5 - Cowok di Taman

1565 Words
Abel pernah mendengar, katanya rumah adalah tempat paling nyaman dan aman. Karena di sana ada keluarga yang selalu menunggumu pulang, ada keluarga yang selalu bisa diandalkan, dan ada saudara yang bisa dijadikan teman untuk saling melempar candaan. Rumah akan menjadi tempat paling akhir seseorang pulang. Menumpahkannya segala penat dan rasa sakit yang diterima dari dunia luar. Lalu, bagaimana jika keluarga yang dimiliki seperti keluarga Abel? Ada satu saudari yang hampir tidak pernah menganggapnya kakak dan tidak pernah mengakuinya, kemudian ada orang tua yang setiap hari hanya membandingkan dan menyuruh agar sang adik dijadikan panutan tanpa pernah mendengarkan keluhannya. Bisa dibilang, Abel tidak bisa membenarkan pendapat itu, tapi tidak juga ingin menyangkalnya. Ia hanya belum bisa menemukan rumah atau tempat pulang yang kata orang selalu menjadi tempat ternyaman. Ia tidak membenci keluarganya, justru sebaliknya, ia hanya membenci dirinya sendiri karena hidup tanpa pernah diinginkan siapa-siapa. Namun, meskipun begitu, Abel selalu ingin menunjukkan apa yang ia bisa. Agar setidaknya orang tuanya pernah bangga karena. Tidak apa-apa sekali saja, itu cukup. Cukup untuk membuktikan bahwa ia memang bisa berguna dan bisa pulang ke rumah tanpa perlu memikirkan pantaskah dirinya ada di sana? "Uangnya harus aku ganti?" Suara itu sontak membuyarkan lamunan Abel. Rupanya sejak tadi ia hanya diam tanpa memperhatikan sekelilingnya. Berjalan lurus tanpa mempedulikan ada apa di depannya, atau ada apa di sisi kanan kirinya. Beberapa meter dari posisinya, seorang anak kecil berdiri di depan seorang cowok berseragam SMA yang tengah berjongkok untuk menyamakan posisi. Di tangan anak laki-laki itu ada dua es krim berbeda warna. Satu warna pink menandakan rasa strawberry, satu lagi warna cokelat menandakan rasa cokelat. Saat Abel menoleh ke sisi lain, ada seorang penjual es krim yang mangkal di dekat taman. Sepertinya anak kecil itu membeli es krim itu di sana. "Gak usah, ambil aja. Tapi janji satu hal sama kakak, lain kali pegang es krimnya hati-hati supaya gak jatuh." Si cowok memberi pesan. Anak kecil di depannya mengangguk tiga kali. "Makasih karena udah beliin es krim yang baru," ucapnya nyengir lebar. Si cowok hanya terkekeh lantas mengusap puncak kepala anak itu lembut. Membiarkannya pergi menuju area taman. Abel termenung di tempatnya. Tidak sadar bahwa sejak tadi ia menghentikan langkah hanya untuk menyaksikan pemandangan di depannya. Cowok berseragam SMA itu bangun. Saat itu Abel melihat sesuatu di aspal yang tadi sempat tertutupi kaki si cowok. Ada es krim strawberry di sana. Sudah meleleh dan meninggalkan jejak yang sangat kentara. Abel menduga, bahwa cowok itu membelikan es krim baru karena es krim si anak jatuh. Waw. Abel takjub setelah menyadari hal itu. Memang hal sederhana, tapi makna di balik perlakuan kecil itu akan mengajarkan sesuatu untuk orang yang melihatnya. Namun, saat Abel akan melanjutkan langkah, matanya tiba-tiba membesar. Wajah ceria dengan senyum hangat yang awalnya diperlihatkan si cowok berubah menjadi raut wajah kesepian. Ada luka di sana dan Dhea tahu seberapa pandai cowok itu menyembunyikannya. Wajah itu baru diperlihatkan setelah anak laki-laki yang dibelikan es krim pergi. Tatapan keduanya bertemu. Netra berbeda warna itu saling bertubrukan. Jarak beberapa meter yang terpaut antara keduanya seolah hilang. Abel masih betah berlama-lama menikmati netra hitam itu, tapi si cowok sudah lebih dulu memutus pandangan dengan berkedip. "Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya cowok itu. Tidak diduga, Abel bertepuk tangan. Kesan pertama yang ditemukan si cowok dari Abel adalah aneh. Abel mendekat dan dengan sok akrabnya langsung memuji perlakuan si cowok sebelumnya. "Gue suka banget sama sikap lo waktu perlakuin anak kecil tadi. Gue pikir itu adik lo. Ternyata bukan, ya?" Untuk ukuran orang yang baru dikenalnya, si cowok beranggapan bahwa Abel terlalu banyak bicara. Seragam itu, ia tahu dari mana Abel bersekolah. Matanya memperhatikan Abel dari atas ke bawah. Rambut pendek, tampilan berantakan, ujung kemeja bagian tangannya digulung, seragamnya kucal, dan wajahnya sedikit berkeringat. Dan kali ini, untuk seorang perempuan, menurutnya Abel terlalu bar-bar. "Kok masih ada orang baik kaya lo di muka bumi ini. Gue kira udah musnah." Si cowok berdecih sinis. "Masih banyak, bahkan sangat banyak. Mata lo aja yang buta." Satu detik hening. Detik berikutnya masih hening. Kemudian detik berikutnya lagi Abel tertawa kencang sekali. Tentu saja masih banyak, karena ia memiliki teman-teman cowok yang bisa dikatakan baik semua. Hanya saja, yang tadi itu kan hanya bercanda, kenapa ditanggapi serius oleh makhluk manis di depannya? "Mata gue gak buta, kok, buktinya gue bisa liat muka ganteng lo itu." Terang-terangan sekali. Si cowok membuang muka sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Lalu, tangan terulurnya membuat si cowok terpaksa menatap Abel lagi. "Nama gue Abiella Kintan Annaliese." Hanya satu yang ada di pikiran si cowok saat melihat tangan Abel yang masih mengambang di depannya. Nama yang baru saja disebutkan Abel terlalu indah untuk seseorang dengan kepribadian seperti Abel. Gadis itu sok akrab, pecicilan, berantakan dan sepertinya nakal pula, tapi namanya terdengar merdu di telinganya. "Gue gak niat kenalan sama lo." "Tapi gue mau kenalan sama lo, gue suka sama lo sejak lo jongkok di depan anak kecil tadi." Apa-apaan ini? Si cowok memekik dalam hati. Ia bergidik ngeri mendengar pernyataan Abel. "Gue serius, ayo kita temenan." Abel mengulas senyum tipis. Tidak peduli bahwa yang diajaknya berteman adalah orang yang baru pertama kali dilihatnya. Cowok asing yang hanya sekadar terlihat menarik di matanya. Perhatian, dan kebetulan memiliki tatapan mata yang menyejukkan. Saat melihat senyum Abel terukir di bibirnya, si cowok langsung sadar bahwa Abel tak kalah kesepiannya seperti dirinya. Bibirnya memang melengkungkan senyuman, tapi tatapannya bukanlah tatapan seseorang yang hidup bahagia. "Gue Ardan," sahut si cowok yg mengaku bernama Ardan itu. Ia menyambut tangan Abel lembut. Membuat Abel tersenyum kian lebar. Itu adalah perkenalan paling konyol yang pernah ada. Tidak hanya Ardan, Abel pun beranggapan demikian. Abel berharap bahwa esok dan seterusnya ia masih bisa menemui Ardan, sedangkan Ardan yakin bahwa Abel adalah remaja aneh yang sok bersahabat dan pasti besok sudah hilang entah ke mana. "Ngapain anak sekolah elit kaya lo jalan kaki di sini?" tanya Ardan. Abel baru ingat setelah ditanya begitu. Tadi ia ikut membubarkan diri bersama siswa lainnya selepas bel berbunyi. Tiga temannya pamit pulang lebih dulu karena ada urusan. Ya, Abel tidak masalah karena biasanya pun ia memang sendirian. Tapi tadi Abel memilih untuk keluar gerbang, ketimbang menghabiskan sore di rooftop sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Ia baru sadar saat melihat Ardan dan anak kecil tadi, ternyata dirinya menyusuri trotoar jalan sampai akhirnya berada cukup jauh dari sekolah dan sampai di sebuah taman yang biasanya hanya dilewatinya. "Emangnya gak boleh kalau anak dari sekolah elit jalan kaki?" tanya Abel. Ardan mengendikkan bahunya acuh. Tidak peduli dan tidak berniat menjawab juga. Ia justru memutar tubuh dan berniat pergi dari sana, tapi pertanyaan Abel lagi-lagi berhasil membuatnya mengalah dan menghentikan langkah. "Lo mau ke mana? Ya kali baru kenalan langsung kabur? Gak mau makan-makan dulu sama gue?" Abel tidak pernah berkenalan dengan orang asing semasa hidupnya, teman-temannya di sekolah awalnya memang asing juga, tapi itu jelas berbeda. Karena berada di satu kelas yang sama, sudah pasti akhirnya akan berteman juga. Tapi kali ini, bisa dibilang Ardan adalah cowok pertama yang dikenalnya di luar sekolah. Ia jadi tidak tahu harus bersikap bagaimana. Baik, atau waspada? Sementara Ardan kebingungan karena pertanyaan Abel. Ia hanya fokus pada kalimat terakhir Abel. Ia bukanlah orang kaya, dan uang jajannya sudah habis untuk dibelikan es krim anak kecil tadi. Dan kalau Abel memang memang mengajak makan, dalam artian jika ia dan Abel makan, sudah pasti harus dirinya yang membayar karena ia adalah laki-laki. Tapi uangnya— "Ya udah, sebagai teman baru lo, hari ini gue yang traktir." Sontak Ardan membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Abel lagi. "Sorry, gue harus balik. Lagian gue gak niat makan sama lo," sahutnya menolak. Tapi jangan sebut dia Abel jika tidak bisa membujuk seseorang untuk ikut bersamanya, atau mengikuti kemauannya. Jangankan Raffi yang selalu tidak berkutik jika disuruh beli ini dan itu, Ardan pun akan ia taklukkan hari ini. "Gue gak nerima penolakan. Lagian santuy aja sama gue mah, gue gak bakal nyulik lo." Abel langsung menarik paksa tangan Ardan dan membawa cowok itu ke pinggir jalan. Ia melambaikan tangannya pada taksi yang melaju dari arah kanan. Taksi itu segera berhenti tak lama kemudian. "Heh? Ngapain lo berentiin taksi segala? Gue gak mau ikut sama lo!" Abel tidak peduli dengan protesan Ardan dan malah membuka pintu penumpang kemudian mendorong tubuh Ardan agar masuk ke dalam mobil. Abel ikut duduk di samping Ardan kemudian menutup pintu. "Gue tau tempat makan enak di deket sini," kata Abel. "Kalau deket ngapain segala baik taksi?" "Ya soalnya nanti pegel kalau jalan kaki." Mahal. Itulah yang sejak tadi dipikirkan oleh Ardan. Ia tidak pernah menaiki taksi. Kalau berangkat sekolah pun ia hanya menggunakan angkutan umum saja. Tidak ber-AC dan sangat panas kalau sedang ramai. "Padahal gue belum pernah naik taksi, karena biasanya gue naik angkot. Tapi masa ngajak temen baru naik angkot, kan nanti lo kepanasan." Untuk pertama kalinya sejak beberapa menit lalu Ardan sangat ingin tertawa mendengar penuturan Abel. Gadis itu memaksa untuk naik taksi hanya agar ia tidak kepanasan, sementara dirinya saja belum pernah naik taksi. "Tapi tenang aja, kebetulan sih gue anak orang kaya, jadi duitnya banyak lah walaupun kucel semua di kantong gue. Pasti kebayar kok taksinya." Tidak, Abel mengatakan hal itu tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Ia seolah baru pertama kali mensyukuri apa yang diberikan oleh orang tuanya. Yaitu materi. Abel menyebutkan tujuannya pada sopir taksi, dan taksi pun segera melaju. Ardan bertanya-tanya dalam hati selama perjalanan, apakah sebaik ini juga Abel pada teman-temannya di sekolah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD