Dulu Asep pernah bertanya pada Abel, bukan sekali dua kali, tapi beberapa kali. Cowok itu bertanya saat menjemputnya di depan gerbang rumahnya malam-malam. Seperti biasa, untuk menemaninya makan malam. Kata Asep, apakah ia pernah merasa seperti memiliki seorang kekasih saat berada di boncengannya?
Lalu Abel menjawab bahwa ia tidak pernah memikirkan hal itu, dan mengatakan bahwa Asep terlalu buruk baginya. Padahal nyatanya, Abel pernah memikirkan hal itu, hanya saja ia tidak pernah memberitahukannya kepada Asep.
Abel tidak pernah memiliki kekasih, dan tidak tahu bagaimana rasanya memiliki kekasih. Tapi saat berada di boncengan Asep kemudian ia berkeliling malam-malam untuk mencari makan, ia merasa seperti remaja lain yang pergi dengan kekasihnya. Memang benar ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Asep, tapi mereka yang jelas saling berpacaran saja tidak jauh be berbeda dengannya. Keluar malam, mencari makan, dan saling mengobrol sampai harus teriak-teriak karena tidak kedengaran.
Bedanya, jika pasangan betulan akan memeluk pengemudi yang tidak lain adalah kekasih mereka, Abel tidak pernah melakukan hal itu.
"Stop-stop!" teriak Abel memukul kepala Asep. Cowok itu berhenti mendadak setelah menyalakan lampu sen.
Abel melompat turun dari boncengan Asep dan melepas helmnya. "Udah, sampe sini aja. Ardan pasti ada di taman. Lo langsung balik, gih," usir Abel sambil menyerahkan helm pada Asep.
Seperti perkataan Abel, ia dan Asep sudah berhenti di trotoar dekat taman. Bahkan tukang es krim langganan Abel kelihatan dari posisinya.
"Enak banget lo, ya. Abis ngegaplok kepala orang main kabur aja, langsung nyuruh gue balik gitu aja. Emang gak ada adab jadi temen."
Abel tergelak lagi. Seperti yang ia duga, ia dan Asep persis seperti sepasang kekasih. Sekarang ia terlihat seperti seorang gadis yang baru saja diantarkan pacarnya. Bedanya tidak ada status dan perasaan yang mengikat dirinya dan Asep.
"Udah gak usah ngegerutu segala. Balik sana!"
Karena helm yang disodorkan tak kunjung mendapatkan sambutan dari Asep, Abel memilih memasangkan helm tersebut langsung ke kepala Asep. Membuat Asep melongo keheranan.
"Apaan nih pake pasang-pasangin segala? Kalau gue baper tanggung jawab lo, ya!"
Abel ngakak lagi. Ia geleng-geleng kepala lantas berkata, "Gue aja selalu dipasangin helm sama lo. Sering banget malah. Dan gue gak pernah baper. Jadi lo juga gak boleh baper." Kemudian menjulurkan lidahnya pada Asep.
"Gue bercanda, ya. Lagian siapa juga yang mau baper sama cewek bar-bar kaya lo. Ogah!"
"Ya udah, bagus!"
Abel membuang muka. Asep fokus memperhatikan taman di belakang tubuh Abel. Ada beberapa pengunjung di taman tersebut. Bahkan ada juga yang mengenakan seragam SMA. Sehingga ia tidak bisa memastikan Ardan itu yang mana orangnya.
"Gue tunggu di sini, deh. Lo telpon Ardan dulu, kalau dia udah balik, lo bisa langsung gue anterin balik aja. Gak perlu naik angkot."
Bola mata Abel membulat seketika, bukan karena ia takut Ardan pulang seperti perkataan Asep, karena itu tidak mungkin, tapi karena ia lupa bahwa dirinya sudah memiliki nomor telepon Ardan.
"Astagfirullah," kata Abel melihat area taman dan Asep bergantian. Seharusnya ia menghubungi Ardan sejal tadi.
"Udah sana lo balik aja, Ardan gak akan pulang kok." Abel mendorong tubuh Asep, padahal tahu hal itu tidak akan membuat motor Asep melaju.
"Yakin?" tanya Asep.
"Iya."
"Ya udah, kalau mau dijemput bilang aja. Nanti gue ke sini. Gue balik sekarang."
Abel mengangguk dan Asep memasang pengait pada helmnya. Cowok itu menarik gas motornya setelah sempat tersenyum pada Abel.
Sepeninggal Asep, Abel langsung berlari ke arah taman. Sampai di dekat penjual es krim, ia menghentikan langkah. Matanya menyapu pandang ke sekitaran area taman. Dengan cepat menemukan sosok Ardan yang sedang duduk di kursi taman. Kursi yang selalu diduduki bersama Abel.
Abel tidak langsung berlari menemui Ardan, ia justru merogoh ponselnya di saku dan menghubungi nomor Ardan yang sempat dicatat oleh cowok itu, tapi ia lupa untuk langsung menghubungi sehingga Ardan tidak tahu nomor ponselnya.
Jauh di depan Abel, Ardan terlihat mengeluarkan ponsel dari saku celana. Sesaat, cowok itu terlihat bingung karena mungkin yang menghubunginya jelas nomor yang tidak dikenal. Tapi tidak butuh waktu lama, Ardan langsung mengangkat telepon dari Abel.
"Halo. Maaf, ini siapa, ya?"
Abel bahkan bisa melihat mulut Ardan bergerak menyebutkan kalimat itu. Ia menahan diri untuk tidak tertawa. Ponsel yang sudah Abel tempelkan ke telinga, ia jauhkan. Ia berdeham pelan sebelum menempelkan ponsel itu kw telinganya lagi. Membalas pertanyaan Ardan dengan pura-pura terbatuk beberapa kali.
"Ardan," panggil Abel lirih. Ia kemudian pura-pura batuk lagi.
"Abel?"
Bisa Abel lihat Ardan nampak terkejut di kursi sana. Hal itu nyaris membuatnya meledakkan tawa.
"Dan, maaf, ya. Kayanya gue gak bisa ke taman. Tiba-tiba aja gue sakit."
Abel terbatuk lagi. Suaranya ia buat selemah mungkin. Membuat tukang es krim yang berada di dekatnya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
"Lo sakit? Sekarang lagi di mana? Kok rame banget?"
Sontak saja Abel melihat sekelilingnya. Tentu saja ramai, ia sedang berdiri di dekat taman yang ramai kendaraan seliweran ke sana ke mari.
"Iya, soalnya masih di sekolah. Ini baru mau pulang, lagi nunggu angkot. Tadi ketiduran di UKS, jadi gue lupa ngabarin lo, Dan. Maaf..."
"Enggak, soal itu gak masalah."
Abel bisa melihat dengan jelas Ardan berdiri dari kursi. Cowok itu terlihat panik. Membuatnya semakin merasa berdosa.
"Lo bisa pulang sendiri? Emangnya gak ada temen yang nganterin? Si Asep, Leo sama Heri ke mana? Mereka udah pulang? Kalau lo balik sendirian gue malah khawatir. Gue jemput aja, mau? Gue ke sana sekarang."
Tidak kuat lagi, Abel menyemburkan tawa. Hal itu membuat Ardan menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Kok malah ketawa? Lo ngerjain gue, ya?" tanya Ardan.
"Maaf..." lirih Abel. Ia terkekeh geli mendengar nada bicara Ardan yang berubah ngegas. "Coba lo liat ke depan, deh. Jangan nunduk terus makanya jadi orang, kepala lo bisa copot nanti."
Di depan Abel, Ardan langsung mengangkat kepalanya. Cowok itu sempat mencari-cari, sebelum akhirnya tatapannya bertemu dengan Abel. Ardan mendengkus. Terdengar jelas di telinga Abel. Setelah itu, ponsel Ardan diturunkan dari telinga dan kembali dimasukkan ke saku celana.
Ardan kembali duduk di kursi sementara Abel berlari menuju cowok itu. Saat Abel hampir sampai di depan Ardan, kakinya justru tersandung. Hal itu hampir saja membuat Abel mencium rerumputan jika saja Ardan tidak bergerak cepat untuk menangkap tubuhnya.
Ardan membantu Abel berdiri dan segara kembali ke kursinya. Ia geleng-geleng kepala melihat Abel. "Lo tau karma, gak? Kalau tau, barusan lo baru ngerasain hal itu. Kontan gak pake ditunda lagi," tutur Ardan jengkel.
"Astagfirullah, jangan ngomongin karma dong, Dan. Serem tau. Gue 'kan berasa jadi manusia penuh dosa."
"Ya emang iya. Lo 'kan abis bikin dosa. Bohong sama gue seolah-olah lo lagi sakit. Gue udah khawatir, taunya lo malah nikmatin peran lo. Untung aja Tuhan maha baik, makanya Dia ngasih lo karma gak pake ditunda segala."
Abel cemberut. Ia duduk di samping Ardan. "Maaf, abisnya gue gemes aja liat lo yang masih duduk di sini. Padahal 'kan lo bisa pulang kalau nunggunya terlalu lama," ujarnya tidak tega.
"Terus gue biarin lo sendirian di sini, gitu? Gak masalah kalau gue pulang, dan lo gak dateng, tapi kalau lo dateng dan ikut nunggu, gue jadi ngerasa bersalah."
Gemas, Abel menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi Ardan. Membuat cowok itu mengaduh, tapi ia tidak peduli.
"Maaf, Ardan. Sesekali bercanda itu 'kan gak pa-pa. Jangan kaku-kaku amat napa kalau jadi orang."
"Bukan masalah kaku atau enggak, bukan masalah bercanda atau enggak. Gue juga suka bercanda, kok, tapi gak usah bawa-bawa kesehatan segala. Sampe pura-pura sakit buat bahan candaan, emangnya lo gak tau kalau ucapan itu doa?"
Abel meringis ngeri. Gawat! Sepertinya Ardan sangat marah, dan itu tidak main-main.
"Jadi tadi pas batuk, itu juga bohongan?" tanya Ardan menatap Abel. Ragu-ragu Abel mengangguk.
Ardan berdecih sinis. "Kayanya lo cocok banget jadi pemain sinetron. Soalnya lo pinter akting," ujarnya.
Abel tahu ia salah, ia juga sudah menduga bahwa Ardan akan kesal padanya, tapi tidak disangka semuanya akan berakhir serunyam ini. Ardan membesarkan masalah yang menurutnya tidak penting. Cowok itu membawa-bawa nama karma dan sampai memuji aktingnya. Kalau Abel tidak salah, sudah pasti Ardan sangat marah karena kelakuannya.
"Gak usah marah, dong. Gue 'kan gak ada maksud ngerjain lo."
"Tapi tadi lo ngerjain gue," tukas Ardan cepat.
"Iya, itu cuma iseng aja. Gue 'kan udah minta maaf."
"Untung aja karma lo cuma kesandung aja, coba kalau apa yang tadi lo anggap bercanda beneran kejadian, bukan gak mungkin lo bakalan sakit karena omongan lo sendiri."
"Lo nyumpahin gue?" tanya Abel mulai jengkel.
Ardan menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya tadi elo yang ngomong sendiri kalau lo lagi sakit?"
"Tapi itu 'kan cuma bercanda, Ardan!"
Setelah itu, Ardan tiba-tiba bangun dari posisi duduknya. Ia menatap Abel sekilas kemudian menghela napas. "Gue balik. Pegel gue duduk di sini dari tadi," katanya melangkah menjauh.
Eh?
Abel mendongak menatap Ardan yang berjalan menjauh. Apa Ardan benar-benar pergi?
Mulut Abel terbuka, ia ingin memanggil Ardan, tapi suaranya tidak keluar sama sekali. Ini adalah pertama kalinya Ardan pergi saat bersama dirinya. Selama ini Ardan selalu sabar. Meski ia datang terlambat, Ardan selalu menunggu tanpa mengeluh. Cowok itu yang paling sering menunggu, daripada dirinya.
Baru kali ini, saat Ardan masih tidak mengeluh sama sekali, tapi Abel merasa ditinggalkan bahkan sebelum Ardan melangkah menjauh.
Ardan adalah orang yang paling berharga untuk Abel. Bukan karena orang lain tidak berarti, bukan karena tiga temannya tidak berharga sama sekali, hanya saja Ardan berbeda. Cowok itu terlalu berharga, ia tidak nyaman jika Ardan marah padanya.
Abel meremas kedua tangannya gelisah. Apa yang harus ia lakukan agar Ardan tidak marah lagi? Apa yang harus ia lakukan agar Ardan mau memaafkannya? Apa ia harus berlutut sambil menangis? Membayangkan hal itu membuat Abel ingin menertawakan diri sendiri. Mana mungkin ia bisa melakukan hal itu.
"Udah, gak usah cemberut kaya gitu, makin jelek aja muka lo jadinya."
Lho?
Sontak saja Abel mendongakkan kepalanya. Ia melihat Ardan yang berdiri di depannya sambil memegang dua buah es krim cone.
"Lo bukannya katanya mau balik?" cicit Abel cemberut.
Ardan mencondongkan tubuhnya ke depan. Menyeringai tepat di depan wajah Abel. "Emangnya cuma lo yang bisa ngerjain orang?" tanyanya segera menjauhkan diri.
Abel menatap Ardan tidak percaya. Ini Ardan, lho. Memangnya tidak mustahil cowok itu bercanda, tapi tetap saja yang barusan Abel tidak seperti bercanda. Ardan mengatakan bahwa Abel sangat pintar berakting, tapi nyatanya Ardan sendiri yang lebih pintar dari Abel.
"Jadi dari tadi lo ngerjain gue?" tanya Abel jengkel.
Ardan mengendikkan bahunya acuh, membuat Abel kian geram. Abel bahkan sudah hampir menangis karena tidak bisa melihat Ardan marah, tapi ternyata Ardan hanya ingin balas dendam?
"Gak boleh kaya gitu tau. Lo ngomongin soal karma ke gue, tapi lo sendiri malah bales dendam kaya gitu. Itu dosa tau!" gerutu Abel kesal.
"Emangnya siapa yang mulai duluan? Siapa yang sok-sokan pura-pura sakit segala? Gue 'kan—"
"Stop!" sela Abel cepat. "Bahas aja terus. Gue 'kan udah minta maaf. Gak usah dibahas lagi lah. Sebel gue dengerin lo ceramah mulu."
Ardan tergelak melihat wajah Abel yang merengut. Tawa yang biasanya sangat Abel sukai, kini berbalik terdengar menyebalkan di telinganya. Ardan dengan tawanya barusan, terlihat sangat puas akan apa yang baru saja dilakukan.
"Udah, deh, gak usah ngambek gitu. Jelek!" Ardan menyodorkan satu es krim yang diterima oleh Abel dengan raut ogah-ogahan.
"Makanya lain kali gak usah bercanda, apalagi pake pura-pura sakit segala."
Abel melotot geram. Entah sudah berapa kali Ardan menegaskan kepura-puraannya. "Gue 'kan udah minta maaf, Ardan. Udah kenapa, sih. Jangan dibahas lagi."
Abel membuang muka, sama seperti yang sebelumnya Abel lakukan pada Ardan, kali ini Ardan mencubit Abel. Bukam di pipi, melainkan di hidung. Meninggalkan bekas kemerahan dan delikan tajam dari Abel selepas ia menjauhkan tangannya dan memilih duduk di samping Abel.
Siapa pun harus tahu bahwa yang Ardan lakukan sangat tidak lucu, terlebih cowok itu sudah membuat Abel sedih, Ardan juga hampir membuat Abel merasa bersalah karena sudah membuat Ardan marah. Tapi di sisi lain, Abel juga tidak bisa menutupi kelegaan yang dirasakannya ketika melihat Ardan kembali padanya. Dengan dua buah es krim di tangan. Sebagai bukti bahwa cowok itu tidak marah, dan sepertinya orang selembut Ardan memang tidak bisa marah.