Satu Minggu berlalu
karena tidak memiliki kegiatan di luar rumah, jadi sepanjang hari Nara hanya menghabiskan waktu berdiam di rumah
“Ibu mau kemana?” Saat baru keluar dari kamar keluar dia melihat penampilan ibunya yang sangat rapi dan memakai make up tipis, itu aneh bisanya kan ibunya terlihat masa bodo soal riasan wajah dan juga penampilan ibunya sehari-hari bisa di bilang sedikit tomboy.
“mau ke rumahnya mba Mona, hari ini waktunya goncang arisan”
“hah, Nara ikut” Dira tentu saja langsung menilai penampilan Nara yang kurang sopan jika berada di kampung ini, pasalnya bajunya sangat ketat sehingga dadanya menonjol
“ya udah tapi ganti baju sana, pake baju yang lebih longgar”
“loh? ini aja sih Bu, makin lama kalau harus ganti baju segala”
“Nara” Dira menegur dan memberi tatapan tajam ke Nara
“iya-iya, ya udah tunggu ya awas aja kalau Nara di tinggalin” Nara kemudian buru buru masuk ke kamarnya
•••
“wah ini baru Rumah, rumah ibu mah nggak ada apa-apanya” ujarnya ketika memasuki pekarangan rumah milik wanita bernama Mona
“namanya juga rumahnya orang kaya, ya gak bisalah di bandingin sama rumah ibu yang pakai cet hijau alami dari alam ” kata Dira
“biar Nara perjelas, alias rumah ibu temboknya lumutan. hiyahiya" ujarnya tertawa meledek ibunya
Setelah sampai di depan pintu rumah, Nara bisa mendapati jejeran berbagai bentuk alas kaki di sana
“assalamualaikum” Dira mendahului masuk ke dalam rumah tampa lupa memberi salam
“waalaikumsalam” semua orang di ruangan itu serentak menjawab salam dari Dira
Nara jadi merasa sedikit kikuk saat melihat banyak wanita di ruangan itu
Dira lalu ikut duduk, sedang Nara jangan harap dia punya niatan menjadi primadona muda di lingkaran ibu-ibu ini. dia lebih memilih ikut duduk di belakang ibunya atau lebih tepatnya bersembunyi di balik punggung ibunya
“loh mbak Dira itu siapanya?” salah satu wanita terus saja memperhatikan Nara dan bertanya
“Ini Nara, anak saya yu darmi” kata ibu Nara
“ouu Nara, udah selesai kuliah yah kamu. waduh mana makin cantik banget kamu sekarang ya” kata Darmi lagi terdengar terlalu memuji Nara begitu berlebihan
“iya budhe” Nara hanya bisa membalas dengan senyuman, dan merasa bersyukur setelahnya karena semua orang langsung sibuk dengan obrolan masing-masing
“maaf ya dari tadi saya cari sesuatu, tapi sekarang sudah ketemu” tiba tiba datang wanita paru baya yang masi terlihat sangat menawan di usia yang bisa di bilang tak lagi muda
“ah nggak papa mbak mona” yang lainnya memaklumi
Mona kemudian ikut duduk bersama yang lainnya “ mba Dira, yang di belakangnya itu siapa?” saat tidak sengaja melihat Nara yang duduk menunduk di belakang ibunya dia langsung saja bertanya
“ anaknya mba Dira mbak mona” Darmi langsung saja menimpali, dan di respon oleh Dira dengan senyuman
“ouu begitu ” Mona juga balas ikut tersenyum
“assalamualaikum” lagi-lagi semua orang di intrupsi oleh suara rendah namun dalam dari seseorang, terlihat di sana Arkan yang baru saja datang bersama temannya
“waalaikumsalam” semua orang langsung menjawab salam dari Arkan
Arkan tersenyum tipis tapi matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Nara, tentu saja Nara segera membuang pandangannya dan menunduk sambil kembali mengotak Atik ponselnya
Arkan juga melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah bersama temannya
•••
“Nara?”
saat sedang santai-santainya duduk di kursi teras rumah, Nara di buat sedikit terkejut ketika mendengar suara ibunya yang begitu lemas
“ibu kenapa?” dia buru-buru memapah ibunya dan membantu ibunya untuk duduk di kursi
“nggak tau lemes banget rasanya perut ibu mules capek bolak balik WC, pandangan juga rasa berkunang-kunang” keluh Dira
Nara lalu buru-buru ke dapur, untuk mengambil air minum “ibu minum dulu” dia membantu Dira agar bisa menebak sampai habis air putihnya “kita ke puskesmas ya Bu" ajaknya, dan di balas dengan anggukan lemas oleh Dira
•••
Setelah sampai di puskesmas Nara memapah ibunya masuk ke dalam puskesmas, Dia bisa melihat seorang pria sedang duduk sambil pokus menulis sesuatu
“pak?!” pria itu langsung mendongak dan Melihat Nara
“loh?, kamu ” pria itu tampak terkejut saat melihat Nara
Nara juga ikut kaget tapi dia lebih memilih mementingkan keadaan ibunya
Pria itu langsung melihat Dira yang sudah tampak pucat pasi dengan kening yang di penuhi keringat
“ini kenapa?” tanyanya
“itu m— mas eh pak....ibuku Kayaknya mutaber” Alden mengangguk pelan
“ya, coba Baringin ibu kamu dulu” Nara kemudian membaringkan ibunya di brangkar puskesmas itu
Setelah memeriksa Dira, dokter Alden lantas menjelaskan keadaan Dira ke Nara dan memberikan obat
setelah keadaan Dira mulai sedikit mendingan, Nara membawa ibunya pulang
“umm dek” Nara menoleh ke belakang
“iya Mas?”
“... itu besok kamu bisa ke sini lagi nggak” Alden berujar sedikit cangung sembari mengusap tengkuknya
Nara mengerutkan alisnya “ aku usahain mas” Alden lantas tersenyum dan mengangguk, setelah itu Nara pamit pulang.
“hati-hati dek” gumamnya ketika melihat kepergian Nara dari lingkungan puskemas