Mencoba Melarikan diri

1252 Words
Setelah memastikan mobil Rafael meninggalkan mansion mewahnya. Aruna mulai berpikir untuk melarikan diir dari istana gelap tersebut. "Aku harus cari cara agar bisa lari dari sini. Aruna sambil memegang sapu dan alat pembersih kaca. Berkeliling sekitar kebun yang mengelilingi mansion Rafael. "Luas sekali perkebunannya. Tapi...sepertinya...tidak ada jalan belakang, semua dijaga ketat,"gumam Aruna. Tiba-tiba terdengar suara dari balik dinding pembatas rumah Rafael."Jaga ketat, rumah ini, tuan Rafael memerintahkan kita jangan lengah, kita harus waspada jika musuh tiba-tiba menyerang."Suara salah satu anak buah Rafael. "Huuuft, sepertinya sangat sulit menemukan jalan keluar."Aruna menarik napas pelan. Akhirnya Aruna kembali ke dekat mansion."Aruna...darimana saja kamu?"Tanya Dora. "Euhhh, aku...tadi membersihkan taman bungan sebelah sana!"Aruna dengan terbata. "Ooh, pantesan kamu tidak terlihat sejak tadi, aku takut kalau kamu tiba-tiba pergi. Bisa-bisa ...Kami semua kena hukuman,"ujar Dora. "Deg."Jantung Aruna berdegup kencang. "Eenggak kok, mana berani aku kabur dari sini."Aruna tersenyum samar. "Ya sudah...istirahat dulu, sudah jam makan siang."Dora menepuk pundak Aruna. "Baik Dora, terimakasih."Aruna mengangguk pelan dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sore menjelang malam, langit di atas mansion mulai gelap. Hujan baru saja reda, menyisakan udara lembap dan sunyi. Dari jendela kamarnya, Aruna memperhatikan halaman belakang, kosong, hanya beberapa penjaga berjaga di gerbang depan."Saat hujan seperti ini, penjaga sepertinya sedikit." Hatinya berdebar keras. Ini mungkin satu-satunya kesempatan. Ia menggigit bibir, mengenakan jaket tipis milik salah satu pelayan, dan melangkah pelan ke luar kamar. Setiap langkahnya berhati-hati, menunggu jeda antara patroli para pengawal. "Ya Tuhan....tolonglah Aku, bantu aku keluar dari rumah ini."Aruna terus berdoa dalam hatinya. Koridor panjang terasa seperti labirin, kamera pengawas tersembunyi di beberapa sudut, tapi Aruna sudah mempelajari polanya selama berminggu-minggu bekerja di sana. Ia tahu kapan lampu indikator kamera berputar arah. "Aku harus berhati-hati, jangan sampai aku tertangkap kamera." Ia berlari kecil melewati dapur, lalu keluar lewat pintu layanan belakang. Angin malam menampar wajahnya, dingin dan menusuk, tapi hatinya dipenuhi harapan, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa bebas.Namun, kebebasan itu hanya bertahan beberapa menit. Sementara Rafael baru saja tiba dari markas dan urusan pentingnya."Bagaimana keadaan di mansion?" "Aman tuan."jawab salah satu penjaga. Dan Aruna masih berjuang untuk mencoba melarikan diri dari mansion mewah Rafael Saat ia menuruni jalan setapak di belakang taman, lampu sensor tiba-tiba menyala. Suara sistem keamanan berdengung pelan, diikuti bunyi langkah berat dari arah kanan. “Berhenti!” suara berat terdengar, menggema. Aruna panik, berlari sekuat tenaga menuju pagar besi tinggi di belakang taman. Tapi sebelum sempat memanjat, sebuah tangan kuat menarik lengannya dari belakang. Ia menjerit, berusaha melepaskan diri, sia-sia. "Mau kemana kau!"Suara bariton terdengar. “Lepaskan aku! Aku hanya ingin pulang!” Penjaga itu tidak bicara. Ia memegang komunikator di telinganya. “Target tertangkap. Instruksi selanjutnya?” Suara di seberang terdengar dingin, mekanis. “Bawa ke ruang bawah. Tuan Rafael harus tahu tentang ini.” Aruna menendang, memukul, menangis,"Hiks hiks, biarkan aku pergi, aku ingin keluar dari sini."tapi tubuhnya terlalu kecil untuk melawan. Ia diseret masuk melalui pintu besi di sisi mansion yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya. Tangga menurun menuju ruang bawah tanah itu terasa lembab dan gelap, hanya diterangi lampu redup di dinding batu. "Dimana ini, kenapa gelap sekali, aku takut." Di ujung lorong, sebuah pintu tebal terbuka. Ruangan itu nyaris kosong, hanya dinding kelabu, lampu kuning berkelap-kelip, dan kursi besi di tengah. Penjaga itu melepaskan cengkeramannya. Aruna terjatuh, tubuhnya gemetar. “Duduk,” katanya datar. Aruna menatap sekeliling, air mata menetes tanpa ia sadari. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi satu hal pasti, malam itu, ia benar-benar menyadari siapa sebenarnya Rafael dan seberapa dalam dunia gelap yang kini menjebaknya. Di atas sana, Rafael baru saja tiba di mansion. Salah satu pengawal menghampiri dengan wajah tegang. “Tuan, gadis itu… mencoba kabur.” Rafael berhenti berjalan. Tatapannya berubah tajam, tapi ada sesuatu di matanya yang lain, bukan hanya marah. Ada rasa kecewa… dan khawatir." Gadis itu, rupanya dia..mulai berontak dan melawanku,"bisik Rafael dengan mengeratkan rahangnya. “Bawa aku ke bawah tanah,” katanya pelan namun dingin. "Tak tak tak."Suara langkah sepatu. Dan langkah kakinya bergema menuruni tangga, menuju ruang gelap di mana Aruna menunggu dengan napas tersengal dan hati yang mulai retak antara ketakutan dan rasa bersalah."Apa yang akan dia lakukan padaku?"Aruna memeluk lututnya. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Langkah sepatu kulit terdengar bergema menuruni anak tangga besi. Suaranya berat dan mantap — tanda seseorang yang terbiasa menguasai keadaan. Aruna mendongak dari kursi besi yang dingin, tubuhnya masih gemetar. Saat pintu besi berderit terbuka, bayangan tubuh Rafael muncul di ambang. Setelan jas hitamnya masih rapi meski hujan membasahi bahunya. Wajahnya kaku, matanya gelap. Penjaga menunduk dalam-dalam. “Tuan, sesuai perintah—” Rafael mengangkat tangan, menghentikan ucapannya. “Keluar.” Pintu tertutup kembali. Hanya tersisa keheningan, suara tetesan air dari pipa tua, dan dua manusia yang saling menatap di ruangan gelap itu. Aruna berusaha menegakkan badan. “Aku… aku tidak tahan di sini,” suaranya lirih tapi tegas. “Aku ingin pulang.” Rafael mendekat, langkahnya perlahan namun mengancam. “Pulang?” ia mengulang dengan nada rendah. “Setelah kau mencoba kabur dari tempat yang memberimu makan, tempat berlindung?” “Aku tidak minta semuanya itu!” Aruna menatap balik, meski air matanya jatuh. “Aku cuma ingin hidup seperti dulu… bukan di tempat seperti ini.” Rafael tertawa pelan, tapi tawa itu tanpa kehangatan. “Dulu? Hidup seperti dulu? Hidup di dunia yang bahkan tidak tahu cara melindungimu? Dunia yang menjualmu ke tanganku, Aruna?” Aruna tertegun. Ia tidak mengerti — apakah Rafael tahu sesuatu yang lebih besar dari sekadar penculikan ini? “Tapi aku bukan milikmu!” katanya pelan namun tegas. Rafael berhenti tepat di depan gadis itu. Tangannya terulur, mencengkeram dagu Aruna dengan keras. “Mungkin tidak,” bisiknya dingin, “tapi dunia sudah menaruhmu di tanganku, suka atau tidak.” Aruna memejamkan mata, air matanya jatuh satu per satu. Ia berusaha menepis tangannya, tapi cengkeraman Rafael terlalu kuat. Beberapa detik hening. Lalu sesuatu berubah di wajah Rafael. Tatapannya melunak sedikit, seolah baru menyadari bahwa gadis di depannya bukan ancaman, melainkan seseorang yang ketakutan. Ia melepaskan dagunya perlahan, menarik napas panjang. “Kenapa kau harus membuat semuanya rumit?” katanya datar, tapi nada suaranya tak lagi sekeras tadi. “Aku bisa membuatmu hidup nyaman di sini, asal kau berhenti melawan.” Aruna menggeleng, suaranya serak, “Kenyamanan tanpa kebebasan itu sama saja dengan penjara.” Rafael membeku. Kata-kata itu menancap dalam, seperti cermin yang memantulkan sisi hidupnya sendiri. kekuasaan, harta, dan kesepian yang mengurungnya. Ia menatap Aruna lama."Kau....Gadis keras kepala, selama ini belum ada yang berani melawanku sepertimu." Rafael berbalik, menuju pintu.Sebelum pergi, ia berkata pelan tanpa menoleh, “Bersihkan dia. Pindahkan ke kamar utama. Jangan ada luka di tubuhnya. Aku tak ingin melihat satu pun lebam lagi.” Aruna menatap punggungnya yang menjauh. Dalam hati, ia tak tahu apakah Rafael baru saja menunjukkan belas kasih… atau sekadar cara lain untuk mempertahankan kendali atasnya. "Kenapa dia tidak menghukumku, dan kenapa dia malah mengirimku ke kamar utama?"Aruna mengernyitkan keningnya seraya menggerutu dalam batinnya. Datang dua orang maid. Hilda dengan ketus."Kau membuat semua orang repot saja Aruna, kau tahu tidak?"Hilda dengan mata melotot. "Aku tahu, tapi aku hanya ingin keluar dari tempat ini."Aruna mencoba menjawab. "Kau benar-benar tidak tahu diri, seharusnya kau tahu tempatmu, kau itu cuma gadis tawanan, tidak lebih."Hilda sambil membersihkan wajah Aruna. "Sudahlah Hilda, Aruna hanya mencoba berontak, itu wajar, semua orang pasti akan melakukan hal yang sama saat kita terdesak,"ujar Dora. "Ayo Aruna, kita ke lantai atas, sekarang persiapkan dirimu, karena kau..." "Kau apa Dora?" "Kau...akan tinggal di kamar utama, bersama tuan Rafael." "Apa?"Aruna membeku.. bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD