Bab 10. Rekaman Suara Ayah

1078 Words
Pemakaman ayahku berlangsung khidmat dengan prosesi militer. Meski tak dapat melihat, tapi aku tau begitu banyak yang melepas kepergian ayahku di taman makam pahlawan. Banyak sekali yang datang mendekat dan menggenggam tanganku memberi kekuatan, meski aku hanya mengenal beberapa orang di antaranya lewat suara mereka, namun dukungan yang terus mengalir padaku membuatku sedikit terhibur. Ibuku pun hadir di antara para pelayat, beliau langsung terbang dari Jakarta bersama suaminya beberapa saat setelah mendengar kabar meninggalnya ayahku. Om Ardi, pamanku, adik kandung satu-satunya dari ayahku juga datang bersama dengan istrinya dari Jakarta. Itu semua membuatku merasa tak sendirian di tengah kegelapan dan kesedihan karena kepergian ayah. Lalu ketika kami semua sudah kembali ke rumah, tak kusangka ibuku justru mengatakan hal-hal yang membuat emosiku naik. Tega sekali wanita yang telah melahirkanku itu langsung membahas semua perusahaan milik ayah di Jakarta pada saat kami masih dalam suasana duka, bahkan mungkin taburan bunga yang baru saja kami tabur tadi masih segar di atas makam ayah. “Ibu harus segera kembali ke Jakarta, Wi. Maka kita harus membicarakan ini sebelum Ibu pulang ke Jakarta. Ibu tak menuntutmu untuk ikut Ibu sekarang juga, namun kamu sudah harus memutuskan ini, Nak. Semua perusahaan ayahmu otomatis jatuh ke tanganmu setelah kepergiannya. Sedangkan kondisimu yang seperti ini tak mungkin untuk memimpin perusahaan. Maka Ibu harus turun tangan. Dewi harus ikut Ibu ke Jakarta dan Ibu akan mewakilimu dalam semua urusan perusahaan ayahmu.” “Bu, Dewi tak mau ke Jakarta. Dewi sudah betah tinggal di sini. Mengenai urusan perusahaan Ayah, biar Om Ardi yang mengurusnya, jadi Ibu tak usah repot.” “Apa maksudmu? Kamu tak percaya pada Ibumu? Mengapa kamu justru memberikan kuasa pada orang lain bukan ibumu?” Tiba-tiba suara seorang pria menimpali. Kurasa itu adalah suara dari Om Ivan, suami Ibu. “Om nggak usah ikut campur,” ucapku kesal sambil menoleh ke arah suaranya tadi. “Jangan kurang ajar pada ayah tirimu, Wi!” bentak Ibu. Kurasa Ibu tau jika aku tak begitu menyukai suaminya itu. Bukan tanpa sebab aku tak menyukainya, beberapa kali saat aku menginap di rumah Ibu di Jakarta, aku menangkap hal aneh dari Om Ivan. Saat Ibu sedang tak di rumah karena mengurus butiknya, beberapa kali aku mendengar suara-suara aneh di dalam rumah ibu. Memang aku seorang gadis tuna netra, tapi Allah memberiku kelebihan berupa pendengaran yang lebih tajam dari pada orang lain pada umumnya. Asistenku tak mengerti saat aku menanyakan asal suara-suara aneh itu padanya, katanya ia tak mendengar apapun. Namun karena penasaran aku sendiri yang mencari asal suara itu. Apa yang kudengar berikutnya benar-benar membuatku terpukul dan kemudian membenci pria yang telah menikahi ibuku itu. Bagaimana tidak, dari balik pintu yang aku sendiri tak tau itu kamar siapa, aku mendengar desahan-desahan khas pergumulan orang dewasa dari dalam sana. Kemudian pembicaraan antara sepasang pria dan wanita. “Kapan kamu menikahiku, Mas Ivan?” “Sabar ya, Yuli. Mas masih menunggu saat yang tepat untuk menguras semua harta Hilda sebelum menceraikannya.” Aku terkesiap. Yuli? Bukankah itu nama ART yang bekerja di rumah Bu Hilda, ibuku. Jadi Om Ivan selingkuh dengan pembantu Ibu? Bagaimana mungkin Ibuku memelihara benalu di rumahnya sendiri? “Wi, Ibu sudah bikin perjanjian dengan Ayahmu sebelumnya. Jika Ayahmu sakit atau meninggal, maka hak pengasuhanmu akan jatuh ke tangan Ibu. Ibu yang akan mengurus kamu, termasuk semua usaha Ayahmu yang otomatis jatuh ke tanganmu. Tak ada orang lain yang memiliki hubungan dekat denganmu kecuali Ibu. Jika saja kamu normal, kamu memang tak memerlukan Ibu untuk turun tangan. Tapi kau berbeda Wi, kamu perlu orang terdekatmu untuk mengurusmu agar kamu tak dimanfaatkan oleh orang lain.” Suara Ibu membuyarkan lamunanku tentang kejadian di rumahnya waktu itu. “Betul apa kata Ibumu, Wi. Ibumu hanya takut kamu dimanfaatkan orang lain yang menginginkan harta dan perusahaan peninggalan ayahmu.” Kembali terdengar suara Om Ivan yang makin membuatku muak. “Kurasa bukan orang lain, tapi justru orang-orang disekitarku yang akan memanfaatkanku. Termasuk Om Ivan.” “Dewi!!! Kenapa kamu bisa berkata kurang ajar begitu pada Om Ivan?” bentak Ibu. “Ibu belum tau siapa dia, Bu. Selama ini suami yang ibu bangga-banggakan itu hanya memanfaatkan Ibu.” “Dewi!! Lancang sekali kamu! Jika saja saat ini bukan dalam suasana berkabung, Ibu pasti sudah memberimu pelajaran atas kelancanganmu ini. Pokoknya Ibu nggak mau tau, kamu ikut Ibu ke Jakarta setelah semua urusan di sini beres dan serahkan semua kuasa pengeloaan perusahaan Ayahmu pada Ibu. Ibu punya salinan perjanjian atas hak asuhmu yang ditandatangani Ayahmu. Kamu tak bisa menolaknya kecuali ....” “Kecuali apa, Bu?” “Kecuali saat ini kamu sudah bersuami.” Aku menghela napasku. Setitik benang merah tentang amanat Ayah yang berusaha keras mencarikanku calon suami sebelum kepergiannya menemukan jawabannya. Kurasa Ayah sudah tau akan ada kejadian seperti ini setelah kepergiannya. “Tapi kamu tak mungkin menikah, Nak. Laki-laki mana yang mau menikahi gadis cacat sepertimu? Jadi kamu akan kembali pada Ibu.” Ada rasa perih ketika Ibu yang telah melahirkanku berkata seperti itu. Disaat Ayah selalu menanamkan rasa percaya diriku meskipun aku berbeda, Ibuku justru melontarkan kalimat-kalimat yang membuatku merasa down. Inilah yang membuatku tak mau ikut wanita ini, terlebih dengan adanya Om Ivan yang kedoknya sudah kuketahui itu di sampingnya. “Dewi akan segera menikah, Bu. Ayah sudah menyiapkan calon suami bagi Dewi sebelum Ayah pergi.” Kudengar suara tawa sinis dari Ibuku. “Kamu jangan mimpi, Nak. Lak-laki mana yang mau menikahi gadis tuna netra?” “Saya! Saya yang akan menikahi Dewi!” Aku terkejut mendengar suara itu. Suara tegas dan lantang yang baru tadi pagi kudengar di rumah sakit saat aku menegurnya. “Mas Randy!!!” seruku sambil menoleh ke asal suara tadi meski yang kulihat hanyalah kegelapan. “Siapa kamu? Apa maksudmu akan menikahi putriku?” “Saya Randy, saya sudah berjanji pada mendiang Pak Nugi sebelum dia meninggal untuk menikahi putrinya. Jadi jangan pernah memaksa Dewi lagi karena kami akan segera menikah!” “Diam kamu! Kamu pasti hanya memanfaatkan Dewi dan menginginkan hartanya!” “Saya mengemban amanat dari Almarhum Pak Nugi,” sahutnya. “Mana buktinya?” tantang Ibuku. “Dewi punya buktinya, Bu,” jawabku pasti. Beruntung disaat-saat terakhir Ayahku, beliau menyuruhku merekam seluruh isi pembicaraan kami. Menurut Ayah, aku akan memerlukan semua itu kelak. Tapi ternyata bukan besok atau lusa, bahkan di hari pemakaman Ayah, aku sudah memerlukan semua rekaman itu untuk menentang keinginan Ibu yang tidak masuk akal. Aku meraih gawaiku dan menyerahkannya pada asistenku untuk memutar rekaman pembicaraan terakhirku dengan Ayah sebelum kepergiannya. ?Bersambung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD