Pov Dewi.
Kepergian mendadak ayahku yang menjadi korban kontak senjata dengan kelompok separatis di pedalaman membuatku sangat terpukul. Meski sedari kecil ayah sudah mendidikku untuk selalu siap kehilangannya sewaktu-waktu karena tugas beliau sebagai seorang aparat TNI. Namun, tetap saja kepergiannya membuatku kehilangan. Ayahku adalah sosok yang sangat luar biasa bagiku, aku tumbeh besar bersamanya, tanpa kasih sayang ibuku. Ayah dan Ibuku telah berpisah sejak aku kecil. Ibuku meninggalkanku dalam asuhan ayah setelah mereka bercerai. Bukan tanpa sebab, Ibuku tak mau mengasuhku sebab kabarnya beliau malu punya anak buta. Ya, aku memang buta sejak dilahirkan. Aku tak pernah melihat indahnya dunia ini.
Satu hal yang patut kusyukuri adalah Ayahku yang meski disibukkan dengan pekerjaannya sebagai aparat Negara, beliau tetap memberi perhatian penuh padaku. Bahkan semua orang-orang yang ada di sekelilingku adalah orang-orang yang dipilh ayah secara langsung. Ayah seolah mempunyai insting tentang siapa saja yang tulus menyayangiku. Mulai dari supir, asisten pribadi, sampai pelayan di rumah kami, semua adalah orang pilihan ayah, dan memang terbukti selama ini mereka semua adalah orang-orang yang sangat setia membantuku menjalani hari-hariku. Mereka semua bak sepasang mata yang sudah disiapkan ayah untuk membantuku mengenal dunia meski dalam kegelapan.
Aku memang dilahirkan di Kota Jayapura, meski sebenarnya Ayah dan Ibuku berasal dari Jakarta. Dari cerita ayah yang kudengar, beberapa bulan setelah Ayah dan Ibuku menikah, Ayah ditugaskan di Kota Jayapura, Ibukota Provinsi Papua. Ayah saat itu pun memboyong ibu ke Jayapura untuk mendampinginya selama bertugas. Ayah sendiri sesungguhnya putra dari pengusaha sukses di Jakarta, namun menurut Ayah, sejak kecil ia memang bercita-cita menjadi seorang TNI.
Maka saat kedua orangtua ayahku meninggal, ayah tetap mendapatkan warisan beberapa perusahaan milik kakekku. Ayah dan ibu pun tak pernah kekurangan dari segi perekonomian. Meski profesi ayah di awal menikah hanya sebagai aparat TNI yang masih berpangkat rendah, namun aliran dana dari perusahaan kakek selalu mengaliir ke rekening ayah. Itulah sebabnya ayah bisa membangun rumah mewah di jantung Kota Jayapura demi kenyamanan ibu yang pada saat itu tengah mengandungku.
Sayang seribu sayang, kehadiranku di tengah-tengah keharmonisan hubungan ayah dan ibuku justru membuat keadaan berangsur-angsur berubah. Menurut ayah, ibu sering kali meninggalkanku dengan pengasuh bayi dan pulang ke Jakarta selama berbulan-bulan. Itulah sebabnya sedari kecil, aku lebih dekat dengan pengasuhku dibanding dengan Ibu kandungku sendiri. Kondisiku yang terlahir dalam keadaan cacat tuna netra membuat ibuku seakan menjauhiku. Hubungan ayah dan ibupun mulai renggang dan sering terjadi cekcok hingga akhirnya ibuku mengajukan gugatan cerai pada ayah dan kembali ke Jakarta. Usiaku baru mengunjak 7 tahun waktu itu.
“Sekarang hanya tinggal kita berdua, Nak. Ibumu sudah memilih jalannya sendiri dan meninggalkan kita. Sedangkan Ayah punya segudang pekerjaan dan akan sering meninggalkan Dewi sendirian.” Aku masih ingat dengan jelas kalimat Ayahku saat itu.
“Kenapa Ibu ninggalin kita, Yah? Apa karena Dewi? Apa karena Dewi buta?” tanyaku dengan polos. Meski tak terlalu dekat dengan ibu karena beliau sering meninggalkanku sejak aku masih bayi, namun ia tetaplah ibuku. Aku tetap menyayanginya.
“Bukan, Nak. Bukan karena itu. Hanya saja Ayah dan Ibu sudah tak bisa lagi bersama. Dewi masih kecil, suatu saat nanti Dewi akan mengerti mengapa ibu meninggalkan kita. Jadi mulai sekarang Ayah akan menyuruh beberapa orang untuk selalu berada di samping Dewi dan menjagamu sepanjang hari, Nak. Karena Ayah tak bisa berada di sisimu sepanjang hari, Ayah punya tanggungjawab pekerjaan,” ucap Ayahku.
Sejak saat itulah aku selalu didampingi oleh asistenku yang selalu dipilih langsung oleh Ayah.
“Ayah sendiri yang akan menyeleksi orang-orang yang akan menjagamu, Nak. Termasuk menyeleksi jodohmu kelak.” Itu adalah salah satu kalimat ayah yang selalu dilontarkannya padaku ketika aku beranjak remaja.
Sejak meninggalkan kami, Ibuku hampir tak penah menghubungiku lagi, apalagi mengunjungiku. Dari cerita Ayah, kudengar Ibuku sudah menikah lagi beberapa bulan setelah bercerai dari Ayah. Padahal dari desas-desus yang hinggap di telingaku, aku mendengar rumor bahwa ternyata ibuku bahkan sudah menikah sebelum mereka resmi bercerai. Itu artinya ibuku mengkhianati ayahku. Namun aku memilih tak menanyakan itu pada ayah.
Namun ternyata lagi-lagi rumah tangga ibu kandas dengan suaminya setelah ayah. Dari kabar yang kudengar, suaminya hanya menguras harta ibu dan melakukan tindakan KDRT pada wanita yang telah melahirkanku itu. Semua itu kudengar dari pamanku, satu-satunya saudara ayah yang tinggal di Jakarta. Ibuku pun kembali menikah setlah bercerai dari suami keduanya, jadi suami yang bersamanya sekarang merupakan suami ketiga dari ibuku.
Sesekali jika aku liburan ke Jakarta, aku mengunjungi ibu. Entah itu di rumahnya ataupun di butik yang dikelolanya. Ibuku memang mengelola butik yang lumayan terkenal, semua modal usahanya diperolah dari harta gono-gini yang diberikan ayah ketika mereka berpisah.
“Dewi, maukah Dewi ikut tinggal di Jakarta dengan Ibu?” Aku terkejut ketika ibu mengatakan itu padaku saat aku mengunjunginya. Aku masih duduk di bangku SMP waktu itu, dan sedang berkunjung ke Jakarta karena sekolah sedang libur.
“Apa maksud Ibu?”
“Maafkan Ibu, Nak. Selama ini, selama Dewi lahir Ibu merasa Ibu sudah jahat padamu. Ibu tak sering meninggalkanmu dan tak mau mengurusmu. Sekali lagi maafin Ibu, Nak. Sekarang ... sekarang Ibu mendapatkan balasannya.” Kudengar wanita itu mulai terisak. Aku semakin tak mengerti.
“Ibu sudah menikah 2 kali setelah berpisah dengan ayahmu. Tapi sampai sekarang Ibu belum juga punya anak dari suami Ibu. Padahal dokter selalu mengatakan Ibu baik-baik saja dan tak ada masalah. Ibu rasa, Allah sedang menghukum Ibu karena dulu tak peduli padamu, Nak. Maukah Dewi ikut Ibu sekarang? Apalagi Ayah kamu pasti sibuk dengan tugas-tugasnya dan jarang di rumah.”
“Tidak, Bu! Dewi tak bisa!” Aku menolak dengan keras. “Meski Ayah memang jarang pulang karena tugas dan tanggungjawabnya, tapi Ayah selalu berusaha membuat Dewi tak kekurangan apapun. Ayah tak pernah membuat Dewi merasa kekurangan, Ayah sudah seperti mata bagi Dewi yang buta ini.”
“Ibu tak menyangka kamu sekeras ini, Nak. Pasti semua karena didikan keras Ayahmu. Tapi ingat, Ibu akan tetap memperjuangkanmu. Ibu ingin kamu berada dalam pengasuhan Ibu.”
***
“Ayah tak bisa bertahan, Nak. Biarkan Ayah gugur sebagai seorang pejuang. Ayah sudah menyiapkan calon suami yang akan mendampingi Dewi setelah Ayah pergi.” Aku terisak ketika mendengar kalimat Ayah saat itu, saat Ayah tengah sekarat di ICU akibat luka tembak.
Ayah bangun dan mencariku hanya untuk menyampaikan hal itu. Menceritakan dengan singkat tentang seorang lelaki yang merupakan bawahannya, yang disiapkannya untuk menjadi calon suamiku.
“Namanya Randy Maulana, dari awal mengenalnya Ayah sangat kagum padanya dan ingin ia menjadi suamimu. Tapi ia sudah berkeluarga, Nak,” ucap Ayah terbata-bata.
Aku terkejut. “Lalu mengapa Ayah ingin ia menikahiku jika ia sudah punya istri?”
“Entahlah, insting Ayah mengatakan hanya ia yang bisa mendampingimu setelah Ayah pergi.”
“Lalu bagaimana dengan statusnya sebagai aparat TNI, Yah? Bukankah ia akan menghianati janjinya pada negara jika menikahi Dewi?”
“Itulah yang menjadi tugas Dewi nanti setelah ayah pergi. Ayah percaya Dewi pasti bisa mencari jalan keluarnya. Ayah tau tindakan Ayah ini salah dan melanggar peraturan. Tapi hanya ini yang dapat Ayah lalukan diakhir hidup Ayah, Nak. Ayah ingin Dewi menikah dengan orang yang tepat. Meskipun akan banyak masalah ke depannya akibat keinginan Ayah ini. Ia juga sudah berjanji pada Ayah untuk menikahimu, Ayah rasa ia adalah laki-laki sejati yang bisa memegang janjinya. Carilah dia ... Ayah rasa ... ia masih ada di sekitar sini.”
Lalu ayahku benar-benar pergi diiringi ratap tangisku yang kehilangan sosoknya. Sosok yang bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagiku.
Aku langsung memerintahkan pada asistenku untuk memberitahuku jika ia melihat seorang yang bernama Randy Maulana di sekitar rumah sakit ini.
Lalu aku menghentikan langkahku ketika asistenku membisikkan informasi itu padaku.
“Apa Anda yang bernama Randy?” tanyaku dengan suara tegas setelah merasa telah berdiri tepat di hadapannya.
“Ya, benar. Saya Randy,” jawabnya.
“Ayah saya menitipkan beberapa pesan sebelum meninggal tadi. Sepertinya saya perlu bicara dengan Anda setelah proses pemakaman Ayah selasai.”
“Apa kamu bisa melihatku?” .
“Kurasa Anda sudah tau kalau saya tuna netra. Bagaiamana mungkin saya bisa melihat Anda?”
“Lalu bagaimana kamu tau ini aku dan aku ada di sini.”
“Asisitenku bisa membaca dengan jelas papan nama di dadamu,” jawabku kemudian melangkah pergi. Jantungku berdetak tak karuan. Inikah suara lelaki yang diinginkan Ayah untuk menjadi suamiku? Aku menyukai suaranya!
?Bersambung?