17 - Malam di Jakarta

2150 Words
Ardan bukannya cowok kampungan yang tidak mengerti mall itu tempat seperti apa. Teman-temannya adalah orang baik yang kerap mengajaknya pergi ke sana untuk sekadar nongkrong atau nonton, tapi karena menurutnya tidak penting, ia jadi tidak pernah pergi ke pusat perbelanjaan itu. Selain hanya menghambur uang, juga sangat membuang waktu. Ia yang memiliki banyak adik akan sangat kerepotan setiap libur sekolah, jangankan pergi untuk bersantai, hari liburnya bahkan selalu diisi dengan pekerjaan rumah. Lalu tiba-tiba Abel mengajaknya tanpa persetujuan ke tempat yang selalu dihindari oleh Ardan itu. Tidak main-main, gadis itu bahkan mengajaknya ke luar kota. Memang tidak sampai menyeberang pulau, tapi 'kan tetap saja jauh. Mall yang didatanginya sangat besar dan ramai. Karena akhir pekan, keramaiannya sampai membuat Ardan pening. Abel mengajaknya mengelilingi area mall mulai dari lantai satu, sampai lantai teratas. Memasuki setiap toko yang menurutnya menarik, tapi berakhir tanpa membeli apa pun. Ardan diajak menonton bioskop, makan di restoran food court, dan memainkan beberapa permainan yang ada di mall, termasuk ice skating, kemudian kembali berkeliling. Hal itu membuatnya pusing karena berjalan ke sana ke mari tanpa henti. Ia lelah luar biasa menyapa setiap tempat yang ada di mall. Tempat luas itu nyaris membuat kakinya lepas. Andai saja tawa Abel tidak menghangatkan hatinya, sudah pasti Ardan akan mengeluh. Uang yang dihabiskan Abel untuk bersenang-senang mungkin lebih dari satu juta. Abel tidak menghitungnya karena terlalu senang menghabiskan waktu bersama Ardan. Awalnya Ardan menyarankan untuk memakai uangnya saja, tapi Abel berkata tidak perlu. Selain itu, Ardan juga tidak yakin kalau uangnya akan cukup. Pada akhirnya, saat Abel sudah bosan ke sana ke mari, sudah lelah untuk berjalan lagi, dan karena hari sudah berubah gelap, keduanya memutuskan untuk keluar dari mall. Tidak ada barang bawaan apa-apa, hanya potongan tiket nonton, dan bukti pembayaran restoran yang masih Abel simpan di saku kemejanya. Saat berada di luar mall, Abel menepuk bahu Ardan. Membuat cowok itu menoleh ke arahnya. "Apa?" tanya Ardan. "Gimana kalau kita naik bus Transjakarta? Ada satu destinasi yang wajib banget kita datengin." Astagfirullah. Ardan tidak tahu lagi sampai kapan Abel akan terus bersenang-senang. Tubuhnya sudah sangat lelah, tapi Abel justru terlihat masih bersemangat. Wajahnya bahkan terlihat sangat tenang meski sudah menghabiskan uang jutaan. Berbeda dengan Ardan yang merasa tidak enak karena belum mengeluarkan uang sepeser pun. "Mendingan kita langsung balik, nanti kehabisan jadwal kereta 'kan bisa gawat.." Abel melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. "Masih jam tujuh, kok," bantahnya menolak pulang. Ardan menghela napas panjang. "Lo dari tadi udah ngabisin uang banyak, gue ngerasa gak enak sebagai cowok. Mendingan langsung pulang aja sekarang. Nanti kalau gue ada uang, gue ganti sebagian uang lo yang tadi. Lagian kita sekarang lagi di kota orang, kalau ada apa-apa 'kan bahaya." Abel justru tergelak mendengar Ardan berkata seperti itu. Apalagi melihat raut wajahnya yang sangat menggemaskan. Cowok itu nampak tidak nyaman karena sejak tadi dibayari oleh perempuan. "Tenang aja, kalau soal duit, gue gak masalah kok. Tadi itu uang jajan gue selama seminggu, dan masih ada sisa sekitar lima ratus ribuan. Karena setiap hari jajan gorengan, duit gue jadi kesimpan terus. Jadi gak masalah, soalnya besok juga pasti Mama gue ngasih gue uang jajan lagi. Lagian 'kan emang gue yang ngajak, wajar juga kalau gue yang bayar. Gak usah sungkan sama gue mah. Dan justru karena kita lagi di Jakarta, makanya harus puas-puasin mainnya." Sifat Abel yang satu itulah yang terkadang membuat Ardan geram. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti Abel akan dimanfaatkan oleh seseorang karena kebaikannya sendiri. Lagi pula apanya yang puas kalau perginya saja dadakan? "Pokoknya kalau gue ada uang, gue ganti uang yang tadi sebagian. Oke?" tawar Ardan mengulurkan tangannya. Tangan Abel segera menyambut uluran tangan itu. Ia nyengir lebar. "Gue gak setuju sebenernya, tapi kalau lo maksa, gue gak keberatan kalau selama satu Minggu ke depan lo yang bayarin gue es krim. Kalau gak mau mending gak usah diganti aja," ujarnya. "Oke, deal. Sekarang kita pulang!" tukas Ardan cepat. Setidaknya itu lebih baik, daripada ia tidak mengeluarkan uang sama sekali dan hanya bergantung pada Abel. Namun, Abel menolak kalimat terakhir Ardan. "Pokoknya kita harus naik Transjakarta dulu, Dan. Masa udah di Jakarta gak naik bus fenomenal itu. 'Kan gak seru." Rupa-rupanya kebanyakan perempuan memang tidak mau mengalah. Walaupun penampilan Abel seperti cowok, tetap saja Abel perempuan, dan hal itulah yang membuat Ardan tidak bisa menolak permintaannya. Keduanya berjalan menuruni anak tangga yang berada di luar mall. Pemandangan khas Jakarta langsung terpampang di depan keduanya. Lampu-lampu jalan menyala, gedung-gedung tinggi menjulang berubah memperlihatkan cahayanya masing-masing, mobil-mobil yang lewat menyalakan lampu, menambah penerangan jalan. Tidak ada istilah gelap. Hiruk pikuk kota Jakarta membuat malam terang benderang. Menyusuri trotoar, keduanya berjalan layaknya sepasang kekasih yang tengah menghabisi malam Minggu bersama. Abel dengan semangatnya menunjuk apa pun yang dilihatnya. Menceritakannya pada Ardan walaupun ia tahu Ardan tidak terlalu menanggapi ucapannya. Pembicaraan-pembicaraan tanpa jeda terus terdengar sepanjang jalan. Untunglah keduanya sudah makan dan minum, sehingga tidak perlu khawatir kelaparan di jalan atau harus menahan dahaga. Setelah berjalan sekitar cukup jauh, Abel melihat halte bus khusus untuk jalur Transjakarta. Ada beberapa orang yang sedang menunggu bus. Abel berlari sambil menarik tangan Ardan yang sudah sejak tadi berdiri di sampingnya. Sebelum menaiki bus, mereka ke loket pembayaran. Karena belum pernah menaiki bus Transjakarta, Abel terpaksa membeli dua kartu serupa tiket kereta agar bisa melewati penjagaan dan berakhir berdiri di antrian bersama Ardan. Hanya menunggu beberapa menit, dan bus berhenti di depan mereka. Beberapa orang keluar dari bus tersebut. Sampai semua penumpang yang ingin turun habis, barulah penumpang yang akan naik melangkahkan kaki, termasuk Abel dan Ardan. Karena baru pertama kali naik bus Transjakarta, Abel memilih berdiri agar bisa menikmati pemandangan kota Jakarta lebih leluasa. Rasanya nyaman sekali. Pantas saja banyak sekali orang yang lebih memilih menaiki transportasi yang hanya ada di Jakarta itu. "Gue baru tau ternyata seseru ini naik bus Transjakarta," kata Abel. Ardan hanya menggeleng pelan. "Padahal lo bisa buang-buang uang jutaan di mall, tapi naik Transjakarta aja sampe seheboh ini. Aneh lo!" cibir Ardan tidak percaya. "Ya, abisnya gue biasa naik angkot kalau ke sekolah. Makanya gak pernah naik bus. Lagian di Bogor gak ada jalur Transjakarta. Lo sendiri gimana?" "Sama. Gue juga baru pertama kali. Dan pertama kalinya juga gue ke Jakarta." Sontak saja Abel tidak tahan untuk tidak meledakkan tawa. Ardan itu lucu sekali. Terang-terangan mencibir, tahu-tahu sendirinya belum pernah naik bus Transjakarta. 'Kan aneh. "Sumpah, Dan, lo kocak banget jadi manusia. Heran gue." Ardan mendengkus jengkel. Tidak ingin menanggapi Abel lagi. "Besok-besok kita harus naik transportasi ini lagi, Dan." "Gak mau! Jakarta jauh dan harus nyiapin uang banyak. Males." "Tenang aja. Gue yang bayarin." "Abel!" seru Ardan. Abel menatapnya, nyengir lebar. Satu tangannya yang bebas membentuk huruf V sebagai permintaan maaf Malam Minggu yang biasanya Abel habiskan bersama Asep makan di pinggir jalan, kini berubah menjadi malam menyenangkan di mana ada Ardan di sampingnya. Yang mau-maunya saja diminta jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk menemaninya. "Eh, Dan. Tinggal di Jakarta seru kali, ya?" Abel memperhatikan pemandangan luar jendela. Bus melaju dengan kecepatan sedang. Kota Jakarta berada di depannya. Menjadi bayangan yang tidak terlalu jelas karena laju bus. Karena pengunjung tidak terlalu ramai, kursi-kursi jadi banyak yang kosong, termasuk kursi yang ada di depan Abel. Saat Abel sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa melihat pemandangan luar lebih jelas, Ardan melongo melihat rok Abel yang sedikit terangkat. Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat situasi. Paha mulus Abel terekspos dengan jelas. Hal itu mengundang perhatian beberapa orang. Pria berjas yang duduk di seberang Abel memperhatikan pemandangan yang tanpa sadar ditimbulkan oleh Abel. Melihat itu, Ardan dengan sigap berpindah ke belakang tubuh Abel, menutupi gadis itu sepenuhnya. Tidak hanya itu, Ardan juga menarik pinggul Abel. Membuat Abel sontak kembali menegakkan tubuhnya. Gerakan Abel membuat tubuhnya dan Ardan menempel. Ia seperti sedang dipeluk dari belakang oleh Ardan. "Gak bisa diem banget emang lo tuh. Di dalam bus itu jangan banyak gerak, kalau kejengkang gimana? Nanti gue juga yang repot." Tahu bahwa posisinya dengan Ardan membahayakan, buru-buru Abel menjauhkan diri. Ia membuang muka untuk menutupi wajahnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa panas. Pipinya mungkin saja memerah, dan ia tidak mau Ardan melihat hal itu. "Maaf," cicit Abel membelakangi Ardan. Sekuat tenaga memperbaiki degup jantungnya yang berubah menggila karena tindakan Ardan. *** Penuh warna. Itulah kesan yang muncul ketika melintasi jembatan penyeberangan orang di Senayan pada malam hari. Gabungan berbagai warna lampu LED dan RGB seperti warna hijau, kuning, merah, dan ungu yang silih berganti adalah pengalaman tersendiri jika melintasi jembatan penyeberangan orang yang sedang dipijak oleh Abel dan Ardan. Material cincin yang terbuat dari sandwich panels membuat keberadaannya menjadi unik sekaligus penuh kesan artistik. Jauh dari jembatan penyeberangan orang pada umumnya. Sejak rampung dibangun dan bisa dinikmati oleh masyarakat, jembatan penyeberangan orang itu sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Tidak jarang banyak orang yang datang hanya untuk mengambil gambar. Saat siang hari jembatan akan berwarna putih bersih, saat malam berubah menjadi penuh warna dan sangat memikat hati yang memandangnya. Sebenarnya Abel bukannya tidak bisa datang ke Jakarta untuk menikmati jembatan penyeberangan orang yang khas sekali di kota tersebut, hanya saja Abel tidak tahu siapa orang yang tepat yang ingin diajaknya sedikit berkeliling Jakarta. Mengenal Ardan, Abel langsung tahu bahwa cowok itulah orangnya. Saat ia bertanya akan melakukan kegiatan apa hari ini bersama Ardan, yang terlintas di kepalanya adalah pemandangan kota Jakarta pada malam hari. Ardan yang awalnya terlihat enggan akhirnya terlihat sangat ceria. Abel senang karena Ardan mau menemaninya dan menuruti keinginan egoisnya, dan Ardan ikut menikmati apa yang Abel lakukan. Bukan karena traveling gratis yang diterimanya, tapi karena bersama Abel ia menghabiskan sorenya. "Gimana? Udah puas?" Pertanyaan itulah yang akhirnya meluncur dari mulut Ardan. Abel mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dari tas. Menyalakan daya yang sempat ia matikan. Rupanya Asep tidak menghubunginya lagi setelah panggilan terakhir sore tadi. Tidak ada pesan lain juga dari cowok itu. Mungkin karena Asep akhirnya sadar bahwa dirinya hanya berlebihan dalam mengkhawatirkannya. "Lo sendiri gimana? Seneng? Gue sih bakal lebih seneng kalau lo seneng juga." "Seneng kok gue." Keduanya berjalan pelan di dalam jembatan penyeberangan orang itu. Beberapa pasangan terlihat sedang berdiam diri di tengah jembatan. Ada juga beberapa orang yang membawa kamera dan mengambil gambar dengan latar jembatan. "Makasih karena udah mau nurutin kemauan gila gue, Dan," kata Abel tersenyum lebar. Ardan balas tersenyum. Ia mengangguk tiga kali sambil terus mengikuti langkah pelan Abel. Teringat sesuatu yang dirasa akan menarik, Abel menyalakan ponselnya yang sejak tadi hanya dipegang. Ia membuka aplikasi kamera dan membalikkan tubuhnya sehingga posisinya menjadi berhadapan dengan Ardan. "Gimana kalau kita selfie?" Abel memberi saran. Ardan mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba? "Buat kenang-kenangan. Kapan lagi coba kita selfie berdua di Jakarta? Mungkin malam ini gak bakal keulang lagi." Itu sudah pasti. Meskipun di lain waktu datang ke tempat yang sama, di jam yang sama dengan orang yang sama pula, setiap detik yang dirasa akan tetap terasa berbeda. "Gue gak pernah moto," kata Ardan. "Gue juga sama. Makanya kita perlu moto bareng." Tanpa permisi, Abel langsung menarik tangan Ardan. Menggandengnya akrab lalu mengambil foto Ardan dan dirinya dengan gerakan cepat. Ardan bahkan belum bersiap sama sekali saat suara jepretan terdengar. Abel memeriksa hasih jepretannya. Tergelak saat melihat Ardan sedang memejamkan mata. "Hapus sekarang juga!" seru Ardan kesal. "Oke-oke." Meski begitu, Abel justru tergelak lagi saat melihat gambarnya. Karena suasana di dekatnya sedang cukup ramai, akhirnya Abel memiliki ide. Ia melihat sekelilingnya. Mencari seseorang yang dikiranya sedang menganggur. Matanya menangkap sosok cowok yang sedang mengobrol bersama temannya. Cowok itu berdiri tepat di seberangnya. Di bagian pinggir jembatan. Tanpa ragu Abel langsung mendekati cowok itu. Ia menepuk bahu si cowok, membuat cowok itu refleks menoleh. "Mas, boleh minta tolong fotoin saya sama temen saya, gak?" tanya Abel tersenyum. Cowok itu balas tersenyum. "Boleh," katanya. Abel menyerahkan ponselnya. Cowok itu mengarahkan ponselnya ke arah Abel saat Abel berlari lagi ke arah Ardan. Lagi, Abel menggandeng tangan Ardan. Meletakkan kepalanya di bahu cowok itu dengan tenangnya dan meminta cowok yang memegang ponselnya untuk segera memotret. Cowok itu mengangguk dan menghitung sebelum akhirnya mengambil gambar. Tidak hanya satu, Abel bahkan menarik Ardan ke sana ke mari agar mendapatkan hasil foto dari segala sisi. Mulai dari di tengah jembatan, pinggir di bagian sisi kanan, berpindah ke kiri, dan berpindah ke sisi tengah lainnya. Bergaya dengan segala pose dan memaksa Ardan agar lebih lebar saat tersenyum. Setelah puas, barulah Abel melepaskan tangan Ardan. Ia mengambil kembali ponselnya sambil mengucapkan terima kasih berulang kali. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan di sana. Tidak sampai setengah jam. Setelah mengobrolkan berbagai hal yang sama-sama mereka lihat di Jakarta, keduanya memutuskan untuk segera pulang. Menggunakan taksi menuju stasiun kereta, dan menunggu jadwal kereta terakhir yang akan berangkat ke Bogor. Mungkin hanya beberapa jam, tapi ada banyak sekali hal yang mereka rasakan. Abel seolah lupa jika ia akan pulang ke rumah yang sama sekali tidak pernah menunggunya, dan Ardan pun tidak peduli jika esok hari ia akan menghabiskan hari Minggunya untuk membantu ibunya merapikan rumah meski tubuhnya pastilah sangat lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD