Bab 7 Aku Menginginkanmu

1207 Words
Aku mengelak dan semakin menjauhkan diri dari Bang Randy ketika lelaki itu menggeser duduknya lebih mendekat padaku. Ia menatapku tajam. “Percayalah padaku, Bun. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku akan mengajukan pengunduran diri dari TNI, dan mengurus usaha ayah Dewi. Dengan begitu aku bisa pulang dan bertemu Bunda dan anak-anak kapanpun aku rindu.” Hatiku semakin terhimpit oleh sesaknya luapan perasaanku. “Abang pikir aku boneka yang tak punya perasaaan? Abang pikir aku masih akan merindukanmu setelah kamu menduakanku? Hebat sekali perempuan itu bisa mengubahmu secepat ini, Bang? Kamu sudah lupa bagaimana perjuanganmu dulu demi lulus menjadi anggota TNI dan mewujudkan cita-citamu? Kamu berubah, Bang! Aku tak mengenalimu lagi.” “Bun, keadaan berubah setelah aku merasakan beratnya tugas di pedalaman. Aku harus loyal pada kesatuanku sedangkan hatiku kadang memberontak terisi kerinduan pada keluargaku. Kurasa ini adalah jalan keluar bagi kita, Bun. Aku akan membantu Dewi mengurus usaha peninggalan ayahnya yang juga atasanku dulu, dan kehidupan kita pun akan lebih baik. Aku akan lebih sering pulang ke rumah dibanding dulu, Bun. Dewi pun sangat membutuhkan kehadiranku dalam hidupnya. Kurasa kita bisa hidup dengan bahagia, Bun. Toh, Bunda dan Dewi tidak tinggal di kota yang sama.” “Berhenti menyebut namanya di hadapanku, Bang! Kamu benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya menawarkan hal seperti itu padaku. Kurang setia apa aku yang selalu menantimu kembali dari tugas muliamu? Kurang doa apa yang kupanjatkan agar suamiku di sana selalu dalam lindungan-Nya dan bisa kembali pulang suatu saat memelukku dan anak-anakku? Aku bangga, Bang. Aku bangga dengan profesimu sebagai abdi negara. Aku sangat bangga meskipun harus hidup sederhana dan melewati banyak hari-hariku ditemani rasa rindu padamu. Aku tak pernah menyangka suami yang sangat kubanggakan ini ternyata justru jatuh dalam godaan wanita lain, wanita kaya raya yang ternyata putri dari atasannya sendiri.” “Bunda!” Tangan Bang Randy kembali berusaha meraih tubuhku ketika ia mendengar kalimatku yang semakin meninggi. Aku kembali menepis kasar tangannya. “Jangan sentuh aku! Aku jijik dengan sentuhan Abang!” Bang Randy menyugar kasar rambutnya. “Bunda, tenangkanlah dirimu. Abang harap kamu mau mengenal Dewi lebih dulu sebelum mencap dia sebagai w*************a. Ia justru menitip salam padamu dan anak-anak saat tau aku akan mengunjungi kalian.” “Sudah kubilang jangan menyebut namanya di hadapanku!” “Kenapa Bunda keras kepala seperti ini? Lalu apa mau Bunda sekarang? Aku sudah menikahinya! Ia juga istriku sekarang!” “Ceraikan aku! Hanya itu pintaku sekarang! Aku tak pernah mau diduakan! Aku tak pernah mau membagi hati. Jika Abang memang memilih bersamanya, tinggalkan aku!” “Kamu nggak mikirkan anak-anak, Bun?” “Justru aku memikirkan mereka, Bang. Aku bukan Abang yang hanya memikirkan nafsu. Pergilah dengannya jika itu pilihanmu. Aku sudah tak peduli Abang mau mengundurkan diri dari TNI dan melupakan semua cita-cita mulia Abang selama ini atau tidak. Aku benar-benar sudah tak peduli!” “Tapi aku peduli, Bun. Tak bisakah kamu menghargai langkahku ini. Apa Bunda pikir ini bukan pilihan berat bagiku? Berat, Bun ... sangat berat. Ketika aku harus melupakan semua perjuanganku selama ini untuk meraih cita-citaku.” “Keluar dari kamar ini, Bang. Aku sungguh tak mengenalmu lagi! Kamu sekarang orang asing bagiku!” Bang Randy menatapku dengan mata memerah. Entah karena marah atau karena menahan air matanya, aku sudah tak peduli lagi. Bagiku, ia sudah benar-benar seperti orang asing saat ini. Terlebih ketika dari bibirnnya beberapa kali terucap nama wanita lainnya. Apapun alasannya, bagaimana pun kondisi wanita yang katanya tuna netra itu, istri mana yang sanggup mendengar alasan tak masuk akal seperti itu dari suaminya. “Mana ponselmu, Bun? Siapa yang mengirimkan foto-foto dan video pernikahanku kemarin padamu? Aku harus memberi pelajaran pada orang itu. Ia sudah menghancurkan semua rencanaku. Aku sudah punya rencana untuk membicarakan hubungan ini baik-baik dengan Bunda. Meminta izin dengan lembut pada Bunda agar Bunda mengerti jika aku melakukan ini bukan semata untuk diriku sendiri.” “Meminta izin? Meminta izin setelah kamu mendua? Abang yakin masih waras? Untuk apa kamu menyalahkan orang lain, Bang. Kamu! Kamu sendiri sumber dari semua masalah ini. Apa Abang pikir aku akan mengabulkan keinginan Abang untuk menduakanku? Abang benar-benar semakin membuatku jijik! Untuk apa Abang datang ke sini menemuiku? Bukannya ini adalah malam-malam indahmu dengannya? Bagaimana rasanya, Bang? Masih adakah bayangan kami terlintas ketika Abang menghabiskan malam bersamanya? Masih adakah rasa bersalahmu padaku? Setidaknya pada anak-anakmu?” Air mata yang sedari tadi kutahan mulai menyeruak satu-persatu dari pelupuk mataku. Bagaimana pun kerasnya karakterku, aku tetaplah seorang wanita. Sisi hatiku yang terluka membuatku tak sanggup lagi membendung perasaanku. “Jangan menangis, Bun. Nanti anak-anak terbangun. Oke, maafkan aku. Aku akui semua kesalahanku, mari kita memperbaikinya demi anak-anak kita. Demi Abang Zaid dan Zayn. Abang sayang kalian bertiga, Bun. Kemarilah ... katakan padaku apa yang Bunda inginkan. Apa Bunda ingin Abang mengurungkan niat untuk mundur dari TNI? Abang akan kembali mempertimbangkannya jika itu keinginan Bunda.” Aku merasa tertantang ingin menguji sampai di mana lelaki yang sudah bersamaku selama 8 tahun ini memperjuangkan hubungan kami. “Aku ingin seperti dulu. Tak ada orang lain selain aku dan anak-anak kita!” Aku menatapnya tajam. Aku sudah siap apapun jawabannya. Jika pun nantinya ia mau mengabulkan keinginanku, tak semudah itu juga aku akan kembali padanya. Keputusannya untuk menikah lagi di belakangku dan menduakanku sudah cukup bagiku jadi alasan untuk berpisah. Terlebih lagi aku sangat yakin jika lelaki itu pasti sudah menjamah wanitanya. Ia sudah berbulan-bulan berada di pedalaman, kurasa status nikah siri mereka kemarin sangat cukup baginya untuk melampiaskan semuanya. Bagaimana pun Bang Randy lelaki normal, bahkan bagiku yang sudah 8 tahun menjadi istrinya, ia tipe lelaki yang sangat mampu memuaskan wanita. Apalagi dari foto-foto yang kulihat di ponselku kemarin, wanita yang dinikahinya itu sangatlah cantik. Wajahnya bersinar dan bentuk tubuhnya pun sangat proporsional. Bahkan tak ada satupun fotonya yang menampakkan jika wanita itu seorang tuna netra. Seperti dugaanku sebelumnya, Bang Randy menjawabku dengan gelengan pelan. “Aku tak bisa meninggalkannya, Bun. Ia benar-benar membutuhkan kehadiranku. Aku juga sudah terikat janji pada ayahnya sebelum beliau meninggal.” Mataku kembali memanas. Kini aku bisa memastikan, hati lelaki itu sudah bukan lagi untukku. Ia telah berubah. Lelaki yang kukenal sejak di bangku SMU ini kini bukan lagi dirinya yang dulu. Sudah cukup. Mungkin memang jodohku dengannya hanya sampai di sini. “Abang yang keluar dari kamar ini, atau aku yang keluar,” lirihku. “Tolong mengertilah sekali ini saja, Bun.” Aku tak menjawab dan memilih berdiri untuk meninggalkan kamar mungil yang akan menjadi kamar Zaid ini. Namun baru saja aku membuka pintu kamar ketika tangan kekar Bang Randy menutup kembali pintu yang baru terbuka sedikit. Lelaki itu kemudian memangkas jarak dan mengunci tubuhku di antara kedua lengannya. “Abang mau apa?” tanyaku panik ketika melihat kilatan mata elangnya. “Aku menginginkanmu, aku merindukanmu!” Tiba-tiba saja ujung hidungnya sudah menyentuh hidungku. Ada desiran halus di dalam dadaku. Sejujurnya aku pun sangat merindukan lelaki ini, merindukan semua sentuhannya. Namun yang kurindukan adalah sentuhan suamiku, suami yang menjadikan aku satu-satunya wanita di hatinya. Bukan sentuhan lelaki yang berwujud suamiku tapi hatinya telah terbagi pada wanita lain. “L- lepaskan ak ....” Kalimatku belum juga selesai ketika aku merasakan bibir tebalnya sudah mendarat sempurna di bibirku, sementara tubuhku masih terkunci oleh kedua lengan kekarnya yang membuatku tak bisa bergerak. Bagaimana ini? Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD