Bab 6. Denyut Nyeri Jantungku

993 Words
PoV Hannan. “Izinkan aku mendua, Bun. Aku berjanji akan bersikap adil seadil-adilnya.” Aku terkesiap, tega-teganya lelaki ini berkata seperti itu padaku. Dadaku merasa sesak oleh permintaan tak masuk akalnya. “Ceraikan aku!!!” ucapku dengan nafas tersengal. Sakit sekali rasanya mendengar permintaan suami untuk yang meminta izin untuk mendua. Masih punya perasaan kah lelaki di hadapanku ini hingga tega meminta izin untuk mendua? Seolah itu hanya permintaan biasa, padahal ada goresan luka di dalam hatiku mendengar permintaannya itu. “Aku tak akan menceraikanmu!” Aku baru saja hendak menjawabnya ketika Zayn putra bungsuku tiba-tiba saja sudah muncul di depan hadapanku. “Ayah? Ayah pulang? Yeee Ayah pulang!” seru balita itu sambil menyerbu ke dalam dekapan ayahnya. Aku berusaha tersenyum pada Zayn ketika bocah itu menatapku berbinar-binar dalam dekapan ayahnya. “Bunda napa nggak bangunin Zayn tadi? Kan Zayn bica main lama-lama cama ayah,” protesnya padaku dengan suara cadelnya. “Bunda baru aja mau bangunin Abang Zaid dan Zayn tadi, ehh Zayn nya udah bangun duluan sebelum Bunda bangunin. Lagian ayah baru aja tiba, kok,” jawabku tetap berusaha menyunggingkan senyum pada putraku. “Ya udah, Bunda bangunin Abangmu dulu ya,” lanjutku lagi lalu melangkah ke dalam kamarku berniat membangunkan putra sulungku. “Biar Abang yang bangunin, Bun.” Tiba-tiba saja sosok tinggi tegap itu sudah berdiri di sampingku dan menepuk lembut pundakku saat aku tengah duduk di pinggir tempat tidur berusaha membangunkan Zaid. Aku segera beranjak dari sana, masih tak sudi rasanya aku berdekatan dengan lelaki itu. Kulihat Bang Randy melirikku sekilas, mungkin ia merasa jika aku berusaha menghindar darinya. Beberapa saat kemudian aku sudah mendengar Bang Randy serta kedua putraku bermain dengan serunya di ruang tengah rumah sederhana ini. Aku akui, Bang Randy adalah ayah yang baik dan sangat dekat dengan kedua anakku. Kehadirannya dan kepulangannya selalu menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh Zaid dan Zayn. Bahkan telepon darinya pun merupakan hal paling menyenangkan bagi kedua putraku, mengingat Bang Randy memang jarang sekali menelepon ketika sedang berada di pedalaman Papua. “Kapan Ayah pulang?” tanya putra sulungku saat kami berempat sedang menikmati makan malam di meja makan. Ya, meskipun tak mengajaknya ngobrol, aku tetap menyiapkan menu makan malam untuk keluargaku, termasuk Bang Randy. Aku tak ingin anak-anakku melihat kejanggalan hubunganku dengan ayahnya, aku masih belum siap jika mereka bertanya. “Besok subuh-subuh sekali Ayah sudah harus kembali, Nak. Mungkin Zaid dan Zayn belum bangun besok ketika Ayah sudah harus berangkat lagi,” jawabnya sambil melirikku. Kurasa ia sengaja menjelaskannya sekalian memperdengarkannya padaku. Aku bergeming, tak bereaksi, dan hanya fokus dengan makananku sambil sesekali menegur Zayn jika makanannya berantakan. Malam ini aku memilih tidur di kamar sebelah. Kubiarkan kedua putraku melepas kangen pada ayahnya dan tidur di kamar kami. Beruntung Zaid dan Zayn bisa menerima penjelasanku ketika mereka mananyakan mengapa aku justru di kamar sebelah. Kuberikan alasan pada mereka bahwa tempat tidur kami tak muat jika aku ikut tidur di sana, dan aku ingin mereka