Terpesona

1205 Words
Rafael melihat pakaian Aruna yang sederhana. Dia berpikir jika dialah yang membawa gadis itu ke rumahnya. "Pakaiannya sudah lusuh, dan bisa jadi semua yang dia pakai sudah tidak layak pakai,"gumam pelan Rafael ada rasa peduli dan rasa bersalah dalam hatinya. Dia berusaha menepisnya. Tak lama dia memanggil asistennya. "Reno, cepat ke ruang kerjaku." "Baik tuan."Reno bergegas menuju ruang kerja yang ada di lantai 3 rumah Rafael. Menggunakan lift. "Tuan, ada apa ?" "Sepertinya kita perlu untuk membeli beberapa pakaian wanita." "Apa? pakaian wanita?"Reno dengan ekspresi terkejut. "Ya, memangnya ada yang aneh?"Rafael nampak mengernyitkan keningnya. "Ttapi untuk siapa bos?"Reno kembali memicingkan matanya. "Aruna."Rafael merendahkan suaranya. Sambil menarik sudut bibirnya tersenyum kilat. "Ooh Aruna, sepertinya...."Reno tak melanjutkan kata-katanya. Saat menatap wajah Rafael yang tajam."Baiklah aku mengerti. " "Jangan banyak bicara, cukup lakukan perintahku."Rafael dengan tangan di saku celananya. Reno segera memanggil pemilik butik dan meminta pemilik butik langganan mereka datang ke mansion Rafael sebagai customer VIP. "Aku mendapat perintah dari tuan Rafael agar kau bisa membawa beberapa koleksi terbaik dari butikmu." Mobil van hitam terparkir di halaman depan mansion Rafael. Mereka adalah anak buah pemilik butik yang di pilih Reno. Untuk menyediakan pakaian wanita. Biasanya Rafael hanya memilihkan pakaian untuknya, tapi kali ini berbeda. Tiba-tiba Rafael meminta pakaian wanita. "Selamat siang, kami dari butik La Venna,"ujar salah satu pegawai butik. "Ya, silahkan ke lantai 2, di sana ada ruang wardrobe, kalian bisa membawa pakaian ke sana lewat lift."Salah satu maid mempersilahkan. "Baik." Dora mendapat perintah untuk memilih pakaian yang sesuai dengan ukuran Aruna. Tanpa Aruna tahu. Karena jika Aruna tahu, maka dia pasti akan menolaknya. "Dora, pilih dress yang cocok untuk gadis itu,"ucap dingin Rafael kemudian dia pergi ke ruang kerjanya. "Apakah dia akan menyukainya?"Rafael dalam batinnya. Sejak dikurung , Aruna hidup dalam ketakutan yang tak pernah benar-benar hilang. Setiap kali langkah sepatu Rafael terdengar dari ujung koridor, tubuhnya menegang tanpa sadar. "Dia datang...." Baginya, pria itu bukan manusia biasa, tapi monster berjas mahal, sosok dingin yang bisa menentukan hidup dan matinya hanya dengan satu tatapan. "Kau...sudah makan?"Rafael memasuki kamar Aruna yang kini menyatu dengan kamarnya. "Ssudah."Aruna gemetar,meremas pakaian nya yang lusuh. "Dora, bawa semua pakaian yang kau pilih sekarang." "Baik tuan. "Dora mengangguk pelan. Rafael nampak menarik napas, rasa gugup entah darimana datangnya. Yang tak pernah ia rasakan selama ini. Bahkan dia seperti canggung menatap wajah cantik alami Aruna. "Kau...masih marah padaku?"Rafael mengangkat kedua alisnya. "Tidak, kurasa kau tahu jawabannya. Bahwa aku tak berhak marah, apalagi berpendapat di sini."Aruna menjawab tanpa menatap wajah Rafael. "Baiklah.. Aku mengerti,"Rafael mengangguk pelan, sambil menarik sudut bibirnya. "Tuan...ini pakaiannya."Suara Dora dari balik pintu. "Baiklah, bawa masuk. Dan semua pakaian, tas juga perhiasan, biarkan Aruna yang memilihnya sendiri."Rafael melirik sekilas ke arah Aruna. Nampak Aruna takjub dengan kemewahan itu, seketika matanya terbelalak. Ini barang butik yang belom pernah dia beli, seumur hidupnya. "Tunggu, apa semua ini?"Aruna dengan wajah bingung. "Semua ini untukmu, kau bebas memilih."Rafael dengan senyum samarnya. Pemandangan yang sangat langka. "Maaf tuan Rafael. Aku tidak berhak menerimanya." "Aku tidak mau berdebat, karena aku tidak menerima penolakan. Selama kau di rumahku. Kau tanggung jawabku."Rafael dengan ekspresi datarnya. Dan dia berlalu dari hadapan Aruna. "Nona...ayo cepat, pilih yang mana kau suka." "Aku suka semuanya Dora, ini adalah barang impianku."Aruna dengan mata berkaca-kaca. Dibalik pintu, Rafael mendengar ucapan Aruna. Dia tersenyum sekilas. Sebelum kembali pada ekspresi semula. "Tuan.."Reno menghampiri bosnya "Ada apa,"ujar Rafael dengan nada rendah. "Ada kabar dari musuh kita." "Heumm apa itu." "Ada beberapa gerakan mencurigakan tuan. Tim pemantau dari klan kita. Sudah menemukan beberapa pergerakan dari mereka. Yang hendak melakukan hal yang tidak kita inginkan." "Kalau begitu, perketat keamanan di mansion, dan markas kita. Aku tidak mau dia menemukan orang-orang di sekitarku."Rafael dengan rahang mengetat. "Maksud anda, orang disekitar anda?"Reno mengernyitkan keningnya. "Apa aku harus mengulang kata-kataku Reno?"Rafael dengan menatap tajam. "Euh iiya, tuan. Aku mengerti."Reno mengangguk dengan cepat. "Besok kita menuju ke titik mereka melakukan pergerakan..Siapkan semuanya." "Baik tuan." ****** Sementara Aruna masih memilih pakaian dari butik La Venna. Yang didatangkan ke mansion Rafael. "Wahhh, nona cantik sekali pakai dress ini. Kata tuan, pilih pakaian untuk dipakai sehari-hari. Dia ingin nona tampil cantik setiap hari dengan perhiasan dan pakaian yang cantik."Dora dengan mata berbinar. "Dora, ambil ini, sebuah jepit rambut yang indah dan ...tas kecil ini untukmu. " "Ttapi...tuan akan marah."Dora dengan wajah cemas. "Aku pastikan itu takkan terjadi,"Aruna menipiskan bibirnya dan mengangguk meyakinkan Dora. "Nona...ini indah sekali."Dora mengambil benda itu. Dia sangat senang. "Tapi...beneran ya non. Tuan enggak akan marah." "Iya, jika dia marah, aku tidak mau menerima pemberiannya."Aruna tersenyum tipis. "Tuan Rafael sangat berubah, sebelumnya tidak pernah melakukan hal ini pada wanita mana pun,"ujar Dora. "Benarkah?"Aruna membelalakkan matanya. "Iya, semua wanita itu hanya ingin uangnya. Sehingga tuan tidak pernah memberikan hal yang spesial untuk mereka. Tapi pada nona dia sangat berbeda."Dora memegang tangan Aruna. "Entahlah Dora. Dia masih menyeramkan bagiku, karena dia...sudah menjadikan aku penebus hutang Ayahku." "Mungkin itu karena memang karena emosi sesaat, dan itu merupakan perjanjian nona, sepertinya tuan ...berbeda sekali pada nona." "Entahlah, aku belum bisa percaya padanya."Aruna menatap kosong ke arah lain. Kilatan ingatan akan semua yang terjadi. Membuat dia masih berpikir untuk percaya pada Rafael. Setelah selesai. Reno melakukan pembayaran. Dengan harga yang fantastis. "Selesai terimakasih tuan, semoga kami selalu menjadi pilihan anda." "Ya,"ujar Reno. Dia membeku setelah melihat angka yang fabtastis, yang harus dia bayar tadi. "Ini sudah gila, seorang Rafael membeli kan barang mewah untuk gadis penebus hutang?Gadis biasa yang lugu dan polos."Reno dengan suara rendahnya. Malam itu, Aruna menggunakan pakaian drees berwarna pastel elegan. dan jepit rambut yang indah dan polesan tipis diwajahnya. Membuat siapapun terpukau. "Selamat malam, semuanya,"sapa Aruna "Malam..woww kamu cantik sekali nona."Dora terpukau dan membeku sejenak. "Tuan sudah menunggu di bawah untuk makan malam." "Baiklah. " Rafael duduk dengan tegak, sambil mengecek ponselnya. Namun saat mendengar langkah kaki dia tercekat. Matanya terbelalak memandang Aruna yang sangat cantik. "Dia....sangat cantik. "Suara dalam batinnya. "Maaf tuan, aku terlambat." "Duduklah, dan makan."Rafael dengan nada dingin. Namun tatapannya sesekali menuju Aruna. "Baik." jawaban singkat Aruna. "Terimakasih, atas...pakaian dan perhiasan yang kau berikan tuan."Aruna sambil tertunduk. "Heumm."Rafael bahkan tak mengucapkan satu patah kata pun. Pagi itu, Aruna tanpa sengaja melihat dari balkon kamarnya. Rafael sedang berdiri di dekat mobil hitamnya, mengenakan jas gelap dan sarung tangan kulit. Di pinggangnya, senjata api terselip begitu saja seolah itu hal biasa. Ia berbicara dengan beberapa pria berpakaian hitam, anak buahnya. Suara mereka rendah, tegas, dan penuh ancaman. “Singkirkan siapa pun yang berani melanggar batas wilayah kita,” begitu kata Rafael sebelum menutup pintu mobil dan pergi dengan kecepatan tinggi. Aruna tertegun. Dadanya sesak, tangannya bergetar. “Dia benar-benar seorang pembunuh…” bisiknya lirih, matanya tak berkedip menatap ke arah gerbang yang baru saja tertutup. Sepanjang hari itu, Aruna tak bisa berhenti memikirkan Rafael. Sosoknya yang tampak berkuasa membuatnya ngeri, tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang justru ingin tahu, kenapa pria sekejam itu bisa memiliki tatapan yang kadang… tampak begitu kosong dan terluka?" Namun Aruna cepat-cepat menghapus pikiran itu. Ia menegakkan punggungnya dan berbisik pada dirinya sendiri, “Aku harus ingat… dia bukan manusia baik. Aku tidak boleh merasa kasihan.” Dan malam itu, saat Rafael pulang dengan wajah dingin dan darah yang menempel di ujung kemejanya, Aruna semakin yakin dia hidup di rumah seorang monster yang tersenyum dengan darah di tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD