Langkah kaki berat terdengar menuruni anak tangga batu. Suara itu bergema pelan di sepanjang lorong bawah tanah yang gelap dan dingin. Dua penjaga membuka gembok besar di pintu besi, lalu mundur memberi jalan.
Rafael berdiri di ambang pintu. Jasnya tak lagi rapi, rambutnya berantakan, dan sorot matanya gelap — bukan karena marah, melainkan karena gelisah.
Ia menatap ke dalam ruangan. Di sana, Aruna duduk di sudut, masih memeluk lutut, wajahnya pucat dan matanya sembab karena tangis. Ia tampak begitu kecil dan rapuh di tengah dinginnya ruangan batu itu.
Beberapa detik Rafael hanya berdiri, diam.
Seolah tak tahu bagaimana harus memulai.
“Aku memberimu tempat tinggal, makanan, perlindungan…” suaranya rendah, pelan, tapi terdengar kaku.
“…dan kau membalasnya dengan penghinaan.”
Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap ke lantai, matanya kosong.
Rafael mendekat dua langkah.
“Kenapa diam? Setidaknya katakan sesuatu.”
Masih tak ada reaksi. Hanya bunyi napas Aruna yang tersengal.
Rafael mengepalkan tangan. “Kau pikir aku senang melakukan ini? Kau pikir aku menikmati melihatmu di sini?”
Aruna perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya merah, tapi sorotnya penuh luka dan kekecewaan.
“Kalau begitu… kenapa kau tetap melakukannya?” tanyanya lirih.
Pertanyaan itu membuat Rafael terpaku.
Untuk sesaat, ia tidak punya jawaban.
Ia hanya menatap gadis itu — dan dalam diam, hatinya menolak percaya bahwa gadis dengan wajah seperti itu bisa berbohong.
Tapi egonya menahan. Ia berbalik, menatap dinding batu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah.
Aruna berdiri perlahan, tubuhnya gemetar. “Aku tidak melakukan apa yang kau lihat, Tuan Rafael,” katanya dengan suara bergetar. “Aku tidak tahu kenapa pria itu datang. Aku tidak memintanya… aku bahkan mencoba menjauh.”
Rafael memejamkan mata, menarik napas dalam.
“Aku tidak ingin mendengarnya,” ujarnya pelan tapi keras.
Aruna tersenyum pahit, air mata jatuh di pipinya.
“Tentu saja tidak. Orang sepertimu tidak pernah mau mendengar apa pun dari orang seperti aku.”
Kata-kata itu seperti tamparan bagi Rafael. Ia menatap Aruna lagi, kali ini, tanpa amarah.
Yang ia lihat hanya rasa sakit yang jujur, ketakutan yang nyata, dan kelelahan yang tidak bisa berpura-pura.
Ia akhirnya berkata pelan, “Makanlah. Aku tidak ingin kau mati di tempat ini.”
Kemudian, tanpa menunggu jawaban, ia berbalik meninggalkan ruangan.
Saat pintu besi tertutup, Rafael berhenti di depan tangga.
Tangannya menyentuh d**a ada sesuatu yang bergetar di sana.
Bukan marah. "Perasaan macam apa ini"Rafael dalam batinnya.Bukan benci. Tapi rasa bersalah yang menyesakkan.
“Kenapa aku harus peduli…” gumamnya pada diri sendiri. Tapi bahkan suaranya sendiri terdengar ragu.
Malam mulai larut.
Langit di luar mansion tertutup awan pekat, dan suara petir sesekali terdengar menggema di kejauhan.
Rafael duduk di ruang kerjanya, memandangi segelas wiski yang sejak tadi tak tersentuh.
Bayangan wajah Aruna terus menghantui pikirannya, matanya yang sembab, suaranya yang lirih saat berkata, “Orang sepertimu tidak pernah mau mendengar orang seperti aku.”
Ia mengetukkan jari di meja pelan, mencoba fokus pada laporan bisnis di depannya — tapi kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti gema yang tak bisa dihapus.
Sampai akhirnya, pintu diketuk.
“Masuk,” ucapnya datar.
Salah satu penjaga masuk, menunduk sopan. “Tuan, kami menemukan sesuatu di area kandang, saat melakukan patroli malam.”
Rafael menatapnya tajam. “Apa itu?”
Penjaga itu meletakkan sebuah benda di atas meja, sebuah kalung kecil berwarna perak, dengan liontin berbentuk huruf “A”.
“Itu terjatuh di dekat sekop. Kami pikir milik Nona Aruna, tapi salah satu pelayan bilang… itu milik Nona Alexa.”
Rafael menatap benda itu lama.
Kalung itu sangat ia kenal — hadiah yang ia berikan sendiri pada Alexa beberapa bulan lalu.
Rahangnya mengeras.
“Dan kau bilang ditemukan di dekat kandang?”
“Benar, Tuan. Bahkan kami sempat melihat Nona Alexa di sekitar area itu sebelum kejadian. Ia bilang ingin memberi makan kuda, tapi… tak ada makanan yang dibawa.”
Rafael terdiam. Sesuatu di dadanya bergetar keras.
Potongan-potongan kejadian mulai menyatu di pikirannya, bagaimana Alexa terlalu cepat muncul, bagaimana ekspresinya tampak terlalu siap untuk kaget, dan bagaimana Aruna tampak ketakutan, bukan bersalah.
Tangannya mengepal di atas meja.
“Keluar,” ujarnya singkat.
Begitu penjaga pergi, Rafael berdiri perlahan. Pandangannya jatuh pada cermin besar di dinding.
Wajah yang menatap balik padanya adalah wajah pria yang ia benci, dingin, angkuh, dan kejam.
Ia menatap pantulan dirinya lama, sebelum berbisik pelan,
“Jadi… aku salah.”
Tanpa pikir panjang, ia bergegas keluar. Langkahnya cepat dan berat, menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.
Ketika pintu besi terbuka, hawa dingin menyergapnya.
Aruna masih di sana, duduk di lantai, tubuhnya tampak lemah dan pucat. Ia menatap Rafael dengan mata kosong, tanpa ekspresi.
Rafael berdiri di depan pintu, kehilangan kata-kata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berkata apa.
“Aruna…” suaranya hampir bergetar. “Aku…”
Aruna hanya menatapnya, lalu menunduk. “Kenapa kau datang lagi? Sudah cukup menghukumku, kan?”
Rafael menelan ludah, dadanya sesak.
“Aku tahu sekarang. Kau tidak bersalah.”
Kepala Aruna terangkat cepat, matanya berkaca-kaca.
“Tapi kau… tidak percaya padaku saat aku bilang itu bukan salahku.”
Rafael melangkah mendekat.
“Dan aku salah.”
Aruna memalingkan wajah, menahan tangis. “Kata maaf tidak akan menghapus rasa sakit, Tuan Rafael. Kau sudah membuatku merasa… seperti aku tidak berharga.”
Rafael menunduk, kedua tangannya mengepal kuat.
Untuk pertama kalinya, pria sekeras baja itu tak mampu menatap mata seseorang yang ia sakiti.
Ia akhirnya berkata pelan, hampir seperti bisikan,
“Mulai malam ini, kau bebas keluar dari sini.”
"Terimakasih,"ucap pelan Aruna. Dengan sisa tenaganya. "Akhirnya....aku keluar dari tempat pengap ini."Aruna dengan nafas pelan.
Langkah kakinya gontai. Karena tidak makan, tubuhnya seperti tidak memiliki tenaga.
Namun, sebelum berbalik pergi, Rafael sempat menatap Aruna sekali lagi, kali ini bukan dengan amarah, tapi dengan penyesalan yang tulus dan rasa yang tak bisa ia namai.
Mulai hari ini,” suara Rafael berat dan dalam, “kau akan tinggal di kamarku.”
Aruna mengangkat kepala, kaget. “Apa maksudmu?” suaranya gemetar, separuh takut, separuh marah.
Rafael berjalan mendekat, sepatu kulitnya bergema di lantai dingin. “Kau akan berada di bawah pengawasanku langsung. Aku tidak ingin ada drama lain. Kau akan membersihkan kamarku, menyiapkan pakaianku, dan memastikan semuanya berjalan sesuai keinginanku.”
Aruna menelan ludah, jantungnya berdetak keras. Ia tidak berani melawan, meski hatinya berontak. “Aku bukan pelayanmu,” gumamnya pelan.
Rafael menatapnya lama, tatapannya menusuk, tapi bukan sepenuhnya dingin. “Sekarang kau bukan siapa-siapa di sini, Aruna. Tapi kalau kau menuruti perintahku, aku akan memastikan kau tetap hidup dengan tenang.”
Tanpa kata lagi, Rafael berbalik, meninggalkan Aruna di sana dengan hati yang kacau.
Beberapa menit kemudian, dua pelayan membawanya ke kamar besar di lantai atas, kamar Rafael. Ruangan itu luas, beraroma kayu mahal, dengan jendela menghadap taman.
Aruna berdiri kaku di tengah kamar itu. Setiap sudut terasa asing, penuh kemewahan tapi juga menakutkan.
Dalam hati, ia berjanji: Aku akan mencari cara keluar dari sini, apa pun yang terjadi.
Namun tanpa ia sadari, di balik sikap dingin Rafael, ada sesuatu yang mulai berubah. Setiap kali melihat Aruna berjalan di dalam rumah dengan pakaian sederhana dan tatapan penuh perlawanan, ada sesuatu di dadanya yang tak bisa ia jelaskan.