Saat kamu menangis, saat itulah kamu terlihat lemah.
Tapi di samping itu, kenyataannya dirimu sedang dibentuk.
Menjadi pribadi yang lebih tangguh dari sebelumnya.
***
Abel berjalan ke luar rumahnya dengan menunduk. Tidak bisa menahan rasa sesak dan menyembunyikan basah di pipinya. Diusap berapa kali pun, air matanya tetap tumpah lagi. Seolah mengiringi sesak di dadanya yang kian terasa menyakitkan.
Berjalan menuruni anak tangga, Abel memaksakan langkahnya untuk menemui Asep yang sepertinya akan marah-marah karena menunggu terlalu lama. Di depan gerbang, ia menggerakkan tangan untuk membuka kunci, menarik gerbang kecil di bagian ujung dan keluar melewati gerbang.
"Astagfirullah banget lo emang jadi manusia. Hampir aja gue pulang gara-gara jamuran nungguin lo di sini. Ngapain aja lo di dalem? Pake riasan? Gak, 'kan? Kenapa lama banget, Bel?" tanya Asep beruntun. Terdengar kesal dan lelah.
Abel menghampirinya. Telinganya bahkan bisa mendengar Asep mendengkus.
"Untung aja lo temen gue, Bel. Kalau bukan, mungkin udah gue bom rumah lo dari tadi. Lelah banget hamba nungguin lo di sini. b****g gue panas banget gara-gara duduk di jok motor. Lain kali sofa rumah lo pindahin aja deh ke sini. Biar gue gak emosi kalau nungguin. Sama-sama enak 'kan kita jadinya?"
Asep menggerutu lagi. Abel semakin merasa tidak enak. Kalau saja ia tidak bertengkar dulu dengan keluarganya, sudah pasti sekarang ia sedang makan bersama Asep di luar.
Memaksakan senyum agar terukir di bibirnya, akhirnya Abel mendongakkan kepala. Tangannya mengusap kasar wajahnya yang pasti terlihat sangat kacau. Asep mungkin akan menertawakannya. Cowok itu akan memotret wajahnya dan memberikannya pada Leo dan Heri. Lalu esok tiga cowok itu akan menghujatnya habis-habisan.
"Ma-maaf, Sep. Gu-e bikin lo nunggu lama," kata Abel terisak.
Asep yang awalnya terlihat kesal kini melongo.
Melihat kondisi Abel, Asep langsung turun dari motornya. Ia berdiri di depan Abel. Tangannya terulur untuk mengusap pipi basah pipi Abel. Membuat Abel terkesiap.
"Lo kenapa, astaga? Siapa yang bikin lo nangis? Sini cerita sama gue."
Nada bicara Asep terdengar lembut. Membuat mata Abel kembali memanas dan menumpahkan air mata lagi.
Yang ada di depan Asep sekarang hanyalah sesosok gadis lemah yang membutuhkan tempat bersandar. Abel tidak lagi terlihat seperti gadis urakan yang bicara semaunya, tidak lagi seperti gadis tangguh yang diam saja meski dijelekkan oleh adiknya sendiri. Abel yang sekarang hanyalah gadis rapuh yang membutuhkan seseorang di sampingnya. Dan Asep menyadari hal itu.
"Gak usah nangis, gue gak suka liatnya."
Tangan Asep kembali terangkat untuk mengusap pipi Abel. Menyapu air mata yang seperti tidak ada habisnya. Abel terlihat sangat terluka dan butuh teman untuk membagi kisah.
"Bel," panggil Asep lembut. "Kalau lo mau cerita sesuatu, ada gue, kok. Kalau emang gak mau cerita sama gue, lo bisa cerita sama Leo atau Heri. Jangan pernah nyembunyiin rasa sakit lo sendirian. Kalau lo lupa, lo punya temen yang bisa lo andalkan."
Tidak tahan, Abel menutup wajahnya karena terlalu malu terlihat menyedihkan di depan Asep. Isakannya terdengar nyaring sekali. Asep yang tidak bisa melihat Abel menangis segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Meredam tangisan Abel di dadanya, sementara tangannya mengusap lembut kepala Abel.
Awalnya Abel tidak berniat menangis di depan Asep. Ia merasa malu karena terlihat kacau dan menyedihkan di depan Asep. Ia juga sudah berjanji untuk tidak menceritakan tentang keluarganya, tentang seberapa egois keluarganya, tapi apa daya, rasa sesak yang dideritanya sudah tidak tertahankan. Apalagi saat Asep menariknya ke dalam pelukan, yang Abel lakukan justru menggerakkan untuk melingkarkan tangan di pinggang Asep. Meminta ketenangan pada salah satu teman terbaiknya itu.
"Gak pa-pa, sesekali nangis itu gak pa-pa, kok. Lo bisa pinjem bahu gue kapan pun lo mau. Gue selalu ada buat lo, Bel. Apa pun yang lo butuhin, selama gue punya hal itu, gue bakal kasih ke elo."
Kenapa? Abel bertanya-tanya kenapa seorang teman justru lebih peduli padanya, daripada keluarganya sendiri? Ayah ibunya bahkan tidak mempercayainya, tapi Asep rela memberikannya pelukan hangat untuknya. Sejak kecil ia hidup bersama orang tua dan saudaranya, tapi ia tidak pernah menemukan arti kenyamanan yang sesungguhnya. Tapi bersama Asep, ia baru mengenal cowok itu belum genap tiga tahun, tapi rasanya ia bisa mengadukan apa pun pada Asep.
"Ada apa? Sini cerita sama gue. Sini ngadu sama gue. Gue siap jadi tempat curhat lo."
Pelukan Abel mengerat. Ia memeluk Asep lebih dalam lagi. Membenamkan wajahnya di d**a cowok itu, serta meminta tempat perlindungan yang tidak ia dapatkan di rumah besar yang ada di belakangnya.
"Jangan bilang si Ardan itu yang bikin lo nangis?" tanya Asep menduga kemungkinan yang satu itu. Di pelukannya, Abel menggeleng cepat.
"Atau karena Abi? Orang tua lo?"
Merasakan cengkeraman dari tangan Abel di kaus bagian belakangnya, Asep langsung tahu bahwa dugaannya benar. Asep hanya membiarkan Abel beberapa menit, sampai isakannya tidak lagi terdengar dan cengkeramannya perlahan dilepaskan. Abel menjauhkan diri saat merasa sudah lebih baik. Kedua matanya memerah, tapi ia jauh lebih lega.
"Kenapa? Mau cerita sama gue?"
Abel mengangguk. Sekilas, ia sempat melihat ke arah rumahnya. Abi dan kedua orang tuanya mungkin masih makan malam, atau mungkin sudah selesai dan sedang berbincang di ruang keluarga. Ia tidak peduli lagi.
"Tadi gue bilang ke bokap nyokap gue kalau Abi bohong sama guru di sekolah. Gue bilang Abi itu cuma cari perhatian di depan guru dengan cara jelek-jelekin gue biar namanya tetep baik."
"Terus?"
"Tapi mereka malah gak percaya dan bilang kalau gue bohong. Kata mereka, Abi gak mungkin ngelakuin hal sejahat itu."
Asep yang turut mendengar bagaimana cemerlangnya Abi bersandiwara tentu geram mendengar penuturan Abel. "Kayanya gue harus masuk ke rumah lo sekarang juga. Biar gue jelasin kalau anaknya yang namanya Abi itu aslinya busuk!" teriaknya emosi. Ia sudah akan berjalan melewati Abel, berniat memasuki gerbang rumah Abel, tapi Abel dengan cepat menarik tangannya.
"Gak usah, mereka tetep gak akan percaya."
"Tapi yang kaya gitu keterlaluan, Bel! Mereka udah bikin lo sampe nangis gini. Abi itu gak sebaik yang mereka kira, dan harusnya sesekali mereka juga dengerin lo. Gimanapun lo itu anak mereka."
Melihat Abel yang sampai menangis tentu membuat Asep emosi. Ini pertama kalinya ia melihat Abel menunjukkan emosinya yang satu itu. Selama ini ia mengenal Abel sebagai gadis tangguh yang tidak pernah mengeluh. Siapa sangka pada akhirnya tembok pertahannya runtuh juga. Abel tidak lagi sanggup membendung segala luka yang selama ini hanya ditahannya mati-matian.
Jujur saja ... Asep tidak suka melihat Abel diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri.
"Ya udah, mau jalan?" tanya Asep.
Abel mengangguk. Ia meminta Asep datang untuk menemaninya makan di luar, dan seperti biasa, cowok itu selalu datang, tapi pada akhirnya ia tidak lapar. Tidak mungkin membiarkan Asep pulang begitu saja setelah menunggu lama, dan ia pun sedang tidak ingin berada di rumah.
"Kita makan dulu, abis itu terserah lo deh mau ke mana, bakal gue anter."
"Tapi gue gak laper," tukas Abel.
"Tapi tetep aja lo harus makan. Gue yakin lo belum makan. Iya, 'kan?"
Melihat Abel yang hanya diam, Asep tahu bahwa dugaannya benar seratus persen. Ia. Berjalan ke arah motor. Meraih dua helm yang disangkutkan di kaca spion. Setelah menyerahkan salah satu helm pada Abel, ia memakai helm yang satunya.
Asep naik ke motornya terlebih dahulu. Menyalakan mesin, kemudian mengulurkan tangan sebagai pegangan Abel.
***
Lima belas menit perjalanan, Asep menghentikan motornya di salah satu penjual sate yang beberapa kali pernah didatanginya bersama Abel. Ia menarik tangan Abel ke salah satu kursi dan mendudukkan tubuh itu di sana, sementara dirinya memesan sate.
Sejak lama Asep tahu bahwa Abel tidak pernah baik-baik saja. Salah satu buktinya adalah Abel kerap mengajaknya makan di luar. Asep tahu bahwa Abel tidak nyaman makan bersama keluarganya di rumah, ia memang tidak tahu pasti sebabnya apa, tapi kalau bisa makan makananku enak di rumah, kenapa harus beli di luar jika tidak terjadi sesuatu? Selama ini ia diam saja karena tidak ingin ikut campur. Selama Abel tidak cerita, ia tidak akan mengorek apa-apa. Tapi siapa sangka hari ini Abel justru menumpahkan segalanya. Tepat di depan matanya.
Berjalan mendekati Abel, Asep duduk di kursi plastik yang ada di samping Abel. Gadis itu diam saja sejak tadi. Asep tidak suka melihatnya, karena dengan jelas Abel sedang memperlihatkan bahwa dirinya tengah terluka.
"Mau nginep di rumah gue aja?" tanya Asep mengundang tatapan Abel.
"Mungkin lo lagi gak mau balik ke rumah. Kalau nginep di rumah gue, lo bisa tidur sama adik atau kakak perempuan gue. Mereka pasti seneng kalau ada temen satu gender."
Itu adalah satu-satunya saran yang bisa Asep berikan. Ia sadar tidak bisa membawa Abel pergi ke mana-mana, karena gadis itu memiliki tempat untuk pulang, tapi ia juga tidak bisa memaksa Abel pulang ke rumah yang justru memberinya tangisan.
Asep kira Abel akan setuju, tapi gadis itu justru menggeleng pelan.
"Nyokap gue bisa marah-marah kalau gue gak balik."
"Tapi mereka udah bikin lo kaya gini, Bel. Lo bisa izin lewat pesan singkat atau telepon. Kalau lagi gak nyaman di rumah, lo bisa nginep di rumah gue."
"Tenang aja, seenggaknya gue punya kamar pribadi."
Asep mendengkus halus. Memiliki kamar pribadi di dalam rumah mewah yang tidak menerimanya, apa ada gunanya?
"Gimana gue bisa tenang kalau lo abis nangis kaya tadi? Bukan gak mungkin pas balik lo bakal nangis lagi, dan gue gak ada di sana."
Wajah Abel bahkan masih sembab. Kedua matanya masih memerah dan sedikit basah. Berterima kasihlah pada keadaan yang sangat mendukung, karena hanya ada dua pengunjung lain yang duduk agak jauh dari Abel dan Asep, sehingga mereka tidak perlu takut pembicaraan sensitif mereka akan mengganggu pengunjung lain.
"Kalau sampe gue nangis lagi, gue bakal ngehubungin elo dan minta lo buat dateng ke rumah gue, lompatin pager depan, terus naik ke balkon kamar gue yang ada di lantai dua. Di situ gue bakal pinjem bahu lo lagi."
Asep tidak sadar bahwa Abel hanya bercanda. Ia justru menanggapi hal itu dengan serius.
"Oke. Jangan sungkan nelpon gue jam berapa pun. Gue bakal dateng dan nyelinap ke halaman rumah lo."
Perkataannya berhasil membentuk garis tipis di bibir Abel. "Makasih, Sep. Gue beruntung punya ko di hidup gue," ucapnya tulus.
Asep mengangguk. "Karena itu lo bisa ngandelin gue. Pokoknya jangan sungkan dan jangan pernah mendem sesuatu sendirian lagi. Lo bisa bagi kesusahan lo sama gue, Leo atau Heri." Jeda sebentar. Asep terkekeh pelan. Tidak sadar dengan ucapannya sendiri.
"Mungkin dua cowok itu gak bisa terlalu diandalkan, sih. Leo punya cewek yang harus dia perhatian dan dia jaga, sedangkan Heri terlalu astagfirullah buat diajak kerja sama. Pokoknya mereka gak sebebas dan sepintar gue, tapi tetep aja mereka bisa dengerin kok kalau lo cerita."
Ya, Abel pun sebenarnya tidak meragukan hal itu. Ia tidak pernah cerita bukan karena tidak mempercayai teman-temannya, ia hanya tidak mau menambah beban mereka dan membuat mereka menjadi kepikiran. Bagaimanapun, setiap orang memiliki masalah sendiri yang harus diselesaikan. Jika ia bercerita tentang lukanya, tentang penderitaannya, itu hanya akan menambah pikiran mereka.
Teman-temannya memang bisa diandalkan, sangat bisa dijadikan tempat bercerita, tapi sebaik apa pun mereka, tetap saja yang paling tangguh menghadapi semuanya hanyalah diri sendiri. Karena itulah Abel kerap memendam semuanya sendiri. Karena ia yang paling tahu lukanya, jadi ialah yang harus menanggungnya.
"Paham, 'kan?" tanya Asep mempertegas pernyataannya karena Abel tak kunjung menjawab.
Saat gadis di sampingnya mengangguk, barulah Asep ikut mengangguk. Meskipun tidak yakin bahwa ke depannya Abel akan lebih terbuka. Penyebab Abel menangis sekarang, dan mau mengadu pada Asep semata-mata karena Abel sudah lelah saja. Asep yakin, ke depannya, Abel bukannya semakin rapuh, gadis itu justru akan semakin kuat dan menahan semuanya sendirian lagi. Asep yakin akan hal itu.
Siapa pun, bukan hanya Abel, saat terjatuh, saat itulah diri akan dibentuk menjadi lebih tangguh.
Pesanannya keduanya datang. Abel yang awalnya hanya memperhatikan sate di depannya akhirnya menggerakkan tangan saat Asep mendorong piring miliknya agar lebih dekat.
"Laper gak laper pokoknya lo harus abisin sate ini. Kalau perlu nambah sekalian. Dan khusus hari ini biar gue aja yang bayar."
Sontak saja Abel menoleh ke arah Asep. Bertanya, "Emangnya lo abis gajian?" Dengan seringai geli.
"Iya, gue abis gajian. Jadi lo bisa makan sepuas lo."
Abel bertanya, "Yakin boleh sepuas gue?" Karena tidak yakin apakah Asep betulan serius atau tidak.
"Yakin. Kalau perlu lo makan juga gerobaknya. Puas lo?"
"Beruntung banget gue punya temen sebaik lo," puji Abel.
Asep yang sedang memegang satu tusuk sate menggigit potongan daging ayam di bagian teratas. Mengunyahnya pelan. "Iya, gue tau gue baik. Makanya lo harus banyak-banyak bersyukur punya temen kaya gue," ujarnya kembali melahap satenya.
Padahal Abel yang mengajak Asep makan di luar, biasanya juga ialah yang membayar makanannya, tapi karena suasana hatinya sedang tidak baik, Asep mungkin saja ingin memperbaikinya sedikit.
"Makasih, Asep." Abel nyengir lebar.
"Tapi malam ini aja. Kalau tiap makan di luar gue yang bayar, gue bisa bangkrut."
Lalu, gelak tawa menyapa pendengaran Asep. Tidak serenyah dan sekeras biasanya, tapi berhasil membuatnya menarik sudut bibirnya. Setidaknya Abel sudah tertawa. Itu saja sudah cukup baginya.