3 - Hambar di Meja Makan dan Nikmat di Pinggir Jalan

1909 Words
Kebanyakan orang selalu salah kaprah tentang memahami arti kehidupan. Banyak dari mereka yang menjadikan hidup sebagai ajang perlombaan. Berusaha keras tentang siapa yang lebih baik, siapa yang menang, dan siapa yang akhirnya berdiri di puncak. Lupa jika waktu yang dihabiskan untuk mengejar sesuatu, sama artinya menghabiskan waktu untuk meninggalkan sesuatu. *** "Bel? Gimana nilai kamu? Udah membaik?" Adam, ayah Abel bertanya. Pria yang sedang duduk di kursi seberang itu menatap Abel remeh. Begitu juga dua orang yang ada di sana. Kintan ibunya, juga Abi saudaranya. Keempatnya sedang makan malam. Rutinitas yang sebenarnya jarang sekali Abel lakukan. Semata-mata karena Abel menghindari pertanyaan-pertanyaan serupa seperti barusan. Tidak masalah jika ayah atau ibunya bertanya baik-baik, mungkin bisa diselipkan sedikit semangat dalam kalimatnya, tapi tidak begitu. Baik ayah atau ibunya selalu membedakan Abel dan Abi. Keduanya tidak lagi seperti saudara yang saling melengkapi. Kalau salah satunya baik, maka yang satunya harus baik juga. Mungkin kebanggaan untuk Abi yang selalu berdiri di posisi pertama, tapi untuk Abel, mengikuti standar penilaian orang tuanya amatlah sulit. "Kamu gak jawab, berarti masih gitu-gitu aja kan, Bel?" sambung ibunya. Abel yang sudah bersiap dengan tangan yang memegang garpu dan sendok seketika kehilangan selera makannya. Ia melepaskan dua benda itu di masing-masing sisi piringnya. Pernah Abel sangat semangat untuk mengejar sang adik yang selalu dinomorsatukan, pernah juga ia bekerja keras agar setidaknya dianggap sebagai putri yang bisa membanggakan nantinya, tapi semuanya nihil. Sejak sekolah dasar, Abel tidak pernah bisa mengejar Abi. Nilainya selalu bertahan di angka delapan, itu pun kalau ia berusaha keras. Ia tidak terlalu pintar, tapi tidak terlalu bodoh juga. Setidaknya ia tidak pernah tinggal kelas sejak sekolah dasar. Namun, karena Abi selalu berada di urutan pertama di setiap kelas, ia selalu menjadi bahan perbandingan orang tuanya. Membuatnya akhirnya memilih berhenti dan menjadi apa adanya saja. Ia benar-benar sudah tidak butuh pengakuan. Hal itu terlalu sulit untuk dikejar olehnya. "Sekali-kali coba belajar dari adikmu. Seharusnya Abi yang mengejar kamu, tapi ini malah terbalik. Jangankan memberi contoh untuk adikmu, kelakuanmu bahkan bisa disebut memalukan." Abel hanya tersenyum sambil terus memperhatikan ayah dan ibunya. "Apa yang harus ayah katakan jika rekan kerja ayah sampai melihatmu di jalan? Rambut pendek, penampilan berantakan, kelakuan gak karuan. Kalau memang tidak pintar, setidaknya perbaiki penampilanmu, Abel." Ibunya mengangguk di samping ayahnya. Dua orang itu sedang mengunyah pelan sementara Abel justru merasakan tenggorokannya kering kerontang. "Jangan terus-terusan menjadi seseorang yang tidak punya masa depan seperti ini," balas ibunya. Kemudian tatapan ayahnya beralih pada Abi yang duduk tepat di samping Abel. "Abi, coba bantu kakakmu untuk belajar. Barangkali dia bisa tergerak saat melihat sendiri adiknya lebih baik darinya," ujarnya. "Gak mau," Abi menoleh ke samping. Abel balas menatapnya. "Otak udang kaya dia gak bakal naik pangkat. Diam aja di bawah selamanya. Dia gak bakal bisa ngejar apa-apa. Aku bahkan terlalu malu ngakuin dia sebagai kakakku." "Abi!" tegur ibunya saat Abi mengatakan hal yang berlebihan. Abi mendengkus halus. Memang benar ia dan Abel sangatlah berbeda, tapi kedua orang tuanya tidak pernah membedakan satu sama lain. Fasilitas yang didapat Abi, Abel dapatkan pula. "Pokoknya aku gak mau bantu dia!" Ya, yang mengatakan hal itu adalah seorang Abigail Kintan Annaliese. Sosok yang kerap dipuja di sekolah. Ketua kelas yang terkenal ramah, sopan, dan bisa berteman dengan siapa saja. Hanya Abel yang tahu bahwa itu adalah topeng cantik yang dikenakan Abi. Topeng menawan yang membuatnya disegani oleh siapa pun di penjuru sekolah. Lalu di mana sisi aslinya seorang Abi? Tentu hanya diperlihatkan di rumah. Saat tidak ada teman satu kelas yang melihatnya. Sisi arogan, sombong dan kerap memandang remeh Abel. Itulah Abi yang sebenarnya, tidak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya. Seseorang yang selalu mengaku jadi pemenang meskipun tahu bahwa hidup bukanlah sebuah ajang perlombaan. "Udah?" tanya Abel tiba-tiba. Kedua orang tuanya, begitu juga Abi, menatap Abel bersamaan. "Apa maksud kamu?" tanya Kintan. Abel menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Aku nanya, udah selesai ngomongnya? Udah selesai memperjelas perbedaan antara aku dan Abi? Kalau udah aku mau pergi aja." Abel menggeser kursi ke belakang dan meninggalkan meja makan, tapi baru dua langkah, suara ayahnya berhasil membuatnya terdiam. "Abel! Kelakuan kamu yang seperti ini yang menjelaskan seberapa buruk sifat kamu." Ya, Abel tahu dan sangat sadar diri, bahwa sampai kapan pun, bahkan sampai ia bisa meraih sesuatu yang hebat, tidak akan ada tempat untuknya. Abel tahu dirinya masih sangat mengandalkan orang tuanya soal kebutuhan, tapi ia tidak ingin terus-terusan diinjak oleh mereka yang memiliki posisi paling penting di hatinya. Daripada membuat suasana menjadi tidak enak, lebih baik ia pergi saja, bukan? "Aku selalu tau kenapa masakan di meja makan kita, yang luas, yang lauk pauknya lengkap, yang mau apa aja tinggal ambil, aku tau kenapa rasanya hambar banget. Karena gak ada tempat buat aku di meja ini, gak ada. Aku cuma orang asing buat kalian," tutur Abel tanpa memandang orang tuanya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu utama rumahnya. Menghirup udara malam banyak-banyak untuk menghilangkan sesak yang ditahannya sejak tadi. Tangannya merogoh ponsel di saku hoodie putih yang dikenakannya. Abel menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Apa?" tanya suara di seberang sana saat Abel menunggu dengan tenang suara nada sambung yang berubah. "Sep, lo lagi di mana?" "Lagi di minimarket. Beli camilan buat adek gue, sekalian beli pembalut buat kakak gue." Abel tergelak mendengar jawaban Asep. "Kok lo mau aja disuruh beli gituan?" Jelas, itu adalah tawa palsu. Di seberang sana, Asep mendengkus. Abel bahkan bisa membayangkan bahwa cowok sedang memutar matanya malas. "Daripada digampar bolak-balik, mendingan gue nahan malu beberapa menit." Ah, benar juga. Abel sangat tahu bahwa kakak perempuan Asep katanya galak sekali. Ia tidak pernah melihatnya sih, tapi beberapa kali Asep kerap menceritakan saudaranya itu. Cerita yang terkadang membuat Abel iri. "Ya udah, mendingan lo ke rumah gue aja." "Ngapain? Lo mau ngasih pembalut gratis?" Abel ngakak lagi. "Enggak lah. Gue mau nyari makan, tapi males mesen gojek. Sama lo aja deh, Sep. Nanti gue traktir makan plus gue aja yang beliin kakak lo pembalut." "b**o!" hujat Asep. "Kenapa bukan dari tadi aja sih? Gue udah megang belanjaan di keranjang. Tinggal bayar." "Lo simpen aja di tengah lorong, terus lo-nya kabur. Oke? Oke dong. Ya udah, bye. Makasih, Asep." Abel mematikan panggilan secara sepihak. Membuat Asep yang berada jauh di seberang sana celingukan. Ingin menolak tapi kasihan, ingin mengikuti tapi harus menahan malu. *** Abel lagi-lagi tidak kuat menahan tawa saat melihat sebuah motor berhenti di depan gerbang rumahnya. Ia sontak langsung berdiri, menepuki bokongnya yang mungkin saja terkena debu karena duduk di lantai, dan segera berlari menuju gerbang. "Sep, jadi belanjaan lo beneran lo tinggal di lorong?" tanya Abel. Asep mendengkus saat Abel membuka gerbang dan berdiri di depannya. "Lo pikir siapa yang nyuruh gue kaya gitu, hah?" "Gue," sahut Abel menunjuk dirinya sendiri. Ia benar-benar suka memiliki teman seperti Asep, yang tidak mau dirinya kelaparan dan rela datang ke rumahnya setiap kali diminta. "Lo tuh jadi mirip orang susah kalau makan di pinggir jalan mulu." Abel menatap rumah megah di balik gerbang, "punya bokap nyokap orang kaya itu sekali-kali dinikmati, porotin, terus belajar foya-foya. Heran jadi human kebangetan bego." Meskipun berkata demikian, Asep tetap menyerahkan helm pada Abel. Meminta gadis itu segera naik ke motornya. "Kita mau makan di mana?" tanya Asep menoleh ke belakang. Abel sedang memakai helm di boncengannya. "Nasi goreng atau sate aja, Sep." Asep manggut-manggut saja. Karena sudah sering menemani Abel makan di luar, ia ingin menanyakan satu hal yang selama ini dipendamnya. "Ini kita berasa kaya orang lagi pacaran gak sih, Bel?" Abel mengerjap polos kemudian menggeleng. "Lo terlalu innalilahi buat gue yang sesempurna ini." Astagfirullah. Asep tidak ingin bersuara lagi. Tidak ada gunanya. Ia memilih untuk segera memasang helm dan tancap gas dari sana. Kalau temannya yang satu ini sudah makan, ia bisa pulang dengan tenang. Tidak sampai lima belas menit setelah meninggalkan pelataran rumah Abel, motor yang dikendarai Asep berhenti di dekat sebuah gerobak dengan tenda sederhana di dekatnya. Sudah ada beberapa pelanggan di sana, ada yang sedang menunggu pesanannya matang, ada juga yang sedang makan sambil mengobrol. "Bang, satenya dua porsi ya. Pake lontong, sama minumnya apa aja deh, Bang," Asep berbicara pada salah satu orang yang sedang mengipasi sate. Aroma khas mengiurkan langsung menguar ke mana-mana. "Di makan di sini, Mas?" tanya penjual satenya. Asep mengangguk sambil menggumamkan kata 'iya' sebagai jawabannya. Setelahnya, ia mengajak Abel duduk di salah satu kursi sambil menunggu pesanannya. "Lagian lo kenapa sih suka banget makan di luar? Seminggu bisa lima kali lo minta gue buat nganter jajan. Gue sih enak ditraktir, lah elo emangnya gak keabisan duit karena jajan mulu?" Abel menatap Asep. "Di rumah gue itu isinya orang pinter semua. Gue yang isi kepalanya kopong ini gak cocok ikut makan di meja makan keluarga," sahutnya tergelak. Di balik tawanya, Asep mengerti ada sesuatu yang tidak ingin Abel jelaskan. Bukan karena ia sering menemani Abel makan di luar, dua temannya pun sama memahami Abel, hanya saja, Asep lebih tahu wajah penuh kebohongan itu saat malam hari. Abel tidak bisa meminta tolong kepada Leo karena cowok itu memiliki kekasih, ia juga tidak bisa meminta Heri karena terlalu malas untuk menjelaskan jika Heri bertanya kenapa harus makan di luar. Walaupun tidak pintar-pintar amat, Asep lah yang sebenarnya paling bisa diandalkan. Hampir satu sekolah tahu hanya dengan melihatnya saja. Abel dan Abi memanglah saudara, tapi jarak di antara keduanya terlalu jelas untuk menegaskan bahwa mereka tidak akur. "Kalau ada masalah atau ada sesuatu yang mau diceritain, cerita aja sama gue, Leo atau Heri. Kita bisa kok ngedengerin. Gak ember juga pastinya. Jangan suka mendam perasaan sendiri, lo punya temen yang bisa dijadiin tempat berbagi." Abel tidak tahu seberapa jelas wajahnya menjelaskan tentang masalah yang dimilikinya, tapi mendengar kalimat itu dari orang yang dipercayainya, amat sangat menghangatkan. Ia pernah ingin menumpahkan segalanya, pernah sangat ingin membagi segala keluh kesahnya, tapi itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Apalagi tiga temannya mungkin malah akan membenci Abi karena tahu fakta dari adiknya itu. Keluarga busuk yang ia miliki, tidak ingin ia ceritakan pada teman-temannya. "Omongan lo berlebihan banget, Sep. Sok bijak pula, gue jadi pengin muntah dengernya." Asep melotot. "Dikhawatirin malah ngelunjak. Heran gue," tukasnya sebal. "Tapi makasih, Sep. Gue gak pa-pa." Mendapati senyum di bibir Abel, Asep justru lebih khawatir. Tidak apa-apanya perempuan selalu berarti sebaliknya, bukan? Pesanan Asep datang. Penjual sate yang sebelumnya Asep lihat sedang membungkus pesanan kini mengantarkan dua piring sate beserta lontongnya untuk Asep dan Abel. Ada juga dua teh manis yang asapnya samar-samar menguar ke udara. "Makasih, Bang," kata Asep. Penjual sate itu mengangguk dan berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya. Asep menarik piring miliknya, menambahkan sambal dan kecap yang sudah tersedia di atas meja. Abel ikut meracik satenya dan mulai makan dengan lahap. Tidak bisa dipungkiri, makanan pinggir jalan yang sering disantapnya bersama Asep jauh lebih lezat serta menggugah selera, dibandingkan masakan mewah di meja makan rumahnya. Mungkin karena ia memakannya tanpa campuran rasa tertekan yang diciptakan orang tuanya, atau sindiran dari adiknya. Di pinggir jalan, dengan lalu lalang kendaraan sebagai pemandangan biasa, juga orang asing yang turut berbincang di meja lain, semua itu terasa lebih menyenangkan untuknya. "Bel, makannya pelan-pelan, jangan kaya Suzanna." Asep geleng-geleng kepala melihat Abel. Gadis itu sudah seperti baru menemukan makanan setelah satu minggu menahan rasa lapar. Di sampingnya, Abel hanya nyengir lebar. Mendengarkan saran dari Asep untuk makan pelan-pelan saja. Selain untuk menghindari kemungkinan tersedak, Abel juga tidak ingin kembali ke rumahnya cepat-cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD