bc

Mas Suami

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
sex
family
love after marriage
pregnant
drama
sweet
wife
husband
like
intro-logo
Blurb

ketika baru menyelesaikan pendidikannya. Nara di minta untuk kembali ke kampung halaman ibunya, tapi siapa yang akan menyangka jika secara tiba-tiba Nara malah di hadapkan dengan lamaran pernikahan dari seorang pria matang berusia 31 tahun.

chap-preview
Free preview
Mas Suami part 1
"jadi kamu pulangnya kapan?, ibu ini udah nggak sabar... Emangnya kamu nggak rindu sama Ibu? " terdengar suara gerutuan seorang wanita dari sebrang telpon "Rindulah Bu. Kayaknya 2 bulan lagi baru bisa pulang, soalnya aku masi ada urusan di sini" gadis bernama lengkap Anara Aqlan Pratama atau kerap di sapa Anara oleh teman-temannya itu menjawab pertanyaan ibunya dengan begitu ringannya "urusan apa lagi!! Nggak usah pulang sekalian!" Nada bicara wanita di sebrang telpon terdengar sangat frustasi Karena suara ibunya terlalu keras, Nara sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya "Banyak urusan Bu, masa pulang tapi tangannya kosong. Kan pengen pulang bawa gandengan gitu " ujarnya "Gandengan gundulmu. Cepet pulang seminggu lagi pokoknya kamu harus sampai di sini titik. assalamualaikum" Tut Tut tut Setelah mengomel panjang lebar wanita paru baya di sebrang telpon tadi langsung memutus panggilan telepon secara sepihak Nara menatap layar ponselnya "walaikumsalam, Lah gi mana katanya tadi nggak usah pulang..." monolognya kemudian dia meletakkan ponselnya di atas ranjang Lalu kembali melanjutkan kegiatannya menyusun pakaiannya ke dalam koper, besok dia akan pulang ke rumah ibunya yang ada di daerah lain, Iya benar. Gadis berusia 22 tahun itu melanjutkan pendidikan perguruan tingginya, di ibu kota dan memilih tinggal di kos-kosan. Tapi anehnya setelah selesai kuliah bukannya mencari kerja dia justru malah di suruh pulang oleh ibunya ••• Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu berjam-jam lamanya, akhirnya Nara kini bisa kembali menghirup udara segar di kampung halaman ibunya. kini, gadis bersurai panjang sepunggung agak ikal itu sedang berdiri di depan pintu rumahnya kemudian tampa pikir panjang dia lantas mengetuk pintu utama rumah ibunya Kriet Setelah mengetuk pintu beberapa kali akhirnya suara derit pintu terbuka terdengar "siapa?" wanita paru baya yang awalnya biasa saja saat melihat Nara seketika langsung membulatkan matanya saat menyadari bahwa wanita muda yang ada di hadapannya adalah anak gadisnya sendiri "Nara?..." panggilnya terdengar ragu "ya Allah, datang kok tiba tiba nggak telpon ibu dulu!, kamu ni bikin kaget asstafirullah anak ini...bener-bener keterlaluan ya, suka banget bikin orang tuanya marah-marah" bukannya menyambut dengan sukacita, lagi-lagi Dira malah terlihat menggerutu Nara hanya bisa meringis seraya menggaruk pipinya "baru pulang di marahin" gumamnya Indira segera memeluk Nara erat lalu berganti menciumi seluruh wajahbNara sembari menangis terharu. waktu Nara wisuda ibunya itu tidak bisa hadir karna punya tanggung jawab di kampung begitu banyak sehingga tidak bisa di tinggalkan, Nara sendiri juga bisa mengerti dan memaklumi pasalnya ibunya itu janda anak 1. Ayah Nara sudah meninggal sejak Nara Masi duduk di bangku SMP, ibunya bersusah payah mengelola peninggalan almarhum Ayah Nara supaya bisa mencukupi biaya hidup dan biaya sekolah Anara sampai selesai. "kalau nelpon, bukan kejutan dong namanya..." Balas Nara seraya menarik kopernya masuk ke dalam rumah "kamu nih, ibu kan belum nyiapin makanan buat kepulanganmu. Bentar mau lanjut masak dulu, kamu istirahat aja di kamar ibu...Kamar kamu Masi belum di rapihin" ujarnya lalu kembali pergi ke dapur "ok" setelah itu Nara ke kamar ibunya karena dia merasa sangat kelelahan selama di perjalanan ••• Keesokan harinya " Nduk ibu mau keluar dulu ada urusan, kamu dirumah aja jangan keluar rumah buat jalan-jalan dulu, soalnya kamu baru balik ke sini. Kalau mau jalan-jalan, sama ibu aja nanti" sebelum pergi Indira terlebih dahulu memberi pesan, agar Nara tidak perlu terlalu terburu-buru untuk pergi jalan-jalan. "iya...." setelah mengucapkan salam ibunya pergi, Nara juga kembali masuk ke dalam rumah 30 menit berlalu Tok!! tok!! tok ! "Bu Dira?" tok tok!! "Bu Dira?!" seseorang mengetuk pintu beberapa kali sambil terus memanggil sang pemilik rumah Nara mendengar ketukan itu, tapi dia tetep diam saja. harapannya hanya satu semoga tamu yang datang segera pulang bukannya malah ngotot terus mengetuk pintu "duh ini kan bukan kosanku, gi mana kalau tamu ibu penting banget, duh gi mana ya" Nara bingung sambil mengigit kukunya, dia ragu karena tamunya jelas seorang pria Tok ! Tok!! "Bu Dira!!" panggil orang itu lagi dengan begitu sabarnya "ah terserah deh, buka aja" karena terlalu takut jika sampai tamu ibunya adalah orang penting, Nara kemudian memberanikan diri untuk menghampiri dan membukakan pintu Ceklek Nara membuka pintu dengan cepat ketok! "Bu?....." "auw" Nara menunduk seraya mengigit semua bibir bawahnya, sembari mengusap- usap jidatnya yang habis di ketok oleh pria yang berdiri di hadapannya "duh maaf dek, saya nggak sengaja" pria itu bingung harus melakukan apa, dia tadi melihat kesana kemari saat ingin kembali berniat mengetuk pintu, dia tidak melihat ke arah pintu Tampa di sengaja dia malah mengetok jidat seseorang Nara mendongak dan tersenyum lebar "udah nggak apa apa pak, ada urusan apa ya?" Tanyanya kemudian Pria itu agak merasa aneh dengan panggilan Pak "itu- ibu Diranya ada?" tanyanya seraya melirik jidat Nara yang memerah "ouu ibu saya, itu dia baru aja pergi. katanya ada urusan" jawab Nara sopan... padahal aslinya dia ingin langsung menutup dengan kasar pintu rumahnya dan mengumpat setelahnya, jidatnya mungkin saja sudah benjol sekarang Pria itu tersenyum cangung " pergi kemana?..." "Saya juga nggak tau pak" Nara menggeleng "maaf sebelumnya, Adek ini siapanya Bu Dira ya?" "Nanya Mulu! Pulang sono" Nara hanya bisa memaki di dalam hati ketika terus saja di cerca dengan banyaknya pertanyaan tidak penting "Saya anaknya Bu Indira pak..." Jawabnya seraya menarik senyum tipis yang agak di paksakan "ouu maaf saya nggak pernah liat soalnya" pria itu tersenyum, rasanya aneh kalau harus menegur gadis di depannya itu soal panggilan pak, di saat dirinya saja masi belum menikah "iya" Nara hanya membalas singkat "Kalau begitu saya pamit dulu. assalamualaikum" kemudian pria itu berbalik dan beranjak pergi "walaikumsalam" balas Nara lalu berniat menutup pintu "oh dek!" baru beberapa langkah pria itu berhenti dan berbalik memanggil Nara "iya pak?" pria itu sempat terdiam sejenak "oh itu, kalau ibumu datang tolong bilangin ya... kalau Arkan tadi kesini, nanti sore saya balik kesini lagi" ujarnya "Oh— ok.." Nara mengangguk mengerti dan pria bernama Arkan itu membalas dengan senyumannya.... setelahnya pria itu pergi dan Nara segera menutup pintu rumahnya " cakep banget..." ketika melangkah menuju ke dapur untuk mengambil cemilan, Nara teringat wajah pria tadi dan malah memuji rupanya. Yang bahkan sangat jarang bisa dia temui di tempat yang lebih ramai penduduk dari kampung halamannya "Lelah, lesuh, letih...harusnya fresh graduate tuh cari kerja, ini malah di suruh nganggur. Endingnya tuh udah ketebak, balik ke sini pasti mau di jodohin sama ini, itu si anu...ya ampun, pas kuliah aja nggak pacaran tsayy" dumelnya sambil membawa toples cemilan menuju ke depan TV dia kemudian duduk di atas karpet dan menyalakan televisi "tapi di pikir-pikir, semua orang yang nggak punya cita-cita pengen hidup kaya gini nggak sih. Nggak perlu capek cari kerja, duit orang tua udah ada, warisan banyak. Tapi pengen sih kerja, nyibukin diri sendiri. Ya masa capek-capek belajar sampe segitunya tapi ilmunya nggak di peraktekkin di dunia kerja, dan minesnya adalah susah cari pasangan kalau udah kerja, kata si Wulan si gitu" ucapnya ••• 14.20 PM Klonteng! Suara benda terjatuh yang berasal dari dapur berhasil mengagetkan Nara yang sedang tertidur pulas di atas karpet depan TV "ha!.."dia langsung duduk dan terlihat sangat linglung "siapa ya? " lanjutnya membuat prasangka negatif, setelahnya dia segera berdiri dan mengedarkan matanya mencari benda yang bisa dia gunakan jadi alat pelindung, kepalanya juga sedikit pusing karna kaget saat tertidur, dia Masi berfikir bahwa sedang Sendirian di rumah Setelah mendapatkan benda keramik kecil yang di gunakan sebagai vas bunga dia berjalan pelan ke arah dapur "bawa ginian kaya sikopet..." ucapnya seraya melangkah dengan langkah kaki Tampa suara dia juga jalan agak merapat di tembok agar mengurangi tingkat ketahuan setelah mengintip ke arah dapur dia melihat wanita mirip postur badan ibunya sedang membelakanginya, wanita itu sepertinya sedang cuci piring “itu siapa nggak mungkin ibu tapi mirip ibu tapi kan pintunya tadi di.... kun— ci?” batinnya keheranan "Di kunci....kunci? Pintu di kunci " ucapnya lirih, matanya seketika membulat sempurna saat menyadari situasinya sekarang Karna takut dia bergegas lari secepat kilat ke arah pintu utama untuk keluar dari dalam rumahnya "ha.. gila itu beneran setan, mana mungkin ada orang maling siang bolong. Setan juga ngapain cuci piring, Cuci baju sama masak sekalian lah biar pro " dadanya masi terasa berdebar, dia lalu terdiam sambil jongkok di depan teras rumahnya "males banget kalau tidur siang kaya gini, bangun-bangun kaya orang gila" lanjutnya berujar "bentar, tadi pintunya bisa langsung di buka. Padahalkan sebelum ketiduran tadi di kunci, kayaknya harus di cek nih tapi gi mana caranya masa iya masuk kedalam. kalau beneran setan bisa depresi,...Jendela dapur!! nah iya bener" setelah itu Nara menuju ke belakang rumah tepatnya di bagian dapur yang punya jendela sambil masih memegang vas bunga keramik dia terus berjalan Setelah sampai dia melihat ke dalam dapur dari luar jendela "kamu ngapain di situ?" wanita mirip ibunya Nara itu langsung bertanya setelah melihat Nara berdiri di luar jendela "ka— kamu siapa?!!" Tanya Nara gagap namun sedikit membentak, tangannya terasa dingin. namanya juga takut setan ya takut "Nara kamu ngapain di situ, ini ibu asstagfirullh. cepet masuk rumah " wanita paru baya itu bingung sendiri melihat tingkah anaknya yang aneh "boong! apa buktinya kalau kamu ibu'ku" ucap Nara sambil menujuk wanita paru baya itu dengan vas bunga yang dia pegang dari luar jendela "nara!" wanita paru baya itu langsung pergi "kamu ngapain di situ?" Tanya wanita paru baya itu, ternyata dia keluar dari rumah lewat pintu dapur "haa! haa siapa, plis jangan nyekek belum nikah a ellahi!!, setan macam apa kok bisa keluar, ini kan Masi siang bolong. matahari aja Masi ada " Nara menjaga jarak dari wanita paru baya itu "kamu jangan aneh aneh ya, ini ibu. Ibu datang 1 jam yang lalu. Kamu kunci pintu dari dalam untung ibu bawa kunci serep jadi bisa masuk rumah" ibunya berkacak pinggang "masa iya? ini...ibu" Nara mendekat "iya" wanita itu mengangguk "istigfar coba terus baca Al-Fatihah" Nara Masi belum yakin setan kan suka nipu manusia "asstafirullahalazim" setelah itu ibunya melanjutkan dengan membawa Al Fatihah "udah percaya?" ibu Nara bertanya "iya, maaf ibu abisnya aku takut soalnya pintu di kunci kok ibu bisa masuk tapi ternyata bawa kunci serep..." Nara memeluk ibunya "ya udah ayo masuk bantuin ibu masak" ibunya duluan masuk rumah "Okay...tapi setan juga bisa baca ayat kursi kan ya" Nara mengikuti sambil bergumam

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.4K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.4K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.6K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.0K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

I Love You Dad

read
297.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook