Hujan itu memang salah satu hal yang menyenangkan. Suasana yang dihadirkan mampu membuat siapa saja nyaman. Genangan, rintik sendu, awan kelabu, aroma petrichor, semuanya membangkitkan kenangan tersendiri. Tidak hanya itu, bunyi rintik yang menenangkan, juga suhu sejuk yang dihadirkan, itu mampu membuat siapa pun mudah terlelap.
Intinya hujan itu menyenangkan. Tentu untuk sebagian orang, dan jika muncul di saat yang tepat. Lain halnya dengan mereka yang membenci basah, atau akibat yang ditimbulkan hujan, datangnya hujan hanya akan menimbulkan dengkusan.
"Kurang bersyukur banget lo jadi human."
Begitulah Asep menegur Abel yang sejak tadi tidak hentinya mendengkus sambil sesekali memandang jendela.
"Hujan itu rahmat Tuhan, itu kata neneknya Upin Ipin. Makanya kita harus bersyukur kalau hujan turun."
Abel memandang Asep. "Bersyukur kok gue, tapi gue bakal lebih bersyukur kalau hujannya turun di gedung satu sama dua aja. Gedung tiga gak usah," tuturnya santai.
"Mana bisa gitu astaga! Punya temen somplak banget heran."
Jadi ceritanya begini. Bel istirahat sudah berbunyi hampir sepuluh menit lalu. Seisi kelas sudah hampir sepi, hanya menyisakan Abel dan tiga temannya. Heri dan Leo sedang asyik bermain game online. Cowok itu anteng saja meskipun Abel justru kelaparan. Asep sejak tadi mengajak Abel untuk pergi ke kantin, tapi Abel menolak dengan alasan malas bertemu hujan.
Lokasi kantin yang berada di lantai satu membuat Abel semakin malas pergi ke sana. Heri dan Leo awalnya misuh-misuh, tapi saat Heri menyarankan untuk bermain game online, keduanya asyik berdua. Sedangkan Abel, sedang memikirkan cara agar dirinya bisa makan tanpa harus turun ke lantai satu.
"Gimana kalau lo aja yang ke kantin," saran Abel.
Asep sudah berdiri. "Oke! Tapi gue gak mau beliin makanan buat lo, buat Leo atau Heri."
Di kursi depan, Leo dan Heri ikut berdiri. "Yuk ah kita jajan. Si Abel mah biarin aja kelaparan. Suruh siapa takut sama hujan," Leo bersuara. Ia meletakkan ponselnya di saku kemejanya. Heri mengikuti hal itu.
"Hujan kok ditakutin, padahal kan mereka gak nimbulin ledakan kalau nyentuh tanah."
Karena perkataannya, Leo langsung menatap Heri. "Apaan sih lo? Garing tau," sindirnya.
Bukannya takut, Abel hanya tidak menyukai hujan. Ia tidak suka saat bajunya basah, ia tidak suka saat sepatunya kotor, dan ia juga tidak suka jika harus melindungi kepalanya agar tidak kebasahan meskipun itu sia-sia. Dan yang lebih menyebalkan, Abel tidak suka saat ia sampai demam karena hujan. Jika ada yang bertanya apa yang paling menyebalkan bagi Abel, ia tidak akan ragu menjawab hujan.
"Ya Tuhan, kalau sampe mereka ninggalin gue sendirian di kelas, semoga mereka bertiga kejengkang rame-rame di tangga."
Sontak saja Asep langsung memukul kepala Abel. "Heh! Doa tuh yang baik-baik. Ini malah nyumpahin," katanya kesal.
"Muka gue bisa luntur ketampanannya kalau kejengkang di tangga," balas Leo.
Heri hanya mengangguk. "Bisa patah tulang juga," sambungnya.
Tidak memedulikan protesan teman-temannya, Abel justru meraih ponsel. Ia membuka salah satu aplikasi dan mencari satu nama yang di antara nama lain yang memenuhi roomchat di aplikasi itu.
"Bel, lo mau minta tolong siapa lagi buat bawain makanan?" tanya Asep.
Abel balik bertanya, "Emangnya ada orang lain yang bisa dimintain tolong selain dia?"
Bukan pertama kalinya, ini sudah kali ke sekian Abel hanya duduk di kelas saat hujan turun. Itu sama artinya, bukan pertama kalinya pula tiga temannya tetap menemani karena mendapat sumpah yang sama. Meskipun sudah bisa dipastikan jika ke kantin tidak akan membuatnya kehujanan, Abel tetap tidak pernah keluar kelas saat hujan. Namun, seperti apa yang baru saja dikatakannya, akan selalu ada seseorang yang bisa diandalkan.
Satu nama Abel tekan. Percakapannya dengan orang tersebut langsung terlihat. Abel segera menekan ikon di ujung kanan atas, setelahnya ia meletakkan ponselnya di telinga.
Heri dan Leo yang awalnya sudah bersiap pergi kembali duduk, begitu juga dengan Asep.
"Udin!" panggil Abel ngegas.
Seseorang di seberang telepon mendengkus halus.
"Ngapain lo nelpon gue? Gue gak ada duit, jadi gak usah nitip jajanan. Beli aja sendiri."
"Tapi di luar hujan, Din."
"Gak usah panggil gue Udin, astaga."
Raffi di seberang telepon ngegas lagi.
"Nanti gue ganti, Din. Pokoknya beliin gue makanan. Apa aja. Burger, hot dog, batagor, gorengan. Pokoknya apa aja. Beli buat gue sama tiga temen gue. Jangan lupa sama minumnya juga, kalau gak minum entar gue kesedak. Nanti gue ganti duitnya. Pokoknya jangan lama-lama, lima menit lagi lo harus udah di sini. Makasih, Udin."
Setelah berbicara panjang lebar, Abel mengakhiri panggilan begitu saja. Ia menilik temannya satu persatu. Menodongkan telapak tangannya seperti sedang meminta sesuatu. Asep mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari sakunya, begitu pula dengan Heri dan Leo. Mereka sama-sama mengeluarkan uang untuk membayar biaya makanan yang akan dibawakan Raffi nantinya.
***
Tujuh menit kemudian, Raffi sampai di kelas dengan napas terengah-engah. Cowok itu meletakkan dua plastik di atas meja Abel. Satu plastik penuh berisi gorengan, dan satunya lagi berisi empat botol air mineral.
Abel sangat setuju bahwa jika Raffi dikatakan cowok paling nakal sekaligus paling penurut di kelasnya. Cowok itu memang sering merokok sembarangan dan suka sekali terlambat, kadang bolos juga, tapi di samping itu, Raffi selalu mendengarkan apa yang dikatakan temannya. Ia tidak bisa menolak permintaan teman sekelasnya, apalagi jika yang meminta pertolongan adalah Abel, gadis yang kerap menyeramahi sekaligus bisa dibilang paling peduli dengannya.
"Gila gak sih gue sampe gak makan buat nganterin gorengan doang?" Raffi menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di atas meja. Masih berusaha memperbaiki hela napasnya yang belum teratur.
"Lah, gue kira lo udah makan, Din. Ternyata belum?"
"Ya gimana mau makan, lo tiba-tiba nelpon pas pesenan gue belum dateng."
Tangan Abel menarik kursi di seberangnya, menepuk kursi tersebut lalu berkata, "Sini duduk, makan sama kita aja bertiga." Dengan alis yang sengaja dinaik-turunkan.
Bel masuk akan berbunyi setidaknya tidak sampai lima belas menit lagi. Jika turun kembali ke kantin untuk memesan makanan, itu hanya akan membuang waktu. Yang ada makanan belum habis, bel masuk sudah mengingatkan untuk segera berlari. Karena itulah Raffi memilih duduk di kursi yang diberikan Abel dan menyambar gorengan paling pertama.
"Jadi makanan lo gimana, Raf?" tanya Leo turut mengambil gorengan.
Heri juga mengambil satu. "Nanti penjaga kantin rugi kalau pas dateng ke meja lo, tapi lo-nya gak ada." Kemudian ia segera meralat ucapannya sendiri. "Ehh, gak juga sih. Dia bisa makan pesenan lo itu. Itung-itung nyobain makanan buatan sendiri."
"Ngomong apa sih lo gak jelas banget?" komentar Asep ditujukan untuk Heri.
"Gue udah minta supaya Riko yang makan," jelas Raffi menyebutkan nama teman karibnya. Cowok bernama Riko tersebut mungkin sekarang sedang bersin karena dibicarakan tiba-tiba.
Plastik berisi gorengan itu perlahan-lahan hanya menyisakan minyak dan kertas yang dijadikan alas. Tersisa beberapa saja, karena Abel dan teman-temannya menghabiskan dengan cepat. Leo dan Heri berebut minta goreng tahu yang hanya sisa satu, tapi perdebatan itu berakhir membuat keduanya melongo saat Abel melahap tahu tersebut bulat-bulat. Menggembungkan pipi kanannya.
"Julid banget!" seru Leo mengambil goreng tempe dengan kesal.
Heri mengambil cireng, Asep mengambil tempe, dan Raffi merebut risol terakhir. Membuat plastik yang tadinya penuh kini bahkan bisa tertiup angin.
"Sekali-kali kalau lo pukul kepala Abel, gak masalah kok, Le," kata Asep memberi tahu. Karena ia sering melakukan hal itu, ia jadi terbiasa. Abel tidak pernah marah. Terkadang mendengkus halus, tapi hanya sebatas itu tanggapannya.
Berbeda dengan Leo yang tidak akan melakukan hal itu. Menurutnya, "Cowok yang bener-bener cowok itu gak bakal ngangkat tangan buat mukul cewek, bahkan kalau cuma bercanda. Itu motto hidup gue."
Raffi geleng-geleng kepala. "Sok cool lo," katanya geli.
"Gue mah emang cool."
Heri yang sejak tadi diam menggerakkan tangannya untuk menepuk bahu Leo. Cowok itu menoleh ke arahnya. Bertanya 'apa' dengan nada ngegas.
"Cowok yang bener-bener cowok tuh gimana maksudnya? Jadi kalau kelakuannya kaya Asep yang sering nyubit, sering jitak, itu artinya selama ini Asep cewek?" Kedua mata Heri membola setelah mengatakan hal itu. Ia menatap Asep, "jangan deket-deket gue, Sep."
Perkataan terakhirnya sukses membuat Asep yang sedang membuka tutup botol langsung melotot. "Heh! Gue normal, bangke. Dan gue cowok asli."
"Terus maksud omongan Leo apa?" Heri bertanya pada dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian, ia mengerjap.
Seolah sudah tahu jawabannya, Heri menggebrak meja keras. "Maksudnya cowok sejati kan, Le?" tanyanya memastikan.
Namun, sayangnya Leo terlalu malas menanggapi pertanyaan Heri. Begitu juga dengan yang lain. Mereka, kecuali Raffi, justru meneguk air mineral mereka masing-masing. Membuat Heri merasa diabaikan dan ikut meneguk air miliknya juga.
Setelah Abel menghabiskan hampir setengah air miliknya, Raffi menyambar botol dari tangannya dan meneguknya tanpa permisi. Bibirnya sengaja tidak disatukan ke bibir botol, karena Raffi tidak ingin memperlakukan Abel seperti gadis buruk.
"Din, gak usah dibalikin ke gue. Lo abisin aja semuanya," kata Abel menggeleng pelan.
Namanya bergaul dengan cowok, ia terbiasa dengan hal itu. Hal semacam itu sering terjadi dengannya. Asep, Heri dan Leo juga kerap melakukan hal itu. Tapi sama seperti yang baru saja dilakukan Raffi, Abel tidak mau meminum minumannya lagi jika sudah diteguk makhluk lain bernama cowok. Namun, berbeda dengan teman-teman cowoknya yang cenderung mengerti dan bisa menghormatinya sebagai perempuan, teman-teman perempuannya justru menganggapnya sebagai gadis murahan.
Tidak apa-apa, itu yang selalu Abel tanamkan dalam dirinya. Selama ia bisa mengenal orang yang menganggapnya ada, itu sudah cukup.
"Oh iya Bel, tadi—"
Belum selesai Raffi menyelesaikan ucapannya, pintu kelas yang awalnya hanya terbuka sedikit kini terbuka lebar. Saudara kembar Abel dan dua temannya memasuki kelas secara bersamaan. Ketiga gadis itu langsung duduk di kursinya dan terus larut dalam pembicaraan.
"Tadi kan gue mesen bakso, karena gak jadi, baksonya gue kasih Riko, tapi tetep gue yang bayar. Gara-gara itu duit buat beli minuman jadi kurang, makanya gue pinjem duit saudara lo sepuluh ribu. Soalnya duit gue sisa tiga puluh ribu tadi," jelas Raffi melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong karena kedatangan Abi, saudara kembar Abel.
"Oh, gitu." Abel merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan uang tiga puluh ribu yang tadi dikumpulkan tiga temannya. Ia menyerahkan uang itu ke Raffi.
Setelah Raffi menerima uangnya, Abel berdiri. Ia kembali merogoh saku dan mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari sana. Ia berjalan keluar dari kursinya. Menghampiri Abi yang tengah asik mengobrol bersama temannya.
Kedatangannya berhasil menarik perhatian tiga gadis itu. Ketiganya yang awalnya berbincang sambil tertawa kini menatap Abel yang berdiri di depan meja Abi.
Abel meletakkan uang sepuluh ribuan miliknya di atas meja Abi. Memaksa Abi mendongak untuk menatapnya. Netra keduanya memang bertemu, tapi tidak ada apa pun di sana. Hanya asing.
"Eh, tadi katanya Raffi minjem duit lo. Nih gue balikin. Soalnya dia beli makanan buat gue. Thanks."
Abel segera kembali ke kursinya setelah mengatakan itu. Ia bahkan tidak menyebutkan nama saudaranya, tidak memanggil Abi menggunakan namanya, karena memang begitulah hubungan keduanya. Tidak pernah ada sapa, seolah saudara kembar itu tidak pernah saling mengenal satu sama lain dan tidak berniat berkenalan.
Hanya ada kehadiran yang membaur dengan kehadiran lainnya. Ada, tapi tidak berarti apa-apa.