16 - Awal Dimulainya Sore yang Menyenangkan

2127 Words
Ardan memperhatikan Abel yang terus menerus melihat ponselnya yang sejak tadi menyala. Sebuah panggilan terlihat di layar ponsel Abel. Jelas sekali. Ardan bahkan bisa melihat namanya. Berulang kali Abel mematikan panggilan dari nama Asep yang tertera di ponselnya. "Kenapa gak dijawab? Itu dari tadi dia nelpon mulu. Cowok lo?" Karena geram sejak tadi melihat kelakuan Abel, akhirnya Ardan buka suara juga. Kalau yang menghubungi orang penting 'kan sebaiknya diangkat saja. Apalagi jika ada sesuatu yang harus disampaikan sesegera mungkin, seharusnya Abel langsung mengangkatnya di panggilan pertama. "Eh, lo ngomong apa barusan?" Baru tersadar, Abel menatap Ardan. Seperti biasa. Keduanya sedang duduk di kursi taman. Ardan datang sepuluh menit yang lalu, lima menit setelah kedatangannya, Abel baru datang. Dan sejak itu, ponselnya terus berbunyi dan terus dimatikan pula oleh Abel. "Gue nanya, itu yang nelpon cowok lo atau bukan?" "Bukan!" tukas Abel cepat. "Terus siapa?" "Temen gue." "Kenapa gak diangkat?" Belum sempat menjawab, ponsel Abel berbunyi lagi. Abel geram dengan Asep yang terus menghubunginya. Cowok itu pasti khawatir dengan keadaannya karena kejadian semalam. Di sekolah, Leo dan Heri memang tidak diberi tahu tentang apa yang terjadi pada Abel semalam, tapi Asep yang melihat Abel menangis di depan matanya terus memastikan bahwa Abel sudah baik-baik saja. Mengalah, pada akhirnya Abel memilih menggeser ikon hijau. Ia segera menempelkan ponselnya ke telinga. Mendengar suara yang sangat dikenalnya di seberang sana. "Kenapa telepon gue dirijek terus?" Ada nada kesal di balik perkataan Asep. Dan Abel tahu bahwa sebenarnya cowok itu masih khawatir. Padahal sudah ia katakan berulang kali di sekolah bahwa dirinya sudah baik-baik saja, tapi Asep seolah enggan percaya hanya karena ia terlihat seperti biasa. "Lo tuh berisik tau, ganggu gue!" ketus Abel. Terdengar dengkusan halus di seberang sana. Bahkan Abel bisa menduga bahwa mungkin saja Asep sedang memutar mata. "Sekarang lo lagi di mana? Kenapa jalannya cepet amat pas bel pulang balik? Gue sampe gak bisa ngejar lo." Gantian Abel yang mendengkus. "Gue lagi di jalan. Lagian ngapain sih lo nelpon gue mulu? Males gue dengernya." "Gue tuh khawatir sama lo, Cunguk. Awas aja lo kalau besok sampe ada berita tentang lo yang bunuh diri kesebar di sekolah. Gue bakal paksa bangunin lo walaupun lo udah mati." Frontal sekali. Kalau ada di depannya, Abel bisa menjamin bahwa ia sudah memukul kepala Asep berulang kali. Sampai cowok itu lupa ingatan kalau perlu. "Heh! Jangan-jangan lo lagi berusaha bunuh diri, ya?!" teriak Asep berhasil membuat Abel menjauhi ponselnya sesaat dari telinga. Abel memutar mata. Ia mendekatkan ponselnya ke bibir kemudian balas berteriak. "Heh! Gak usah ngomong yang aneh-aneh, ya. Cuma karena kejadian semalem, lo pikir gue mau bunuh diri? Gak mungkin! Stop ngehubungin gue lagi. Gue mau seneng-seneng tanpa gangguan dari lo." Setelahnya Abel langsung mengakhiri panggilan secara sepihak. Tidak hanya itu, ia bahkan sampai mematikan ponselnya agar Asep tidak bisa menghubunginya lagi. Tindakan terlambat karena seharusnya ia lakukan sejak tadi. Di samping Abel, Ardan sejak tadi diam sambil menduga-duga. Bunuh diri, kejadian semalam, ditambah cowok bernama Asep yang tidak berhenti menghubungi Abel sejak tadi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi antara Abel dan Asep? "Astagfirullah, cape banget gue punya temen b****k," keluh Abel memijat pelipisnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian bersandar di sandaran kursi. "Jadi, Bel, semalem emangnya lo ngapain sama Asep?" Mata Ardan melirik Abel yang duduk di sampingnya. Pertanyaannya terdengar sangat ambigu. Seolah Abel dan Asep habis melakukan sesuatu yang tercela dan dilarang oleh agama. Hal itu membuat Abel jengkel setengah mati. Ia kembali menegakkan tubuhnya. Balas menatap Ardan yang masih menatapnya penuh selidik. "Lo juga! Gak usah ngira yang aneh-aneh, gue sama Asep itu cuma makan semalem. Udah itu aja. Gue gak nerima pertanyaan lain." Nyatanya Abel berbohong. Ia tidak mau memberi tahu Ardan apa yang sebenarnya terjadi, atau ia akan membuat Ardan sama khawatirnya seperti Asep. Pada akhirnya Ardan mengangguk. Ia merasa tidak berhak terlalu ikut campur masalahnya Abel. Mau gadis itu melakukan apa pun bersama teman laki-lakinya, itu adalah urusan Abel yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Memilih untuk mengalihkan pembicaraan dan tidak terlalu memikirkan apa yang sedang dialami Abel, Ardan bertanya, "Lagian kenapa lo suka banget temenan sama cowok? Gak sama gue, bahkan temen-temen lo yang lain di sekolah." Suasana hati Abel seketika membaik mendengar pertanyaan itu. Ia memiringkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat Ardan lebih baik. Mungkin Ardan adalah cowok pertama yang menanyakan hal itu. Semua teman laki-laki yang berteman dengannya tidak pernah bertanya alasan kenapa dirinya lebih suka bermain dengan para cowok. "Mungkin karena gue gak normal," kata Abel. Ardan melongo. "Maksudnya lo suka sesama jenis?" tanyanya tidak percaya. Melihat Ardan yang menggeser posisi duduknya sedikit menjauh, Abel mendengkus. "Gak ke sana juga maksudnya, woy!" serunya terheran-heran. Masalahnya Ardan itu pintar, sering menasihatinya dengan cara tidak biasa dan caranya memandang sesuatu terlihat dewasa sekali. Abel tidak menyangka, bisa-bisanya seseorang dengan kepribadian seperti itu menganggapnya lesbian. Benar-benar mengherankan. "Gue 'kan cuma nanya." "Enggak!" Abel menggeleng cepat. "Lo itu gak cuma nanya, lo sempet ngeduga gue kaya gitu, 'kan?" "Oke, maaf. Lo 'kan tinggal jelasin kalau gue salah. Gak perlu ngegas." Benar juga. Abel berdeham pelan sebelum menjelaskan. "Dari kecil, gue emang lebih suka main sama cowok. Karena mungkin main sama cowok itu bener-bener bisa disebut main. Dalam artian seneng-seneng gitu. Gak peduli penampilan, tanggapan orang lain, dan kadang bodo amat sama tingkah sendiri. Mau main ya tinggal main aja, mau nongkrong ya tinggal nongkrong aja. Beda sama cewek yang kebanyakan merhatiin penampilan banget. Gue gak suka kaya gitu. Ribet." Jeda sebentar. Abel memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mendengar pembicaraannya dengan Ardan. Kalau ada yang mendengar, apalagi kaum Hawa, akan merepotkan nantinya. Namun, untunglah pengunjung taman tidak ramai. Hanya ada beberapa orang, itu pun cukup jauh dari posisinya. "Udah gitu, ya, kadang-kadang cewek tuh punya muka dua. Di depan si A ngomongin si B, giliran lagi sama si B ngomonginnya si A. Itu 'kan gak baik. Masa temenan gak sehat kaya gitu. Harusnya 'kan kalau ada masalah itu omongin baik-baik biar sama-sama enak dan gak salah paham. Inimah nampung dosa kok diterusin? Heran gue." Jujur sekali. Ardan terkekeh pelan mendengar penuturan Abel. "Lagian kenapa sih kalau cewek-cewek tuh suka banget ngerumpi? Ngomongin segala macem gak berenti-berenti, udah gitu isi pembicaraannya pasti tentang orang lain. Entah temennya yang punya barang branded terbaru, punya muka cakep, pacar cakep, atau apa pun. Pokoknya setiap ada hal baru di antara temen-temen mereka, pasti diomongin. Makin heran gue." "Tapi cowok juga kadang-kadang curhat, kok. Kadang-kadang ngomongin sesuatu yang gak jelas juga." Abel mengangguk setuju. "Tapi gak sesering kaum cewek. Kebanyakan cowok kalau ngomong sesuatu tentang hobi mereka. Entah mesin motor, game, bola, atau sesuatu yang berhubungan sama hobi. Kadang ngomongin sesuatu yang jorok juga, sih, tapi tetep aja gak serempong kaum cewek kalau lagi ngerumpi yang kalau nongkrong di cafe bisa kedengaran sampe seisi cafe." Kali ini Ardan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Yang paling menarik dari sosok di sampingnya adalah cara bicaranya yang blak-blakan, dan ia selalu terhibur dengan hal itu. Abel bahkan tidak sungkan untuk menjelekkan kaumnya sendiri. Tidak dalam artian yang benar-benar buruk, hanya berkomentar tentang beberapa orang yang mungkin kerap dilihatnya. "Lo sendiri gak mau temenan sama cewek?" tanya Ardan setelah meredakan tawanya. Abel menggeleng. "Bukannya gak mau, mereka aja yang ogah temenan sama orang kaya gue. Menurut mereka gue aneh dan membosankan," sahutnya mengendikkan dagu bahu. "Tapi menurut gue lo gak gitu." "Karena elo cowok." Mungkin benar, tapi Ardan yakin kalaupun ia perempuan, ia tetap akan menyukai Abel beserta sifatnya. "Terus temen-temen cowok lo? Siapa aja mereka?" Wajah Asep, Leo dan Heri muncul paling pertama di pikiran Abel. Berlanjut hingga teman-temannya yang lain. "Banyak. Pokoknya temen cowok gue banyak. Sekarang aja di kelas ada dua puluh lebih, dan gue akrab sama mereka semua. Belum lagi adik-adik kelas gue, bahkan dulu gue juga akrab sama kakak kelas waktu masih jadi adik kelas. Pokoknya setiap tahun ajaran baru, pasti ada aja yang gue kenal," terangnya kemudian. "Gimana cara lo ngobrol sama mereka? Sama kaya lo yang lagi ngobrol sama gue sekarang? Atau malah lebih bar-bar?" Sontak saja Abel tergelak mendengar kalimat terakhir Ardan. "Gak, kok. Sama aja. Gue gak ngebeda-bedain temen gue. Tapi tetep aja ada yang paling akrab sama gue. Kaya yang tadi nelpon gue terus, namanya Asep. Dia gak pinter, tapi humoris banget. Terus ada juga Heri yang lemotnya nauzubillah. Satu lagi Leo, dia pinter, tapi sifat sok cool-nya bikin mau muntah. Mereka bertiga sih yang paling deket sama gue. Kacau pokoknya kalau udah ngobrol." Abel terkekeh geli membayangkan bagaimana ia dan teman-temannya bisa saling hujat jika sudah mengobrol. Ada sedihnya, ada kesalnya, dan banyak bercandanya. Melihat Abel, Ardan mengulas senyum tipis. Sepertinya gadis itu memiliki teman-teman yang baik dan peduli padanya. Sampai-sampai saat menceritakan mereka pun, yang menghiasi wajah Abel adalah tawa. "Mereka tuh kalau ngobrol apa aja diomongin. Kadang berbobot, tapi banyakan recehnya. Bisa dibilang, mereka itu udah kaya pawang gue. Sekilas emang kaya pertemanan biasa, tapi kalau gue lagi ada masalah, mereka berubah kaya kakak gue." Abel tertawa. Terlibat di kepalanya saat Asep dan Leo menasihatinya untuk berhati-hati saat berteman dengan Ardan. Kemudian saat semalam Asep dengan sigapnya memberikan dadanya untuk tempat bersandar. "Terus kalau saudara? Lo punya?" Wajah Abel yang awalnya secerah mentari pagi berubah menjadi awan mendung yang siap menumpahkan tampungan airnya. Tapi hal itu hanya terlihat beberapa detik, karena Abel kembali menarik senyuman, membuat seolah apa yang dilihat Ardan barusan adalah ilusi semata. "Kalau lo? Lo punya banyak temen di sekolah?" Abel balik bertanya. Mengalihkan pembicaraan Ardan. Yang dilakukannya berhasil membuat Ardan justru kian penasaran. Tentang bagaimana seorang Abel yang memiliki teman-teman berharga, di waktu-waktu tertentu bisa berubah menjadi sangat kesepian. Seolah tidak pernah ada orang di sampingnya. Namun, lagi-lagi Ardan merasa bahwa ia tidak berhak ikut campur terlalu jauh tentang kehidupan Abel. "Sama kaya lo, gue punya banyak temen. Bedanya, gue temenan sama siapa aja. Entah kaum cowok atau kaum cewek." Ya, karena itulah Ardan memilih untuk berusaha melupakan apa yang sempat dilihatnya. Di lain waktu, kalau Abel sudah siap, gadis itu pasti akan bercerita tanpa harus ia bertanya. "Pasti lo populer banget di kalangan cewek, ya?" Ardan menggeleng. Tidak juga, katanya. "Cowok seganteng lo gak populer? Gak percaya gue." Abel meneliti penampilan Ardan dari atas ke bawah. Untuk ukuran seorang cowok, Ardan terbilang sangat rapi. Wajahnya juga lumayan. Karena tidak terlihat seperti memiliki kepribadian pemurung atau kutu buku, Ardan bisa dikategorikan sebagai siswa teladan yang cukup menarik perhatian. Di awal sifatnya memang agak cuek, tapi kalau sudah akrab berbalik sangat menyenangkan. Seharusnya cowok itu populer, itu pendapat Abel. Tapi untunglah tidak, karena kalau iya, mungkin saja Ardan akan menjadi cowok yang dikejar-kejar oleh kaum hawa. "Tapi kenyataannya gue emang gak populer." "Mungkin karena lo sekolah di tempat yang kurang tepat. Coba di sekolahan gue, gue yakin lo pasti populer." Abel terdiam membayangkan hal itu. Rasanya pasti menyenangkan kalau ia satu sekolah dengan Ardan. Apalagi kalau satu kelas. Lengkaplah sudah teman-temannya. Ardan langsung yang menjadi penyempurna pertemanannya. "Sekolah mah di mana aja gak masalah. Lagian gue gak minat jadi populer. Gue mau belajar, bukan cari perhatian." Waw! Keluarlah sudah jurus andalan Ardan. Ceramah sederhana yang membuat Abel takjub. "Oke-oke, lupakan. Jadi ... kita mau ngapain?" tanya Abel. Jujur saja, duduk berdua dengan Ardan, walaupun hanya mengobrol dari timur ke barat, rasanya menyenangkan, tapi ia menginginkan kegiatan lain. "Lo sendiri mau apa? Beli es krim? Atau makan bakso?" Sebuah ide terlintas di benak Abel. Ia berdiri. Meregangkan otot-ototnya dengan cara menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, lalu berganti memutar bahunya beberapa kali. "Gimana kalau kita ke mall yang ada di Jakarta?" usul Abel. "HAH?!" Ardan melotot. "Ngapain ke Jakarta?" tanyanya setengah percaya. "Bosen gue di Bogor terus, sekali-kali jalan ke Jakarta 'kan gak masalah." "Jelas masalah, astaga!" "Udah, pokoknya lo ikut aja." Belum sempat Ardan menggeleng untuk menolak permintaan Abel, tangan Abel sudah lebih dulu menarik tangannya, memaksa Ardan berdiri dari posisi duduknya. Keduanya berjalan melewati rerumputan. Berakhir berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi lewat. "Tenang aja, gue yang bayar. Hari ini gue bakal bikin lo seneng-seneng sampe lo lupa waktu dan gak mau pulang. Di mall asik kok, gue jarang ke sana, tapi seriusan asik. Apalagi kalau ke Jakarta, mungkin ada banyak destinasi yang bisa kita datengin. Pokoknya lo gak bisa nolak permintaan gue." Sebuah taksi terlihat di kejauhan. Abel melambaikan tangan sebagai tanda meminta taksi itu berhenti. Dan saat mobil dengan khas warna biru muda itu berhenti tepat di depan keduanya, Ardan hanya mampu menghela nafas panjang. Tubuhnya ditarik masuk oleh Abel ke dalam taksi. Keduanya duduk bersebelahan. Dan Ardan ingat saat Abel pertama kali memaksanya memasuki taksi. Persis seperti sekarang kejadiannya. "Pak, ke stasiun kereta terdekat, ya," kata Abel pada sopir taksi. "Baik, Mbak." Mobil melaju. Keduanya tidak ada yang berbicara. Gedung-gedung terlihat dari kaca. Menjadi pemandangan yang cukup dinikmati Ardan, terlebih dengan Abel yang duduk di sampingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD