Bunyi bel di depan pintunya terus menerus ditekan. Seseorang diluar sana menekan bel tersebut dengan tidak sabar. Entah siapa orang tak waras yang mendatangi apartment-nya di jam malam ketika waktunya buat Arthur untuk bersantai setelah sibuk seharian. Kalau pun itu Andara, biasanya orang itu tidak pernah sampai perlu menekan bel. Dia punya kunci kediamannya sehingga hanya dia saja yang bebas keluar masuk tempatnya seperti rumah sendiri. Mulanya Arthur hendak abai, tetapi karena bel tersebut terus menerus dibunyikan. Arthur menyerah. Dia segera meletakan buku yang sedang dia baca di ranjang. Tak lupa menyimpan pembatas agar dirinya bisa melanjutkan sisa bacaan yang tertunda gara-gara tamu tidak diundang yang mendatangi. Arthur membawa langkahnya dengan santai menuju ke depan pintu. Sempa

