"Yuk, kita istirahat."
Asep dan Leo sontak saja saling pandang bingung. Heri tidak masuk sekolah karena sakit. Dan sejak bel istirahat berbunyi, Abel terlihat aneh. Hujan sudah turun satu jam sebelum bel istirahat berbunyi. Jika biasanya Abel akan tertidur, hari ini justru tidak. Asep berpikir bahwa mungkin saja Abel memang sedang giat belajar.
Namun, keanehan itu berlanjut sampai jam istirahat. Abel berdiri dan dengan semangatnya keluar dari kursi. Gadis itu mengajak Asep dan Leo istirahat. Seolah sedang lupa ingatan, Abel tidak peduli bahwa di luar sedang hujan.
Mungkinkah gadis baru saja terbentur tembok?
"Bel, lo demam, ya?" tanya Asep. Leo yang duduk di kursi depannya manggut-manggut setuju. Abel benar-benar terlihat berbeda sekali dengan Abel yang biasa mereka kenal.
"Enggak kok," kata Abel. Ia mengangkat kedua tangannya layaknya seorang atlet angkat besi yang sedang memamerkan ototnya. "Gue sehat segar bugar begini dibilang sakit. Gak waras lo berdua."
"Justru elo yang gak waras!" teriak Asep dan Leo bersamaan.
"Kok gue?" Abel menunjuk dirinya sendiri. Membuat Asep pening sampai memijat pelipisnya.
"Elo yang kaya gini justru keliatan gak waras, Bel. Badan lo emang keliatan sehat, tapi otak lo kayanya enggak. Biasanya 'kan lo paling anti sama hujan. Jangankan ngajak ke kantin, diajak aja lo gak bakal mau. Kenapa sekarang tiba-tiba sikap lo aneh begini?"
Leo berdiri. Ia melewati kursi Heri agar bisa berdiri di depan Abel. Tangannya terangkat untuk menyentuh dahi Abel. Memeriksa apakah suhu tubuh Abel normal atau tidak.
"Normal kok," kata Leo menurunkan tangannya. Ia menatap Asep yang masih kebingungan.
Tidak perlu menduga-duga, kalian pasti sudah tahu bahwa itu semua karena apa yang dialami Abel bersama Ardan kemarin sore. Karena perkataan Ardan, Abel jadi berubah. Ia belum menyukai hujan, tapi seperti perkataan Ardan, ia jadi bisa melihat sesuatu dari sisi yang lain. Hujan tidak terlalu menyebalkan lagi untuk Abel, apalagi ia sadar betul bahwa kantin berada di lantai dasar. Yang artinya, ia hanya perlu menuruni tangga tanpa harus terkena air hujan.
"Udah, deh, kalian gak usah lebay. Hujan itu gak bakal bikin kalian atau gue sampe berdarah-darah," kata Abel meniru perkataan Ardan kemarin.
"Woy!" seru Asep. "Harusnya lo ngaca dulu sebelum bilang kaya gitu ke gue sama Leo. Selama ini juga kita selalu ngasih tau kalau hujan itu gak membahayakan, tapi lo gak peduli. Kenapa baru sekarang lo sadar hal itu, astaga?!"
"Emang kalian pernah bilang gitu?" tanya Abel polos.
"Innalilahi! Kenapa hamba harus punya temen macam si Abel ini, Ya Allah." Asep mengusap wajahnya frustrasi.
Sementara Leo akhirnya tergelak melihat perubahan Abel. Ia bersyukur karena tidak perlu lagi disumpah serapah oleh Abel karena kerap berniat meninggalkan Abel di jam istirahat saat hujan.
"Terserah, gue gak peduli si Abel kesambet apaan. Yang penting kita ngantin aja sebelum bel bunyi. Laper nih gue. Ngurusin perubahan si Abel cuma bikin kepala pening. kenyang kaga, yang ada emosi."
Leo memilih jalan duluan. Abel menunggu Asep bangun dan jalan beriringan. Keduanya menyusul Leo dan akhirnya pergi bersama.
Di luar kelas, Abel melihat hujan yang membasahi daun dari pohon jati yang ada di halaman. Tidak hanya itu, ia juga mendengar suara gemericik air di genting yang berada di atasnya. Dua hal itu yang selama ini tidak terlalu ia pedulikan, tapi sekarang berganti ia terima pelan-pelan.
Diam-diam Abel teringat kejadian kemarin saat Ardan menyadarkannya tentang hujan. Hanya menggunakan beberapa kalimat, dan Abel dibuat mengerti sepenuhnya. Cowok itu ... entah kenapa membuat Abel merasa beruntung karena sempat memilih jalan kaki sepulang sekolah dan berakhir bertemu dengan Ardan yang sedang berjongkok di depan anak kecil. Kalau saja waktu itu ia menghabiskan waktu di rooftop seperti hari-hari sebelumnya, sudah pasti ia tidak akan bertemu Ardan dan mengenal cowok itu lebih dekat.
Mengenal seseorang ... Abel tidak menyangka akan sangat menyenangkan seperti yang ia rasakan.
"Lama banget lo berdua jalannya. Gue 'kan udah laper."
Abel menyembunyikan senyum di bibirnya. Ia tidak ingin dua temannya menganggapnya seperti orang kesurupan, karena itulah masing-masing tangannya merangkul bahu Asep dan Leo bersamaan. Ia menarik leher kedua cowok itu agar berjalan lebih cepat. Mengundang tatapan aneh yang lagi-lagi menghiasi wajah Asep dan Leo.
***
Sesampainya di kantin, lagi-lagi Abel memperlihatkan gelagat aneh. Ia melewati beberapa meja yang digunakan teman-teman sekelasnya. Di salah satu meja, Abel menyempatkan diri untuk berhenti. Asep dan Leo otomatis ikut berhenti juga.
"Heh, Raffi! Kalau makan jangan buru-buru, nanti lo kesedak." Abel mengambil satu gorengan yang ada di meja Raffi. Menyantapnya tanpa permisi. Sontak saja hal itu membuat Raffi malah tersedak. Bukan karena sapaan Abel yang tiba-tiba, tapi karena panggilan yang digunakan Abel saat memanggilnya. Bahkan Asep dan Leo pun harus kembali melongo karena terkejut untuk ketiga kalinya.
Keduanya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada Abel?
"Eh, Juki!" Kali ini Abel menunjuk cowok yang duduk di samping Raffi. "Jangan lupa minum kalau abis makan, nanti tenggorokan lo seret."
Kemudian Abel berlalu begitu saja. Raffi yang masih tidak percaya mengikuti ke mana Abel pergi, sampai gadis itu duduk di salah satu kursi dengan meja kosong bersama dua temannya.
Itu adalah pertama kalinya Abel memanggil Raffi dengan nama aslinya sejak Abel mengetahui namanya hampir tiga tahun lalu di kelas satu.
Di mejanya, Abel menyuruh Asep untuk memesan batagor dan es teh manis. Leo ikut memesan makanan dan minuman yang sama yang sama. Mendengar itu, Asep pergi sendiri untuk membeli makanan dan minuman tersebut. Tidak butuh waktu lama, Asep kembali dengan dibantu seorang wanita. Asep membawa nampan berisi tiga gelas es teh manis dan sepiring gorengan bermacam-macam, sedangkan wanita yang bersamanya membawa tiga porsi batagor. Wanita itu pergi setelah Asep menyerahkan nampan padanya.
"Bel, kayanya lo perlu istirahat di UKS. Lo udah jelas gak sehat banget ini mah," celetuk Asep tiba-tiba.
Abel tergelak mendengar celetukan Asep. Ia baru tersadar bahwa kelakuannya sangat aneh sampai-sampai Asep menganggapnya tidak sehat.
"Sehat kok gue, Sep. Tenang aja, gue cuma lagi ngerasa waras aja," ujar Abel.
Leo menatapnya. "Jadi selama ini lo sadar kalau lo emang agak-agak anu?"
"Ambigu lo!" sergah Asep menatap Leo.
Abel tertawa lagi. Ya, sebenarnya ia sendiri tidak terlalu mengerti kenapa sikapnya tiba-tiba aneh. Kalau soal hujan, sudah pasti karena pelan-pelan ia tidak lagi menganggap bahwa hujan semenyebalkan itu, tapi kalau panggilannya pada Raffi, Abel kira penyebabnya adalah Ardan.
Sejak hujan turun, wajah Ardan terus melintas di kepalanya. Bagaimana cowok itu tertawa, mendengkus, tersenyum, bahkan memutar mata. Abel kira tidak terlalu berlebihan jika ia mengatakan bahwa Ardan berhasil membuatnya ingin menjadi lebih baik. Tentu, cowok itu hanya pemicu, selebihnya karena Abel sadar bahwa ia kerap bersikap semaunya. Itu saja.
"Kalian inget cowok yang pernah gue ceritain? Yang waktu itu gue bilang kalau gue lagi kencan sama dia. Nah, dia yang bikin gue kaya gini sekarang," aku Abel.
Asep yang sudah bersiap menyantap batagornya terdiam. Mulutnya yang sudah terbuka kembali ia tutup. Sendok berisi potongan batagor yang hampir meluncur ke mulutnya ia letakkan lagi di piring.
Leo pun demikian. Mulutnya yang sedang mengunyah batagor seketika berhenti. Ia menelan batagor yang belum halus itu cepat-cepat, kemudian meneguk es teh manisnya serakah untuk meluncurkan potongan batagor yang terasa mengganjal di tenggorokan.
"Jadi itu beneran?" tanya Asep melotot.
"Lo lagi kasmaran ceritanya, Bel?" balas Leo.
Abel mendengkus. Memangnya seaneh itu dirinya jika berhubungan dekat dengan cowok? Sampai menimbulkan reaksi lebay dari dua temannya.
"Kalian tuh kenapa, sih? Gak bisa santai aja reaksinya?" tanya Abel.
Asep dan Leo menggeleng bersamaan.
Karena kala itu teman-temannya hampir tidak percaya bahwa ia berhubungan dengan cowok dari sekolah lain, alhasil Abel tidak memberi tahu sama sekali kalau setiap pulang sekolah ia bertemu dengan Ardan.
"Pertama, dari awal juga gue udah serius, kalian aja yang gak percaya sama gue. Kedua, gue bukannya lagi kasmaran, gue cuma seneng punya temen yang lebih berfaedah dari kalian."
Lagi, Asep dan Leo menunjukkan reaksi bersamaan. Kali ini dua cowok itu berdecih sinis. Tidak terima bahwa Abel lebih menyukai teman barunya itu, daripada mereka. Apalagi Abel menambahkan pujian yang seolah mengatakan bahwa selama ini teman-temannya di sekolah tidak berfaedah.
"Gue jadi kepo, kaya gimana sih temen lo itu?" tanya Asep.
Leo melanjutkan, "Terus namanya siapa?"
Abel berdeham. Berpikir akan mulai dari mana ia menceritakan sosok Ardan.
"Namanya Ardan, dia kelas tiga juga. Orangnya cakep, putih, rapi, pokoknya mukanya ganteng. Gak pasaran kaya kalian."
Mendengar itu, Asep mendengkus, sedangkan Leo yang terkenal sok cool melotot karena tidak terima.
"Terlebih lagi sifatnya itu menyenangkan. Awalnya emang galak dan cuek gitu, tapi makin kenal makin asik anaknya. Seru aja ngobrol sama dia setiap hari. Gue kaya nemu temen langka gitu."
"Gue yakin dia gak sesempurna itu, Bel. Palingan biasa aja, cuma lo yang berlebihan muji dia," cela Asep.
Leo mengangguk setuju. "Lagian mana ada cowok yang lebih keren dari gue?" Sifatnya yang terlalu percaya diri muncul begitu saja.
"Gak gitu!" seru Abel ngotot. "Dia tuh pokoknya pinter banget."
"Terserah," sahut Asep dan Leo tidak peduli.
Abel terkekeh melihat reaksi dua temannya. Mereka nampaknya tidak suka jika ia dekat dengan orang lain dan membanggakan orang itu di depan mereka.
"Tapi tenang aja, kalian itu temen terbaik gue. Termasuk Heri juga. Sesusah apa pun gue, cuma kalian yang selalu ada dan paling bisa diandalkan."
Sontak saja dua temannya langsung semringah. Semudah itu Abel mengembalikan temannya seperti semula.
Yang Abel katakan bukan hanya pemanis saja, kenyataannya memang demikian. Ardan memanglah teman paling menarik yang Abel kenal, tapi Asep, Leo dan Heri adalah tiga teman yang paling dekat dengannya. Bisa dibilang mereka adalah teman terbaiknya. Mungkin ketiganya adalah teman yang selalu ada kala senang dan susah. Tidak hanya hadir saat Abel senang, dan kabur saat ia kesusahan.
"Gak masalah lo kenal sama siapa aja, asal bisa jaga diri, Bel. Pikiran orang gak ada yang tau isinya gimana, walaupun lo yakin dia orang baik, lo tetep harus hati-hati."
"Bener! Apalagi zaman sekarang banyak orang yang bermuka dua. Di depan baik, di belakang mana tau dia punya rencana lain. Pokoknya jangan terlalu percaya sama yang namanya cowok, kecuali lo udah kenal banget sama mereka, udah hafal watak mereka kaya gimana, kaya lo kenal kita-kita gitu," sambung Leo melanjutkan pesan Asep.
Bukankah sudah Abel katakan bahwa teman-temannya sangat pengertian dan peduli padanya?
"Kalau perlu gue harus kenal sama si Ardan itu, biar gue nilai dulu kaya gimana orangnya."
Leo menjentikkan. "Bener tuh kata Asep. Supaya kita tau kalau dia orang baik atau bukan," ujarnya.
Jauh di seberang sana, Ardan bersin berkali-kali.
Abel tergelak. "Gak perlu. Gue tau kok mana yang baik, mana yang buruk. Makasih karena selalu pengertian sama gue."
Kalau sampai hal itu terjadi, yang ada Ardan malah akan risih karena mengira bahwa Abel dijaga oleh pawang yang overprotektif. Atau bisa jadi Ardan malah akan lebih akrab dengan Asep dan Leo karena sama-sama cowok dan obrolan mereka mungkin bisa lebih nyambung. Dan Abel tidak mau itu sampai terjadi.
Asep mengangguk. "Kaya sama siapa aja lo. Wajar lah kalau kita pengertian. Kita 'kan temen dari lama. Kalau lo sampe kenapa-napa, kita ngerasa bersalah karena gak bisa nolong lo. Makanya dari sekarang kita kasih tau. Iya 'kan, Le?"
"Yoi!"
Ketiganya tidak sadar bahwa sudah mengobrol terlalu lama. Beberapa pengunjung kantin yang lain sudah kembali ke kelas masing-masing, dan yang lain masih menyantap makanan. Sedangkan makanan Abel dan dua temannya bisa dibilang masih utuh. Belum tersentuh sama sekali.
Lalu, Leo tidak sengaja melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan bahwa jam istirahat akan berakhir tiga belas menit lagi. "Astagfirullah! Makanan gue masih utuh, sedangkan bel masuk bentar lagi bunyi!" serunya terkejut.
Abel dan Asep yang mendengar itu sontak saja langsung meraih sendok dan memakan batagor mereka. Batagor yang tadinya hangat karena baru digoreng kini nyaris dingin. Begitu juga dengan gorengan sepiring penuh yang belum dimakan sama sekali. Mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk menghabiskan itu semua, dan waktu istirahat yang tersisa sangat sempit.
"Ini mah yang ada makanan belum turun ke perut, tapi udah harus lari karena bel udah bunyi," kata Asep setelah menelan batagornya.
Abel tergelak saat melihat dua temannya makan terburu-buru. Kalau saja ia tidak bercerita, mereka mungkin bisa makan dengan lebih tenang.
"Santai aja, sih. Telat sebentar doang gak bakal dimarahin kok," ujar Abel menenangkan keduanya.
"Emang enggak, cuma gak bakal dikasih masuk ke kelas," jelas Asep.
Abel merasa bersalah, tapi ia tidak bisa menahan tawa melihat Asep dan Leo yang sangat terburu-buru. Keduanya seperti baru makan setelah satu bulan menahan rasa lapar.