Selama hidupnya, Ardan selalu berusaha agar bisa terus bersyukur. Setiap hari, dan tidak akan berhenti. Entah sebelum orang tuanya meninggal, atau setelah kehidupannya berakhir di panti asuhan. Ibunya selalu bilang, sebagai manusia kita harus pandai bersyukur. Menerima apa pun yang diberikan oleh Tuhan. Baik buruknya akan menjadi pembelajaran berharga dalam hidup.
Ketika dihadapkan pada kematian orang tuanya, Ardan terpuruk. Ia tidak tahu harus bergantung pada siapa lagi. Tantenya ogah-ogahan dalam mengurusnya, sampai ia diserahkan ke panti asuhan. Dari sanalah Ardan baru belajar bahwa kita hanya bisa bergantung pada diri kita sendiri. Tidak peduli ada siapa saja di samping kita, tidak peduli seberapa banyak orang yang mengkhawatirkan kita, pada akhirnya mereka tetap orang lain. Itulah fakta akhirnya.
Di panti asuhan, Ardan dipaksa hidup mandiri. Bukan oleh Bu Dona, melainkan keadaan. Ia tidak pernah menginginkan apa pun selama bisa hidup dan bisa bertahan di tengah kejamnya dunia, selama rasa syukur masih ada, ia yakin akan selalu berkecukupan.
Lalu tiba-tiba Abel mengubah pandangannya dalam sekejap. Ardan menginginkan hal lain yang menurutnya memaksa. Yaitu Abel. Ia ingin agar gadis itu tetap di sampingnya apa pun yang terjadi. Karena melihat seberapa lepas tawa anak-anak panti saat bersama Abel, itu membuktikan bahwa kehadiran Abel amat penting.
"Udah dong. Jangan banyak-banyak. Nanti handphone kakak meledak."
Abel tergelak. Ardan yang melihat dari bawah pohon mangga hanya bisa tersenyum melihat itu. Sejak tadi Abel sedang memotret anak-anak panti dengan berbagai macam gaya. Abel mengatur agar anak-anak berbaris rapi, berpose dengan gaya yang sama, dan melompat saat ia beri kode.
Anak-anak panti nampak sangat senang melihat Abel yang tidak sungkan memotret lagi dan lagi. Memberikan kebebasan mereka untuk bergaya.
"Kak, emang kalau terlalu banyak foto bisa meledak handphone Kakak?" tanya Anggi.
Abel mengangguk mantap. "Awalnya kebakar, nanti lama-lama bakal meledak. Dan kalian semua bakal gosong," tuturnya serius.
Tentu saja itu hanyalah kebohongan, tapi karena anak-anak panti tidak pernah memegang apalagi memiliki yang namanya ponsel, mereka bergidik ngeri mendengar penuturan Abel. Percaya bahwa kejadian membahayakan itu akan terjadi.
"Ya udah, deh. Kita fotonya udahan aja. Takut rumah kita hilang gara-gara handphone doang. 'Kan gak lucu," ujar Gilang.
Hal itu malah membuat Abel tergelak. Tidak menyangka bahwa anak-anak akan bersikap sangat polos seperti itu.
"Ya udah, gini deh, foto yang barusan kita ambil nanti bakal kakak cetak. Dan kalian bisa pajang hasil cetaknya di kamar kalian. Tenang aja, setiap anak pasti dapet cetakan yang sama."
Semua anak bersorak kesenangan. Mereka saling tos sebagai bentuk rasa senang mereka. Tidak sabar menanti hari esok.
"Setelah kakak cetak, fotonya bakal kakak hapus, supaya besok kita bisa foto-foto lagi deh."
"Asik. Jadi kita bisa foto-foto terus deh," kata Gilang.
"Makasih, Kak Abel," sambung Fiona.
"Sama-sama." Abel tersenyum lebar, "nanti setiap foto bakal Kakak cetak, dan kalian bisa kumpulin sampe banyak buat kenang-kenangan masa kecil kalian. Biar nanti kalian tetep inget pas udah gede."
Anak-anak mengangguk serempak. Lagi-lagi mengucapkan ucapan terima kasih.
"Ya udah, kalian lanjutin mainnya, ya. Kakak mau istirahat dulu sama Kak Ardan. Lelah juga ternyata main-main sama kalian."
"Oke, Kak!"
Anak-anak pergi dan mulai bermain lagi, sementara Abel berjalan ke arah Ardan yang sejak tadi hanya memperhatikan. Cowok itu duduk bersila di bawah pohon mangga. Menyembunyikan tubuhnya dari matahari yang sebenarnya sudah tidak terlalu terik.
"Anak-anak aktif banget, ya. Gue gak bisa ngimbangin mereka. Begah gue padahal cuma lari-larian terus moto mereka."
Abel duduk di samping Ardan. Berselonjor dengan napas terengah. Ponselnya ia masukkan ke dalam saku kemejanya dan ia menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuh.
"Ya lagian elo segala ikutan main. Udah tau abis pulang sekolah, tenaga lo pasti terkuras di sekolah."
"Tapi main sama anak-anak seru, Dan."
"Iya, gue tau. Makanya gue cuma liatin aja. Liatin doang juga bikin gue seneng."
Abel mendengkus halus. "Emang dasar mau enaknya aja elo mah. Kalau cuma ngeliatin, lo gak bakal rasain keseruannya, Dan," ujarnya berusaha membangkitkan semangat Ardan agar mau ikut bermain.
Tidak ada jawaban dari Ardan. Cowok itu justru terus menatap anak-anak yang tengah bermain. Beberapa dari mereka mungkin kelelahan dan duduk di teras panti asuhan.
Semenjak kedatangan Abel, anak-anak memang terlihat lebih ceria. Mereka seperti mempunyai teman baru yang menemani Ardan untuk memeriahkan suasana. Bukan hanya itu, sosok Abel yang ceria dan selalu memberikan hal baru juga membuat anak-anak kerap menantikan hal-hal seru lainnya.
Abel memberikan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Sesuatu yang selama ini tidak pernah Ardan sadari bisa memberikan kebahagiaan tersendiri untuk anak-anak.
"Selama ini gue gak pernah kepikiran buat ngambil gambar anak-anak. Mungkin karena gue terlalu sok sibuk dan gak mikirin hal kecil kaya gitu. Tapi gue gak nyangka kalau handphone yang selama ini gue anggap gak terlalu penting ternyata bisa bikin anak-anak seseneng itu."
"Lo mah emang gak kreatif, Dan," sindir Abel.
"Lagian gue emang jarang megang handphone kalau gak penting-penting amat."
"Main game online?" tanya Abel.
Ardan menggeleng. Abel dibuat terperangah sampai tidak sadar sudah menegakkan tubuhnya dan beringsut lebih dekat dengan Ardan.
"Scroll beranda i********: atau Twitter?"
"Gak punya akun sosial media gue."
Abel berseru takjub. Selama ini Ardan pasti sangat ketinggalan zaman. Tidak tahu game online yang digandrungi remaja seusianya, dan tidak saling mengikuti di akun sosial media. Abel tidak bisa membayangkan semembosankan apa hidup seorang Ardan.
"Kalau di kelas gue nih, anak-anak ceweknya selalu tau trend terkini karena media sosial, terus kaum cowoknya selalu ngabisin waktu luang buat main game online. Seru tau, Dan. Lo pasti ketagihan kalau udah gulir-gulir beranda sosial media. Ada aja yang bikin ketawa dan bikin terpana. Terus kalau main game online juga bisa ngilangin rasa bosen. Pokoknya seru deh. Nagih banget," jelas Abel menggebu-gebu.
"Justru itu gue gak mau kenal sosial media atau game online. Kalau udah ketagihan, gue bakal males, nilai gue bakal turun dan gue gak bisa bantuin Bu Dona. Itu nyusahin namanya."
Abel merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan ponsel miliknya kepada Ardan. "Nih, Dan," katanya.
Ardan yang tidak mengerti lantas bertanya, "Buat apa?" Dengan raut bingung.
"Ketik nomor lo di handphone gue, nanti gue simpan terus gue chat lo deh biar lo bisa simpan nomor gue juga. Terus setiap hari gue bisa ngisi hari-hari membosankan elo, Dan. Biar lo gak keliatan ngenes-ngenes amat."
Ardan mendengkus tidak terima disebut cowok ngenes, tapi meski begitu, ia mengambil ponsel Abel dan menuliskan nomornya di sana. Abel menerima ponselnya kembali tak lama kemudian. Menamai nomor yang diketik Ardan dan memberitahunya pada Ardan.
"Kok Abang?" tanya Ardan saat melihat namanya.
"Soalnya anak-anak panti manggil lo Abang."
Ardan menghela napas. "Ya, karena gue abang mereka. Lo 'kan bukan adik gue. Namain Ardan aja," sarannya ditolak mentah-mentah oleh Abel dengan gelengan kepala.
"Gue mau namain itu aja. Emangnya gak boleh gue namain lo Abang?"
"Boleh. Terserah lo."
Ardan memilih mengalah. Terlalu malas berdebat di sore hari yang menyenangkan. Apalagi Abel bukan tipikal orang yang mau mengalah begitu saja jika menurutnya tidak benar.
"Lagian aneh, deh. Kita udah kenal lama, tapi gak punya nomor masing-masing. 'Kan lucu."
"Karena gak penting. Lagian kitanya juga ketemu hampir setiap hari, kecuali hari Minggu."
"Tapi 'kan kalau punya nomor telepon masing-masing jadi enak. Gue bisa hubungin lo kalau ada apa-apa, begitu juga sebaliknya."
Benar juga. Ardan merasa bodoh seketika. Kalau salah satunya ada yang sakit, tentu hanya perlu mengandalkan ponsel agar tidak datang ke taman.
Kenapa Ardan tidak kepikiran selama ini? Apa karena bermain bersama Abel terlalu menyenangkan?
Ardan melihat Abel berdiri. Gadis itu menepuki bagian belakang roknya. Ponselnya diletakkan di saku, kemudian Abel memutar tubuhnya lagi ke arah Ardan. Ia mengulurkan tangan, disambut kebingungan oleh Ardan.
"Apa?"
Namun, Abel hanya menunjuk telapak tangannya menggunakan dagu. Memberi kode pada Ardan agar cowok itu lekas menyambut tangannya. Dan permintaan Abel terkabul. Ardan menyambut uluran tangannya dan ikut berdiri.
"Main sama anak-anak, yuk!"
"Hah?" Ardan melongo. "Ngapain? Gak mau, ah. Lo aja sana. Gue liatin aja dari sini."
"Gak seru dong kalau kaya gitu, Dan. Pokoknya lo harus ikut juga."
Tidak menunggu persetujuan dari Ardan, Abel langsung menarik tangan Ardan mendekati anak-anak yang tengah bermain.
"Anak-anak, gimana kalau kita main petak umpet? Sama Bang Ardan juga. Mau?"
Mungkin karena sangat jarang Ardan bisa bermain bersama mereka, anak-anak berseru kesenangan. Mereka mengangguk mengiyakan. Bahkan beberapa anak-anak yang sedang istirahat di teras panti pun ikut datang dan meramaikan suasana.
"Jadi gak usah pake hompimpa, ya. Menurut kalian siapa yang harus jaga duluan?" tanya Abel.
Anggi yang pertama menggerakkan tangannya dan memberi saran pertama pula. Anak itu menunjuk Ardan yang berdiri di samping Abel. Membuat Ardan melongo. Belum lagi saat semua anak ikut mengangkat tangan dan menunjuknya juga. Setuju dengan saran Anggi.
"Kok Abang?" tanya Ardan.
Fiona terkekeh geli. "Soalnya Abang jarang main sama kita, jadi aku mau Abang yang jaga pertama. Setelah itu Kak Abel, setelah itu Abang, setelah itu Kak Abel lagi deh."
Abel dan Ardan saling pandang. "Terus kalian kapan jaganya?" tanya keduanya bersamaan.
"Karena Kak Abel yang ngajak main, jadi Kak Abel sama Abang yang harus jaga, aku sama anak-anak lain ngumpet aja tugasnya," ujar Fiona. Anak-anak yang lain manggut-manggut setuju.
"Tapi 'kan Abang gak ngajak? Kok Abang harus jaga juga?"
"Emangnya Abang tega biarin Kak Abel jaga terus?"
Skakmat! Ardan kalah hanya dengan satu kalimat.
Hal itu tentu membuat Abel tergelak. Ia baru sadar kalau anak-anak panti memang secerdas itu. Pastilah karena Ardan yang mengajari mereka.
"Oke, kita mulai sekarang," kata Abel. Ia dan anak-anak yang lain mendorong Ardan ke arah pohon mangga yang tadi dipakai oleh Ardan untuk berteduh. Begitu sampai, mereka meminta Ardan agar menghadapkan tubuhnya ke pohon mangga agar tidak bisa melihat bagian belakang tubuhnya.
"Abang, gak boleh ngintip, ya. Kalau ngintip nanti Abang dosa." Dwi memberitahu.
"Iya, Abang gak akan ngintip. Abang bakal hitung sampai sepuluh dan kalian harus ngumpet. Setelah hitungan ke sepuluh, Abang bakal buka mata. Kalau ada dari kalian yang gak sempet ngumpet, itu artinya kalian kalah dan harus jaga selanjutnya."
"Yah, kok gitu?" keluh anak-anak."
"Ya udah, kalau gak mau Abang mendingan gak ikut aja."
"Eh, jangan dong, Bang!" seru anak-anak serempak.
Abel dibuat tergelak melihat tingkah Ardan dan anak-anak. Benar-benar lucu sekali di matanya. Ia merasa sangat terhibur setiap kali datang ke panti asuhan karena disuguhi sikap menggemaskan mereka.
"Satu!" Ardan mulai menghitung dengan suara keras. Matanya ditutup dengan kedua tangan. Tubuhnya menghadap ke pohon mangga.
Anak-anak terkejut dan berlarian ke sana ke mari. Tidak menyangka bahwa Ardan akan langsung menghitung tanpa memberitahu. Begitu juga Abel yang ikut berlari, ia kaget bukan kepalang karena belum mempersiapkan lokasi persembunyian. Suara langkah kaki mereka tidak terdengar jelas karena yang dipijak mereka adalah tanah berlapiskan rerumputan hijau.
"Dua!"
Ardan kembali menghitung. Sengaja hitungannya dibuat lambat agar anak-anak bisa bersembunyi semuanya. Bertolak belakang dengan perkataannya sebelum memulai permainan.
"Tiga!"
Anggi kelabakan saat berusaha mencari tempat persembunyian. Ia melihat sofa di teras panti. Buru-buru ia ke sana. Berniat untuk bersembunyi di balik sofa, tapi rupanya seseorang sudah lebih dulu berjongkok di balik sofa. Anak perempuan yang bersembunyi di sana mengusir Anggi dengan tangannya tanpa mengeluarkan suara apa pun. Alhasil Anggi kembali berlari.
"Empat!"
Fiona menatap sekelilingnya. Mencari-cari tempat yang sekiranya tidak akan disadari oleh Ardan sebagai tempat persembunyian. Matanya menangkap sesuatu di dekat pot bunga. Buru-buru ia berlari ke arah drum besar yang dijadikan tempat sampah oleh Bu Dona. Fiona langsung bersembunyi di baliknya.
"Lima!"
Kini Gilang yang kebingungan mencari tempat bersembunyi. Di balik sofa sudah ada seseorang, begitu pula di balik tong sampah, bahkan di samping panti yang dipenuhi jemuran pun sudah ada tiga orang yang memanfaatkan hal itu. Tidak ingin ambil pusing, Gilang berlari ke dalam. Bersembunyi di balik pintu panti yang terbuka.
"Enam!"
Ardan kembali berteriak. Memaksa Abel berpikir lebih keras lagi. Semua anak sudah tidak terlihat lagi. Ia kehabisan tempat untuk bersembunyi. Di samping panti ada beberapa pohon besar, di sana sudah ada beberapa anak yang bersembunyi.
"Tujuh!"
Abel kelabakan. Ia pusing bukan main saat kepalanya dipaksa berputar ke sana ke mari.
"Delapan!"
Kehabisan waktu, Abel melihat Ardan. Berniat untuk menyerah saja, tapi sebuah ide muncul di kepalanya. Ia justru bergerak mendekati Ardan dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin agar Ardan tidak mendengar.
"Sembilan!"
Bersamaan dengan hitungan Ardan yang kesembilan, Abel bergerak cepat melewati tubuh Ardan dan bersembah yang di balik pohon mangga di sisi lain. Berharap saja Ardan tidak menyadarinya dan mencari anak-anak yang lain.
"Sepuluh!"
Ardan membuka mata. Di sisi lain pohon, Abel menutup mata berharap bahwa Ardan tidak akan menemukannya. Tapi...
"DOR!"
Ardan muncul begitu saja dan membuat Abel bahkan sampai terjatuh ke samping. Ia terkejut melihat wajah Ardan yang muncul di sampingnya. Dan cowok itu justru tergelak. Menikmati aksi jahilnya.
"Lo kira gue gak tau lo ngelangkah tepat di samping gue?" tanya Ardan menggeleng. Ia kembali ke posisi awal. Disusul Abel dengan wajah cemberut.
Mata Ardan memperhatikan sekeliling panti dengan teliti. Ia melihat bayangan seseorang di jendela yang berada tepat di dekat pintu. Dari bajunya, ia langsung tahu itu siapa. Matanya juga menangkap sesuatu yang menyembul dari atas sofa. Anak yang bersembunyi di sana pasti sangat pegal sehingga tidak sadar mendongakkan kepalanya.
Di balik tong sampah, karena sinar matahari masih ada, bayangan seseorang terlihat jelas di memanjang ke samping. Menunjukkan bahwa ada seseorang yang bersembunyi. Di samping panti, karena ada jemuran, anak-anak bisa langsung memanfaatkan hal itu sekaligus tembok yang menutupi mereka. Meski tidak terlihat, Ardan yakin pasti ada yang bersembunyi di sana. Lalu di pepohonan yang ada di samping kiri panti, siapa pun bisa memanfaatkan hal itu.
"Lo tau anak-anak di mana?" tanya Abel.
"Yang sembunyi di balik tong sampah, yang jongkok di samping sofa, yang diri di belakang pintu, di dekat jemuran dan di samping pohon rambutan, kalian semua boleh keluar, Abang bisa liat kalian dengan jelas."
Dan, waw. Meski Ardan hanya melihat tiga orang yang bersembunyi dengan jelas, anak-anak langsung keluar begitu saja. Percaya dengan kebohongan Ardan. Sontak saja hal itu membuat Ardan tergelak. Terlebih melihat wajah mereka yang amat kesal, seolah tidak terima bahwa dirinya sejenius itu.
"Oke, sekarang Kak Abel yang jaga," kata Ardan setelah anak-anak berkumpul.
Seperti perkataan Abel, ia merasakan keseruan saat bermain dengan anak-anak. Hari itu, sampai matahari hampir berpulang ke peraduannya, yang mereka lakukan hanya bermain petak umpet. Bersembunyi di tempat yang sama, ada juga yang berpindah ke lain tempat. Mereka memutuskan untuk bergantian berjaga. Memberikan kesempatan pada Ardan untuk bersembunyi.
Dan, ya. Ardan menikmatinya.