27 - Cita-cita dan Lembar Foto

2076 Words
"Halo semuanya!" Anak-anak panti yang sedang rebahan di teras panti sontak melonjak bangun. Mereka sepertinya sedang istirahat karena cuaca sedang panas-panasnya. Abel pun tidak mengerti kenapa hari ini sangat panas padahal hari sudah beranjak sore. Berbekal dua kantung belanjaan di masing-masing tangan Ardan, Abel mendekati anak-anak panti yang nampak semringah melihat kehadirannya dan Ardan. Wajah mereka berseri-seri. Tentu tidak sepenuhnya karena kehadiran Abel dan Ardan, melainkan karena kantung belanjaan yang ada di masing-masing tangan Ardan. Anak-anak sekarang sudah tahu, setiap kali Ardan datang membawa banyak jajanan dengan Abel yang berada di sampingnya, itu artinya Abel lah yang membelikan mereka jajanan tersebut. "Siapa yang mau es krim?" tanya Abel begitu sampai di teras. Anak-anak langsung mengangkat tangan mereka sambil menyerukan kata 'aku' secara bersamaan. Nampak tidak sabar menerima jatah mereka dari Abel. Hal itu membuat Abel ikut bersemangat dan meminta satu kantung belanjaan dari Ardan. Kantung berwarna hijau itu dipenuhi es krim dan juga s**u kotak. "Kalian baris yang rapi, ya. Biar Kakak bagiin sekarang." Seperti layaknya anak-anak lain yang bersemangat saat mendapatkan sesuatu, begitu pula dengan anak-anak di depan Abel. Mereka langsung berbaris rapi di depan Abel, menerima masing-masing satu buah s**u kotak rasa strawberry dan satu buah es krim rasa strawberry juga. Agar anak-anak panti tidak bosan, Abel memang kerap mengganti rasa es krim dan s**u kotak yang dibelinya. Mereka menerima es krim dan s**u kotak dengan rasa yang sama, tapi selalu diganti setiap kali Abel membeli lagi. Contohnya seperti sekarang. Beberapa hari lalu Abel membelikan mereka semua rasa cokelat, dan sekarang diganti dengan rasa strawberry. Satu-satunya yang membuat Abel tidak ragu, anak-anak tidak ada yang memiliki alergi apa pun. Mereka menerima apa saja yang ia beri. Tentu ia pun memilih dengan baik apa yang dibelinya agar tidak membahayakan anak-anak. Sambil memperhatikan anak-anak, Abel mengajak Ardan turut serta duduk di tengah anak-anak. Ia memberikan satu kotak s**u cokelat untuk Ardan, yang dibiarkan mengambang di udara oleh Ardan. "Emangnya gue anak kecil dikasih s**u kotak segala? Gak usah, buat lo aja." Abel kemudian mengangkat s**u kotaknya sendiri. Memberitahu pada Ardan kalau ia pun memiliki s**u kotak sendiri. "Bukan cuma anak kecil tau yang minum s**u kotak. Lo mah norak. Padahal sering beli es krim, tapi giliran dikasih s**u kotak malah gak mau. 'Kan aneh," komentar Abel. Ardan menatapnya. "Gue gak suka s**u kotak, buat lo aja." "Terus gue harus minum dua-duanya gitu? Kembung dong gue." "Ya, satunya lo bawa pulang 'kan bisa." "Tapi 'kan gue beliin ini buat lo, supaya kita bisa minum bareng anak-anak." Jujur saja, sebenarnya kebiasaan Ardan membeli es krim saat bersama dengan Abel bukan murni karena keinginan Ardan sendiri. Abel yang tanpa sadar membuat es krim menjadi salah satu jajanan favoritnya karena Abel kerap membeli es krim di taman. Selama hidupnya Ardan tidak pernah membeli jajanan yang ia mau, ia hanya mengedepankan apa yang menurutnya penting saja. Dan jajan es krim atau semacamnya menurutnya bukanlah hal yang penting. Tapi saat Abel datang ke kehidupannya, Ardan tanpa sadar jadi sering membeli jajanan yang menurutnya tidak penting itu. "Lagian lo pake beli buat gue segala, buang-buang uang aja tau." Abel menguap mendengar ucapan Ardan. Pertanda bahwa dirinya sudah sangat bosan dengan sifat Ardan yang terlalu mengkhawatirkan soal uang. "Udah, ya, Dan." Abel meraih tangan Ardan, meletakkan satu s**u kotak di sana. "Ambil aja. Tenang, gue gak bakal bangkrut kalau cuma jajanin lo s**u kotak, kecuali gue mutusin buat beliin lo pesawat. Baru, deh, lo boleh marah-marah sama gue." Karena sudah berada di tangannya, akhirnya Ardan mengalah saja. Ia meletakkan kantung belanjaan di lantai dan duduk di samping Abel. Melepas sedotan yang menempel di bagian belakang kemasan, membuka plastiknya, kemudian menusukkan ke lubang yang sudah disediakan di bagian atas kemasan. "Nah, gitu, kek, dari tadi. Gue 'kan jadi gak perlu ngomong panjang lebar supaya lo ngerti." Abel terkekeh geli dan mulai menyeruput s**u kotak miliknya. Ardan hanya mendengkus halus mendengar perkataan Abel. "Lain kali gak usah kaya gitu biar kita gak perlu debat. Kalau gue ngasih sesuatu itu, lo cuma perlu nerima. Gak perlu pake ceramah segala." "Berasa gak ada harga dirinya banget gue jadi cowok," keluh Ardan. "Nanti kalau lo udah sukses, gantian lo yang jajanin gue. Simpel, 'kan?" "Simpel apanya? Dikira sukses itu semudah balikin telapak tangan?" "Ya, gak gitu juga, Dan. Masa depan orang 'kan gak ada yang tau," sahut Abel yang hanya dibalas dengkusan entah untuk yang ke berapa kalinya oleh Ardan. Saat Abel dan Ardan tengah sibuk berdebat, mereka tidak mengira bahwa anak-anak tengah memperhatikan mereka. Menahan tawa saat melihat Abel terus membujuk, sementara Ardan tak kalah keras kepala dengan terus menolak. Baik Ardan maupun Abel sama-sama tidak sadar bahwa mereka tengah dijadikan tontonan anak-anak panti. Mereka berdua layaknya dua orang yang tengah memerankan peran dengan maksimal, dan anak-anak panti menikmati hal itu. "Cie-cie," salah seorang anak buka suara. Mengejutkan Abel dan Ardan. Keduanya sontak menoleh ke belakang di mana anak-anak panti berada. Melihat anak-anak panti yang kini tergelak bersamaan. "Abang sama Kak Abel udah kaya orang pacaran aja, sih. Berantem mulu, tapi lucu liatnya." "Iya, sama kaya yang di sinetron-sinetron yang ada di TV itu." "Jangan-jangan Abang sama Kak Abel emang udah pacaran, ya?" "Enggak!" seru Abel dan Ardan bersamaan. Sama-sama hanya fokus pada pertanyaan terakhir dari salah satu anak. Hal itu justru semakin membuat anak-anak gencar menggoda mereka. Anggi bahkan sampai bersiul memeriahkan suasana. Membuat keadaan seketika berubah memalukan bagi Abel dan Ardan. "Pacaran aja, Bang. Biar keliatan makin so sweet." Anak-anak yang lain berseru setuju mendengar saran dari Gilang. Ardan melongo. Bagaimana bisa anak-anak sekecil mereka mengerti arti so sweet di dalam hubungan? "Kalian itu masih anak-anak, gak usah segala ngomongin pacaran. Abang sama Kak Abel itu gak ada apa-apa. Lagian kami berdua juga masih sekolah, gak boleh main pacaran dulu atau sekolah kami bisa berantakan. Kalian juga jangan sampe ada yang mikirin pacaran. Kalian itu masih kecil. Awas, ya, kalian kalau bahas ini lagi!" Melihat sorot mata Ardan yang serius, anak-anak langsung terdiam, tidak berani menggoda lagi. Ardan melakukan hal itu tidak lain agar anak-anak tidak membahas hal dewasa seperti itu lagi. Ia tidak mau masa depan anak-anak yang belum terancang akan terganggu karena hal sepele tentang pacaran. Mereka adalah anak-anak malang, karena itulah masa depan akan sangat penting untuk mereka. Setidaknya untuk membuktikan bahwa sukses tidak hanya ada di tangan mereka yang memiliki kebahagiaan yang utuh, tapi setiap orang berhak mendapatkan kesuksesan tersebut. Dan kalau masih kecil saja mereka sudah mengerti tentang pacaran, bagaimana ke depannya kelak? "Bener apa kata Abang, kalian gak boleh ngomongin pacaran sagala macem. Soalnya kalian masih kecil," kata Abel setelah beberapa saat. Setuju dengan pendapat Ardan. Alhasil anak-anak tidak lagi menggoda Abel dan Ardan. Jujur saja, itu pun melegakan untuk Abel dan Ardan. "Oh, iya, Kak Abel itu orang kaya, ya? Kok kalau beliin kita jajanan bisa sampe banyak gitu?" tanya Fiona tiba-tiba. Abel tersenyum. Ia membuka sepatu yang belum sempat dibukanya dan naik ke teras, bergabung bersama anak-anak. Ardan pun akhirnya mengikuti Abel dan duduk di sampingnya. "Enggak, kok. Kakak bukan orang kaya, tapi orang tua Kakak yang kaya," sahut Abel. "Wah, pasti enak punya orang tua yang kaya. Kakak bisa beli apa pun yang Kakak mau. Selain punya orang tua, Kakak juga punya banyak uang," ujar Fiona terlihat berseri. "Iya, beda sama kita yang gak punya orang tua, dan kalau mau apa-apa harus nunggu sumbangan dari orang lain dulu," balas Dwi. Abel tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain, perkataan anak-anak benar adanya, ia berkecukupan dan memiliki keluarga yang utuh, sementara anak-anak tidak memiliki hal itu. Tapi di sisi lain, Abel ingin mengatakan bahwa tidak selamanya uang itu bisa memberikan kebahagiaan. Bahkan jauh di lubuk hatinya, Abel justru ingin bertukar tempat dengan salah satu anak. "Makanya kalian harus rajin belajar biar nantinya kalian bisa sukses dan akhirnya nisa beli apa pun yang kalian mau." Pada akhirnya Abel tetap tidak bisa mengatakan apa yang ia rasakan. Teringat sesuatu, Abel kepikiran satu ide. Ia menatap anak-anak dengan wajah ceria, kemudian berkata, "Gimana kalau kita main? Nanti Kakak kasih kalian hadiah." "Mau main apa, Kak? Hari ini panas banget. Aku gak mau kalau main petak umpet atau kejar-kejaran. Nanti makin gerah," sahut Gilang terlihat ogah. Anak-anak yang lain berseru setuju. "Gini, bukan permainan yang nguras tenaga, kok. Karena barusan kita bahas tentang masa depan, gimana kalau kalian ceritain cita-cita kalian. Siapa yang ceritanya bagus bakal Kakak kasih hadiah. Mau?" Ide yang cemerlang untuk menghabiskan sore yang cukup panas. Abel terkekeh saat melihat anak-anak mengangguk semangat. Mereka duduk berbaris di depannya, nampak tidak sabar untuk segera bercerita. "Oke, kita mulai. Yang cerita pertama adalah Gilang." Abel bertepuk tangan. Membuka permainan dengan cara paling biasa, tapi berhasil menyulut semangat. Gilang mengangguk. Ia membuka mulutnya mulai bercerita, "Kalau udah besar aku mau jadi arsitek." Dengan wajah tenang, tapi terlihat percaya diri. Abel bertanya, "Kenapa?" "Biar bisa renovasi panti ini supaya lebih besar dan lebih bagus. Supaya anak-anak seperti kami nantinya bisa hidup lebih layak dan nyaman. Supaya Bu Dona sama Abang juga bisa tidur lebih nyaman dari yang sekarang." Sungguh mulia. Abel terenyuh mendengarnya. "Kalau Fiona?" "Kalau aku mau jadi perancang busana, biar kami yang ada di panti gak perlu nunggu sumbangan buat pake baju layak. Aku cuma tinggal bikin, dan kami bisa main dengan lebih percaya diri. Dan setiap kali ada anak panti yang lulus sekolah, aku yang bikin baju buat dia, terus aku juga mau bikinin jas yang bagus buat Abang biar bisa dipake kalau Abang kerja nanti," sahut Fiona. Tatapan Abel beralih ke tempat Anggi duduk. "Kalau Anggi?" Cowok itu melebarkan senyumnya sebelum menyahut, "Kalau aku mau jadi pilot. Aku mau terbang ke berbagai negara yang ada di dunia. Nanti gajinya bakal aku kumpulin, supaya bisa beli tiket buat semua anak panti dan akhirnya kita bisa jalan-jalan bareng, deh." Dengan percaya dirinya Anggi mengatakan hal itu. Abel berdeham pelan. "Kalau Dwi gimana?" Anak perempuan yang dikucir kuda itu menjawab, "Cita-citaku gak sehebat Gilang, Fiona sama Anggi. Bahkan mungkin paling biasa aja. Aku gak mau jadi apa-apa kalau udah besar nanti." Sontak saja anak-anak menatap Dwi bingung. Begitu juga dengan Abel dan Ardan. "Aku gak mau jadi apa-apa, aku cuma mau kerja sebisaku, kumpulin uang sebanyak mungkin, dan bangun sekolah yang besar. Gak cuma buat anak-anak panti, tapi buat anak-anak lain yang gak mampu. Nanti di sekolah yang aku bangun, semuanya aku gratisin. Soalnya selama ini Bu Dona suka pusing mikirin biaya sekolah kami, jadi aku mau nantinya Bu Dona gak akan pusing lagi karena anak-anak bakal sekolah di sekolahku." Anak-anak yang lain turut menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, perawat, pengusaha, guru, dan polisi. Semuanya ditujukan untuk kebahagiaan satu panti. Satu-satunya rumah mereka. Kisah-kisah mereka amat menyentuh hati Abel dan Ardan. Setelahnya Abel langsung sadar bahwa selama ini ia tidak hanya tertinggal jauh dari Abi, saudara kembarnya, tapi juga dari anak-anak panti. Mereka bahkan masih kecil, terlalu kecil untuk memikirkan kerumitan masa depan, tapi di dalam hati mereka sudah tertanam niat mulia yang kuat. Mereka menginginkan kebahagiaan, bukan untuk mereka sendiri, melainkan untuk saudara mereka juga. Kedua mata Abel berair, tapi ia tidak ingin meneteskan air matanya. Ia memutuskan menyeka kedua matanya dengan ujung lengan kemajanya dan kembali memandang anak-anak. "Wah, cita-cita kalian bagus-bagus semuanya. Kakak sampe bingung cerita siapa yang paling bagus. Yang terpenting, semoga semua cita-cita kalian bisa tercapai nantinya." "Aamiin," sahut anak-anak bersamaan. "Karena Kakak bingung..." Abel melepas tas di punggungnya. Membuka resleting tasnya itu dan mengeluarkan plastik berukuran sedang dari sana. Abel mengambil plastik itu dan ditaruh di lantai. Di dalam plastik berwarna hitam itu, ada beberapa plastik lain yang berukuran kecil. Di dalam plastik tipis transparan itu, ada beberapa lembar foto. Setiap satu plastik, ada lima lembar foto berukuran kecil. Dan foto-foto itu merata di semua plastik. Abel membagikan plastik itu pada masing-masing anak. Yang disambut mereka dengan wajah semringah. "Ini baru Kakak cetak tadi di sekolah. Isinya sama semua. Biar kalian gak perlu iri-irian satu sama lain. Kalau nanti ada keluarga yang ngadopsi kalian, seenggaknya masing-masing dari kalian punya foto itu buat kenang-kenangan." Abel tersenyum saat melihat anak-anak memperhatikan foto yang mereka terima. Wajah-wajah itu terlihat sangat senang hanya karena lembaran tipis di tangan mereka. Dan Abel bersyukur bisa menciptakan raut kebahagiaan sesempurna itu. Mungkin karena terlalu senang, Fiona langsung berhambur ke pelukan Abel. Disusul anak-anak lain yang juga beringsut mendekat dan langsung memeluk Abel. Membuat Ardan yang sejak tadi diam memilih menjauh sebentar. Abel tergelak sambil membalas pelukan mereka susah payah. Ia tidak bisa bernapas karena pelukan anak-anak, tapi ia tidak ingin kehangatan yang tercipta hilang karena ia memilih melepaskan pelukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD