Siasat Licik

1220 Words
"Apa maumu Alexa, kenapa kau selalu mengganggu Aruna."Rafael mengeratkan rahangnya. "Santai...Rafael sayang. tidak bisakah kita seperti dulu. sesuai dengan kontrak perjanjian hubungan kita?"Alexa nampak mendekat. Namun Rafael semakin mundur. "Jangan bersikap seolah aku adalah milikmu, ingat kontrak kita berakhir saat ini juga, kau bebas. Dan aku akan membayar kompensasinya." "Rafael...tidak...Kau berubah karena gadis jalanan itu bukan ?"Alexa berteriak. "Plak."Sebuah tamparan melayang ke pipi mulus Alexa."Jangan pernah sebut Aruna dengan sebutan itu, dengan mulut kotormu." "Arrrgh,"Alexa memegang pipinya. "Reno...bawa dia, jangan biarkan dia muncul lagi didepanku."Rafael mendengus dengan sorot mata tajam menghunus ke siapa saja yang menatapnya. "Baik tuan."Reno mengangguk pelan namun tegas. "Lepas, lepaskan aku."Alexa berteriak. ***** Hari itu langit sedikit mendung. Aruna baru saja selesai menyapu lantai belakang mansion ketika salah satu pelayan datang menghampiri dengan canggung. “Aruna, Nona Alexa menyuruhmu membersihkan kandang kuda di sisi timur,” katanya. Aruna mengangguk sopan. “Baik, Kak.” Ia tidak tahu bahwa di balik perintah sederhana itu, tersimpan jebakan yang sudah disusun rapi. Di kandang yang luas dan sepi, Aruna menggulung lengan bajunya. Bau jerami bercampur lumpur memenuhi udara. Ia mulai bekerja dengan tekun, tak mempedulikan percikan kotoran di bajunya. Sementara itu, di kejauhan, Alexa berdiri di dekat pagar batu bersama seorang pria berpostur tegap, salah satu penjaga yang diam-diam ia perdaya. “Pastikan dia tampak seolah menikmati perhatianmu,” bisik Alexa dingin. “Buat seolah dia sengaja menggoda. Aku akan pastikan Rafael datang di saat yang tepat.” Pria itu mengangguk, lalu berjalan menuju kandang. Aruna sempat terkejut ketika pria itu mendekat terlalu dekat. “Boleh kubantu, Nona?” suaranya berat, penuh niat tak baik. “Tidak perlu,” Aruna menjauh, mencoba tetap sopan. "Ayolaah, jangan sungkan, aku tidak keberatan." Namun pria itu terus mendekat, pura-pura mengambil sekop di dekatnya dan menatap Aruna dengan pandangan yang membuat gadis itu takut. “Tenang saja, aku tidak akan melukaimu… kalau kau tidak berteriak.” Aruna mundur sampai punggungnya menempel pada dinding kayu. “Jangan sentuh aku!” serunya panik. " Ha ha,.ayolah cantik, kau seperti berlian. Sangat berkilau,"ucap laki-laki itu dengan senyuman liciknya. "Sayang sekali jika gadis secantik dirimu, sendirian di sini. "Tidak...jangan mendekat, aku akan berteriak kalau kau berani mendekat."Aruna nampak panik dan mata melirik ke kanan dan kekiri. Dia berusaha mencari cara untuk melepaskan diri. "Hoooh. Aku takut. Tidak akan ada yang menyelamatkanmu manis, hanya kita berdua saja di sini."Laki-laki bertubuh kekar itu semakin mendekat. Langkahnya yang panjang semakin cepat mendekat. "Tolong...tolong.."Aruna berteriak. Namun dengan cepat laki-laki itu membekap bibir mungil Aruna. "Diam, jangan berteriak," ujar laki-laki tersebut. "Ehmmmp, ehmmmp." "Sebaiknya...kau nikmati saja, tidak usah bersuara, oke.."Senyum licik laki-laki itu terdengar sangat menjijikan bagi Aruna. Sementara di dekat kandang kuda. Seorang penjaga kandang mendengar suara wanita meminta tolong. "Seperti ada suara minta tolong tadi?"Dia menatap sekelilingnya."Tapi tidak ada siapa-siapa." **** Aruna kini berjuang keras agar bisa lepas dari laki-laki jahat tersebut. Tapi sebelum pria itu sempat bertindak lebih jauh, suara langkah cepat terdengar. Pintu kandang terbuka keras . "Brakkk."Seorang penjaga membuka paksa sebuah kandang eksklusif. "Sedang apa kalian!"Arnold penjaga kuda berteriak. "Aaaku sedang bersenang-senang, biasa lah,"ujar laki-laki itu. "Tidakk itu tidak benar, dia memaksaku, dan ... aku." "Sudah cukup, kau nona, masih muda tapi kau mau saja berbuat seperti itu di kandang kuda."Arnold memicingkan matanya. "Itu tidak benar, tuan...Aku ..sedang bekerja, dan tiba-tiba laki-laki ini datang." "Hei... kenapa kau berbohong, bukankah tadi kita suka sama suka!"Laki-laki tersebut nampak menatap tajam ke arah Aruna. "Kau..."Aruna mengacungkan jarinya, pada laki-laki itu namun saat Aruna melihat sosok laki-laki yang dia kenal sangat menakutkan dia terdiam. Rafael berdiri di sana. Matanya langsung membesar melihat pemandangan di depannya, Aruna terpojok, rambutnya berantakan, dan pria itu berdiri terlalu dekat dengannya. Namun bagi Rafael, yang datang di saat yang salah, semuanya tampak jelas, seolah Aruna sedang bermain peran murahan. “Cukup!” bentak Rafael, suaranya menggelegar. Aruna menatapnya kaget. “Tuan Rafael, ini tidak seperti yang Anda pikir, ” “Diam!” potong Rafael tajam. “Aku sudah terlalu bodoh percaya pada wajah polosmu!” Alexa muncul tak lama kemudian, pura-pura terkejut dan menutup mulutnya. “Oh Tuhan… Aruna, apa yang kau lakukan?” katanya dengan nada manis tapi penuh racun. Aruna menatap Alexa dengan mata berkaca-kaca, mulai mengerti semuanya. “Ini… ini jebakanmu, bukan?” suaranya gemetar. Rafael tidak lagi mau mendengar. Ia menarik napas keras, lalu memerintahkan penjaga, "Hei... jangan sembarangan menuduh ya, kamu yang berbuat kenapa menyalahkan aku."Alexa sambil mengibaskan rambutnya. “Bawa gadis ini ke ruang bawah. Kunci. Jangan beri dia keluar sampai aku yang menyuruh.”Rafael dengan nada dingin. Aruna berusaha menjelaskan, menangis, memohon, tapi tak ada yang peduli. "Tuan....jika kau percaya mereka, aku terima. Aku hanya ingin mengatakan, bukankah kau seorang yang tahu akan kerasnya dunia."Aruna dengan nada terisak. "A-aku yakin, kau bukan orang yang mudah percaya begitu saja, apa yang kau lihat."Aruna melangkah dengan tertunduk. Rafael menatapnya dengan dingin, meski ada sesuatu di matanya yang tampak bergetar, kemarahan, kebingungan, dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu. Saat pintu bawah tanah ditutup dan suara gembok terkunci, Aruna hanya bisa bersandar di dinding lembab itu. Air matanya mengalir pelan. Ia menatap langit-langit gelap dan berbisik lirih, “Kenapa aku selalu harus membayar dosa orang lain…” Sementara di atas sana, Rafael berdiri di balkon dengan rahang mengeras. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Aruna bersalah, tapi entah kenapa, hatinya terasa seperti baru saja mengkhianati sesuatu yang rapuh dan tulus. Ruangan bawah tanah itu lembab dan gelap. Dindingnya terbuat dari batu kasar yang dingin, sementara lampu redup di langit-langit berkelap-kelip, seolah hampir padam. Di sudut ruangan, Aruna duduk memeluk lutut, masih mengenakan pakaian yang kotor setelah dari kandang kuda. Tangannya gemetar, napasnya tersengal karena tangis yang tak berhenti sejak tadi. “Kenapa semua ini harus terjadi padaku…” bisiknya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh bunyi rantai logam yang bergesekan setiap kali ia bergerak. Ia menatap ke arah pintu besi yang tertutup rapat, seolah berharap seseorang datang, tapi yang terdengar hanya keheningan. Air matanya menetes lagi. Dalam kesunyian itu, pikirannya melayang pada satu sosok yang selama ini selalu memberinya harapan ibunya, Mariana. “Ibu…” Aruna menatap ke langit-langit, suaranya bergetar. “Andai Ibu tahu Aruna ada di mana sekarang… andai Ibu masih bisa peluk Aruna seperti dulu…” Ingatan masa kecilnya berkelebat: Suara lembut ibunya saat meninabobokannya, aroma masakan sederhana di dapur, dan pelukan hangat yang selalu membuatnya merasa aman meski hidup mereka kekurangan. Namun semuanya kini terasa jauh. Aruna menyandarkan kepala di dinding, matanya terpejam. “Ayah…” suaranya kini lirih dan getir. “Kenapa Ayah tega menjual Aruna ke orang seperti mereka…” Tangisnya pecah lagi, tapi kali ini bukan hanya karena takut, melainkan karena patah hati yang dalam. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Aruna harus kuat,” bisiknya pelan, mencoba menguatkan diri sendiri. “Ibu pasti ingin Aruna tetap hidup… bukan menyerah.” Namun, bahkan di tengah keteguhan kecil itu, tubuhnya mulai menggigil karena dingin dan kelelahan. Ia memeluk dirinya lebih erat, membiarkan air mata jatuh satu per satu hingga akhirnya terlelap dalam tangis yang lirih. Di atas sana, Rafael masih duduk di ruang kerjanya. Ia belum bisa tidur. Segelas wiski di tangannya tidak juga menenangkan pikirannya. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Aruna muncul, bukan wajah gadis pengkhianat seperti yang ia ingin percayai, tapi wajah polos penuh air mata. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafael merasakan sesuatu yang tidak ia pahami: penyesalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD