21 - Selepas Shalat Maghrib

2115 Words
Abel tidak mengerti definisi bahagia yang sebenarnya itu bagaimana, karena menurutnya ia belum benar-benar menemukan atau merasakan sesuatu yang bisa ia sebut bahagia. Mengenal Ardan, ia diberi banyak pelajaran serta perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang mengajarkan bahwa hidupnya berharga dan ia harus bersyukur karena hal itu. Lalu, biar Abel ceritakan lagi seberapa hebat sosok Ardan membuatnya ingin lebih lama berada di dunia yang menurutnya amat kejam. Selepas adzan Maghrib, Ardan dengan sabarnya mengajarkan sesuatu yang sebelumnya jarang sekali Abel lakukan. Cowok itu mengajarinya berwudhu dengan benar, lalu menjadi imam untuk shalatnya. Bersama dengan ibu panti dan anak-anak lainnya. Bisa dihitung dengan jari, selama hidupnya, sudah berapa kali ia berserah diri kepada Sang Pencipta. Ia tidak pernah shalat, tidak pernah berdoa dan jarang sekali bersyukur. Ardan mengajarkan hal penting itu lagi pada Abel. Membuat Abel nyaris menangis dalam sujudnya. Menyadari seberapa kotor dirinya karena sudah sangat jauh dari Tuhan yang selama ini menjaganya. Selepas shalat Maghrib, Abel kini duduk di tengah-tengah kehangatan meja makan. Meja panjang dengan barisan kursi itu penuh. Bu Dona mengambilkan nasi untuk semua anak, termasuk Abel dan Ardan. Tidak ada lauk mewah. Hanya ada tempe goreng, tahu goreng, dan tumis kangkung. Tapi anak-anak tersenyum lebar kala piringnya penuh dengan nasi dan lauk seadanya itu. "Hei, Anggi!" Bu Dona menegur seorang anak yang sudah membuka mulut. Di depan mulutnya, sendok berisi nasi sudah mengambang. Anak bernama Anggi itu terkekeh geli. Meminta maaf dan mulai mengangkat tangan. Ardan memimpin doa. Ada dua anak yang sebelumnya tidak Abel lihat. Mungkin yang tadi sore disebutkan sedang mandi duluan. Setelah itu, makan malam pun dimulai. "Maaf, ya. Makanan di sini emang sederhana," kata Ardan menoleh ke samping kirinya. Abel menarik sudut bibirnya naik ke atas. "Gak pa-pa, gue udah biasa makan kaya gini. Malah sekarang tambah seru karena rame banget," ujarnya mulai membuka mulut. Menyantap makanannya. Abel memang tidak bercerita, tapi Ardan tahu dari semua yang pernah dilakukan Abel, bahwa gadis itu terlahir dari keluarga yang berada. Rasanya ia tidak enak mengajak Abel makan dengan lauk seadanya saat gadis itu bisa saja menikmati makan malam mewah di rumahnya. Namun, Ardan tidak tahu bahwa yang dirasakan Abel justru sempurna. "Kakak makannya biar banyak, ya. Jangan malu-malu, anggap aja rumah sendiri." Seorang anak perempuan di seberang Abel berbicara dengan mulut yang masih mengunyah. Namanya Fiona. "Iya, Ibu gak akan marah kok kalau Kakak mau nambah," timpal Dwi. Bu Dona tersenyum. "Iya, Bel. Jangan malu-malu, makanannya emang seadanya, tapi kamu bisa makan sampe kenyang," terangnya lembut. "Makasih, semuanya. Iya, Kakak pasti makan sampe kenyang, kok." Tidak ada pembagian makanan. Semua anak dibiarkan makan sepuasnya. Mereka dipersilakan nambah sampai mereka benar-benar kenyang. Abel mendapatkan lagi sesuatu dari seorang Ardan. Menerima ajakan Ardan untuk berkunjung ke rumahnya menghadiahi Abel dengan banyak hal. Kesederhanaan, kehangatan, kekeluargaan, dan ia diterima dengan tangan terbuka. Abel tahu bahwa selama ini Ardan dan anak panti yang lain dididik oleh seorang wanita yang luar biasa hebat. Yang mengajarkan mereka untuk menyambut baik orang baru, serta mengajarkan bahwa menghargai orang lain itu amat sangat diperlukan. Makan malam singkat yang Abel rasakan mengajarkannya sesuatu, bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir karena kemewahan atau keharmonisan keluarga. Kamu bisa berbahagia, hanya ketika kamu mau menemukan kebahagiaan itu. Tidak peduli seberapa banyak penderitaan yang sedang kamu alami, kamu pantas dan bisa bahagia. Selepas makan malam, Abel membantu Ardan merapikan meja makan, sementara Bu Dona diminta untuk istirahat saja. "Siapa yang punya tugas rumah dari gurunya?" tanya Ardan saat menyusun piring-piring. Beberapa anak mengangkat tangannya, beberapa sisanya hanya diam. "Kalau gitu jangan lupa dikerjain tugasnya sebelum tidur, ya. Dan yang gak ada tugas boleh belajar dan baca-baca ulang bukunya. Oke?" "Oke, Kak," sahut semua anak serempak. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan meja makan. Menyisakan Abel yang membantu Ardan mencuci piring. "Lo udah kaya bokap mereka aja, Dan," komentar Abel. Keduanya duduk berdampingan di depan wastafel. Ardan yang mencuci piring dan gelas, sedangkan Abel membersihkan busanya dengan air mengalir lalu mengelapnya sampai kering. "Karena suami Bu Dona udah meninggal beberapa tahun lalu, otomatis gue yang paling tua di sini punya tanggung jawab yang lebih besar." "Gue suka nih kaya gini, bertanggung jawab." "Harus dong. Jadi anak laki-laki itu harus bertanggung jawab." "Oke, nanti nikah sama gue aja, ya, Dan." Padahal Abel hanya bercanda mengajak Ardan menikah, tapi pergerakan tangan Ardan terhenti. Cowok itu menatap Abel tidak habis pikir. Sebelum Ardan mengamuk, Abel sudah lebih dulu meneruskan kalimatnya. "Bercanda kok gue." Sambil nyengir lebar. Keduanya meneruskan kegiatan masing-masing. Sampai tidak ada lagi yang tersisa, hanya basah di telapak tangan mereka. *** "Kayanya enak punya banyak saudara. Iya gak, Dan?" Abel bertanya. "Iya," sahut Ardan singkat. Keduanya sedang duduk di lantai depan panti asuhan. Menatap halaman yang gelap gulita, hanya disinari sinar rembulan yang samar-samar. Suasananya menyenangkan untuk Abel. Tidak ada apa-apa di depannya, hanya pelataran kosong, tapi bayangan anak-anak yang berlari di siang hari seolah tergambar jelas. Di tempat ini, Abel menemukan banyak bukti nyata tentang anak-anak yang bisa berbahagia di tengah segala kekurangan. Mereka tidak sama seperti anak lain, meski tumbuh bersama, ada lubang besar di hati anak-anak itu, dan mereka menutupinya dengan kebersamaan. Abel merubah posisinya menjadi bersila. Matanya menyorot Ardan, kemudian ia bertanya, "Kalau lo sendiri, kenapa bisa ada di panti asuhan?" Jauh di lubuk hatinya, Abel berharap bahwa kisah Ardan sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Ia tidak akan terima jika orang sebaik dan sesempurna Ardan harus dibuang oleh orang tuanya sendiri dan ditolak oleh dunia. Ardan tidak pantas menerima kenyataan sepahit itu. "Orang tua gue meninggal karena kecelakaan pas gue kecil, gue sempet dirawat sama tante gue, tapi dia gak sanggup biayain hidup gue sama anaknya. Masing-masing nenek sama kakek gue udah meninggal sebelum orang tua gue. Jadi, bisa dibilang gue gak punya siapa-siapa. Berakhirlah gue di sini." Terus terang saja Abel tidak tahu harus bernapas lega atau ikut prihatin. Ia bersyukur Ardan tidak tumbuh menjadi anak yang terbuang karena penolakan orang tua mereka, tapi ia kesal saat tahu satu-satunya anggota keluarga Ardan tidak mau merawat cowok itu. Ia yakin, tante Ardan akan sangat menyesal jika nantinya Ardan menjadi orang hebat yang sukses. Keponakan yang ia buang akan tumbuh menjadi anak membanggakan. Abel percaya itu. "Terus gimana kehidupan lo pas pertama ada di sini?" Ardan berdeham lama. Pikirannya melayang jauh, mencari kejadian yang ia alami di dalam kepalanya saat pertama sampai di panti asuhan. Kenangan itu tersusun rapi. Menjadi lembar demi lembar tumpukan yang menambah kisah hidupnya. Suka dan suka yang ia alami di panti asuhan membuatnya tumbuh menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. "Awalnya gue gak nyaman. Semuanya terasa asing buat gue. Rumah baru, teman baru, kegiatan baru dan suasana baru. Tante gue pergi gitu aja setelah nitipin gue dan gak pernah jenguk gue sama sekali. Tapi..." Ardan tersenyum. Sekelebat bayangan muncul di kepalanya. Dengan senyum hangat yang membuatnya turut melengkungkan senyuman. "Bu Dona nerima gue dengan tangan terbuka. Dia dan suaminya yang gak punya anak mutusin buat bangun panti asuhan, dan gue penghuni ke sebelas beliau. Gue diperlakukan layaknya anak kandung sama mereka. Gue disekolahkan di tempat yang gue mau, gue bebas mau makan sepuas gue, dan gue dapet kasih sayang yang berlimpah. Pokoknya di sini gue nemuin rumah sehangat waktu gue masih sama orang tua kandung gue." "Penghuni ke sebelas? Berarti ada banyak anak lain di sini yang seumuran sama lo? Mereka ke mana? Diadopsi?" tanya Abel beruntun. Ardan mengangguk, kemudian menjawab, "Satu persatu mereka pergi. Mereka ketemu keluarga baru yang mau ngerawat mereka. Tapi di samping itu, selalu ada aja yang datang setelah kepergian. Bikin gue kadang mikir, seburuk apa kehadiran seorang anak bagi orang tua yang gak menginginkan mereka?" Asal, Abel menanggapi kalimat terakhir Ardan. "Mungkin serupa mimpi buruk yang gak pernah mereka inginkan." Kalimatnya berhasil membuat Ardan menoleh. Menatapnya dengan sorot penasaran. Lagi-lagi Abel terlihat seperti punya beban berat di bahunya. Dan Ardan tidak tahu itu apa. "Jadi ... kenapa gak ada yang ngadopsi lo?" Pertanyaan Abel sontak membuat Ardan mengalihkan pandangan. Ia kesal pada dirinya sendiri, yang tidak berani mendesak Abel bercerita. "Udah ada banyak pasangan yang mau ngadopsi gue. Asal lo tau, ya, gue itu waktu kecil ganteng plus pinter juga. Banyak orang kaya yang mau ngadopsi gue jadi anak mereka, tapi gue nolak." Refleks, Abel beringsut semakin mendekati Ardan. "Kenapa?" tanyanya semakin penasaran. Tanpa perlu diberi tahu pun sebenarnya Abel sudah menduga bahwa Ardan banyak diincar orang lain. Entah mereka yang tidak punya anak karena mandul, atau sekadar menjadikan Ardan pancingan untuk memiliki anak kandung sendiri. Yang membuatnya penasaran, kenapa Ardan menolaknya? Padahal jelas-jelas cowok itu bisa hidup jauh lebih layak. "Gue gak mau ninggalin Bu Dona sama suaminya. Gue udah nganggep mereka sebagai orang tua gue sendiri. Semenjak gue sadar seberapa sayang Bu Dona sama anak-anak panti, termasuk gue, gue bertekad untuk menjadi satu-satunya anak yang gak akan ninggalin beliau. Kalau gue sukses, gue bakal bikin panti ini lebih layak lagi, menggantikan Bu Dona. Gue pengin anak-anak di sini punya kehidupan yang layak nantinya." Abel terperangah. Takjub sekaligus terpana. Ya, ia tahu bahwa Ardan sebaik itu, tapi ia tidak menyangka bahwa pikirannya lebih dewasa dari yang ia duga. Ardan bahkan bisa dibilang memiliki kehidupan yang belum sepenuhnya bahagia, tapi daripada memikirkan kebahagiaan semata, ia memilih memikirkan masa depan anak-anak lainnya. Sadar bahwa dirinya lagi-lagi terlalu mengagumi Ardan, Abel memilih membuang muka. Mengerjapkan matanya yang sempat melongo cukup lama. "Apa anak-anak yang diadopsi pernah ke sini jenguk lo sama Bu Dona?" Tidak habis, Abel terus melontarkan pertanyaan. Menyambung pembicaraan yang tidak ingin ia hentikan. Ardan pun nampaknya belum bosan menjawab. Karena mulutnya segera terbuka. "Beberapa anak dateng ke sini sebulan sekali. Karena masih pelajar, mereka kadang cuma bawa makanan buat anak-anak panti. Tapi gak pa-pa, gue bersyukur mereka gak lupa tempat di mana mereka tumbuh awalnya. Walaupun ada beberapa juga yang lupa dan gak pernah ke sini," jelasnya tenang. "Ternyata lo merhatiin banget setiap kejadian yang udah lo lalui, ya?" "Jelas dong. Karena di sini rumah gue. Yang datang dan pergi gak boleh luput dari perhatian gue." Ahh, Abel jadi sedikit berharap bahwa dirinya menjadi seseorang yang juga tidak akan luput dari perhatian Ardan. "Walaupun belum ada yang bisa gue lakuin buat panti, walaupun belum ada yang bisa gue buktiin ke Bu Dona, atau ngelakuin hal berharga buat anak-anak yang lain, gue tetep punya mimpi yang tinggi di masa depan nanti. Kalaupun gak tercapai, seenggaknya gue gak mau pergi dari tempat di mana gue bertumbuh." Jangankan ibu panti, jangankan anak-anak lain, bahkan Abel yang notabene-nya hanya menjadi teman Ardan sangat terkesan dengan mimpi besar Ardan. "Seenggaknya lo udah berusaha hidup jadi anak baik selama ini. Gue bangga sama lo," kata Abel tulus. Bagaimana Ardan ke depannya, akan tercapai atau tidaknya mimpi Ardan, itu bukanlah hal yang penting. Setidaknya saat ini, hari ini, detik ini, Ardan menjadi sosok yang paling peduli dengan keluarganya. Dan itu lebih penting dari apa pun yang belum terlihat. "Maksudnya kalau gue tumbuh jadi anak pembangkang, berandalan, dan pemalas karena gak dapet kasih sayang dari orang tua gue, lo gak jadi bangga?" "Ya, iyalah. Kalau lo jadi berandalan, apa yang bisa gue pelajari dari lo. Untung aja pas ketemu lo itu udah keliatan anak baik-baik, jadi gue langsung terkesan di pertemuan pertama." Ardan tergelak mendengar ucapan Abel. Jujur sekali. Itulah keunikan Abel. Gadis itu bisa memuji dan mencela di waktu yang bersamaan. "Gue gak sebaik yang lo kira, jadi jangan ngerasa seberuntung itu ketemu gue." Abel mengerjap lantas memiringkan kepalanya. Memang benar, Ardan tidak sebaik itu. Cowok itu menyebalkan saat terus-terusan menolak diajak ke mall, karena katanya itu menghamburkan uang. Ardan juga kerap sok bijak saat diajak makan di restoran mewah, lagi-lagi membawa tema yang sama sebagai penolakan. Itu menghamburkan uang. Tidak hanya itu, Abel juga tidak suka sosok Ardan yang sangat hangat saat berada dengan adik kelasnya. Itu ... terlihat menyebalkan. Namun, tetap saja, Abel tidak bisa memungkiri bahwa Ardan adalah cowok terbaik yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya sampai saat ini. "Kalau gue ngambil quotes familiar di sosmed, gak ada yang sempurna di dunia ini. Gue bakal bilang kaya gitu. Terus gue tambahin, 'tapi lo sempurna di mata gue' biar lo gak ngerendah terus. Gemas gue liatnya. Masalahnya orang kaya lo itu jarang di muka bumi ini, dan gue seneng jadi salah satu orang yang bisa jadi bagian dari hidup lo." Bolehkah Ardan mencubit Abel? Karena perkataan gadis itulah yang justru terdengar menggemaskan. Entah sejak kapan Abel menjadi sangat dewasa dalam berbicara, tapi yang pasti, Ardan merasa bahwa pertemuannya dengan Abel memberikan hal positif untuk gadis itu. Keduanya tidak sadar bahwa sudah terlalu larut bagi seorang pelajar untuk berada di luar rumah. Abel nyaman berada di panti asuhan, terutama di dekat Ardan, dan Ardan seolah lupa seharusnya ia mengantar Abel pulang, bukan menyambung obrolan yang tidak akan ada habisnya jika terus ditimpali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD