Bagian 25 "Aku tidak salah dengar? Kamu masih menganggapku sebagai sahabat, Zamila?" "Iya, Diana, sampai kapanpun kamu akan tetap jadi sahabat terbaikku." "Sayangnya tidak denganku. Aku tidak mau bersahabat dengan orang munafik sepertimu." "Apa maksud kamu, Diana, siapa yang kamu sebut munafik?" Kening ibu mertua terlihat mengernyit. "Tidak usah berpura-pura di depanku. Setelah semua yang kamu lakukan padaku masih pantaskah dirimu disebut sebagai seorang sahabat? Kamu adalah musuh dalam selimut. Ular yang sangat berbisa." "Aku bukan musuhmu, Diana! Aku ini sahabatmu, dan tolong jangan menyebutku ular. Hatiku sakit, Diana!" Sakit? Bahkan kata-kata Mama tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan ibu mertua padanya selama ini. "Lebih sakit mana dibanding perbuatanmu padaku? Kamu

