yang kumasuki… tidak seharusnya kau lihat. Tapi sekarang, kau sudah ada di dalamnya.” Aruna terdiam. Tatapan mereka bertemu di bawah cahaya lampu temaram, menciptakan ketegangan yang tak bisa dijelaskan, antara kebencian, ketakutan, dan sesuatu yang perlahan berubah arah. "Aku tak seharusnya melibatkanmu,"Rafael sambil meringis menahan sakitnya. "Aku...juga sangat takut, saat melihat kau dan para anak buahmu, membawa senjata saat tadi pagi pergi."Aruna dengan suara terbata, dan dia kembali melanjutkan,"aku hanya berpikir bahwa kau dan anak buahmu adalah orang-orang yang jahat. Orang yang kejam, aku tak berpikir apapun selain itu."Aruna melangkah dengan wadah air hangat di tangannya. Yang selesai digunakan untuk membersihkan luka Rafael. "Ya...kau benar, aku memang kejam. Aku tak bisa memaksamu untuk berprasangka baik padaku."Rafael menatap sendu pada Aruna. Tatapannya berbeda dari sebelumnya. Yang tajam dan dingin kali ini sedikit hangat. "Aku...permisi dulu tuan,"ucap Aruna berpamitan. Rafael seperti biasa tidak menjawab. ******* Sementara musuh Rafael merasa gagal. Karena dia merasa wilayah kekuasaannya, masih dimiliki oleh Rafael. Sang ketua mafia dingin. "Sial...Rafael...kau memang kuat, tapi lihat saja, aku pasti bisa mengalahkanmu." Malam itu, mansion Rafael tampak sunyi dan dijaga ketat, tapi tanpa disadari ada satu sosok yang berkhianat di antara mereka. Marco, salah satu pengawal yang sudah lama bekerja di bawah Rafael, diam-diam mengangkat ponselnya dan mengirim pesan pendek: “Rafael punya kelemahan. Gadis bernama Aruna ada di mansionnya.” Tak lama setelah pesan terkirim, beberapa mobil tanpa plat berhenti jauh di luar pagar. Para lelaki bersenjata keluar, berpakaian hitam pekat, mata mereka tajam — mereka adalah orang-orang suruhan klan Gervano, sisa kelompok yang tak terima kekalahan di pelabuhan. Di dalam mansion, Aruna sedang menyiapkan teh untuk Rafael yang belum pulang. Ia tak tahu bahaya sudah mengintai dari kejauhan. Saat ia hendak naik ke kamarnya, suara kaca pecah terdengar dari arah dapur belakang. Kraakkk! Aruna tersentak, cangkir di tangannya jatuh dan pecah di lantai. Ia menahan napas, menatap ke arah suara itu. “Siapa di sana…?” tanyanya pelan, tapi tak ada jawaban. Tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Aruna mundur perlahan, matanya menatap pintu yang mulai didobrak. BRAKK! Tiga orang bertopeng masuk dengan senjata terarah. “Mana Rafael!” bentak salah satunya. Aruna terpaku, tubuhnya gemetar. “Dia… dia tidak ada di sini…” “Bohong!” Lelaki itu menamparnya keras hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. Aruna meringis, darah keluar dari sudut bibirnya. Mereka menyeretnya kasar ke ruang tamu. Salah satu membuka ponselnya — menunjukkan foto Aruna yang diambil diam-diam oleh Marco dari kamera keamanan. “Kau gadis itu, ya? Aruna.” Aruna menatap mereka dengan mata ketakutan. “Tolong… aku tidak tahu apa-apa…” Namun salah satu dari mereka menodongkan pistol ke kepalanya. “Kau tahu apa yang dilakukan Rafael pada keluarga kami? Sekarang, giliran dia merasakan sakit yang sama.” Sementara itu, di jalan tol menuju mansion, Rafael sedang dalam perjalanan pulang bersama Darren. Ponselnya bergetar, panggilan dari sistem keamanan mansion. Namun sebelum sempat dijawab, suara alarm otomatis terdengar dari mobil. “Boss! Ada pelanggaran di sektor timur mansion!” teriak Darren panik. Wajah Rafael langsung berubah tegang. Ia memukul dashboard keras-keras. “Sial! Aruna!” Mobil melaju kencang, hampir menabrak pembatas jalan. Rafael menggertakkan giginya, matanya tajam penuh amarah. “Kalau mereka menyentuhnya sedikit saja…” gumamnya dengan nada bergetar, “aku akan pastikan mereka tak bernapas lagi.” Sementara itu, di dalam mansion, Aruna berusaha melepaskan diri dari genggaman para penyerang. Salah satu dari mereka menyalakan kamera ponsel, hendak merekamnya untuk mengirim ke Rafael sebagai ancaman. Namun tiba-tiba lampu mansion padam. Semua orang terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD