22 - Hari Berbelanja

2167 Words
"Dan, Ardan," panggil Abel. Yang dipanggil menoleh ke arahnya. Dengan wajah yang terlihat menggemaskan di mata Abel. Ardan sedang menjilati es krim dengan wajah seolah bertanya, apa? "Dan, kita makan es krim mulu nih setiap hari, kadang gue mikir, kayanya seru bawain anak-anak panti es krim juga." Sudah satu Minggu semenjak Abel datang ke panti pertama kali. Sudah dua kali pula ia datang ke sana tanpa membawa apa-apa. Hanya menemani anak-anak panti bermain dan pulang setelah makan malam di sana. Sebenarnya Abel sudah memikirkannya, ia ingin membawakan sesuatu untuk anak panti, tapi karena mereka banyak, ia tidak tahu harus membeli apa agar mereka semua tidak berebut. Kalau membelikan mainan serupa, mereka akan bosan, tapi kalau membeli jenis yang berbeda, bukan tidak mungkin mereka akan berebut memilih yang lebih bagus. Setiap kali membeli es krim bersama Ardan di taman, Abel kerap berpikir, apa harus ia membelikan es krim untuk anak-anak panti? Tapi ia ragu, takut anak-anak panti sudah bosan karena Ardan katanya kerap membelikan. "Gak usah, anak-anak seminggu sekali gue beliin es krim," kata Ardan. Tuh, 'kan. Abel merengut sebal. "Tapi 'kan kita makannya setiap hari, Dan. Anak-anak pasti seneng juga kalau gue beliin es krim." "Gak usah, uangnya tabung aja buat kebutuhan yang lain." "Jalan-jalan lagi misalnya? Waktu itu 'kan kita ke Jakarta, gimana kalau lain kali kita ke Bandung?" Ardan melahap es krimnya bulat-bulat, sehingga yang tersisa hanya lelehan es krim di stik kecil yang dipegangnya. Ia menatap Abel datar. Geram karena Abel selalu berbicara tanpa pikir panjang. Menghamburkan uang memang sangat mudah. Satu dua jam, satu dua hari, uang jutaan bisa langsung lenyap, tapi mencarinya yang susah. "Lagian elo bahasnya tabungan mulu. Masih pelajar mah gak usah repot-repot mikirin tabungan masa depan. Mama papa gue selalu ngasih kalau gue minta uang." Abel m******t es krimnya. Bicaranya enteng sekali. Andainya Abel kehilangan barang penting miliknya, seperti ponsel, Ardan yakin gadis itu akan menjawab bahwa itu bukanlah masalah besar karena orang tuanya akan membelikannya lagi dalam sekejap. Padahal bukan itu masalahnya. Jika kita kehilangan ponsel, bukan tentang ponselnya yang terlalu penting, tapi isi di dalamnya. Entah file-file yang dibutuhkan, kontak teman yang hanya ada di sana, atau info penting lainnya. "Bukan masalah tabungan masa depan, lagian gue gak bilang tentu itu. Terlalu jauh. Tapi 'kan yang namanya pelajar pasti banyak kebutuhannya. Bisa jadi di lain waktu uang lo bisa dipake buat sesuatu di sekolah. Entah bantu temen lo yang kesusahan, atau beli sesuatu yang diperluin buat tugas." Hal sekecil itu saja selalu Abel abaikan. Ardan tidak habis pikir entah bagaimana Abel menghadapi hal besar lainnya dalam hidup. "Lagian lo tuh jadi orang jangan terlalu baik," sambung Ardan. "Bukannya gue ngelarang lo buat berbuat baik, tapi asal lo tau, di dunia ini isinya bukan orang baik semua. Ada yang licik, pikirannya liar, pemarah, penipu, dan sebagainya. Kalau lo selalu kaya gini ke setiap orang yang lo kenal, lo pasti gampang dimanfaatin dan ditipu." Abel ingat. Kalau tidak salah Asep pun pernah mengatakan hal serupa. Bahwa ia tidak boleh terlalu baik pada orang lain. Namun, Abel beranggapan bahwa memilih-milih apa yang ingin kita lakukan untuk membantu orang bukanlah sesuatu yang salah. Mereka yang pemilih, mereka yang menentukan terlebih dahulu kepada siapa mereka ingin berbuat baik, Abel tidak yakin bahwa mereka yang seperti itu bisa dianggap orang baik. "Tapi gue 'kan udah gede. Gue tau mana yang baik mana yang buruk. Yang salah tuh elo, masa orang mau sedekah dilarang-larang? 'Kan aneh." Namun, sepenuhnya Abel yakin bahwa Ardan berkata seperti itu karena ingin yang terbaik untuknya. Meskipun pada akhirnya Ardan harus mengalah karena ia memang terlalu keras kepala. "Udah, deh, yang penting lo bantu gue aja, Dan. Gue mau beliin mereka jajanan. Yuk kita ke minimarket." "Gue bilang gak usah, berarti gak usah! Anak-anak bakal manja kalau lo jajanin terus. Nanti mereka malah minta lagi dan lagi." "Gak pa-pa, Dan. Uang saku gue banyak, kok." Innalilahi. Balik lagi ke situ. Ardan mengembuskan napas lelah. Bosan menghadapi Abel yang tidak akan mengerti dalam satu kali pemberitahuan saja. "Justru karena banyak harusnya lo gak bisa seenaknya buang-buang uang itu." "Gini ya, Dan." Abel menepuk bahu Ardan, sisa es krimnya yang hampir mencair langsung dilahap sampai habis dan ia menyerahkan stik es krimnya pada Ardan. Ardan menyatukannya dengan stik es krim miliknya. Membuangnya sebentar kemudian kembali duduk. "Gini, ya, Dan. Punya duit itu jangan cuma ditabung, seneng-seneng itu perlu, Dan. Dan kalau lo gak mau seneng-seneng sama gue ke Bandung, harusnya gak masalah dong kalau uangnya gue pake buat jajanin anak-anak panti? Lagian uang gak bakal dibawa mati." Memilih mengalah, alhasil Ardan hanya mendengkus halus. "Terserah lo aja, deh. Bosen gue bilangin lo, tapi gak pernah didengerin." Abel semringah. Ia bangkit dari kursi dan segera menarik Ardan agar ikut bangun. Mereka segera meninggalkan kursi yang biasa mereka duduki dan berjalan menuju trotoar jalan. "Minimarket terdekat dari sini di mana, ya?" tanya Abel. Ardan menunjuk arah kiri jalan raya. "Sekitar dua kilometer dari sini," sahutnya membuat Abel manggut-manggut. Sebuah taksi terlihat di kejauhan. Abel mengangkat tangan berniat menghentikan taksi itu, tapi Ardan buru-buru menurunkan tangannya. "Kita naik angkot aja," kata Ardan. Abel menoleh ke arahnya. Menarik tangannya. "Oke," sahutnya nyengir lebar. Karena hari bisa dibilang masih Belum terlalu sore, susah sekali menemukan angkot. Lain halnya jika pagi hari atau pukul lima sore. Angkot akan hilir mudik menjemput para pekerja pabrik. "Anak-anak suka gak kalau gue beliin mereka cokelat?" tanya Abel. "Enggak. Cokelat bikin gigi mereka rusak." "Permen?" Abel bertanya lagi. Membuat Ardan memutar mata. "Apa bedanya permen sama cokelat?" "Beda, dong." "Tapi sama-sama gak bagus buat kesehatan gigi." "Ya udah, gue beliin mereka semua cokelat sama permen, terus sekalian gue beliin pasta gigi yang bagus supaya gigi mereka tetep sehat." Ardan mendengkus sambil mendelik tajam. Sebuah angkot mendekat setelah keduanya menunggu sekitar sepuluh menit. Ardan mempersilakan Abel masuk lebih dulu, dan ia menyusul. Duduk di dekat pintu angkot. Hanya ada beberapa penumpang di dalamnya. Seorang pria paruh baya yang mengenakan kacamata, perempuan berjilbab, dan gadis SMA. Selebihnya Abel dan Ardan yang mengisi kekosongan kursi. Persis seperti perkataan Ardan, karena lokasi minimarket yang tidak sampai dua kilometer, tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di depan minimarket. Ardan yang pertama turun dan membayar ongkos. Selepas itu, keduanya langsung berjalan ke arah minimarket. Beberapa sepeda motor terparkir di halaman depan minimarket. Begitu melewati pintu, dua pegawai yang mengenakan seragam berwarna biru menyambut mereka. Abel berjalan ke arah lorong yang dipenuhi makanan ringan. Di belakangnya Ardan hanya mengekor saja. Dari banyaknya makanan ringan yang berada di sana, Abel memilih beberapa bungkus keripik kentang berukuran besar, juga beberapa bungkus makanan manis yang juga berukuran besar. "Ini mau lo beli semua buat anak panti?" tanya Ardan saat Abel menyerahkan seluruh makanan yang diambilnya padanya. "Iya, biar anak-anak seneng. Sekali-kali 'kan gak masalah mereka banyak ngemil." "Tapi kalau sebanyak ini jadinya elo yang bermasalah, Bel." "Santai aja kenapa, sih, Dan." Meski diminta begitu, kenyataannya Ardan tidak bisa tenang. Ia merasa tidak enak pada Abel. Selama ini Abel terlalu berlebihan dalam bersikap dengannya yang bisa dibilang masih asing. Gadis itu selalu bertindak semaunya, tanpa mengantisipasi akibat dari perbuatannya. Sebagai laki-laki, tentu Ardan merasa malu. Abel banyak melakukan, memberikan apa yang tidak bisa ia beri. "Ya udah, nanti pas bayar uangnya patungan aja," ujar Ardan akhirnya. Memilih opsi terbaik yang ada di benaknya. Kepala Abel sontak bergerak ke samping. Menatap Ardan yang berdiri di sana. Sama halnya dengan Ardan yang selalu tidak enakan, Abel sangat bosan dengan sikap Ardan yang satu itu. Memang bagus sih, itu tandanya Ardan menjaga harga dirinya sebagai laki-laki. Tapi tetap saja yang namanya bersedekah tidak bisa patungan, 'kan? Kalaupun bisa, Abel tidak mau melakukannya. "Gini ya, Dan. Kita bukannya lagi mau beli peralatan kelas yang harus pake acara patungan-patungan segala. Uang gue ada, kok. Bukannya sombong, tapi emang kadang gue bingung aja gimana ngabisinnya. Daripada gue makan sendiri, mendingan sebagian gue beliin makanan buat anak-anak panti, 'kan?" "Iya, tapi 'kan—" "Gak usah kebanyakan tapi-tapi, Dan, bosen gue dengernya. Lagian ini bukan buat lo, kok. Jadi gak usah ngerasa gak enak segala. Lo mah kalau mau beli, beli aja sendiri. Gue beliin semua ini buat anak-anak panti." "Tapi mereka adik-adik gue." Abel manggut-manggut paham. "Iya, Dan, tau. Gak bakal gue ambil juga. Tenang aja. Intinya lo diem aja sekarang, udah gitu doang." Ardan kehabisan kata-kata untuk melawan Abel. Ia hanya mengikuti gadis itu. Berjalan ke arah lorong minuman, dan mengambil beberapa s**u kotak dengan mereka rasa yang sama. Jumlahnya persis seperti jumlah adik-adik Ardan. Tujuannya agar mereka tidak berebut jika ada sisanya, dan tidak perlu bertengkar jika rasa yang dipilih berbeda-beda. Setelah itu Abel berjalan menuju tempat es krim. Tangannya yang sudah penuh dengan s**u kotak membuatnya menoleh ke arah Ardan. Cowok itu pun ternyata sama repotnya. Buru-buru Abel berjalan ke arah tumpukan keranjang yang disusun rapi dan memasukan s**u kotaknya ke sana. Ia kemudian berjalan lagi ke arah Ardan dan meminta agar Ardan memasukkan barang-barang yang dibawanya ke dalam keranjang. Kerepotan itu berakhir sudah. Abel merasa bodoh karena tidak menyadarinya sejak tadi. Ia kembali melanjutkan kegiatan belanjanya. Kali ini memborong es krim yang lagi-lagi sama persis dengan jumlah anak-anak panti. Merasa sudah cukup, Abel membawa belanjaannya menuju kasir. Keranjang yang ditentengnya penuh. Dan Ardan hanya bisa mengembuskan napas melihat itu. Di depan kasir, Abel menurunkan semua belanjaannya. Membiarkan kasir perempuan yang berjaga mulai menghitung. "Dan, lo mau beli sesuatu, gak? Biar gue traktir." Ardan menggeleng. "Ya udah." Abel mengambil dua buah cokelat berukuran besar yang biasa ditata di bagian depan kasir. Menaruhnya di meja kasir. Ardan yang melihat itu bertanya, "Buat apa beli dua segala? Yang ukurannya sebesar itu pula? Gigi lo bisa rusak pas cokelatnya abis." "Satu buat gue, satu buat lo," sahut Abel lempeng. "Gue gak mau. Kalau mau beli, beli aja satu buat lo." "Tapi gue mau beliin lo." "Tapi gue gak mau." "Ardan!" teriak Abel. Suara Abel yang keras membuat Ardan melotot. Ia menyapu pandang, melihat orang-orang memandang Abel aneh. Termasuk kasir yang ada di seberang meja kasir. "Lelah gue ngadepin lo, Bel. Ya udah, ambil cokelatnya yang kecil aja, yang itu terlalu besar." Abel yang merasa menang tersenyum lebar. Ia mengangguk, tapi tidak menuruti perintah Ardan. Ia meletakkan kembali satu cokelat yang sudah diambilnya, dan membiarkan satu cokelat lainnya tetap berada di meja. "Kita bagi dua aja biar romantis. Biar ada manis-manisnya gitu." "Lo lagi meragain iklan?" tanya Ardan jengkel. Abel menghentakkan kakinya kesal. "Bukan gitu, Dan. Lo mah gak kaya Asep, ah. Gak asik." "Ya udah, kenapa gak lo ajak si Asep aja? Pacarin tuh sekalian. Lo kayanya klop banget sama dia." "Gemes gue sama lo, dikantongin mau, gak?" Tidak bisa menutupi kegemasannya, kasir yang berjaga menggeleng sambil terkekeh pelan. Ia yang hampir selesai menghitung belanjaan mengambil cokelat yang Abel pilih dan turut menghitungnya. "Ada lagi yang mau dibeli?" tanya kasir itu. "Enggak, Mbak. Itu aja." Namun, kasir itu tidak berhenti. Ia justru menawarkan produk-produk yang sedang promo. Memang sih itu pekerjaannya, tapi Abel bosan mendengar hal itu setiap kali sedang belanja. Alhasil ia menggeleng sambil tersenyum. "Mbaknya bawa kantung belanjaan sendiri atau mau sekalian beli?" "Beli dong, Mbak. Saya gak serajin itu sampe bawa-bawa kantung pas mau belanja. Ribet." Kasir itu mengangguk dan memasukkan semua belanjaan Abel ke dalam dua kantung berwarna hijau. "Semuanya jadi tiga ratus empat puluh dua ribu lima ratus," katanya. Abel merogoh saku kemeja. Mengambil uangnya yang tersisa dua ratus tiga puluh ribu. Ia kemudian memasukkan kembali pecahan dua puluh ribuannya ke dakam saku dan beralih melepaskan tas punggungnya. Ia membuka resleting tas dan mengambil dompetnya. Saat dibuka, uang yang ada di sana membuat Ardan mendengkus. Bukan karena banyaknya, tapi karena Abel memasukkan uang itu secara asal sehingga pecahan uang seratus ribuan yang memenuhi dompetnya terlihat sangat berantakan. Abel mengambil dua lembar dari sana. Menyatukannya dengan uang yang ia ambil di saku kemudian memberikannya kepada kasir. Tak lama, kasir itu memberikan kembalian dan struk pembayaran. Abel mengambil barang belanjaannya dari meja kasir dan keluar dari sana bersama Ardan. Di luar minimarket, Ardan meminta Abel berhenti sebentar. Ardan meminta agar Abel menyerahkan dompetnya, dan karena tas Abel belum ditutup, Abel hanya menurut. "Semudah itu lo ngasih dompet lo ke orang lain?" tanya Ardan. "Ya, karena orangnya elo. Gak masalah jadinya." Ardan hanya menggeleng pelan. Ia membuka dompet Abel dan mengeluarkan semua uang Abel dari sana. Uang-uang itu Ardan rapikan dengan benar sehingga menjadi susunan yang terlihat rapi. Setelahnya, Ardan kembali memasukkannya ke dalam dompet Abel. Tidak hanya itu, ia juga memasukkannya langsung ke dalam tas Abel yang diletakkan di depan tubuh gadis itu dan menutup resletingnya. "Kalau uangnya rapi 'kan ngambilnya juga enak. Beda kalau berantakan. Kadang kalau mau ngambil dua lembar, yang ketarik malah tiga atau empat lembar. Kalau orangnya kaya lo, bisa aja lo gak sadar hal itu dan gak tau kalau uang lo ada yang jatuh." Itu hanya hal kecil nan sederhana, tapi lagi-lagi Abel dibuat terpana. Apalagi saat Ardan mengambil alih belanjaannya dan memegangnya dengan satu tangan. Setelah itu Ardan menggenggam tangannya dan meninggalkan pelataran minimarket. Keduanya menyeberang jalan dengan tangan tergenggam. Menimbulkan gelanyar aneh yang baru pertama kali Abel rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD