Abel dan Ardan berhenti di salah satu tempat di pinggir jalan. Setelah membayar ongkos taksi, keduanya keluar. Yang ada di sana adalah sebuah restoran yang cukup terkenal. Abel tidak pernah ke sana, alasan ia mengatakan bahwa ada tempat makan enak yang diketahuinya adalah dari sosial media. Selain itu, hanya restoran itulah yang berada paling dekat dengan taman tempatnya bertemu dengan Ardan.
"Ini serius lo mau traktir gue makan di sini?" tanya Ardan.
Abel mengangguk mantap. "Gue belum pernah makan di sini. Biasanya gue kalau makan sama Asep di pinggir jalan. Makan bakso, sate, ketoprak, mie ayam, batagor, pokoknya makanan receh gitu, deh. Cuma katanya di restoran ini makanannya enak."
Ardan tidak mengerti kenapa makhluk di sampingnya itu sangat terus terang seperti sekarang. Tadi Abel mengaku tidak pernah naik taksi, sekarang Abel mengaku tidak pernah masak di restoran. Sebenarnya apa mau gadis itu dengan mengajaknya melakukan sesuatu yang dia sendiri saja belum pernah melakukannya?
"Makanan receh itu gak selalu receh. Banyak, kok, yang malahan lebih nikmat dari makanan di restoran-restoran. Jadi gak usah belagak makan di restoran segala. Mahal."
"Kalau duit gue ada, kok. Jadi tenang aja."
Ardan menatap Abel. "Bukan masalah duitnya, tapi kalau emang gak perlu, gak usah. Uangnya bisa lo simpen. Barangkali nanti ada keperluan mendadak, 'kan bisa dipake. Kalau masuk dan makan ke restoran ini, duit ratusan ribu bakal lenyap gitu aja. Kenyang 'kan gak harus mewah," tutur Ardan tenang.
Baru pertama kali dalam hidup Abel, ia bertemu dengan seseorang yang langsung membuatnya takjub hanya dengan perkataan pada pertemuan pertamanya. Ardan sederhana, dan dari kesederhanaannya Abel belajar bahwa memperlakukan orang dengan baik, agar orang itu tetap berada di dekat kita, itu tidak harus dengan hal mewah.
"Mantap, gue langsung suka sama lo, lo asik banget, sih." Abel bertepuk tangan. Memuji Ardan secara terang-terangan.
Setelah itu, Abel lantas menarik tangan Ardan. Keduanya melewati restoran mewah yang hampir dimasuki. Memilih untuk mencari tempat makan lain yang lebih murah. Yang kata Ardan tidak selalu receh.
***
Abel memilih berhenti di salah satu penjual ketoprak yang kala itu tidak terlalu ramai pengunjung. Kalau tidak salah, itu adalah penjual ketoprak yang pernah didatanginya bersama dengan Asep. Harganya tentu tidak mahal, tapi rasanya dijamin nampol dan bisa mengenyangkan. Tapi...
"Kalau makan di tempat gini lo mau?" tanya Abel.
Sebelum menjawab, Ardan melirik ke arah tangannya yang masih dicekal oleh Abel. "Pertama, lepasin tangan gue dulu," pintanya.
Sontak Abel terkejut dan mengikuti arah pandang Ardan. Rupanya ia tidak sadar bahwa selama perjalanan tadi tangannya terus memegang tangan Ardan, dan cowok itu diam saja. Karena malu, Abel langsung melepaskan tangannya lantas membuang muka. Baru kenal sudah pegang-pegang, mau ditaruh di mana wajahnya?
"Ya-ya, lagian lo anteng-anteng aja sih gue pegang, 'kan gue jadi gak ngeh."
Ardan mendengkus halus. Mana mungkin tidak sadar? Jelas-jelas itu tangannya sendiri, akan aneh jika tidak menyadari sedang memegang sesuatu.
"Karena lo diem, artinya lo mau makan di sini."
Abel berjalan lebih dulu mendekati gerobak di penjual ketoprak. Ada tenda seadanya di belakang penjual itu, saat ingin menuju salah satu kursi, ia melihat Ardan yang masih berdiam diri di tempat sebelumnya. Cowok itu terlihat enggan untuk makan bersamanya sejak di mobil tadi. Wajar saja, Ardan baru mengenalnya, mungkin cowok itu hanya menganggapnya gadis aneh. Kalau benar pun tidak apa-apa, karena nyatanya memang hanya dirinya lah yang tertarik pada Ardan sejak pertemuan pertama.
"Ardan!" panggil Abel setengah berteriak.
Ardan menoleh, tanpa menjawab ia langsung berjalan mendekati Abel. Keduanya berdiri di samping gerobak si penjual ketoprak. Rupanya penjual ketoprak itu berjualan bersama istrinya juga. Sang istri berjualan minuman dingin sederhana. Keduanya berbagi tugas satu sama lain.
Abel bertanya pada Ardan apakah cowok itu suka pedas atau tidak. Saat Ardan mengangguk, Abel akhirnya memesan dua porsi ketoprak pedas pada si penjual dan menunggu di dalam tenda. Keduanya duduk saling berhadapan di salah satu meja dengan kursi plastik.
Abel mulai berbicara lagi. "Padahal gue kira anak kecil tadi itu adik lo, tapi ternyata bukan. Sama orang asing aja lo sepeduli itu, gimana sama keluarga sendiri? Coba dong sama gue juga jangan jutek-jutek." Ia menatap Ardan yang justru merasa jengah diperhatikan olehnya.
"Tapi lo orang asing," sahut Ardan. Bosan sendiri dengan Abel yang terus-menerus berbicara.
"Anak kecil tadi juga orang asing, 'kan?"
"Tapi dia anak kecil, gak bisa apa-apa. Beda sama lo yang bisa ngeracunin gue dan nyulik gue tiba-tiba."
Mendengarnya Abel dibuat terbahak. Memang sih, penampilannya itu tidak terlihat seperti anak baik-baik, tapi 'kan kalau berpikiran sampai sejauh itu keterlaluan namanya.
"Jadi gue harus jadi anak kecil dulu supaya lo kalem sama gue?" tanya Abel.
Ardan menggeleng sambil mengembuskan napas lelah. "Gak gitu juga konsepnya."
"Di kelas gue ada dua puluh tiga cowok. Gue akrab sama mereka semua. Karena udah bareng hampir tiga tahun, gue bahkan hafal sama sifat mereka. Tiga di antaranya deket banget sama gue. Tapi gak ada tuh yang punya sifat kaya lo. Dingin, jutek, dan kaku. Untung aja muka lo cakep, jadi sifat jelek lo itu bisa gue toleransi."
Karena penasaran, Ardan akhirnya bertanya, "Apa sifat sok akrab lo itu berlaku ke semua orang? Kita baru kenal, dan lo udah curhat panjang lebar sambil ngomentarin sifat gue. Apa gak keterlaluan?" Dengan raut kesal.
Namun, lagi-lagi Abel justru tergelak. Ya, mau bagaimana lagi, itu adalah sifat alaminya sejak kecil. Ia sangat jarang menyapa teman perempuannya, tapi kalau teman laki-lakinya, bisa dibilang baru kenal satu hari saja ia bisa langsung akrab. Tidak hanya pada teman sekelasnya, saat duduk di kelas dua SMA, ia bahkan akrab dengan kakak kelas dan juga adik kelasnya.
Seperti kata Ardan, ya, Abel membenarkan hal itu. Ia bisa bersikap akrab bahkan dengan orang yang baru ditemuinya. Kalau kata Asep, dirinya bisa saja mudah diculik karena sifat itu. Terlebih lagi karena hampir semua temannya adalah cowok, bukan tidak mungkin pikiran b***t bisa muncul dari salah satu temannya karena Abel terlalu bersahabat.
Semua itu bermula saat Abel masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu ia sudah memiliki banyak teman laki-laki. Ia lebih suka mengerjakan tugas bersama anak laki-laki, lebih suka bermain bersama anak laki-laki, bahkan lebih suka mengobrol tentang film robot yang ditontonnya bersama anak laki-laki. Semua teman perempuannya menjauh karena tidak cocok dengan kebiasaan dan pembicaraan Abel. Dan tanpa disadari, hal itu berlanjut sampai Abel duduk di bangku SMA.
Dan dari semua itu, Abel bertanya pada Ardan, "Apa salah kalau gue mau temenan sama lo? Gue gak punya temen cewek, dan sikap lo ke anak kecil tadi itu manis banget. Terkesan lembut dan perhatian. Gue jarang punya temen yang sikapnya kaya gitu."
Bukan, bukan berarti teman-temannya tidak baik. Hanya saja, Abel merasa bahwa Ardan berbeda. Dan yang terpenting, sepertinya seru memiliki teman dari sekolah lain yang membuatnya akan meluangkan waktu di sela hari-harinya hanya untuk bertemu. Dan Ardanlah orang itu.
Mulut Ardan sudah terbuka. Ingin menjawab pertanyaan Abel, tapi pesanan ketoprak mereka sudah datang. Istri dari penjual ketoprak membawakan dua piring ketoprak dan dua gelas es teh manis. Sementara Abel sudah mengunyah suapan pertama, Ardan justru masih diam dengan tatapan ke arah piring ketoprak.
"Tenang aja, karena gue yang ngajak lo, nanti gue yang bayar."
Abel seolah tahu bahwa Ardan tidak punya uang. Karena hari sudah terlalu sore, dan ingin segera pulang, Ardan akhirnya meraih sendok dan mulai menyantap ketopraknya. Mungkin jika lain kali ia bertemu dengan Abel, ia akan mengganti uang gadis itu. Walaupun ia sendiri tidak yakin bahwa ia dan Abel akan bertemu lagi. Tapi tidak masalah, karena Abel sudah menyeretnya sampai sejauh ini. Bukan tidak mungkin ada hari lain di mana dirinya dan Abel akan dipertemukan kembali.
Di sela-sela kegiatannya, Abel teringat sesuatu. Tangan kirinya melepas tas yang dikenakannya dan membuka resleting untuk selanjutnya mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan grup yang dibuat oleh Asep. Berisi Asep sendiri, dan tentu Abel, Leo dan Heri.
Setiap hari grup itu hanya berisi percakapan bebas antara Abel dan teman-temannya. Terkadang menjadi wadah untuk menghujat saat ada di antara mereka yang memiliki nilai paling rendah di ujian. Hanya sebagai candaan dan tidak berlebihan tentunya. Dan kali ini, Abel mengetikkan sesuatu untuk dikirim ke grup itu.
Gue lagi kencan nih sama cowok dari sekolah lain.
Tiga temannya yang memang sedang online langsung merespon pesannya. Nama Asep, Leo dan Heri secara bergantian muncul di bagian bawah nama grup. Memberi tahu bahwa mereka sedang mengetik. Emoticon tertawa dengan berbagai macam jenis muncul satu persatu. Berasal dari nama Asep dan Heri. Tidak hanya itu, keduanya juga mengirimkan stiker dengan gambar bermacam-macam pula. Semuanya berisi stiker yang juga menertawakan pesan Abel.
Heri : Alhamdulillah, jangan lupa pajak jadiannya
Asep : Halu aja kerjaannya heran
Leo : Gue ngakak sampe guling-guling asli dah
Heri sepertinya memang tidak akan paham jika belum dijelaskan, sedangkan Asep dan Leo tidak percaya dengan pesan yang dikirimkan Abel.
Asep : Coba kirim gambar kalian berdua biar gue percaya.
Leo : Tul
Heri : Be
Seketika Abel langsung melirik Ardan yang sedang makan ketoprak dengan tenang. Kalau ia melakukan gelagat aneh, Ardan akan curiga dan mungkin akan risih juga. Cowok itu bisa langsung merebut ponselnya jika Abel memotretnya terang-terangan.
Memilih mengabaikan kolom percakapan yang mulai penuh dengan pesan-pesan menuntut gambar, Abel akhirnya memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas. Ia melanjutkan makannya dengan tenang. Sesekali ia melihat Ardan yang tidak tidak menyentuh apa-apa selain makanannya. Sepertinya cowok itu memang sangat disiplin.
Abel sudah tahu kalau teman-temannya tidak akan percaya jika tidak ada bukti, tapi mungkin tanggapan mereka akan sedikit berubah jika ia ceritakan langsung nanti.