7 - Penipu Ulung

1923 Words
Abel merasa bahwa harinya akan terasa merepotkan hari ini. Ia bahkan baru sampai di depan pintu, tapi tatapan tiga temannya di kursi belakang sudah seperti orang yang siap menagih utang. Abel merasa seperti sedang ditelanjangi. Ia lupa, ternyata tiga temannya itu memang tidak akan percaya pada sesuatu jika tidak ada bukti. Apalagi yang berhubungan dengan Abel. Semalam, Abel sudah menjelaskan pada temannya bahwa ia memang makan ketoprak bersama dengan cowok dari sekolah lain, tapi tetap saja Asep dan Leo menganggapnya itu hanya bualan Abel saja yang sudah mulai ingin punya pacar. Ya, karena selama ini selalu dekat dengan para cowok, Abel tidak pernah berpikir tentang sesuatu semacam pacaran. Jika ia butuh cowok yang bisa diandalkan, ia punya Asep. Jika ia butuh cowok yang cool dan pintar, ia punya Leo. Dan jika ia memerlukan seseorang yang pengertian, ada Heri juga yang selalu siap kapan pun untuknya. Mungkin karena itulah Abel tidak pernah membutuhkan seorang pacar. Selain karena tidak tahu apa fungsi dari pacaran atau apa fungsi dari pacar itu sendiri, ia juga tidak mau terikat hubungan seperti itu. Yang kalau sudah putus, hanya asing yang tersisa. Tiga temannya sangat tahu bahwa Abel tidak ingin berpacaran, saat kemarin Abel berkata sedang berkencan dengan cowok, mereka tentu tidak percaya. Dan saat Abel mengaku bahwa ia hanya makan ketoprak saja, temannya malah mengira bahwa ia sudah taubat dan berniat untuk memulai hubungan dengan lawan jenis. Sampai di kursinya, Abel mendengkus kesal saat tatapan-tatapan itu terlihat sangat menggelikan. Ia melempar tasnya ke atas meja dengan kasar. Menimbulkan bunyi gedebuk yang cukup nyaring. Saat duduk di kursinya, Asep menggeser kursi lebih dekat dengan Abel. "Jadi gimana mimpi lo? Udah kelar?" tanya Asep diselingi tawa. Mimpi katanya? "Kita tuh kenal udah hampir tiga tahun, Bel. Dan baru kali ini lo ngaku lagi kencan sama cowok. Mungkin kemarin lo lagi demam, Bel." Demam? "Kalian jangan kaya gitu dong. Harusnya kita bersyukur kalau Abel punya pacar. Bilang 'alhamdulillah' gitu." Abel menatap Heri. Cowok itu walaupun agak bodoh, tapi memang pengertian sekali. Mungkin kebodohan Heri ditonjolkankan agar dia tidak sesompral teman-temannya. Yang kalau bicara tidak pernah disaring. "Makasih, Her. Lo pengertian banget. Emang lo doang temen gue," kata Abel. Heri semringah mendengarnya. "Sama-sama, Bel. Tapi gak boleh gitu, soalnya Asep sama Leo juga temen lo, temen gue, dan temen kita semua." Sudah seperti jargon salah satu stasiun televisi saja. Satu untuk semua. Abel menghela napas. Ia baru sadar ternyata inilah kerugian terbesar karena berpenampilan tomboi dan hanya dekat dengan para cowok saja. Sekalinya dekat dengan cowok lain, teman-temannya tidak akan ada yang percaya. Bukannya Abel menyesali tindakannya yang 'katanya' sudah seperti cowok saja, itu tidak benar, ia hanya sedikit kesal karena diremehkan. Habisnya mau bagaimana lagi. Seumur hidup Abel hanya melakukan, memakai, berbicara, dan memakan apa yang ia suka saja. Bukan berarti Abel membenci teman perempuannya karena tidak bermain dengan mereka, menurut Abel, berteman dengan perempuan hanya ada banyak gosipnya saja, dan entah kenapa ia lebih suka saja berteman dengan cowok. Para cowok memang terkadang membicarakan temannya di belakang, mereka juga kadang saling curhat, belum lagi salah paham dan perbedaan pendapat, itu sering terjadi. Dan Abel memaklumi. Tapi Abel bisa menjamin bahwa tingkat solidaritas teman-temannya lebih terjaga, daripada para gadis di kelasnya. Kalau ada satu yang tidak makan, yang lain akan patungan. Kalau ada satu yang bertengkar, yang lain tidak akan diam dan membantu untuk saling merangkul lagi agar masalah terselesaikan. Namun, lagi-lagi permasalahannya memang hanya pada diri Abel. Ia adalah satu-satunya gadis yang paling dekat dengan Asep, Leo dan Heri. Sehingga sangat wajar jika ketiganya tidak percaya saat Abel jalan dengan cowok lain, karena merekalah yang paling mengetahui Abel. "Gue gak bohong. Kemarin gue liat cowok di taman lagi beliin es krim buat anak kecil. Gue kira adiknya, ternyata bukan. Gue suka aja sama sikap dia. Langsung aja gue ajak kenalan," ujar Abel. Tiga temannya melongo. "Innalilahi," komentar Leo. "Gak waras emang nih anak," sambung Asep. Di antara mereka, Heri justru tergelak. "Salut, deh, gue sama lo, Bel. Ternyata lo kencan sama tukang es krim?" tanyanya kemudian ngakak lagi. Sudah pasti Heri hanya fokus pada kata 'es krim' yang sempat keluar dari mulut Abel. "Tuh orang gak kabur diajak kenalan tiba-tiba? Secara lo 'kan serem gitu," kata Leo. Abel menggeleng. Ia ingat, Ardan sama sekali tidak memasang gelagat ingin kabur kemarin. "Terus mau aja gitu dia diajak kenalan sama orang asing?" Kali ini Asep yang bertanya. Abel langsung memukul kepalanya. Namanya kenalan, ya, sudah pasti dengan orang asing. Kalau bukan orang asing, itu bukan kenalan namanya, tapi menyapa. "Awalnya sih galak, tapi akhirnya dia mau gue ajak makan walaupun gue paksa-paksa. Parah sih mukanya ganteng banget. Bersih, rapi, dan cool gitu gayanya." "Lebih ganteng mana sama gue?" Kalian pasti sudah tahu bukan siapa yang bertanya? Siapa lagi kalau bukan Leo. Cowok paling percaya diri plus cowok paling sok cool seantero sekolah. Leo tidak akan sungkan mengakui bahwa dirinya keren dan pantas menerima pujian. Hal itu terlihat menjijikkan di mata Abel, tapi paras Leo yang memang lumayan cukup mendukung sifat absurd-nya yang satu itu. "Lebih ganteng dia, Le. Dia mah kalem, gak kaya lo yang berisik dan sok cool. Pokoknya definisi murid teladan berwajah tampan." "Emangnya gue bukan murid teladan?" Abel dan Asep menggeleng bersamaan. Sementara Heri menatap ketiganya bergantian. Tidak terlalu paham dan akhirnya memilih diam. Leo yang nampak tidak puas dengan tanggapan Abel dan Asep hanya berdecih sinis. Menurutnya, mereka itu hanya iri. Ya, hanya iri. "Terus dia dari sekolah mana, Bel?" tanya Asep kembali menatap Abel. Seketika wajah Ardan melintas di kepala Abel. Lengkap dengan seragam sekolah yang dikenakan cowok itu. Sebenarnya Abel tidak tahu Ardan dari sekolah mana, dan itu tidak penting juga sebenarnya, yang penting ia bisa berteman dengan Ardan. Bukan hanya kemarin, tapi mungkin hari ini dan seterusnya. Karena Ardan cowok paling menarik yang pernah ditemui Abel. Alhasil, Abel menggeleng. Ia menjawab, "Gue gak tau anak mana, soalnya seragamnya putih sama abu aja. Beda nih sama kita yang celana sama dasinya kotak-kotak warna biru muda. Pokoknya seragam dia tuh kaya kebanyakan seragam anak SMA aja." Dengan wajah yang masih terlihat sedang membayangkan. "Kan pasti ada info tentang nama sekolahnya di lengan bagian kanan atau kiri." Asep mengangguk membenarkan perkataan Leo. "Emangnya gue harus banget merhatiin hal sekecil itu? Bikin repot tau, gak!" Nah itu dia, mode malas Abel muncul. Sesuatu yang menurut Abel merepotkan dan memerlukan pemikiran berlebih tidak akan ia lakukan. Itulah sebabnya nilai Abel b****k, karena otaknya karatan akibat jarang belajar. Dasar Abel. *** Abel menghentikan langkah saat samar-samar mendengar namanya disebut. Gerakannya yang tiba-tiba membuat tiga orang di belakangnya mengumpat karena saling menubruk satu sama lain. Masalahnya mereka sedang berada menuruni anak tangga, posisi Abel yang berhenti di lantai dasar membuat mereka kesal karena bisa saja membuat mereka terguling. Mereka ingin mengumpat, tapi Abel segera mengangkat telunjuknya, meminta mereka agar tidak berisik. Samar-samar terdengar obrolan dari balik tembok tempat mereka bersembunyi. Abel yang berada di ujung tembok sempat mengintip sedikit, melihat Abi yang sedang berbicara dengan seorang guru yang merupakan wali kelas mereka. "Coba kamu bicara sama Abel, Bi." Suara lembut nan halus itu terdengar. Abel hafal suara itu. Suara yang kerap memperingatkan dirinya agar belajar lebih baik lagi. Bicara apa? Abel bertanya-tanya. "Saya udah sering minta Abel buat belajar sama saya, Bu. Bukan sekali, malah setiap malam setelah makan malam saya selalu ngajak dia belajar bareng. Tapi Abel selalu nolak dan lebih milih buat main ke luar atau ngabisin waktu gak jelas di dalam kamar. Saya malu mengakui ini, tapi Abel udah terlalu malas dan sulit buat diajak berubah." Apa-apaan itu? Abel bahkan tidak ingat kapan Abi pernah mengajaknya belajar bersama. Karena memang tidak pernah. Jangankan belajar, mengobrol pun sangat jarang dilakukan. Adiknya itu selalu menjaga jarak dengannya. Lalu, apa yang barusan Abi katakan? Apa Abi sedang berusaha menjelekkan dirinya dengan terus mempertahankan nama baiknya? "Kalian udah kelas tiga. Nilaimu selalu memuaskan, Abi, tapi ibu benar-benar berharap bahwa Abel bisa lebih baik di tahun ketiganya. Karena nilainya cenderung hanya bertahan di angka rata-rata, itu pun terkadang Abel harus menjalani ulangan tambahan. Ibu sangat berharap pada kamu, Abi." Jaraknya dengan Abi dekat sekali, sampai Abel bisa mendengar hela napas berat dari Abi. "Baik, Bu. Nanti akan saya bicarakan lagi dengan kakak saya, Abel. Saya juga berharap dia bisa lebih baik tahun ini." "Ibu mengandalkan kamu, Abi." Kemudian terdengar suara langkah kaki menjauh, disusul langkah kaki lainnya. Sepertinya dua orang itu sudah pergi. Menyisakan sesak yang melanda Abel, karena apa yang dibicarakan oleh Abi sangat bertolak belakang dengan sifat asli gadis itu padanya. Selang kepergian Abi dan wali kelasnya, Abel dan tiga temannya kembali melanjutkan langkah menuju kantin. Masih berdengung di telinga Abel perkataan Abi yang menyudutkannya dan seolah berkata bahwa Abi sudah mengusahakan sebaik mungkin agar Abel mau belajar. Hal itu amat membuat Abel terluka. Dari banyaknya malam yang ia lalui, tidak pernah sekalipun Abi datang menghampiri apalagi berniat membantunya. Adiknya itu memakai topeng yang amat sempurna sampai siapa pun tidak ada yang menyadari kebohongan besar di baliknya. "Emang lo sering diajak belajar sama Abi, Bel?" Heri bertanya polos. "Kok gak pinter-pinter juga?" sambungnya tidak berpikir lagi. Sontak saja Asep langsung memukul kepalanya. "Namanya diajak doang mana mungkin bisa jadi pinter. Lagian gak perlu ditanya aja kayanya gak mungkin Abi mau ngajak Abel belajar. Nyapa aja gak pernah, apalagi sampe ngajak belajar bareng. Iya gak, Bel?" Abel tidak menjawab. Leo yang gemas melihat tingkah Abel meraih bahu gadis itu, merangkulnya akrab. "Dia mah cuma cari perhatian aja. Di depan guru sok manis, padahal aslinya busuk. Cantik sih, tapi gue gak minat akrab sama makhluk macam dia," ujarnya memiringkan kepala agar bisa menatap Abel. Gadis itu balas menatapnya. "Sekali-kali gak masalah, kok, elo bilang sesuatu. Meluruskan apa yang dibilang Abi, misalnya. Lama kelamaan itu anak makin ngelunjak sama lo, Bel." Benar apa yang dikatakan oleh Leo. Abi mungkin saja akan semakin besar kepala karena terus menerima pujian dari guru, sedangkan Abel semakin rendah saja karena terdengar sangat malas dari penuturan adiknya. Abel bisa saja mengadukan kenyataannya pada guru, tapi bukan tidak mungkin ia malah tidak akan dipercaya karena reputasinya yang buruk. Abi seperti sedang berjalan santai di atas awan, sedangkan Abel justru berjalan di pinggir jurang penuh risiko. Jika ia lari menjauh, Abi tidak akan berhenti dengan pembelaannya, sedangkan jika harus mengadu, nama Abel bisa saja semakin jelek karena mencoreng nama baik Abi. Si ketua kelas yang terkenal ramah dan dipuja setiap siswa di kelasnya. Mana mungkin 'kan Abi melakukan hal serendah itu? "Gak usah," kata Abel akhirnya. Ia mengulas senyum tipis. Tidak ada gunanya juga melawan adiknya sendiri. Keadaan tidak akan membaik, dan hubungannya dengan Abi akan semakin memburuk. Asep memukul bahu Abel pelan. Pukulannya turut melepaskan rangkulan Leo. "Sesekali ngeluh tuh gak pa-pa, Bel. Lo gak perlu terus bertahan dari pembelaan Abi. Kalau dia gak gitu, lo bisa jelasin kebenarannya, atau lo malah makin hancur nantinya karena terus ngikutin permainan Abi," ujarnya tulus. Heri mengangguk setuju. "Gue emang gak pinter, tapi kalau Abi nyakitin lo, gue bisa bantu bales dia buat lo." Abel benar-benar bersyukur, karena memiliki tiga orang teman yang sangat mempercayainya. Di saat keseluruhan temannya lebih dekat dengan Abi dan memuja kepintaran serta kecantikan Abi, tiga temannya justru tidak melakukan hal itu. Mereka mengenalnya sebagai gadis baik yang bisa dipercaya, tidak seperti apa yang dikatakan Abi yang terus menjelekkan dirinya. "Serius, gue gak pa-pa. Gak usah dipikirin lah apa yang Abi omongin tadi. Lagian kita juga udah mau lulus, gue yakin gue bisa lulus dan bebas dari kebohongan dia." Tidak punya pilihan lain, karena Abel sudah memutuskan, alhasil tiga temannya hanya bisa mendukung. Dan itulah satu-satunya hal terpenting yang Abel butuhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD