Setelah ditinggalkan begitu saja oleh Jhon. Esme langsung berlari menuju ke dalam untuk mengambil kunci mobil. Tidak dia pedulikan teriakan sang ayah maupun panggilan ibunya kala itu. Yang ada dipikiran Esme hanya satu. Jhon. Lelaki itu terlihat sangat marah, dan bukan saatnya bagi Esme untuk membiarkan lelaki itu sendirian. Dia merasa bertanggung jawab atas apa yang lelaki itu rasakan terlebih penyebabnya sudah barang tentu karena ayahnya sendiri. Entah apa yang mereka bicarakan di ruang kerja sang ayah berdua saja. Namun yang jelas perubahan sikap Jhon sudah cukup untuk menjelaskan segalanya. Esme tiba di kediaman pria itu dan mencoba mengetuk pintu berkali-kali. Dia sedikit tidak sabar tapi masih punya cukup stok akal sehat untuk tidak mendobrak pintu rumah lelaki itu dengan kasar.

