PROLOG
Pria berusia sekitar 35 tahun, meninggalkan mobil bentley continental GT miliknya di parkiran sebuah gedung putih bertingkat 3. Matanya yang terbalut kaca mata hitam melirik jam di tangan, membenahi jas yang ia kenakan kemudian meraih ponsel saat benda itu terdengar berdering.
"Halo?" Menyapa dengan nada dingin, terdengar suara khawatir dan rasa bersalah dari seberang telepon.
"Tuan, sudah berangkat? Maaf tadi saya lupa menyajikan kopi...."
"Untuk memberitahu sesuatu yang tidak penting kau menghubungiku?"
"Maaf," ucapnya semakin merasa bersalah.
Telpon ditutup sepihak oleh sang penerima. Ia menaiki tangga dengan tampilan serba hitam yang dipoles sedikit parfum green woodi. Kacamatanya ia lepas, bersalaman dengan penjaga pintu masuk. "Tuan Fadil, salam," katanya.
"Apa seminarnya masih berlangsung?" tanya pria yang disapa Fadil itu.
"Baru saja usai, Tuan," jawab penjaga.
"Hm. Maaf saya terlambat."
"Tidak apa-apa. Tuan Rach dan Tuan Juan sedang makan siang di lantai atas, apa mau saya antar?"
"Tidak usah. Sebenarnya, masih banyak keperluan yang harus saya lakukan," tolak Fadil.
Penjaga menghargai keputusan Fadil, tak memaksanya sama sekali. Pria berdarah Medan-Jakarta itu, menatap ke langit yang tiba-tiba menitikkan air hujan perlahan-lahan. Fadil pamit untuk pergi lagi ke tempat berikutnya kepada penjaga, matanya menjaga langkah agar tidak tergelincir di lantai yang sedang di pel.
Fadil memasuki mobil, berdiam diri sejenak lalu mengambil sebatang rokok dari saku jas. Bersamaan dengan sentuhan tangannya meraih rokok, pria itu menyentuh sesuatu yang lain. Sebuah kotak kecil berbahan kaca, selalu ia bawa sudah tiga bulan terakhir ini.
Dalam renungan bayang-bayang masa lalu, pria itu membuka kaca mobil, membiarkan sedikit percikan air hujan membasahi wajahnya yang hitam manis. Dari kejauhan, Fadil melihat seorang wanita tengah berjalan dengan gaun bercorak batik selutut, memakai payung biru tua senada dengan warna bajunya. Fadil menyipitkan mata, berusaha memperjelas penglihatan di remang air hujan.
Wanita itu berjalan dengan anggun, heels menginjak aspal dengan ketukan yang sesuai, membuat Fadil betah saat memandanginya. Senyumnya yang manis sesekali gadis itu lemparkan pada orang yang mungkin saja dia kenali. Dengan cepat, Fadil keluar dari mobil, menghampiri wanita yang sejak tadi ia pandangi yang kini semakin dekat.
Dalam hitungan detik, keduanya sudah saling berhadapan. Wanita itu memandangi Fadil kaget, melihat seorang pria memakai jas serapih ini dibiarkan terkena dinginnya air hujan. Fadil terpana, polesan eye shadows yang tercetak di kelopak mata wanita itu, seolah beradu dengan beningnya air hujan. Tatapan matanya polos, bola mata penuh dan bibir tebal kemerahan sedikit terbuka menampakan kekagetan.
"Mas? Ada apa?" tanyanya. Rupanya dia bingung, ada pria setampan Fadil yang berdiri menghalangi langkahnya yang lihai.
"Jambret!" teriak Fadil.
Wanita itu sontak terkaget, melempar payung entah ke mana sementara tas yang dijinjingnya sudah dirampas dua orang preman yang kini lari kencang menjauh. "Maling! Tolong!" Teduhnya mata wanita itu berubah cemas.
Fadil tak kuasa melihat rasa khawatir itu bertahan lama. Lantas, pria itu berlari menembus hujan mengejar dua orang preman yang berpenampilan resmi sehingga tidak dicurigai. Cukup lama Fadil menghilang dari pandangan wanita yang berdiri di tengah derasnya hujan dengan perasaan was-was. Suasana gedung menyepi, berhubung acara seminar kesenian yang digelar sudah berakhir beberapa jam lalu.
Senyum wanita itu merekah, menatap takjub kehadiran Fadil yang membawa pulang tasnya dengan selamat. Napasnya menderu lelah, tetapi itu setimpal dengan ucapan terima kasih yang keluar lembut
dari bibir wanita itu. "Terima kasih, Mas.... Em," Wanita itu seolah hendak menyebutkan nama tetapi tidak tahu dan berakhir diam.
"Fadil," kata Fadil.
"Mas Fadil, terima kasih." Senyumnya.
"Sama-sama."
"Namaku Asyila, bisa panggil aku Syila," kenalnya.
"Asyila?" Fadil menatap wanita itu.
"Iya. Asyila Faradilah."
"Syila?"
"Iya, Mas."
"Ayo kita menikah."
Asyila terpaku dalam posisinya, menatap mata tajam Fadil yang seolah bertentangan dengan ucapannya. Meski suara hujan terdengar sangat riuh, tetapi kalimat manis yang pertama kali Syila dengar dari seorang pria, benar-benar tak mungkin membuatnya keliru. Sorot mata Fadil seolah tak membiarkan Syila berkutik, jauh untuk pergi, melangkah pun rasanya tak bisa.
Fadil mengeluarkan kotak yang selalu ada di saku jas miliknya, membuka benda itu dan memperlihatkan cincin berlian yang indah tersemat di dalamnya. Syila masih belum bergeming, malah sekarang jantungnya berdebar kencang diikuti perasaan aneh yang menyelinap ke sela-sela hatinya.
Pria yang telah menyelamatkan tas berharga miliknya, yang baru ia temui hari ini tiba-tiba mengajaknya menikah. Sungguh tidak masuk akal. Pikir Syila.
_
Tbc.