Pov Randy.
Fajar belum lagi menyingsing ketika aku terpaksa harus kembali meninggalkan istriku Hannan dan kedua putraku di rumah sederhana peninggalan mendiang orangtua Hannan yang sudah kami tinggali bersama selama 8 tahun. Kedua putraku, Zaid dan Zayn bahkan masih terlelap dalam tidurnya ketika aku sudah harus berangkat lagi. Meski masih merasa berat meninggalkan mereka bertiga, namun statusku yang masih sebagai aparat TNI aktif mengharuskanku untuk tetap menjunjung tinggi kedisiplinan.
Sebenarnya kepulanganku kali ini benar-benar menyisakan masalah baru dalam hubunganku dengan Hannan. Bagaimana tidak, wanita yang sudah kunikahi selama 8 tahun ini meminta bercerai dariku. Aku paham, keputusanku untuk menduakannya dengan menikahi Dewi pastilah melukai hatinya. Tapi justru itulah aku rela datang walau cuma beberapa jam untuk bertemu langsung dengannya dan menjelaskan semuanya, sekaligus meminta izinnya untuk hubunganku dengan Dewi. Namun ternyata Hannan tetap tak bisa menerima semua alasanku dan tetap memintaku untuk menceraikannya.
Aku tersenyum miris mengingat bagaimana reaksinya semalam saat aku berusaha mendekatinya, tak kusangka Hannan justru menggigit kuat bibirku saat aku berusa mencium wanita itu. Padahal aku begitu menginginkannya semalam, aku sangat merindukannya. Meski malam sebelumnya aku juga telah menghabiskan malam panjang dan panas dengan Dewi, istri baruku. Namun Hannan tetaplah wanita yang begitu kuinginkan, ia adalah cinta pertamaku. Terlebih lagi kami sudah lama menjalani hubungan jarak jauh karena aku harus bertugas di pedalaman Papua.
Kupikir Hannan juga akan merindukan sentuhanku, sebab selama ini ia selalu takluk padaku ketika aku kembali. Namun, gigitannya di bibirku tadi malam benar-benar menyakitiku dan membuatku terpaksa melapaskan kungkunganku padanya. Sampai saat ini bibirku bahkan masih terasa panas dan bengkak akibat ulah brutal Hannan.
Wanita itu melepaskan diri dan berlari masuk ke dalam kamar kami dan mengunci pintunya ketika ia lepas dari kungkunganku, membuatku terpaksa tidur sendirian berteman dingin di kamar kecil milik Zaid semalaman tadi.
“Jangan coba-coba memperlakukanku seperti tadi malam,” ucapnya sinis ketika melihatku bangun tadi subuh.
“Aku sengaja bangun pagi-pagi buta karena aku tau kamu akan berangkat. Bukan karenamu, tapi demi anak-anak. Berpamitanlah pada anak-anak sebelum Abang pergi. Meski mereka masih terlelap, namun mereka pasti bisa merasakan jika ayahnya sudah berpamitan,” lanjutnya tanpa menatapku.
“Bun, haruskah hubungan kita menjadi rusak seperti ini?” tanyaku lirih. Biasanya aku akan memberikan pelukan ataupun ciuman selamat pagi padanya, namun kali ini itu tak mungkin kulakukan. Ia bahkan sudah memeperingatiku sebelum aku berniat mendekatinya.
“Bukan aku yang merusak hubungan ini, tapi Abang yang sudah merusaknya! Aku akan mengajukan gugatan cerai pada Abang. Meski aku belum tau bagaimana caranya, sebab hal itu tak pernah terlintas di benakku selama ini.”
“Jika aku mengajak Dewi bertemu Bunda. Apa kamu akan berubah pikiran, Bun? Kenalilah dia dulu, kalian bisa menjadi sahabat. Dia wanita yang baik, Bun,” gumamku.
“Sudah kubilang jangan menyebut nama wanitamu itu di hadapanku!!!” bentaknya kasar kemudian melempar gelas yang sedang berada dalam genggamannya.
Gelas yang dilemparkan seketika pecah berkeping-keping dan menimbulkan bunyi yang nyaring khas benda pecah.
“Astaghfirullah!” seruku terkejut.
“Abang liat pecahan gelas itu? Seperti itulah perasaanku sekarang. Hancur berkeping-keping setelah Abang mengkhianati pernikahan kita. Masih bisa kah Abang mengembalikan gelas itu kembali utuh? Maka seperti itu pula hatiku. Abang tak akan bisa mengembalikan apa yang sudah Abang hancurkan, apa yang sudah Abang rusak. Hubungan kita pun seperti itu, tak akan bisa kembali seperti dulu lagi meski seribu alasan yang Abang berikan.”
Aku hanya menarik napas kasar mendengar ucapannya. Aku tau Hannan adalah tipe wanita keras kepala, namun aku tak menyangka kali ini benar-benar melihat kemarahan di dalam matanya. Padahal biasanya, sekeras-kerasnya Hannan, ia akan selalu tunduk dan menurut padaku. Itulah yang membuatku waktu itu yakin untuk menikahinya dan menjadikannya ibu dari anak-anakku.
Kini aku hanya bisa menatap kosong pada wanita itu. Ia masih menyediakan nasi panas dan telur dadar serta segelas teh untukku, namun tak ada lagi senyum manis di wajahnya untukku. Ekspresinya benar-benar datar saat menyuguhkan makanan untukku sebelum berangkat.
“Makanlah dulu sebelum berangkat. Jangan lupa berpamitan pada anak-anak setelah itu,” ucapnya meninggalkanku di meja makan seorang diri.
Leherku terasa tercekat menikmati makanan yang disuguhkannya. Haruskah aku menyesali tindakanku ini? Haruskan aku menyesali menikahi Dewi? Tapi gadis itu pun membutuhkan kehadiranku dalam hidupnya. Ia bahkan sudah menyerahkan semuanya padaku, tidak hanya tubuh mulusnya, tapi juga seluruh hak untuk menjalankan usaha peninggalan orangtuanya.
Lalu keberangkatanku untuk kembali ke tempatku bertugas kali ini benar-benar sunyi. Hannan bahkan tak mau membuka pintu kamar saat aku mengetuknya dan mengatakan akan berpamitan.
“Hati-hati di jalan, Bang.” Hanya suaranya yang terdengar olehku dari balik pintu kamar Zaid.
“Keluarlah sebentar, Bun. Entah kapan aku bisa kembali lagi. Paling tidak antarkanlah suamimu sampai di depan teras,” pintaku.
“Pergilah, Bang. Gapailah apa yang kamu inginkan. Jangan pedulikan aku, jangan jadikan aku sebagai penghalang.”
“Bun ....”
“Maaf, Bang. Semua sudah berubah. Abang berubah, dan aku pun harus berubah. Hanya satu pintaku, tetaplah peduli pada anak-anak meski Abang sudah menemukan kebahagiaan lain di luar sana.”
“Bun ....” Kali ini aku terisak di depan pintu kayu yang masih tertutup rapat. Samar-samar aku juga mendengar isak tangis Hannan dari dalam sana.
“Maafin aku, Bun,” lirihku.
Tak ada lagi jawabannya dari balik pintu. Hanya terdengar isakannya yang semakin membuat ada yang hilang dari dalam hatiku.
“Aku pamit, ya, Bun.”
Hanya seperti itu ia melepasku tadi. Meski separuh hatiku pun merasa hancur, namun aku tetap harus berangkat. Meski langkahku kali ini pun terasa sangat berat, namun aku harus menghadapi ini. Maafkan aku, Hannan. Aku tak menyangka bisa melukai hatimu sedalam ini.
***
Hari masih pagi ketika aku kembali menginjakkan kakiku di Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Sambil menunggu jadwal pesawat kecil yang akan membawaku kembali ke markas, aku memesan transportasi online menuju rumah Pak Nugi, rumah Dewi, istriku.
Berbeda dengan situasi haru ketika berpamitan pada Hannan tadi subuh. Dewi justru menyambutku dengan senyum manisnya saat mendengarku mengucapkan salam.
“Sini ranselnya aku bawain, Mas,” ucapnya sambil berusaha meraih ransel yang masih berada di punggungku. Dewi memang memanggilku dengan sebutan “Mas Randy”.
Aku benar-benar takjub padanya, meski ia tak bisa melihat, tapi ia bisa tau aku sedang membawa ransel hanya dengan menyentuh bahuku.
“Kok kamu tau Mas bawa ransel?”
“Style anggota TNI kan gitu, Mas. Kemana-mana bawa ransel. Mas lupa siapa Dewi?”
“Ah, iya. Maaf, Sayang. Mas lupa kalau istri Mas yang cantik ini putri kesayangan dari aparat TNI teladan.” Aku mencolek ujung hidungnya dengan jariku. Pipinya merona merah membuatku semakin gemas pada wanita berkulit putih bersih itu.
“Tapi sayangnya Ayah justru mengingkari kesetiaannya di akhir hidupnya,” gumamnya.
“Maksud kamu?”
“Dengan memintamu menikahiku padahal Ayah tau statusmu yang sudah menikah, Ayah telah melanggar janjinya pada Negara. Padahal selama baktinya sebagai TNI, Ayah selalu menjunjung tinggi kesetiaan. Ayah melakukannya hanya demi aku, demi putrinya yang memiliki kekurangan. Ayah rela melanggar janjinya demi aku,” ucapnya lirih.
Aku terpaku menatapnya. Kalimatnya barusan sekaligus menyindir dan menohokku.
“Aku pun sudah melanggar janjiku pada Negara.”
“Maka Mas Randy harus menebus semuanya dengan melepas pekerjaan dan status Mas sebagai aparat Negara.”
Aku menghela napas, banyak sekali yang harus kuurus setelah ini. Keputusanku untuk menikahinya benar-benar telah mengubah seluruh hidupku.
“Sudahlah jangan membahas itu dulu. Kamu nggak kangen sama suamimu, hmmm...,” bisikku di telinganya.
“Kangen, Mas. Kangen banget. Gimana urusan Mas di Jakarta? Lancar?” tanyanya.
“Nanti aja Mas ceritain, sekarang masuk ke kamar dulu, yuk. Mas kangen.”
Ia memekik tertahan ketika aku meraih tubuhnya dan menggendongnya menuju ke kamarnya.
?Bersambung?