Abel mengikuti langkah Ardan yang berjalan menyusuri bagian dalam panti asuhan. Anak-anak masih sibuk mengamati foto-foto yang diberikan Abel. Ardan yang lupa belum bersalaman dengan Bu Dona sejak pulang, akhirnya memutuskan masuk.
Bu Dona tidak ada di ruang tamu, tidak ada di dapur ataupun di toilet. Ardan yang kebingungan mencari satu tempat yang belum didatanginya. Abel hanya mengikuti saat Ardan membuka salah satu pintu di dalam panti.
Di sebuah ranjang yang berada di ruangan yang baru dibuka oleh Ardan, Bu Dona berbaring di atasnya. Selimut menutupi sebagian tubuhnya, dan wajah Ardan langsung berubah. Cowok itu berlari ke arah ranjang. Berlutut di samping ranjang menggunakan lututnya sebagai penyangga.
"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Ardan terlihat khawatir.
Mata yang awalnya terpejam itu terbuka perlahan. "Kamu udah pulang?" Wanita itu bertanya.
"Bu, Ibu sakit?" tanya Ardan sekali lagi.
Bu Dona menggeleng. "Gak pa-pa. Ibu cuma kecapean aja," katanya.
Abel tahu itu adalah kebohongan. Dari nada bicara dan wajahnya saja kelihatan bahwa Bu Dona sedang berbohong. Wanita itu berusaha terlihat baik-baik saja agar Ardan tidak khawatir.
"Ibu dari kapan kaya gini? Tadi pagi 'kan masih baik-baik aja. Kok sekarang bisa sakit?"
"Ibu gak sakit, Ardan. Kamu tenang aja."
Namun, semakin disuruh tenang dan semakin dijelaskan bahwa Bu Dona baik-baik saja, Ardan justru terlihat semakin khawatir. Cowok itu sampai menggenggam tangan Bu Dona untuk memastikan bahwa Bu Dona tidak akan ke mana-mana.
"Ardan anter ke dokter, ya, Bu?"
Bu Dona menggeleng. "Gak usah," katanya tenang.
Abel yang ikut gelisah melihat raut wajah Ardan akhirnya memutuskan mendekat. Ini pertama kalinya ia melihat Ardan memasang wajah setakut itu. Seolah ada sesuatu yang akan mengambil Bu Dona darinya.
"Bener kata Ardan, Bu, lebih baik Ibu ke rumah sakit aja. Aku sama Ardan bisa anter Ibu."
Wajah pucat yang sedang berbaring itu tersenyum. Lagi-lagi menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Ibu mau minta tolong aja sama kalian." Ardan dan Abel langsung mendekatkan dirinya kepada Bu Dona, "Ibu belum sempet masak buat makan malam. Kalian berdua tolong bantuin ibu masakin makanan buat anak-anak. Kasian nanti mereka pasti laper," sambungnya kemudian.
"Iya, Bu. Gak perlu Ibu suruh juga nanti pasti Ardan bakal masak, kok. Yang terpenting sekarang itu keadaan Ibu," tukas Ardan cepat.
Bu Dona menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Ardan. "Ibu gak pa-pa, kok. Nanti juga baikan kalau udah istirahat," ujarnya menenangkan Ardan.
"Kalau nanti keadaan Ibu gak membaik, kita ke rumah sakit, ya?"
"Iya, Sayang."
Ardan pamit untuk masak di dapur, dan Bu Dona hanya mengangguk. Abel mengikuti Ardan sampai ke dapur. Sejujurnya, ia tidak yakin akan banyak membantu, tapi Bu Dona sudah meminta tolong padanya juga. Ia tidak bisa mengabaikan hal itu.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore. Abel sendiri tidak yakin semuanya akan siap sebelum Maghrib. Anak-anak perlahan masuk ke panti. Ardan menyuruh mereka untuk segera mandi. Sementara menunggu anak yang berada di kamar mandi, anak-anak yang lain tetap bermain.
Cowok itu terlihat sibuk. Ardan adalah pria paling sibuk yang pernah Abel lihat. Paling lihai sekaligus paling bisa diandalkan. Bagaimana Ardan membuka kulkas dan melihat ada apa aja di sana, memegang pisau, memotong sayuran, mencuci beras, semuanya terlihat sempurna. Tidak ada kesalahan kecil sama sekali. Tangan Ardan seolah sudah mampu beradaptasi di dapur dengan amat baik.
"Gue ... gue gak pernah ke dapur. Kalau cuma cuci piring gue bisa, tapi kalau masak gue sama sekali gak bisa bantu," kata Abel membuat Ardan menoleh ke arahnya.
"Gak pa-pa. Bantu yang lain, bisa?"
Abel dengan cepat mendekati Ardan. Bertanya apa yang harus ia lakukan.
"Lo cuci sayuran aja." Ardan menyodorkan sayuran sawi yang sudah dipotong olehnya tadi. Tabel mengambil sayuran itu dan membawanya ke wastafel.
Sambil Abel mencuci sayuran dan juga memberi tahu kalau saat mencuci sayuran mata harus jeli karena terkadang ada ulat yang bersembunyi di balik sayuran dan tidak terlihat saat dipotong. Tentu Abel mendengarkan hal itu. Lagi pula sejak kecil ia tidak pernah takut dengan binatang menggelikan semacam ular atau serangga yang biasanya ditakuti anak gadis lain. Sehingga saat Ardan memintanya untuk memperhatikan apakah ada ulat atau tidak, Abel mau-mau saja.
Setelah selesai mencuci sayuran, Abel kembali berdiri di samping Ardan. Memperhatikan cowok itu yang sedang yang membersihkan cabai, bawang putih, dan bawang merah yang sudah dicuci.
"Kalau mecahin telur lo bisa?" tanya Ardan.
Abel menggeleng. Mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bisa memecahkan telur. Hal yang mungkin sangat mudah untuk kebanyakan orang bahkan cowok sekalipun.
"Ya udah, sekarang lo buka kulkas terus ambil enam butir telur dari sana."
Abel menurut, ia berjalan ke arah kulkas. Memperhatikan seisi kulkas yang tidak terlalu ramai itu, melihat ada beberapa butir telur yang diletakkan di sebuah plastik berwarna putih. Setelah mengambil plastik itu Abel menghitung isinya dan ternyata hanya ada lima butir telur di dalamnya.
"Ini telurnya cuma ada lima. Apa gue harus beli ke luar?" tanya Abel.
Ardan menggeleng. "Gak usah, itu juga cukup. Sekarang lo ambil mangkuk sama garpu." Abel mengangguk dan satu buah mangkuk beserta garpunya langsung berada di tangannya.
"Ambil satu telur, taruh di tangan kiri lo, biarin tangan kanan yang megang garpu. Pas megang jangan lupa di bawah tangan lo taruh aku yang tadi lo ambil. Habis itu tinggal pecahin telurnya pakai garpu di bagian tengah, tapi jangan kencang-kencang waktu mecahinnya nanti telurnya berantakan."
Ardan begitu tenang saat memberikan instruksi kepada Abel. Abel yang sangat ingin membantu akhirnya mulai mencoba mengikuti instruksi dari Ardan. Seperti perkataan arah dan ia memecahkan telur yang dipegangnya dengan garpu. Ya, telurnya memang pecah, tapi semua kulitnya ikut masuk ke dalam mangkuk. Dan itu membuat Abel merasa gagal di percobaan pertama.
"Ardan ini gue harus kaya gimana? Kulit telurnya masuk semua ke dalam mangkuk." Abel berseru heboh.
Ardan yang tengah sibuk memegang pisau dengan bawang putih di tangannya sontak langsung bergerak mendekati Abel. Ia menggeleng saat melihat mangkuk di depan Abel berisi telur sekalian kulitnya, sedangkan tangan Abel basah terkena cairan telur.
"Bukan kaya gitu," kata Ardan. Ia mengambil alih garpu di tangan Abel dan mengerjakan sisa pekerjaan yang diserahkan kepada Abel.
Betapa terpesonanya Abel dari bagaimana Ardan memecahkan telur saja terlihat sangat rapi. Cowok itu juga turut mengangkat kulit telur yang sempat nyemplung ke dalam mangkuk dan membuangnya bersama kulit telur yang lain ke tong sampah. Sangat cepat dan cekatan.
"Kayanya lo cocok deh jadi koki," puji Abel melihat seberapa lihainya Ardan dalam memasak.
Cowok itu hanya terkekeh pelan, dan Abel menikmati lagi setiap gerakan yang dilakukan oleh Ardan. Nilai dari membuat telur dadar, memotongnya secara merata, dan menumis bumbu untuk selanjutnya melengkapinya dengan sayuran yang sudah Abel cuci tadi.
Begitu dua lauk sederhana itu sudah selesai dimasak, Ardan melihat rice cooker, dan ternyata nasinya pun sudah matang. Ardan memindahkan nasi tersebut ke dalam bakul berukuran sedang dan membawanya ke meja makan untuk selanjutnya dikipasi menggunakan kipas sederhana yang bahkan baru pertama kali Abel lihat.
Tidak terasa, sampai semuanya sudah tertata rapi di atas meja, adzan maghrib berkumandang tak lama kemudian. Anak-anak panti rupanya sudah mandi semua dan siap melaksanakan salat maghrib. Seperti biasa, Ardan akan mandi terlebih dahulu, lalu memimpin salat mereka. Menjadikan Abel salah satu makmum yang berdiri di belakangnya.
***
"Bu, sekarang Ibu makan dulu, ya."
Ardan meletakkan nampan berisi nasi dengan telur dadar di atasnya, semangkuk sayur dan segelas air putih di atas meja kasur.
Bu Dona bangun dari posisi berbaringnya. Ardan dengan lembutnya menaikkan bantal ke sandaran kasur agar Bu Dona bisa bersandar di sana. Saat Bu Donna hendak mengambil nampan yang dibawakan Ardan, Ardan menggeleng dan memilih mengambil kembali nampan tersebut kemudian duduk di samping Bu Dona.
Di ruangan yang tidak terlalu luas itu Abel bisa merasakan kehangatan yang terlalu nyata. Bagaimana tangan kekar Ardan menyuapi Bu Dona dengan lembut, bagaimana Ardan membantu Bu Dona saat wanita itu meminta minum, atau memaksa dengan tatapan memohon saat Bu Dona menolak untuk membuka mulut dengan alasan dirinya sudah kenyang.
Sebagai orang yang notabene-nya bukan anak kandung dari Bu Dona, Ardan jelas amat menyayangi wanita itu. Terlihat dari bagaimana sikapnya yang mampu membuat hati Abel tersentuh dan terenyuh. Kepedulian Ardan sangat tinggi, membuat cowok itu terlihat sangat mempesona hanya dari bagaimana caranya memperlakukan orang lain. Dan Abel menjadi salah satu penggemarnya.
"Nanti biar Ardan beliin obat, ya, Bu."
Bu Dona menggeleng. Tidak perlu katanya. Wanita itu lagi-lagi mengatakan hal yang sama seperti sebelum maghrib tadi bahwa dirinya akan lebih baik dan hanya memerlukan istirahat saja.
"Kalau besok belum baikan kita harus ke dokter, ya, Bu? Ardan nggak mau tahu dan Ardan gak nerima penolakan."
"Iya, Ardan. Mendingan sekarang kamu keluar. Temenin anak-anak makan, kasian mereka kalau gak ada kamu."
"Kalau ada apa-apa ibu panggil Ardan aja, ya."
"Iya."
Ardan membantu Bu Dona berbaring. Setelah itu ia membawa nampan yang dibawanya lalu mengajak Abel keluar dan menemui anak-anak yang sudah siap di meja makan.
Keduanya segera bergabung dengan anak-anak. Menjadi pengganti Bu Dona, Ardan mengisi piring anak-anak dengan nasi. Membiarkan mereka mengambil lauk sendiri.
Gilang bertanya, "Ibu ke mana? Kok gak ikut makan? Tadi pas solat, Ibu juga gak ada."
Ardan tersenyum tipis. Mengatakan bahwa Bu Dona kelelahan dan istirahat duluan. Hal itu Ardan lakukan semata-mata agar anak-anak tidak khawatir dan bertanya lebih banyak sampai melupakan makan malam mereka.
"Jangan-jangan Ibu sakit, ya, Bang?" tanya Gia.
"Iya, soalnya dari tadi siang yang Ibu enggak keliatan," timpal Dwi.
Seketika suasana berubah dingin. anak-anak yang sudah memegang sendok bahkan melepaskan sendok mereka dan terdiam. Mereka semua nampak khawatir persis seperti tadi Abel melihat raut wajah Ardan saat pertama datang ke kamar Bu Dona.
Mau bagaimanapun, Bu Dona memang satu-satunya orang tua yang mereka miliki. Sangat wajar bilamana mereka khawatir dan kehilangan saat wanita itu tidak berada di tengah-tengah mereka.
Namun, sebagai anak tertua dari Bu Dona, Ardan tidak ingin anak-anak panti yang lain khawatir. Mereka akan sedih dan Bu Dona tidak akan suka jika itu terjadi. Karena itulah Ardan memilih kembali menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan untuk berusaha menyenangkan adik-adiknya.
"Kalian tenang aja, Ibu gak pa-pa, kok. Besok pasti udah bisa main sama kalian dan beraktivitas kaya biasa lagi. Kalian tenang aja Ibu cuma kelelahan. Kalau kalian kaya gini Ibu malah khawatir nantinya."
Ardan sangat pandai merayu anak-anak dengan kata-katanya. Lidahnya seolah dirancang untuk merangkai kata-kata yang pas di berbagai macam situasi. Dan Nabil sangat suka bibir itu bergerak, meski sulit dan berusaha tetap tegar dan menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya.
Anak-anak mengerti. Mereka langsung menggerakkan tangan, satu persatu mulai menyantap makanan di depan mereka masing-masing. Abel pun turut serta menikmati makanan yang dibuat oleh Ardan. Rasanya enak, seenak makanan yang dibuat Bu Dona. Mungkin karena memang dari Bu Dona lah Ardan belajar.
"Maaf, ya, makanannya gini-gini aja," kata Ardan menatap Abel.
Gadis yang duduk tepat di samping kanannya itu nyengir lebar. Dengan semangat menyantap makanan di piringnya agar Ardan melihat sendiri bahwa dirinya sangat menikmati makanan buatan Ardan.
"Gak usah buru-buru, nanti lo malah kesedak." Ardan menggeleng melihat kelakuan Abel. Ia tahu bahwa Abel memang bukan gadis sombong yang tidak bisa makan makanan sederhana. Walaupun sangat jelas bahwa Abel terlahir dari keluarga yang kaya, tapi tidak pernah sekalipun Abel menyombongkan hal itu.
"Habisnya makanan bikinan lo itu emang enak. Gue mana pernah nemuin di sekolah gue ada cowok pinter masak kaya lo. Gak pernah ada."
"Enggak usah muji terlalu berlebihan."
Abel mengendikkan bahunya acuh. Nyatanya Ardan memang sesempurna itu di matanya. Terlalu sempurna jika dijadikan perbandingan melawan teman-teman bobroknya.
"Abis makan gue anterin lo balik," kata Ardan.
"Gak usah," sahut Abel. "Gue bisa pulang sendiri, mendingan lo jagain anak-anak sama Bu Dona aja."
"Gak bisa dong. Sekarang udah malem, gue gak bisa biarin lo pulang sendirian."
"Oke. Kalau gitu lah cukup anterin gue sampai depan panti nanti gue bisa jalan sendiri ke taman terus minta jemput sama Asep. Gampang, 'kan?"
Ardan mendengkus halus. Cowok itu bahkan sampai menghentikan makannya hanya untuk memutar tubuh agar bisa melihat Abel lebih baik lagi.
"Gini, ya. Jarak dari panti sampai ke taman itu lumayan jauh, mungkin sepuluh sampe lima belas menitan. Mana mungkin 'kan gue biarin lo selama itu sendirian."
Sontak saja Abel menahan diri agar tidak menyemburkan tawa. Kalau saja Ardan sampai tahu bahwa dirinya kerap pulang setelah maghrib sebelum kenal dengan cowok itu, sudah pasti Ardan akan terkejut. Predikat cewek bar-bar dan urakan akan semakin melekat pada dirinya.
"Gue bukan anak kecil, jadi lo gak usah khawatir."
Ardan sudah akan menjawab, tapi salah satu anak memanggilnya meminta dituangkan air minum. Cowok itu dengan sigap mengambil gelas dan menuangkan air minum untuk anak itu. Merasa bersalah karena sejak awal tidak memberi masing-masing anak segelas air.
Abel hanya terkekeh pelan. Lucu rasanya melihat Ardan mengambil dua peran sekaligus. Ardan layaknya orang tua bagi anak-anak panti sekarang. Merangkap Ibu sekaligus ayah mereka.