12 - Istimewanya Hujan Part 2

2064 Words
Di dunia ini, memang banyak sesuatu yang tidak kita ketahui. Ada beberapa dari manusia membenci apa yang belum pernah mereka coba, ada yang menolak apa yang belum pernah mereka lihat, kadang juga segala hal yang kita lihat sekilas akan langsung kita anggap demikian di pertemuan pertama. Kalau kelihatannya buruk, ya buruk. Kalau baik, ya baik. Begitulah kebanyakan manusia menilai sesuatu. Hanya dari apa yang terlihat. Padahal nyatanya, ada banyak sekali hal yang tidak kita ketahui di dunia ini. Manusia buta dengan segala macam hal, tapi terkadang bersikap sok tahu hanya karena pernah melihat atau merasakan sekali saja. Abel baru mengetahuinya sekarang, bahwa ada dua hal di dunia ini. Yang baik, yang buruk. Bukan tidak mungkin bahwa apa yang kita alami, seburuk apa pun itu, akan selalu ada hal baik di baliknya. Seperti apa yang baru saja ia rasakan. Hujan dengan segala kerepotan yang disebabkannya, ternyata memiliki keistimewaan yang tidak terduga. Ardan adalah satu-satunya orang yang berhasil menyadarkan Abel tentang seberapa menakjubkannya hujan dengan cara sederhana. Lo gak bisa nikmatin sesuatu kalau lo udah ngebenci hal itu lebih dulu. Perkataan itu terngiang di telinga Abel. Terdengar lembut dan merdu sekali. Hanya kata-kata sederhana, tapi berhasil membuat mata Abel terbuka untuk melihat sesuatu dengan cara berbeda. Abel ingat, teman-temannya juga pernah menceramahi dirinya jika ia mengeluhkan hujan. Mereka sering berkata bahwa hujan itu adalah rahmat Tuhan, dan ia seharusnya mensyukuri datangnya hujan. Abel tahu hal itu, tapi tetap saja ia tidak menyukai hujan. Berbeda dengan cara Ardan menyadarkannya. Cowok itu memberi tahu satu hal yang katanya istimewa dari hujan, yaitu irama yang diciptakan. Dan Abel langsung mengakuinya hanya dalam satu kali percobaan. "Kenapa lo suka hujan?" Abel menurunkan tangan. Ia menatap Ardan yang berdiri di sampingnya. Sedang memperhatikan lalu lalang kendaraan yang kebasahan. Cowok itu menjawab, "Karena dia ngasih ketenangan tanpa harus kita berusaha. Tenang itu salah satu hal yang susah didapat, tapi hujan bisa ngasih hal itu tanpa minta imbalan." Dengan bibir menyunggingkan senyum tipis. Manis sekali. Itulah pendapat Abel tentang Ardan yang sedang menyuarakan isi kepalanya. Setiap kata yang keluar dari mulut Ardan benar-benar dipilih baik-baik sehingga terdengar sempurna di telinga yang mendengarnya. "Ternyata pikiran gue sempit banget selama ini. Gue nyimpulin sesuatu cuma dari sudut pandang gue aja. Gue nilai sesuatu cuma dari apa yang gue liat aja. Dan hebatnya, elo orang pertama yang bikin gue ngerasa kaya gitu." Ardan menoleh ke arah Abel. Menanyakan lewat tatapannya apa maksud dari ucapan Abel? "Iya, elo satu-satunya orang yang bikin gue ngaku kalau pikiran gue sempit. Ngerasa bangga gak, lo? Masalahnya kita 'kan baru kenal, tapi lo pinter banget nyeramahin gue, dan herannya gue ikut aja apa kata lo." Sontak saja pengakuan Abel berhasil mengundang gelak tawa Ardan. Renyah sekali. Ardan bukannya sedang merasa bangga, ia hanya tidak menyangka bahwa Abel akan berkata demikian dengan lantangnya. "Kenapa ketawa? Puas banget kayanya tawa lo itu." "Emangnya kenapa? Gak boleh gue ketawa?" Ardan balik bertanya. Abel mendengkus. Itu adalah pujian pertama yang ia lontarkan untuk Ardan. Tulus tanpa candaan. Dan Ardan nampaknya menertawakan tindakannya itu. "Jadi gimana? Udah suka sama hujan ceritanya?" tanya Ardan mengolok-olok Abel. "Gak juga sih, cuma jadi sadar aja kalau selama ini hujan gak semenyebalkan itu." "Makanya jangan pernah mandang sesuatu cuma dari satu sisi aja. Karena bukan gak mungkin sisi lainnya yang justru nyimpan banyak keindahan. Bener, 'kan?" Abel memiringkan kepala, mengangguk lalu menyahut, "Iya, Pak Guru." Ardan tertawa lagi. Abel dibuat kesal karena itu. Karena apa yang sedang Ardan lakukan hanyalah menebar pesona yang Abel nikmati diam-diam. Awal perkenalannya dengan Ardan tidak bisa dibilang buruk, tapi saat itu Ardan terlihat cuek dan galak sekali. Cowok itu tidak ramah dengan orang asing di pertemuan pertama, hal yang berkebalikan dengan Abel. Namun, di hari kedua Ardan mengulas senyum tipis untuk Abel saat Abel mau membuang stik es krim ke tong sampah. Dan semenjak itu, Ardan jadi lebih terbuka pada Abel dan mudah tertawa hanya karena lelucon kecil. Pertemuan keduanya bisa dibilang konyol. Abel hanyalah remaja hiperaktif yang sok akrab, sedangkan Ardan adalah remaja berkepribadian hangat yang awalnya tidak suka diusik. Siapa sangka hari-hari keduanya berjalan menyenangkan walaupun hanya dipenuhi obrolan tidak jelas. "Gue gak nyangka kita bisa sedekat ini. Lucu aja rasanya. Awalnya gue gak niat temenan sama lo. Kita beda sekolah, dan kayanya merepotkan aja harus luangin waktu setiap hari buat ketemu. Tapi akhirnya gue nyaman juga temenan sama lo," ujar Ardan. Hati Abel menghangat seketika mendengar pengakuan itu. "Jangan bosen temenan sama gue. Gini-gini, gue itu dikenal royal dan punya solidaritas yang tinggi. Lo bakal bangga jadi temen gue," sahutnya percaya diri. "Mungkin gue bakal bangga kalau lo mau bersikap lebih feminim dan mau manjangin rambut lo itu." Abel melotot. "Lo ngeledek gue?" tanyanya setengah berteriak. Ardan hanya tersenyum geli. Abel itu mudah sekali marah karena kalimat sederhana. Ia tidak ingin meledek seperti perkataan Abel sebenarnya, tapi Abel justru beranggapan demikian. "Lo tuh 'kan cewek. Gak ada salahnya manjangin rambut. Biar keliatan kaya cewek beneran." "Jadi maksudnya selama ini gue gak keliatan kaya cewek? Gue kaya cowok maksud lo?" "Gue gak bilang gitu." "Terus?" Selanjutnya, Abel merasakan sapuan lembut di kepalanya. Membuatnya nyaris menganga. Rupa-rupanya Ardan mengusap kepalanya beberapa kali. Tidak sampai di situ, Ardan juga menurunkan lipatan kecil di ujung lengan kemeja Abel. Membuat tampilan Abel terlihat sedikit lebih rapi walaupun bekas lipatannya kentara sekali. "Lo tuh cewek. Gue sih gak masalah mau tampilan lo kaya gimana juga, selama itu nyaman buat lo. Tapi ... terkadang lo harus sedikit berubah buat rubah pandangan orang." Ardan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Mungkin lo nyaman, mungkin lo ngerasa lebih baik kaya gini-gini aja, tapi 'kan gak ada salahnya berubah ke arah yang lebih baik." "Jadi menurut lo gue jelek?" cicit Abel menunduk. Geram sekaligus kecewa dengan pernyataan Ardan tentangnya. "Tadi 'kan gue udah bilang untuk mandang sesuatu dari segala sisi. Gak cuma dari satu sisi aja. Itu artinya gue pun demikian. Gue gak pernah mandang lo dari satu sisi. Gue bilang, gak masalah mau tampilan lo kaya gimana juga. Selama itu lo, gue sama sekali gak keberatan. Tapi ... emangnya lo gak mau berubah?" Tentu saja ingin! Abel berteriak dalam hati. Sejak awal Abel tidak ingin dipandang buruk oleh semua orang, termasuk kedua orang tuanya. Alasan kenapa ia memotong pendek rambutnya, dan menggulung ujung lengan kemejanya, semata-mata ia kesal dicap sebagai cowok oleh teman perempuannya semasa sekolah dasar karena selalu bermain dengan para cowok saja. Bukannya ia tidak ingin bermain teman perempuannya juga, tapi merekalah yang sudah menolaknya mentah-mentah sejak pertemuan pertama. Jadi, daripada terus-terusan dipandang sebelah mata, sekalian saja Abel merubah penampilannya. Sampai akhirnya ia nyaman sendiri dengan perubahan yang ia lakukan. Dan sekarang ... tiba-tiba Ardan mengatakan hal yang berhasil membuat Abel berpikir lagi, benarkah apa yang ia lakukan? "Lo itu padahal cantik. Serius gue. Kalau orang-orang ngatain lo buruk, itu bukan karena mereka." Kurang dari satu detik, Abel mendongakkan kepalanya. Menatap Ardan dengan tatapan siap melahap cowok itu hidup-hidup. Di awal ia sudah memuji Ardan, tapi sekarang Ardan justru mengatakan hal itu. "Dengerin dulu! Gak usah melotot gitu." Ardan terkekeh geli saat menyadari bahwa Abel tidak menyukai kalimat yang ia pilih. "Emang sih pandangan orang itu beda-beda, dan kadang mereka cuma liat sesuatu dari penampilan aja. Tapi ... bukan berarti kita bener dan pendapat mereka salah." "Maksudnya?" tanya Abel tidak paham. Persis seperti seorang anak kecil yang menanyakan sesuatu pada ayahnya. "Gini-gini. Kalau tampilan lo bar-bar gini, bukan gak mungkin orang langsung beranggapan kalau lo siswi urakan. Gue pun beranggapan demikian awalnya, sampe akhirnya gue kenal lo lebih jauh lagi. Gue tau lo baik. Beda sama orang lain. Ada beberapa orang yang cuma liat sekali dan langsung nolak buat nyari tau lebih jauh karena kesan pertama. Persis seperti pandangan lo tentang hujan yang tadi gue omongin." Abel semakin tidak mengerti arah pembicaraan Ardan. Cowok itu berbicara diputar ke sana diputar ke mari, dan ia tidak mengerti intinya di mana. "Mungkin gue jahat kalau bilang gini, kalau lo ngaca, lo pasti sadar gimana penampilan lo dan kenapa mereka yang liat lo langsung beranggapan kalau lo urakan. Itu udah jelas karena lo sendiri. Di sini lo gak salah. Sekali lagi, selama lo nyaman, ya udah. Tapi ... lo juga harus nerima konsekuensinya, yaitu pendapat orang tentang lo. Akan selalu ada orang yang suka sama lo, tapi di samping itu, pasti ada juga yang gak suka sama lo. Paham?" Ahh, jadi seperti itu. Abel tanpa sadar mengangguk mengerti. Memang benar, ada banyak sekali orang yang menyukainya. Orang-orang itu tidak bisa dihitung menggunakan jari oleh Abel. Ia dipertemukan dengan para cowok yang menghormatinya sebagai perempuan. Tapi sama seperti perkataan Ardan, tidak sedikit juga orang yang tidak menyukainya. "Gue gak nyangka mulut lo kejam juga," kata Abel. Salut dengan cara bicara Ardan yang lembut, tapi kejam di waktu bersamaan. Ardan tertawa lagi. Ia mengacak gemas surai Abel. Lagi-lagi membuat Abel hampir melongo. Sepertinya Ardan sudah mulai nyaman berteman dengannya. "Lagian kenapa sih suka banget motong rambut sampe sependek itu?" tanya Ardan. Abel mengendikkan bahunya acuh. Tidak ingin mengatakan alasan sebenarnya atau Ardan akan kembali berceramah. "Nyaman aja. Gak gerah dan gak perlu pake aksesoris kaya ikat rambut atau jepit rambut." Setidaknya itulah yang Abel ketahui dari adik dan teman-teman perempuannya di kelas. Mereka kerap mengenakan aksesoris rambut yang mencolok. Entah pita, jepit rambut, atau bandana. Menurutnya itu terlihat mengganggu. "Jadi, sebenernya gue gak jelek?" "Enggak, Abel." Ardan geleng-geleng kepala. Padahal sudah ia jelaskan panjang lebar, tapi masih saja bertanya. "Lo itu cantik. Seenggaknya untuk ukuran perempuan lo cukup menarik buat dilirik. Kalau aja lo gak galak dan berisik." "Ihh!" Abel berseru kesel. Ia mengangkat tangan kemudian mencubit pinggang Ardan gemas. Membuat Ardan mengaduh dan menjauhinya. Tapi seolah tidak puas, Abel justru mengejar Ardan dan kembali melayangkan cubitan. Keduanya berlari ke sana ke mari di atas jembatan. Menimbulkan suara berisik yang untungnya teredam derasnya hujan. "Cukup-cukup!" pinta Ardan setengah berteriak. Ia memegang kedua tangan Abel. Menghentikan gerakan gadis itu. "Suruh siapa muji orang nanggung-nanggung gitu." "Ya, abisnya lo tuh emang berisik dan galak. Malah kadang gak bisa diem juga kaya barusan." "ARDAN!!!" teriak Abel kesal. Ardan tertawa. Untung saja di jembatan penyeberangan orang itu hanya ada mereka berdua. Sehingga tidak perlu ada orang lain yang merasa terganggu dengan kelakuan mereka. Setelah puas tertawa, Ardan baru melepaskan tangan Abel. Gadis itu tidak lagi berusaha mencubitnya. Justru diam saja. "Gimana?" tanya Ardan. Abel menoleh cepat. "Apanya yang gimana?" Ia balik bertanya. "Gak dingin, 'kan?" Ehh? Tunggu dulu. Apa maksudnya? "Tadi 'kan kita kehujanan, dan gue gak bawa jaket atau semacamnya. Gue tau lo tangguh, tapi tetep aja lo cewek. Gue takut lo menggigil nahan dingin. Karena gak ada sesuatu yang bisa dipake buat bikin hangat, makanya gue ajak lo ngomong terus dari tadi biar lo lupa sama rasa dinginnya. Gak ngaruh sih kayanya, tapi lo keliatan gak peduli kalau lo abis kehujanan." Pernahkah kalian bertemu dengan orang semanis Ardan? Yang pintar membaca situasi sekaligus langsung menemukan solusi. Hebatnya lagi, cara Ardan mengisi kekosongan tidak hanya dengan ucapan basa-basi atau kalimat tidak jelas, tapi kalimat penuh makna yang tentunya bukan sekadar pengisi kekosongan belaka. Abel yakin bahwa bukan hanya dirinya saja. Setiap gadis yang bertemu dengan Ardan pasti akan langsung kagum pada sosok Ardan pada pertemuan pertama. Bukan hanya karena wajahnya, tapi cara bicaranya, sikapnya, dan ketulusannya. Tidak salah bukan kalau Abel berterima kasih? "Makasih, gue gak kedinginan. Diam di sini, di jembatan penyeberangan orang sama lo justru ngasih kesan tersendiri buat gue. Kita mungkin cuma ngobrol, tapi obrolannya berbobot dan gue suka. Rasanya males sih ngomong gini terus ke elo karena lo mungkin bisa kepedean, tapi lo hebat. Udah itu aja." Abel langsung membuang muka setelah mengatakan itu. Ardan menahan tawa di depannya. Abel itu memang selalu blak-blakan. Dan ia pun menyukai watak Abel yang satu itu. "Kalau hujannya reda kita langsung balik aja. Pas sampe rumah lo harus mandi supaya gak masuk angin. Abis itu minum yang hangat buat jaga kondisi tubuh. Paham?" "Iya, Pak Guru," sahut Abel untuk kedua kalinya memanggil Ardan seperti itu. "Jangan cuma iya-iya aja, tapi dilakuin juga nantinya." "Iya, astaga!" Abel tidak sadar bahwa dirinya sedang menikmati detik demi detik bersama Ardan di tengah rintik hujan yang selama ini selalu ia keluhkan. Dalam satu hari, Ardan berhasil membuatnya melupakan bahwa ia pernah sangat tidak menyukai air hujan. Karena sekarang, Abel bahkan lupa bahwa ia kebasahan. Tetes air hujan menetes dari seragamnya, dan ia tidak menyadari hal itu. Yang Abel tahu hanya satu, bahwa bersama Ardan, setiap yang dialaminya terasa menyenangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD