1 - Bumi dan Langit

1710 Words
Faktanya, kita serupa pinang dibelah dua. Tapi nyatanya, kita tidak selayaknya saudara. *** Pagi itu langit berwarna kelabu. Gemericik air terdengar di mana-mana. Membasahi setiap jengkal bumi. Embun yang biasanya terasa menyejukkan mata berganti dengan basah yang menutupi segala. Jalanan becek, daun-daun mengkilap dibasahi air hujan, dan suasana menjadi menyebalkan untuk sebagian orang. Sebuah angkot berhenti di dekat gerbang sekolah. Seorang gadis keluar tak lama kemudian. Setelah menyerahkan uang lima ribuan kepada sopir angkot, gadis itu segera melepas tas punggungnya, beralih memeluknya di depan. Mungkin khawatir air hujan akan merembes masuk dan membasahi buku-bukunya. Gadis itu berlari di tengah hujan. Menggunakan tangan kanan untuk menutupi kepalanya, tapi tidak berhasil. Air hujan turun dari segala arah dan menerobos tangan mungilnya. Tidak hanya gadis itu, siswa lain yang masih berada di luar halaman pun turut berlari menghindari hujan. Memacu langkah agar cepat sampai ke gedung sekolah. Abiella Kintan Annaliese. Siapa pun yang mengenalnya kerap memanggilnya dengan nama Abel. Si tomboy yang terkenal di kalangan kaum adam. Sifatnya yang bar-bar dan blak-blakan membuat Abel disukai oleh para cowok. Berbeda dengan para gadis yang sering merendahkannya, di tengah-tengah kumpulan cowok, Abel dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan. "Hujan s****n! Mau turun kok gak bilang-bilang!" Abel mengumpat. Sampai di selasar lantai satu, ia menepuki seragamnya yang nyaris basah kuyup. Tentu hal yang dilakukannya adalah suatu kebodohan, karena air hujan bukanlah debu yang bisa diusir hanya dengan menepuki bagian yang terkena. Sekarang Abel menggelengkan kepalanya. Membuat rambut pendeknya menyipratkan air ke mana-mana. Lantai yang dipijaknya basah. Jejak-jejak sepatu kotor memenuhi selasar. Pada langkahnya menuju lantai dua, Abel menepuk bahu seseorang. "Eh, Juki!" panggilnya keras. Cowok dengan cukuran rambut cepak itu menoleh ke belakang. "Lemes amat lo kayanya, belum sarapan, Juk?" "Lemes gimana sih, Bel? Gue segar bugar begini dibilang lemes." Juki selaku teman sekelas Abel geleng-geleng kepala. Keduanya melanjutkan langkah menapaki anak tangga di gedung tiga. Gedung khusus untuk anak kelas tiga. Di lantai tiga, keduanya berjalan lurus. Tapak kaki becek yang sebelumnya terlihat jelas di lantai satu, memudar saat sampai di lantai tiga. Para siswa dengan seragam yang sama sudah hampir memenuhi kelas-kelas yang dilewati keduanya. Suasana yang dihadirkan hujan membuat mereka enggan berada di luar dan memilih untuk mendekam di kursi masing-masing. Sebuah pintu terbuka membuat Abel dan Juki berhenti sejenak sebelum memasuki ruangan yang ada di baliknya. Keduanya melepaskan dua pasang alas kaki kotor itu langsung mendarat di rak sepatu yang berada di depan kelas. Melewati baris pertama, Juki berbelok menuju kursinya, sementara Abel mengamati sekitarnya. Tangan Abel menunjuk cowok berambut gondrong yang tengah merokok di kursi guru. "Heh, Udin! Jangan gitu, dong. Masa ngerokok di kursi guru? Itu gak sopan namanya. Perlu gue lempar lo ke tong sampah, gak?" ujarnya membuat Udin melongo. Cowok berwajah tampan dengan lesung pipit itu berdiri, ia terus melangkah ke luar kelas dan melemparkan rokok yang sempat dihisapnya ke tong sampah. Sebenarnya namanya bukan Udin, tapi Raffi. Hanya saja karena sifatnya jelek, Abel kerap memanggilnya dengan sebutan Udin. Dan herannya, Raffi selalu nurut kalau Abel menceramahi dirinya. Karena menurutnya, walaupun kepribadiannya tidak bisa dibilang baik, Abel bisa dibilang selalu menghormati orang yang lebih tua dan tidak pernah membandingkan teman-temannya. Itulah kenapa kaum cowok di kelasnya selalu senang berteman dengan Abel. "Bel, lain kali coba-coba deh ngerokok sama gue. Biar asik," kata Raffi saat kembali. Abel menggeleng. "Gue masih sayang organ tubuh gue, Din. Beda sama lo yang gak peduli kalau mati besok." Bukannya mendengarkan, Raffi justru hanya fokus pada namanya yang masih saja dipanggil Udin oleh Abel. "Kapan lo mau manggil gue Raffi, Bel?" tanyanya. "Kalau lo udah gak ngerokok dan bisa menghargai hidup lo sendiri." Setelah mengatakan itu, Abel berlalu begitu saja. Di barisan ketiga, ia memukul kepala seorang cowok yang sedang terlelap. Memang sih cuacanya mendukung sekali untuk tidur, tapi kalau memang niat tidur seharusnya jangan pergi ke sekolah. "Tidur aja lo kerjaannya. Gak bangun lagi baru tau rasa lo," ujar Abel kembali melangkah. Cowok yang kepalanya dipukul oleh Abel hanya mengerjap masih tidak mengerti. Matanya masih sayu, dan ia seperti orang linglung karena dibangunkan dengan cara kasar. Langkah Abel baru terhenti begitu sampai di meja yang berada di bagian paling belakang. Seorang cowok tengah terlelap di bagian pojok, dua cowok di kursi depannya tengah menjahili si cowok yang sedang tertidur dengan mencoret-coret wajahnya menggunakan lipstik. "Ya Tuhan, kenapa hari ini banyak amat yang tidur sih?" keluh Abel mengembuskan napas lelah. Ia menggeleng melihat kelakuan dua temannya. Leo dengan santainya mencoret-coret wajah Asep, dan Heri hanya terkekeh melihat kelakuan teman sebangkunya. Seolah mendukung apa yang sedang dilakukan Leo. "Jangan berisik, Bel. Nanti dia bangun," kata Heri. "Bagus kalau bangun, biar gue kasih kaca dan akhirnya kalian berdua yang kena. b**o-b**o gini, si Asep tuh serem kalau lagi marah." Heri mengerjap tidak mengerti. "Bel, lo kan perjaka. Emang lo punya kaca?" Ya, begitulah. Karena hanya bergaul dengan cowok, Abel sering dikatai perjaka oleh teman perempuannya. "Heh!" Leo memukul kepala Heri. "Perjaka itu cuma julukan doang. Gak mungkin kan lo nganggep Abel perjaka beneran?" "Lah, emangnya bohongan?" Sontak saja Abel memijat pelipisnya yang tiba-tiba pening. Kenapa juga dirinya harus memiliki teman seperti mereka? Untung saja Sebenarnya mereka baik dan bisa diandalkan, karena kalau tidak, sudah pasti akan dibom olehnya. "Canda kok, Bel, canda gue." Heri nyengir lebar, "Ngomong-ngomong emangnya beneran lo bawa kaca?" tanyanya mengulang kalimatnya. Jadi begini, selama hidupnya Abel bahkan tidak kenal alat-alat make up. Ia hanya tahu lipstik dan bedak, selebihnya ia hanya sering mendengar namanya dan tidak tahu bentuknya. Jadi sangat wajar kalau dirinya tidak pernah membawa kaca atau bedak untuk memperbaiki make up wajah yang biasanya dilakukan kebanyakan gadis. Abel tidak pernah melakukan hal itu. Ia tidak perlu meski wajahnya dipenuhi peluh, atau terlihat pucat karena tidak pernah menggunakan pewarna bibir. Tapi... "Gini ya, Her. Nama lo tuh bagus sebenernya, Heri Herlambang. Gue kira otak lo sebagus nama lo, ternyata lebih banyak minusnya." Abel berusaha tersenyum memaklumi kebodohan temannya." Di kelas kita kan banyak anak cewek. Kalau mau ngasih liat ke Asep tentang kebejatan kalian, gue cuma perlu minjem kaca sama salah satu dari mereka, atau malah bisa pake kamera handphone." Heri manggut-manggut paham. "Oh, gitu," katanya. Sementara Leo yang duduk di sampingnya tidak terima dengan perkataan Abel. "Lo seolah-olah lagi ngejelasin kalau gue abis merkosa anak orang, Bel. Padahal cowok keren kaya gue mana mau ngelakuin hal menjijikkan kaya gitu." Ketiganya tidak sadar bahwa percakapan mereka membuat Asep yang awalnya sedang bernapas teratur dengan mata tertutup, kini duduk tegak dengan wajah siap memakan siapa pun hidup-hidup. Asep mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian membuka aplikasi kamera. Saat bersiap untuk berkaca, yang ia lihat adalah wajah Leo yang sedang menyamping. Cowok yang duduk di depannya itu menoleh. "Lampu kilatnya matiin g****k!" seru Leo. Asep menekan salah satu ikon yang membuat kamera berganti dengan kamera depan. Wajahnya terlihat di sana. Dengan noda merah melingkar di kedua matanya, di ujung hidungnya, dan di bibirnya. "Innalilahi!" Tatapan Asep beralih ke arah tangan Leo yang masih memegang lipstik terbuka. "Jangan bilang itu lipstik Bu Retno?" tanyanya setengah berteriak. Abel menahan tawa mendengar pertanyaan Asep. Bukannya mengkhawatirkan wajahnya yang babak belur oleh lipstik, Asep malah bertanya lipstik siapa yang digunakan oleh Leo untuk mencoret wajahnya. Bu Retno yang dimaksud oleh Asep adalah guru matematika mereka yang kalau berdandan sangat tebal. Bibirnya khas sekali dengan lipstik merah merona. Sekilas, setiap kali guru itu memasuki kelas, beberapa orang akan mengira bahwa wanita yang dikenal cerewet itu seperti orang yang habis melahap bayi baru lahir. "Heran gue, bukannya mikirin muka lo yang amburadul, lo malah nanya ini lipstik punya siapa. Gak bisa apa ya gue punya temen yang setara kaya gue?" Leo geleng-geleng kepala. Tidak Heri, tidak Asep, tingkat kebodohan mereka di bawah rata-rata. Sebenernya Abel pun tidak jauh beda, hanya saja Abel cenderung bodoh di bidang pelajaran. Kursi yang berada di samping Abel berderit. Abel duduk setelahnya. Meletakkan tasnya di atas meja kemudian memandang tiga teman dekatnya satu persatu. Biar Abel perkenalkan. Yang duduk di sampingnya adalah Asep, tidak terlalu pintar, tapi humoris. Di depan Asep ada Leo, cowok paling pintar di antara mereka berempat, tapi sifat sok cool-nya membuat cowok itu menyebalkan. Lalu di samping Leo ada Heri, cowok lemot, tapi pengertian. Sebenarnya ketiga teman-teman Abel itu tidak ada yang benar, tapi Abel berani menjamin bahwa merekalah yang paling mengenalnya. Lalu, belum sempat permasalahan wajah Asep yang dicoret-coret selesai, tiga orang memasuki kelas mereka. Membuat pandangan Abel seketika teralihkan. Di antara tiga orang itu, ada seseorang yang sangat dikenalnya, sekaligus sangat jauh dengannya. Abigail menyapa teman-temannya sopan. Tubuhnya ramping dengan balutan seragam yang digosok rapi. Rambut panjangnya tergerai indah. Polesan make up tipis menambah kesan anggun yang sejak awal sudah disandangnya. Gadis yang kerap disapa Abi itu duduk di kursi terdepan barisan ketiga. Salah seorang yang datang bersamanya turut duduk di sampingnya, sedangkan satunya duduk di belakang bersama seorang cowok. Abel dan Abi. Saat pertama kali melihat keduanya, siapa pun tahu bahwa mereka adalah saudara kembar. Wajahnya bak pinang dibelah dua. Namun, di samping itu, siapa pun juga tahu bahwa keduanya bak langit dan bumi. Sangat berbeda jauh. "Gue tuh pas awal-awal liat lo sama Abi, gue langsung tau kalian pasti gak akur. Kalian gak pernah nyapa satu sama lain, gak pernah ngobrol, dan gak pernah keliatan bareng. Kaya bukan saudara aja." Komentar Leo mengundang senyum tipis di bibir Abel. Nyatanya memang begitu. Meskipun duduk di kelas yang sama, bahkan tidur di satu atap yang sama, ia dan Abi layaknya air dan api, tidak pernah bisa akur. "Seenggaknya kita sedarah. Itu aja udah cukup buat nunjukin kalau gue sama Abi saudara," jelas Abel. Mendengar itu, Leo hanya bisa manggut-manggut. Tidak ingin mengomentari lebih. Mau bagaimanapun, kepribadian seseorang tidak bisa disesuaikan dengan standar penilaian orang lain. Mengikuti standar orang lain tidak akan ada habisnya dan hanya akan membuatmu kehilangan jati diri. "Tapi..." Asep menatap Abel. Wajahnya yang penuh coretan terlihat konyol. "Gue tetep lebih suka sama lo, kok. Walaupun Abi anaknya ramah, dia tuh kaya lagi nyimpen bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Deket-deket sama dia kayanya bukan hal yang baik." Heri memiringkan kepalanya. "Emangnya Abi itu teroris bawa bom segala?" tanyanya lempeng. "Innalilahi!" seru Abel, Asep dan Leo bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD