Fadil memasuki rumah dengan percaya diri. Orang tuanya tengah berada di ruang tamu, tampak sedang bercakap-cakap tentang anak satu-satunya itu. Sesaat setelah Fadil masuk, mereka menatapnya penasaran. Sebelumnya, Fadil dibiarkan pergi untuk menjemput kekasihnya dan diperkenalkan ke rumah.
Hans berdiri, matanya sedikit menengok ke arah pintu seolah berharap seseorang akan datang ke rumah ini. Namun, Fadil segera meminta duduk, takut sang papa memiliki harapan yang berlebihan soal menantu--yang katanya harus segera dikenalkan.
"Mana? Mana pacarmu yang mau kau bawa!" Tantri, sang Ibu yang sudah tampak tua, membenarkan kacamata yang sedikit melorot.
Fadil menggaruk tengkuk yang tak gatal, duduk di hadapan orang tuanya. "Besok. Besok saya janji akan bawa pacar saya ke rumah," katanya.
"Besoknya bagimu itu kapan?! Besok katamu bertahun-tahun Fadil, papa bosan dengarnya." Hans gelengkan kepala, tak anggap serius ucapan anak semata wayangnya itu.
Sudah berkali-kali Fadil bilang besok, dan pasti berakhir dengan jawaban yang sama ketika ditanya lagi dan lagi. Pria berkulit kuning langsat yang sudah disuruh cepat-cepat menikah itu, berdiri, memohon maaf karena telah mengecewakan orang tua yang kesekian kali.
"Fadil janji, besok seorang wanita akan masuk ke rumah ini."
Setelah itu, Fadil benar-benar berlalu. Memasuki kamarnya yang selalu terlihat rapi meskipun saat pagi hari masih berantakan. Mbok Darmi yang membersihkannya, dia cukup sibuk dengan urusan yang ada dan tidak pernah bisa menyisihkan waktu bahkan untuk merapikan kamar sekali pun.
Pria itu duduk di sebuah kursi kayu, menghadap ke sebuah kanvas yang terlukis indah seorang wanita dengan hijab biru langit. Dalam lukisan itu, bibirnya tampak merah delima, merekah bak bunga mawar dan sorot matanya berkilau bak berlian. Fadil menutup mata kuat-kuat, diremasnya sebuah kotak cincin kosong yang isinya sudah ia berikan kepada Syila, gadis tak dikenal yang ia minta untuk menikahinya.
Asyila Faradilah, begitu kenalnya. Fadil masih ingat benar senyum manis yang terpancar dibibir tebal Asyila. Persis sekali, persis seperti sebuah senyuman yang baru saja menghilang. Syila mengingatkannya akan kenangan itu, kenangan yang seharusnya hari ini masih dia genggam erat, tangan halus wanita berhijab yang selalu Fadil impikan siang dan malam, harusnya menjadi wanita yang menerima cincin berliannya.
Satu notif pesan masuk, membawa pergi Fadil dari lamunan manis serta pahit yang sejenak mengepung. Pria itu beralih meraih ponsel dari dalam saku kemejanya, melihat pesan dari Syila yang masuk ke w******p.
(Mas, mama sama papamu suka apa? Besok sebelum ke sana, aku mau bawa sesuatu buat mereka.)
(Jangan repot-repot, Syila, kamu ke sini gak perlu bawa apa-apa.)
(Lho, Mas, gak apa. Nanti aku bawa makanan, ya.)
Fadil tak membalasnya lagi. Perkenalan singkat mereka yang baru berjalan selama satu minggu, sudah cukup memberinya kesempatan untuk tahu, kalau Syila seorang wanita yang keras kepala. Dia selalu merasa tidak enakan, mau melakukan apa-apa selalu takut salah di mata orang lain.
Ini terasa aneh, dia sendiri tidak mengerti mengapa harus Asyila yang ia ajak menikah? Hatinya tiba-tiba mengertak sebuah rasa ingin memilikinya, melihat masa depan cerah di kedua bola mata gadis itu. Jika memang wanita yang ada dalam lukisan ini tidak dapat ia genggam, mungkin Syila bisa menggantikannya.
Fadil melihat arsip chat di ponselnya, menatap slide pesan yang selalu ia harapkan ada berbunyi notif darinya. Tetapi sudah sebulan berlalu, yang ia harapkan tak pernah ada mengirim pesan apa pun, bahkan hanya sekadar berkata rindu.
Annisa.
Nama itu terhapus dari kontak Fadil, bahkan seluruh pesannya. Dia sudah akan menikah dengan Syila, tak ingin menjadikan hal ini sebagai dosa yang berkelanjutan. Kanvas yang terlukis wajah Annisa, Fadil tutup dengan kanvas yang baru, dibiarkan terhalangi untuk menahan diri dari keinginan terdalam yang tak pernah dia dapatkan.
_
Bersambung~