menghabiskan waktu bersama ayah mereka malam ini. Kurebahkan tubuh di tempat tidur sempit yang memang hanya muat untuk satu orang di kamar ini, kamar yang memang jarang digunakan karena kedua putraku masih memilih tidur di kamarku, meskipun aku sudah melatih Zaid untuk pindah ke kamar ini mengingat usianya sudah 7 tahun. Masalah berat yang membebani pikiranku sejak kemarin membuat tubuhku terasa sangat lelah dan mengantuk. Aku baru saja mulai terlelap dalam buai mimpi ketika merasakan ada yang mencium keningku. Dengan sisa-sisa tenagaku aku kembali membuka mataku dan mendapati wajah Bang Randy tepat di depanku. Dengan refleks aku menghindar dari wajahnya yang sudah berhadapan denganku, bahkan aku bisa merasakan nafas hangatnya menerpa wajahku. Buru-buru aku bangkit dari tidurku dan memilih duduk di tepi tempat tidur. “Bun, aku tak punya banyak waktu. Percuma saja aku bela-belain pulang jika Bunda tak bisa diajak bicara seperti ini.” Rasa kantukku mendadak hilang begitu saja. “Lancang sekali Abang masuk ke sini. Apa Abang yang tidur di sini, biar aku yang menemani anak-anak.” “Astaghfirullah, lancang gimana sih Bun? Aku ini suamimu.” “Itu karena kita belum bercerai. Tapi bagiku, Abang sudah bukan suamiku lagi sejak aku melihat foto-foto dan video itu! Terlebih dengan pengakuan dari Abang!” Sekali lagi aku meninggikan suaraku. Kuakui aku memang wanita yang berwatak keras, apalagi menghadapi masalah seperti ini. Aku terluka, maka aku akan berusaha menghindari sumber luka itu. “Bun, dengarkan aku. Abang berjanji akan bersikap adil pada kalian. Aku sudah berpikir panjang sebelum melakukan ini, Bun. Aku menikahinya bukan semata karena keegoisanku, Kalian bertiga, Bunda dan juga kedua putra kita juga menjadi alasanku menikahinya.” Aku mengeryitkan keningku, berusaha memahami apa maksud ucapan lelaki itu. “Bukan karena keegoisanmu? Lalu karena apa? Karena nafsumu? Kamu sudah menghianatiku dan anak-anak, Bang!” “Dengarkan penjelasanku dulu, Bun.” Ia berusaha meraih tanganku, namun kutepis tangannya dengan kasar. “Aku akan melaporkanmu ke kesatuanmu! Apa Abang sudah lupa dengan profesi Abang? Apa Abang sudah lupa jika Abang adalah seorang aparat TNI? Apa Abang sudah lupa peraturan yang mengikat anggota TNI? Aku istri sahmu, Bang. Istri yang diakui oleh hukum di negara ini. Apa kamu sadar apa akibatnya jika aku melaporkan tindakanmu ini?” “Ya, aku tau itu, Bun. Aku sudah memikirkannya matang-matang,” ucapnya sambil menghela nafasnya. Aku memilih diam, menunggunya meneruskan kalimatnya. “Aku akan mengundurkan diri dari profesiku sebagai aparat TNI,” lirihnya. Aku terhenyak, tak bisa menyembunyikan rasa kagetku. “Apa maksud Abang?” Lelaki itu kembali menghela nafasnya. “Aku sadar sudah melanggar peraturan, Bun. Maka aku sendiri yang akan mengundurkan diri dari TNI.” “Kamu gila, Bang? Menjadi TNI adalah cita-citamu sejak dulu. Lalu sekarang Abang akan melepas semua yang telah Abang raih hanya karena wanita itu?” Aku menatapnya tak percaya. “Maka dengarkan penjelasanku dulu, Bun. Bukan hanya demi Dewi, tapi juga demi Bunda dan anak-anak.” ‘Ohhh, jadi wanita itu bernama Dewi?’ batinku. Hatiku berdenyut nyeri mendengar suamiku menyebut nama wanita lainnya di hadapanku. ?Bersambung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD