Rasanya seperti melihat sebuah keluarga yang amat harmonis saat Ardan membawakan dua kantung belanjaannya. Abel melihat bagaimana bahagianya anak-anak panti karena kedatangan Ardan yang membawakan mereka sesuatu. Mereka yang awalnya sedang berpencar langsung mengerumuni Ardan.
Ardan meminta mereka membentuk barisan rapi, dan seolah tidak ingin namanya dicoret dari daftar pembagian, anak-anak langsung menurut dan berbaris di depan Ardan. Ardan memberikan masing-masing anak satu buah es krim dan satu s**u kotak. Yang diterima anak-anak dengan senyum semringah.
"Abisin dulu yang itu." Ardan mengangkat sisa camilan yang ada di salah satu kantung, "yang ini kalian makannya harus sama-sama. Harus berbagi. Oke?" tanyanya kemudian.
Anak-anak mengangguk setuju. Mereka duduk di rerumputan dan mulai menyantap es krim tersebut. Sedangkan Ardan datang menghampiri Abel yang masih berdiri di belakangnya.
Teringat sesuatu, bola mata Abel membesar. "Astaga, gue lupa beliin sesuatu buat Bu Dona," katanya panik.
Ardan hanya terkekeh. Berkata bahwa Abel tidak perlu memikirkan hal itu. Bu Dona tidak akan marah apalagi merengek kalaupun tidak dibelikan apa pun.
Keduanya terdiam, sama-sama menikmati pemandangan di depan mereka. Ardan sangat senang melihat adik-adiknya tertawa lebar karena semua pemberian Abel. Mereka semua nampak sangat bahagia diberikan jajanan kecil seperti es krim dan s**u kotak. Maklum saja, ia sangat jarang membelikan mereka makanan seperti itu. Selain karena belum bisa mencari uang, berhemat sangat diperlukan dalam panti asuhan.
Tidak jauh beda dengan Ardan, Abel pun merasa senang melihat anak-anak. Ia tidak menyangka bahwa hal kecil yang bisa ia beli dengan mudah, hampir ia dapatkan setiap hari, akan membuat anak-anak panti terlihat sangat senang. Mereka seolah menemukan sesuatu yang amat diinginkan, sehingga menggambarkan ekspresi yang begitu terang.
Mereka diberikan hal kecil, dan terlihat sangat bersyukur. Abel malu melihat hal itu. Ia tidak menyangka bahwa selama ini hidupnya dipenuhi banyak keberuntungan yang tidak bisa anak-anak panti dapatkan. Hanya saja, keberuntungan itu tidak pernah ia pedulikan.
Salah satu anak mendekati mereka, satu persatu anak-anak yang lain datang menyusul. Mereka semua memeluk Ardan. Menggeser Abel menjauh. Hal itu membuat Abel tersentuh. Ia buru-buru membuka tas dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di sana. Memotret momen penting itu dalam satu jepretan. Dan Ardan tidak melihatnya.
"Makasih, Abang. Karena udah jajanin kita semua," kata salah satu anak.
Ardan mengusap kepala anak itu. Ia berkata, "Bilang makasihnya jangan sama Kakak, tapi sama Kak Abel. Soalnya Kak Abel yang beliin ini semua." Sambil menoleh ke arah Abel yang sedang memegang ponsel. Gadis itu tersenyum canggung.
Anak-anak langsung melepaskan Ardan, beralih berbondong-bondong untuk memeluk Abel. Kejadian itu berhasil membuat Abel dan Ardan tertawa. Mereka semua terlihat lucu sekali. Mereka tahu cara berterimakasih kepada orang lain dengan cara menggemaskan. Sama halnya yang dilakukan mereka pada Ardan, ucapan terima kasih segera memenuhi telinga Abel.
Mungkin Bu Dona mengajarkan sejak dini bahwa berterima kasih itu amat penting. Sifat yang jarang ditemui di anak-anak kecil jaman sekarang. Biasanya anak-anak sekarang hanya tahu gadget dan semacamnya. Mereka kerap pura-pura tuli hanya untuk meneruskan bermain game. Itu adalah pemberian dari orang tua yang membuat anak kehilangan masa-masa penting mereka.
Namun, di panti, anak-anak tidak diberi ponsel. Jangankan barang mewah seperti itu, televisi di sana bahkan terlihat sangat usang. Tapi baiknya, anak-anak bisa menghabiskan waktu mereka dengan bermain secara sehat. Tidak berlebihan. Mereka menghabiskan waktu untuk belajar banyak hal sejak dini. Dan itu amat berarti untuk bekal mereka tumbuh.
"Kak Abel beli itu buat hadiah karena kalian udah jadi anak baik," kata Abel.
Anak-anak melepaskan pelukan. Beralih menatap Abel.
"Kapan-kapan Kakak beliin lagi, ya?"
Sontak saja mata-mata itu memperlihatkan binar mereka. Abel berhasil memberikan mereka harapan untuk hari esok. Menanti sesuatu yang dijanjikan.
"Terima kasih, Kak Abel," sahut mereka serempak.
Abel hanya mengangguk sambil terkekeh. Ardan mendekati mereka. Menyerahkan sisa camilan pada salah satu anak setelah sebelumnya mengambil cokelat milik Ardan.
"Jangan lupa, makannya gak boleh rebutan," kata Ardan.
"Oke, Kak."
"Eh, gimana kalau kita kasih Bu Dona satu."
"Boleh."
"Yuk-yuk!"
Secepat itu, dan anak-anak langsung pergi dari hadapan Abel dan Ardan. Membawa kantung belanjaan dengan wajah girang.
Jika biasanya Abel merasa bosan saat ibunya lagi-lagi memberi uang saku padahal sisa uang sebelumnya masih ada, sekarang Abel tahu bahwa mulai hari ini ia akan sangat senang jika ibunya memberi uang lebih. Uang yang selama ini ia pakai untuk mulutnya sendiri, kini akan ia sisihkan untuk berbagi.
Tidak setiap hari, tidak juga memberikan makanan yang lebih mahal, tapi setidaknya anak-anak bisa menikmati hari mereka seperti anak kebanyakan yang bahkan setiap hari bisa jajan tanpa harus mencemaskan tentang uang.
"Lucu banget ngeliat anak-anak di sini. Gue seneng bisa ngasih sesuatu buat mereka," kata Abel.
"Mereka juga pasti seneng dikasih banyak makanan sama lo. Tapi tadi lo sempet ngasih harapan sama mereka, padahal itu bisa bikin lo dipintain jajanan terus tiap kali datang. Nanti anak-anak bakal nganggep itu kebiasaan."
Ardan mulai berceramah lagi. Abel mengembuskan napas lelah dan memilih duduk berselonjor di rerumputan. Menikmati pemandangan indah di depannya. Di mana ada sebuah rumah sederhana dengan kebahagiaan yang memenuhi isi rumah tersebut.
"Gak usah berlebihan, Dan." Abel mendongak untuk melihat Ardan, "gue gak masalah kalau mereka jadi bergantung sama gue. Seenggaknya itu bikin gue merasa bisa diandalkan. Selama gue masih hidup, gue bisa beliin mereka jajanan terus."
"Gak usah bawa-bawa kalimat seolah lo tau kapan lo bakal mati! Hidup lo itu masih panjang, jadi gk usah ngomong kata-kata yang isinya 'selama gue masih hidup' gue bisa blablabla. Itu gak baik tau!" sungut Ardan. Ia memilih ikut duduk di samping Abel. Karena sudah sore, keduanya tidak perlu memikirkan panas matahari yang menyengat kulit mereka.
Ardan menyerahkan cokelat milik Abel. Menaruhnya tepat di samping Abel. Gadis itu tidak meliriknya sama sekali, tatapannya justru terarah pada Ardan.
"Gue tuh heran sama lo, lo tuh kalau lagi ngomong kadang tiba-tiba ngegas, kadang tenang banget, kadang juga dewasa banget. Apa gak bisa lo ngimbangin otak gue yang gak seberapa ini?"
"Emangnya siapa yang bikin gue ngomong gini?" Ardan balik bertanya.
Abel menunjuk dirinya sendiri tanpa tahu malu. "Gue sih. Tapi 'kan harusnya lo gak perlu jawab sesuai kapasitas otak lo. Kadang gue emang dapet pembelajaran, tapi nyernanya itu susah banget, Dan."
Tidak tahan, Ardan akhirnya meledakkan tawa. Abek itu memang polos sekali. Mulutnya selalu berbicara tanpa pikir panjang. Membuat kejujuran jebol tanpa saringan.
"Lo tuh di sekolah jadi Ratu blak-blakan, ya?" tanya Ardan tidak habis pikir.
Tolong, siapa pun harus tahu bahwa Abel sangat lucu sekali. Bahkan Ardan bisa tertawa hanya dengan melihat wajah Abel saja.
"Bukan, Dan. Gue tuh gak pernah dipanggil Ratu, soalnya gue keliatan kaya cowok. Jadi, gak sedikit temen-temen gue yang manggil gue perjaka."
Tawa Ardan pecah lagi. Ia bahkan sampai memegangi perutnya karena terlalu terbawa suasana. Sudut matanya sampai berair karena tawanya berlebihan. Dan itu semua karena gadis polos yang sedang duduk di sampingnya. Entah bagaimana Abel bisa mengatakan hal barusan dengan raut sesantai itu? Ardan tidak tahu jurus seperti apa yang sebenarnya Abel pakai.
"Udah-udah, ngomong sama lo emang gak akan ada habisnya. Cape gue ketawa mulu."
"Sejak awal gue tau selera humor lo emang sereceh itu, Dan. Santai, gue gak akan ngejek lo."
"Jangan salahin gue, mulut lo aja yang kalau ngomong gak pernah disaring."
"Jadi sekarang lo nyalahin gue?" tanya Abel mengerjap.
Ardan mengangguk mantap. "Iya," katanya singkat.
Baru saja Abel akan buka mulut saat seseorang memanggil namanya dan Ardan secara bergantian. Di depan panti, Fiona terlihat berdiri sendirian.
"Kak Ardan, Kak Abel. Kalian mau ikut makan camilannya, gak?" tanya Fiona berteriak.
Abel dan Ardan saling pandang. Abel menggeleng. Dan Ardan menyuarakan gelengan itu.
"Gak usah, Abang sama Kak Abel gak mau. Buat kalian aja, ya."
Fiona terlihat mengangguk sebentar. Setelahnya gadis itu memutar tubuhnya dan kembali ke dalam. Mungkin melanjutkan kegiatannya bersama anak-anak lain menikmati camilan.
"Gue tuh biasanya tiap malem keluar sama Asep. Gak setiap malem, sih. Kadang seminggu bisa empat sampe lima kali. Pokoknya sering. Kita makan-makan, nyari camilan, dan kadang cuma mampir ke minimarket. Makan es krim berdua terus makan camilan juga. Kadang gue sampe bosen sendiri soalnya itu gue lakuin dari kelas satu SMA. Tapi gak nyangka aja kalau anak-anak di sini bisa seseneng itu dapet jajanan yang gue beli di minimarket. Hal yang ngebosenin buat gue ternyata bisa menghadirkan tawa buat mereka."
"Itulah kenapa ada orang yang bilang kalau sesuatu yang biasa menurut kita, bisa sangat bermanfaat buat orang lain."
"Mode bijak Ardan dimulai," sindir Abel.
Ardan mendengkus halus. Dasar Abel.
"Lagian kenapa lo selalu makan di luar sama Asep? Ibu lo gak masak?" tanya Ardan akhirnya.
Abel mengendikkan bahunya acuh. "Gak tau, bosen aja makan di rumah. Makan sama Asep di pinggir jalan itu lebih kerasa nikmat aja buat gue. Nyokap gue emang gak masak, soalnya yang masak pembantu rumah tangga. Lauk-pauknya macem-macem, dan itu yang bikin gue bosen," jelasnya.
Dari wajahnya saja Abel sudah menjelaskan semuanya. Gadis itu bukannya bosan makanan rumah, justru sangat merindukannya, tapi ia seolah tidak bisa mendapatkan itu sehingga mencari tempat makan lain bersama Asep.
Sejak lama Ardan bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana keluarga Abel? Apa tidak menyenangkan sampai Abel beberapa kali terlihat seperti anak terlantar?
"Kalau gue lahir di keluarga yang lebih baik, mungkin gue bisa lebih bersyukur kaya lo."
Ardan menatap Abel. Seperti ini contohnya. Abel yang sekarang terlihat bahwa dirinya sangat tidak nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Bukannya Ardan tidak peduli, hanya saja itu kehidupan Abel. Bertanya pun Abel kerap mengalihkan pembicaraan,
"Kalau gitu biar gue balik. Kalau gue lahir di keluarga yang lebih beruntung, mungkin gue gak akan berakhir di panti asuhan. Mungkin gue bisa kaya lo. Tapi gue gak mau hal itu." Ardan menggeleng pelan, "merasa beruntung atau enggak. Lebih bersyukur atau mendominasi keluhan pas jalanin hidup, bahagia atau enggak. Itu cuma kita yang bisa rasain. Orang lain cuma ngambil sedikit peran, selebihnya kita yang nentuin."
Itulah sebabnya Ardan mengambil keputusan lain. Membawakan tema yang serupa dengan arah pembicaraan Abel, tapi mengubahnya sesuai dengan pendapat pribadinya
Rasanya baru beberapa menit lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak, lalu sekarang pembicaraan mereka berubah serius. Selalu begitu. Hampir setiap hari.
"Mungkin gue kali, ya, yang kurang bersyukur?" tanya Abel akhirnya. Merasa kalah dari pendapat Ardan.
"Itu paham. Gak usah mikir mau ada di posisi orang lain, atau bisa terlahir lagi buat ngubah apa yang sekarang lo jalanin. Jangan mikir terlalu jauh kaya gitu, cukup pikirin aja kehidupan lo yang sekarang, gimana caranya supaya lo bisa bahagia tanpa harus mikir hal yang tadi. Karena itu gak perlu."
"Makasih," kata Abel.
Ardan menaikkan sebelah alisnya bingung. "Buat apa?"
"Karena selalu bisa ngubah pandangan gue tentang sesuatu, karena selalu bisa nyadarin gue kalau apa yang gue pikirin salah."
"Udah gue bilang jangan pernah bilang makasih, karena gue gak pernah ngasih lo apa pun. Paham?"
Abel mengangguk sambil tersenyum. Ia mengambil cokelat yang sempat diabaikannya. Membuka bungkus luarnya. Suasana sore kala itu terasa nyaman. Mungkin karena langit tengah sangat bersahabat, atau karena Ardan ada di sampingnya.
Abel tidak tahu mana yang benar. Mungkin keduanya, mungkin juga alasan kedua menjadi yang lebih mendominasi.
Mulai membuka bungkus kedua, Abel merubah posisinya menjadi bersila. Tepat di hadapan Ardan. Ia memberikan Ardan potongan cokelat pertama, memaksa cowok itu buka mulut saat tangannya berada di depan mulutnya. Tidak ingin menambah perdebatan, Ardan memilih membuka mulut dan menggigit cokelat yang Abel sodorkan. Sedangkan sisanya langsung Abel masukkan ke dalam mulutnya.
Keduanya menghabiskan sore sambil menikmati cokelat milik Abel. Sampai Ardan mual dan tidak kuat lagi menerima sodoran cokelat dari Abel. Membuat Abel tergelak. Karena yang Ardan makan bahkan baru empat potong dan itupun berdua dengannya.