18 - Potret di Layar Ponsel

1983 Words
Asep, Leo dan Heri melongo melihat Abel yang tengah memperlihatkan ponselnya. Tentu fokus ketiganya bukan karena ponsel mahal Abel, melainkan apa yang terpampang jelas di layarnya. Layar itu menyala, memperlihatkan sebuah foto. Di sana, ada Abel bersama seorang cowok yang baru mereka lihat wajahnya. Posisi Abel yang sangat nempel dengan si cowok membuat Asep dan Leo akhirnya saling pandang. Ah, ya, pasti Ardan. Latar tempat yang ada di gambar adalah jembatan penyeberangan orang yang Abel datangi bersama Ardan saat ke Jakarta. Warna yang mencolok dari jembatan itu membuat Abel dan Ardan persis seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta. Posenya terlalu dekat, dan latar yang digunakan sangat cerah. "Lo pergi ke Jakarta gak bilang-bilang kita?" tanya Asep. Abel mengangguk santai. "Kacau ini mah. Parah banget lo gak ngajak-ngajak mau liburan," sambung Leo kecewa. Abel tergelak mendengar protesan dua temannya. "Maaf, lagian gue ke sana dadakan banget. Kemarin pas balik sekolah gue ketemuan dulu sama Ardan, abis itu gue langsung paksa aja dia ke stasiun kereta," jelasnya nyengir lebar. "Itu anak orang main lo paska gitu aja? Dan dia mau gitu?" Abel melihat Asep. Mengangguk sebagai jawaban. "Tapi serius, Bel. Bisa-bisanya lo ke sana tanpa ngajak kita. Temen macam apa lo ini? Kalau butuh sesuatu lari ke kita-kita, pas mau seneng-seneng malah langsung kabur tanpa kabar-kabaran. Laknat banget emang jadi temen." Lagi-lagi Leo menggerutu. Abel menggumamkan maaf berkali-kali walaupun aslinya ia memang tidak berniat mengajak tiga temannya. Mereka bisa pergi kapan saja kalau mereka mau, dan kalaupun kemarin mereka ikut, bukan tidak mungkin malah hanya akan mengganggu. Saat Asep dan Heri terus mendengkus karena tidak diajak, Heri justru dengan tenangnya masih memandangi layar ponsel Abel. Keningnya berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu. "Bel, ngomong-ngomong ini siapa yang fotoin?" tanya Heri lempeng. Leo yang duduk di samping Heri langsung memukul kepala Heri keras, membuat Heri mengaduh sambil mengusapi bagian kepalanya yang dipukul. "Ngerusak suasana banget lo mah, Her. Udah asik-asik malah nanya siapa yang fotoin. Kita kan tinggal di Bumi, mau minta tolong fotoin mah tinggal manggil orang aja. Kecuali lo tinggal di Mars, mau minta tolong repot harus berkunjung ke planet tetangga." Penjelasan Leo yang panjang lebar justru membuat Heri melongo. Ia bertanya-tanya apa hubungannya pakai bawa-bawa Bumi dan planet Mars segala? "Terus itu cowoknya siapa, Bel? Pacar lo? Kok gue baru liat?" Heri bertanya lagi. Abel memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Saat menceritakan tentang Ardan beberapa hari lalu, karena Heri tidak masuk sekolah, cowok itu jadi tidak tahu siapa Ardan. Dan sekarang tiba-tiba Heri melihat Abel bersama dengan cowok, sudah pasti Heri kebingungan. Tapi Abel tidak berniat mengulang penjelasannya pada Heri. Cowok itu terlalu lemot untuk mengerti semuanya dalam satu kali penjelasan. "Gini aja, Her. Gimana kalau lo ke kantin. Beli gorengan sama minuman buat kita berempat. Gak usah dipikirin itu cowok siapa, nanti lo bakal pusing." Abel memberi saran. Heri menurut saja. Ia bangkit dari kursi dan keluar dari mejanya. Suasana kelas sudah sepi, hanya menyisakan mereka berempat. Karena Abel memperlihatkan gambar yang menghebohkan, Asep dan Leo bahkan sampai tidak sadar bahwa awalnya mereka ingin pergi ke kantin untuk istirahat. "Duitnya mana?" pinta Heri menodongkan tangannya ke arah Abel. Abel merogoh sakunya lagi. Ia mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu kemudian mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari sakunya. Uang itu diberikan kepada Heri. "Itu lo beliin air mineral sama gorengan sedapatnya aja. Cukup lah buat kita berempat," jelas Abel. "Jadi gue gak perlu ngeluarin duit?" Tidak tahan, Leo mendorong tubuh Heri untuk segera pergi. "Buruan sana! Gue laper nih," usirnya membuat Heri segera membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kelas. Sepeninggal Heri, Asep dan Leo kembali fokus pada Abel. Gadis yang dengan percaya dirinya berfoto dengan pose memeluk cowok, padahal selama ini jangankan minta difoto, diajak berfoto saja tidak mau. "Bel, lo sebenernya sadar gak, sih? Gemes gue tuh liat tingkah lo sama Ardan." Abel menatap Asep heran. Tatapannya seolah menanyakan sadar akan hal apa yang dimaksud oleh cowok itu? "Lo tuh udah jatuh cinta beneran sama Ardan. Serius ini mah," sambung Asep memperjelas maksudnya. Jatuh cinta? Abel sendiri tidak tahu perasaan yang bagaimana yang disebut jatuh cinta itu? Ardan hanyalah seorang teman yang mengisi waktu kosong setiap sorenya. Cowok itu baik, menyenangkan, dan yang pasti selalu berhasil membuatnya memikirkan hal-hal lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Jatuh cinta? Ia rasa tidak sampai sejauh itu. "Enggak!" sergah Abel menggeleng. "Gue gak jatuh cinta sama dia, atau lebih tepatnya belum. Kenal aja belum sebulan lebih, ya kali langsung jatuh cinta." "Ya, terus apa-apaan foto mesra yang lo pamerin?" tanya Asep jengkel. Leo manggut-manggut setuju. "Seumur-umur, kayanya baru deh gue liat lo jalan sama cowok sampe ke Jakarta segala. Sampe foto bareng sedekat itu pula. Sama kita-kita mana pernah lo mau diajak foto. Iya, 'kan?" Sadar akan hal itu, kepala Abel mendongak. Mengingat lagi apa yang membuatnya sampai ingin berfoto dengan Ardan? Kalau tidak salah, ia hanya ingin mengabadikan momen langka itu. Di Jakarta, di tengah jembatan penyeberangan orang yang sangat ikonik, ia ingin agar hari itu tidak hanya terkenang dalam ingatan, tapi juga sesuatu yang bisa dijadikan pemicu ingatan akan kembali di hari itu. Salah satunya adalah foto. Foto bukan hanya sekadar informasi yang menunjukkan kapan, apa atau di mana saja kita pernah singgah. Dari foto, kita akan tahu bahwa kenangan manis akan tetap terjaga meski hari-hari berlalu dengan begitu cepatnya. Saat kita lupa akan apa yang pernah terjadi, foto akan membangkitkan ingatan yang sekilas sempat terlupakan. Tergerus oleh zaman, dan berakhir menjadi sebuah kenangan. "Iya, sih. Soalnya muka kalian terlalu b***k buat foto bareng gue," celetuk Abel memaksa Asep untuk memukul kepalanya karena geram. "Punya muka pas-pasan aja bangga banget heran," balas Leo. Abel tergelak melihat tanggapan dua temannya. "Jadi manusia itu harus bangga, Le. Karena kalau gak ada yang bangga sama diri kita, seenggaknya kita bangga sama diri sendiri," ujarnya menaik turunkan alisnya. Tumben sekali, pikir Asep dan Leo. Seorang Abel selama ini selalu mengeluh karena kelemahannya sendiri. Tidak sika hujan, otak tidak terlalu berkembang meskipun sudah belajar keras, dan masih banyak lagi. Rupa-rupanya sosok Ardan yang hadir dalam hidup Abel membawa perubahan begitu besar sampai Abel berubah sekali. "Tapi heran gue, kok mau-maunya si Ardan ngikutin lo gitu aja? Secara 'kan kalian berdua baru kenal, bukan gak mungkin muka kriminal lo bikin dia waspada," kata Leo memposisikan tubuhnya menghadap Abel dan Asep agar lebih enak saat mengobrol. Kursi yang didudukinya bahkan sampai diputar ke belakang agar ia bisa duduk lebih nyaman tanpa terganggu sandaran kursi. Abel dengan sigap melempar Leo dengan bukunya yang masih ada di atas meja. Cowok itu mengaduh, tapi tidak mengeluh. Buku yang Abel lemparkan dikembalikan lagi ke meja Abel. "Muka kriminal gimana maksud lo, Le? Minta ditabok banget itu punya mulut, ya?" Abel tersenyum manis, tapi senyumannya itu justru membuat Leo bergidik ngeri. Tidak mendapat jawaban, Abel menatap Asep. "Emangnya muka gue ada tampang-tampang pembunuh, Sep?" tanyanya. Dengan cepat Asep menggeleng. Membuat Abel menghela napas lega. Asep itu memang teman terbaiknya di antara Leo dan Heri. Ia menepuk bahu Asep pelan. "Gak ada tampang pembunuh, Bel. Itu terlalu berlebihan. Kalau tampang pencopet baru iya." ASTAGHFIRULLAH. Seketika tepukan Abel berubah menjadi pukulan yang menyiksa. Tangannya berulang kali menghujani bahu Asep dengan pukulan keras. Memaksa Asep mengangkat tangannya untuk menahan kedua tangan Abel agar berhenti. Hal itu membuatnya dan Leo tertawa terbahak-bahak. Ya, habisnya mau bagaimanapun Abel adalah perempuan. Sekasar apa pun gadis itu, tetap tidak suka jika diberitahukan kekurangannya. "Bercanda kok gue, Bel. Gak usah ngamuk kaya banteng yang siap nyeruduk gitu, dong. Serem tau." Abel menarik paksa tangannya dari cekalan Asep. Cowok itu masih sempat tertawa di sela permintaan maafnya, begitu pula dengan Leo yang seolah menikmati kemarahannya. Memang sih dua cowok itu hanya bercanda, tapi tetap saja Abel kesal. Karena setelah ini, bukan tidak mungkin Abel akan berkaca untuk melihat penampilannya sendiri apakah memang sangat urakan sampai bisa membuat Ardan ilfeel, atau bahkan Abel bisa saja menanyakan perihal penampilannya pada Ardan. Bertanya apakah dirinya kerap membuat Ardan risih atau takut, dan meminta saran apa yang harus diperbaiki dari dirinya. Ya, bukan tidak mungkin itu akan terjadi. Abel akan mulai insecure setiap kali bertemu dengan Ardan. "Asli, Bel, gue cuma bercanda," kata Asep setelah lama diam. Ia berhasil meredakan tawanya, begitu pula dengan Leo. "Lo itu cantik sebenernya, cuma kurang kalem aja. Gak masalah, soalnya itu bukan kekurangan lo, tapi keunikan tersendiri yang bikin orang-orang di sekeliling lo terhibur. Termasuk gue sama Leo." "Bener banget sih kalau itu. Setuju gue. Jarang aja ada cewek kaya lo. Nyaman kok gue temenan sama lo. Asal lo gak balik nyaman aja sama gue terus minta dijadiin pacar. Apa kabar pacar asli gue nantinya?" Abel mendengkus mendengar perkataan Leo. Siapa juga yang mau menjadi pasangan cowok sok cool seperti Leo? Nyatanya, memang begitulah teman-temannya. Walaupun terkadang menyebalkan, kejujuran mereka begitu tinggi, tapi tetap saja sisi baik mereka tersimpan begitu rapi. Mereka tau cara memperbaiki suasana hati setelah menghujat lawan bicara mereka. Abel menghela napas panjang sambil menggeleng pelan. "Kalian berdua itu emang paling-paling, ya? Paling pinter bikin suasana hati orang naik turun." Ia menatap Asep dan Leo bergantian. Dua cowok itu nyengir lebar. "Tapi gue mau nanya serius, Bel," kata Leo. "Apa?" "Lo serius gak suka sama si Ardan itu?" Padahal Abel sudah menjelaskannya di awal bahwa ia tidak menyukai Ardan, tapi karena raut wajah Leo terlihat serius, kenapa tiba-tiba Abel ragu untuk menjawab? "Mana ada status pertemanan tapi posenya posesif kaya gitu. Lo dengan seenak jidatnya gandeng tangan Ardan, dan si Ardan kaya gak keberatan apalagi risih sama sekali." Bertambah pula tingkat kebimbangan Abel saat Asep mengatakan hal yang membuatnya sadar kenapa dirinya bisa sangat begitu nyaman dengan Ardan? "Awas aja kalau tiba-tiba lo jadian, tapi gak ngabarin kita-kita dan gak ngasih pajak jadian." Leo mengangguk menyetujui ucapan Asep. "Langsung gue pecat jadi temen lo, Bel," tambahnya. Namun, karena Abel masih tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, ia menolak dua pendapat temannya. "Gue sama Ardan cuma temenan. Lagian kedekatan gue sama dia di foto semata-mata karena gue nyaman sama dia. Itu aja," jelasnya berharap mendapat pengertian dari Asep dan Leo agar dua cowok itu berhenti memojokkannya. Di luar dugaan, Asep dan Leo justru tergelak lagi. Kali ini Asep bahkan sampai memukul-mukul meja, dan Abel tidak mengerti apa yang lucu dari penjelasannya? "Kacau!" seru Asep di tengah kegiatan tertawanya. Kalau sedang dalam posisi berdiri, Abel yakin bahwa Asep dan Leo akan guling-guling ke sana ke mari. "Tenang aja, Bel." Leo memegangi perutnya sambil menahan geli. "Dari nyaman, lama-lama juga jadi jatuh cinta," sambungnya berhasil membuat bola mata Abel terbuka sepenuhnya. Apa maksudnya? Belum sempat Abel mencerna kalimat Leo, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Ia menoleh ke arah pintu kelas. Heri berjalan dengan satu plastik di masing-masing tangannya. Sesuai pesanan, Heri membawa gorengan dan air mineral di plastik berbeda. Sampai di kursinya, Heri langsung duduk. Ia meletakkan dua plastik yang dibawanya di atas meja, kemudian memperhatikan Asep dan Leo yang terlihat senang sekali. Sedangkan Abel nampak kesal. "Kalian lagi ngomongin apa, sih? Gue ketinggalan berita apa?" tanya Heri mengerjap. Leo yang sudah bisa mengendalikan diri menepuk bahu Heri pelan. "Mendingan lo gak perlu tau apa-apa, Her. Gue takut bikin otak lo kebakar karena terlalu pusing," celanya. "Lagian lo lama amat ke kantin? Gue kira bentar lagi jam bubaran," kata Asep. Leo tergelak lagi. Receh sekali memang. "Tadi di kantin rame banget. Udah gitu gue keabisan gorengan, jadi harus nunggu gorengannya digoreng dulu," jelas Heri. Asep mengambil satu gorengan tanpa permisi. Tahu berbentuk kotak itu ia masukkan ke dalam mulut bulat-bulat. "Anak pinter," puji Leo untuk Heri. Cowok itu berterima kasih kepadanya. Gorengan yang dibawa Heri segera diserbu satu persatu. Abel tidak lagi memikirkan perkataan Leo. Perasaan seseorang tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Kalaupun ia menolak, Tuhan adalah perencana terbaik yang di mana rencananya tidak bisa diganggu gugat oleh makhluk bernama manusia. Jika saatnya nanti ia mengerti apa arti jatuh cinta, dan Ardan lah orang yang berhasil membuatnya merasakan perasaan itu, ia akan berterima kasih. Karena dibuat jatuh cinta pada orang sesempurna Ardan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD