“Jadi kau berpikiran sama dengan mereka Esme? Apa jauh di dalam dirimu kau berpikir aku adalah sampah yang tak pantas menyentuh dan memilikimu? Apa diam-diam kau juga merasa jijik padaku?” Tanpa aba-aba, Jhon memasuki wanita itu. Esme mengernyit dan menggigit bibir. Dalam situasi ini sejujurnya dia merasa sangat tidak berharga. Dia merasa hancur dan juga kotor. Sebab dalam setiap dorongan dan sentakan yang pria itu ciptakan Esme tidak merasakan adanya koneksi batin seperti yang biasa dia rasakan. Saat ini apa yang jelas bagi wanita itu hanyalah kemarahan dan juga kebencian Jhon yang telah memuncak. Situasi ini memang tidak sepenuhnya salah Jhon, meski cara lelaki itu memperlakukannya sekarang memang jauh daripada apa yang seharusnya pria itu lakukan. Hubungan ranjang mereka memang sebe

