Tatapan mematikan

1297 Words
Aruna digiring oleh kedua maid Rafael, Hilda dan Dora. "Mari...kami akan mengantarmu,"ucap Dora dengan lembut. Namun langkah Aruna terhenti, keraguan dan juga rasa cemas yang terpancar di sorot mata Aruna nampak jelas. Aruna menggeleng pelan."Tidak Dora, tunggu...Aku tidak mau ke sana, di sana bukan tempatku, aku takut Dora." Dora menatap lekat wajah Aruna dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca, Dora tahu apa yang dirasakan Aruna."Aruna, yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa padamu. Percayalah padaku."Dora menggenggam tangan Aruna. Meski batinnya prihatin akan apa yang menimpa Aruna, Dora berusaha tersenyum getir. "Baiklah, aku percaya padamu Dora."Aruna kembali melangkahkan kakinya. Perlahan, nampak begitu berat kaki kecil itu melangkah. Menuju kamar utama di mansion itu, dimana seorang mafia ada di dalamnya. "Tuhan, lindungi aku,"suara batin Aruna. Sementara Rafael tidak ada di kamarnya, dia saat ini sedang berada di kolam renang. Malam itu udara terasa hangat, aroma klorin dari kolam renang menguar lembut bersama angin malam. Lampu-lampu taman berkilau redup, memantulkan cahaya di permukaan air yang tenang. Rafael berjalan mendekati kolam, melepas jasnya dan menyandarkannya di kursi panjang. Hanya dengan kemeja putih yang digulung hingga siku, ia duduk di tepi air, memandangi langit malam tanpa ekspresi. Langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. “Honey, kau sendirian?” suara Alexa terdengar menggoda. Rafael tidak menoleh. “Kau tidak pernah bisa tidur tanpa membuat keributan, ya?” Alexa tersenyum, menurunkan handuk yang menutupi tubuhnya. baju renang bikini yang ia kenakan membuatnya tampak percaya diri seperti biasa, seksi dan menggoda. Ia melangkah ke air perlahan, membuat riak kecil yang memantul di wajah Rafael. “Keributan kadang membuat malam tak terasa sepi,” katanya sambil berenang mendekat."Karena keributan kecil yang kubuat, akan membuatmu nyaman, dan puas." Rafael hanya diam. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang jauh, bukan pada Alexa, bukan pada kolam, tapi pada sesuatu yang lain. "Sedang apa dia, apa dia sudah ada di kamarku, atau...dia menolak perintahku lagi?"Rafael bergejolak dalam batinnya. Alexa mendekat, mencoba menarik perhatian Rafael dengan sentuhan lembut di bahunya. “Kau bahkan tidak melihatku,” ujarnya sedikit kesal."Apa yang kau pikirkan Rafael?Hei...Aku disini." Rafael menghela napas panjang, akhirnya menatap wanita itu. “Aku melihatmu,” jawabnya datar, “tapi bukan itu yang kucari malam ini.” Alexa menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu?” Rafael berdiri, berjalan menjauh dari tepi kolam. “Pergilah tidur, Alexa. Jangan buang tenagamu untuk menarik perhatianku, karena aku sedang tidak ingin diganggu."Rafael berlalu dan memakai kembali kimononya. Dia mengurungkan niatnya untuk berenang. Seolah moodnya sudah hancur oleh kehadiran Alexa. Wanita itu menggigit bibirnya, antara marah dan bingung."Arrrgh, shit." Namun yang tidak ia sadari, di balkon lantai atas, seorang gadis berdiri diam, menatap pemandangan itu dengan hati yang tak karuan, yaitu Aruna. "Rafael menolak wanita itu?Tapi...bagaimana bisa, bukankah mereka memiliki hubungan?" Dari tempatnya, ia melihat bagaimana Rafael menolak Alexa, bukan dengan marah, tapi dengan dingin yang menyakitkan. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak. Antara lega dan entah apa yang lain. Cahaya lampu kolam menyorot wajah Rafael yang menatap ke arah balkon. Sekilas, pandangan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat waktu seolah berhenti."Deg."Jantung Aruna berdegup kencang. Aruna cepat-cepat mundur ke balik tirai, jantungnya berdegup kencang. “Apa yang sedang aku rasakan ini…” bisiknya pelan. Sementara Rafael tetap berdiri di bawah, menatap arah balkon itu lama, sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kolam tanpa sepatah kata pun. Aruna memegang dadanya, yang terlihat naik turun akibat tatapan Rafael dan dirinya bertemu. Ada perasaan aneh yang dia rasakan saat ini. "huhhh, huhhh,"Aruna berusaha mengatur nafasnya. Suara langkah kaki terdengar makin jelas mendekat ke arah kamar. Aruna bingung harus bagaimana. "Duh, bagaimana ini, dia...menuju kemari."Aruna akhirnya menuju ranjang dan menutup wajahnya menggunakan selimut. "Ceklek."Suara pintu dibuka. Aroma parfum maskulin mahal menyeruak. Rafael tahu jika Aruna pura-pura tidur. Dia hanya tersenyum, setidaknya gadis yang selalu melawannya itu, saat ini ada di kamarnya. "Kau sudah tidur?"Rafael mendekatkan wajahnya dan mencium kening Aruna. Nampak Aruna yang mengerutkan keningnya tanda dia ketakutan. "Ternyata..Kau hanya pura-pura, baiklah kalau begitu, aku akan tidur di sofa saja, supaya kau merasa nyaman."Rafael menjauh dan berdiri di depan cermin. Dia membuka satu persatu pakaiannya. "Tidak...kau mau apa?"Aruna terperanjat, matanya membulat,"Kkkau. mau berbuat m***m?" "Apa?m***m?Hei...Aku mau tidur, dan aku tidak mungkin memakai pakaian basah saat tidur."Rafael mengambil pakaiannya untuk tidur. "Tttapi kau bisa ganti di walking closet, atau .." "Memangnya kau siapa?Ini kamarku, jadi terserah aku mau ganti dimana."Rafael mendekatkan wajahnya pada Aruna. "Tidurlah, sudah malam." "Biar aku saja yang tidur di sofa, anda ...tidur di ranjang saja." "Kita tidur berdua di ranjang, ini perintah." "Apa ? Tidak mau."Aruna menggeleng dengan cepat. Dia berusaha keluar dari kamar namun Rafael menekan remot sehingga pintunya terkunci otomatis. "Buka...buka...pintu nya." "Kau mau apa, sudahlah, ayo sini.. tidurlah."Rafael menepuk ranjang kingsizenya. Dengan langkah ragu, Aruna menuju ranjang tersebut. Dia memejamkan matanya, bukan karena mengantuk, tapi karena takut yang mendera perasaannya saat ini. Tak lama dengkuran halus terdengar dari Aruna. Rafael menyelimuti gadisnya. Dan membelai rambutnya. "Bagaimana bisa gadis sepertimu, bisa mengalihkan pikiranku, dan kau sangat keras kepala dan pembangkang." Rafael tersenyum tipis. Keesokan paginya, Aruna terbangun, dia terkejut saat tangan besar melingkar di pinggang nya. Dan wajahnya sangat dekat dengan Rafael. Kakinya berada diatas perut Rafael. Namun ketua mafia tersebut, tidak keberatan. "Hahhh, apa ini, kenapa kakiku bisa berada di perutnya, kalau dia sadar bisa mati aku."Aruna mengerjapkan matanya. Aruna pun menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya dan segera ganti baju.Dia tidak lupa dengan tugasnya sebagai maid."Hei...lihat itu, dia pandai sekali menggoda tuan Rafael."Hilda nampak bebrisik pada temannya. "Enggak salah, dia ..tidur di kamar tuan Rafael." Suasana mansion terasa tegang. Para pelayan bekerja dengan canggung, mereka tahu sejak tadi pagi, Alexa sudah membentak dua orang maid hanya karena hal sepele. Wanita itu duduk di ruang tamu dengan wajah muram, masih mengenakan gaun sutra tipis. Cangkir kopinya sudah dingin, tapi amarah di matanya masih menyala. “Dia pikir siapa gadis itu?” gumam Alexa pelan namun tajam. Seorang pelayan menunduk takut, tak berani menjawab. Alexa menatap ke arah tangga, tempat Aruna baru saja muncul dengan seragam sederhana, membawa map berisi dokumen untuk diserahkan ke ruang kerja Rafael. Rambut gadis itu dikuncir rapi, wajahnya polos tanpa riasan. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat Alexa geram, karena ia tahu, Rafael menatap gadis itu dengan cara yang berbeda. Alexa berdiri, langkahnya cepat menghampiri Aruna. “Berani juga kau berjalan santai di rumah ini, hm?” suaranya dingin dan sinis. Aruna menunduk sopan. “Maaf, Nona. Saya hanya mengantarkan berkas untuk Tuan Rafael.” “Berkas?” Alexa terkekeh pelan. “Lucu. Seorang gadis miskin jadi pembawa berkas untuk seorang pria seperti Rafael.” Ia mendekat, suaranya semakin tajam. “Kau tahu kenapa kau di sini, kan? Karena ayahmu menjualmu. Bukan karena kau berharga.” Kata-kata itu menancap di hati Aruna seperti belati."Iya, saya sadar." Aruna menjawab sambil menggenggam map itu erat-erat, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Alexa mendekat lebih lagi, berbisik dengan nada menghina, “Jangan bermimpi. Rafael hanya bosan. Dia akan membuangmu begitu saja saat sudah puas bermain.” Tepat saat itu, suara berat terdengar dari arah tangga. “Alexa.” Rafael berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam dan jas yang belum sepenuhnya dikancingkan. Pandangannya dingin dan tajam, menusuk ke arah Alexa. Alexa cepat berbalik, terkejut. “Rafael, aku hanya...” “Cukup.” Nada suaranya tegas, membuat semua orang di ruangan membeku. “Kalau kau tidak bisa menjaga ucapanmu di rumah ini, aku akan mengirimmu kembali ke apartemenmu.” Alexa menggigit bibirnya, menahan marah dan malu. Tatapan Rafael tidak berpindah dari wajahnya, namun saat Alexa menunduk dan melangkah pergi, matanya justru beralih kepada Aruna. Aruna menatapnya takut-takut. Rafael menghela napas pendek, lalu berkata tenang, “Masuk ke ruang kerjaku. Aku ingin bicara.” Alexa berhenti di depan pintu, menatap mereka berdua dengan pandangan penuh benci sebelum akhirnya pergi tanpa suara. Di dalam hatinya, ia bersumpah, gadis bernama Aruna itu tidak akan hidup tenang di rumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD