2 - Kedekatan Awal

1553 Words
"Saya tahu kamu masih bingung dengan ucapan saya tadi. Tapi, apa boleh saya minta nomor ponsel kamu? Toh kita akan sering berhubungan kan? Entah masalah pekerjaan ataupun hal lainnya." Pak Anthony tersenyum. Aku memberikan nomorku kepadanya dan membalas senyum beliau. Jujur Pak Anthony sangat menarik. Beliau memiliki wajah yang tampan, kulit putih, tubuh yang tinggi, berisi, dan rambut hitam yang tertata rapih. Sepertinya tidak mungkin ada yang menolak laki-laki tampan sepertinya. Namun, aku sadar posisi dan trauma yang aku miliki saat ini. Satu hal yang pasti, aku belum bisa membuka hati untuk laki-laki lain. Karena dalam lubuk hati terdalam masih tersimpan nama Mas Hilman. "Annisa, nanti pulang kerja saya antar ya. Hari ini pekerjaan saya cukup padat soalnya, jadi tidak bisa makan siang bareng kamu." "Tidak perlu Pak, saya biasa pulang sendiri." "Ayolah Annisa, tolong berikan saya kesempatan. Lagipula, rumah kita kan searah." "Baiklah kalau begitu Pak." "Nanti saya chat ya. Saya pergi dulu Annisa." Pak Anthony tersenyum dan berjalan meninggalkan aku. Aku mengangguk dan menarik nafas panjang sambil memandang punggung Pak Anthony yang makin menjauh. Sebenarnya apa yang dipikirkan laki-laki sepertinya? batinku. Aku menggelengkan kepala dan kembali duduk di meja kerjaku. Lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Pak Amin untuk menanyakan keberadaan beliau dan menginformasikan terkait kedatangan Pak Anthony tadi. Setelah mengirim pesan, beberapa saat kemudian Pak Amin menelpon. "Annisa, kamu baik-baik saja kan?" "Alhamdulillah baik, memang kenapa Pak?" "Bagus kalau begitu. Karena saya sempat dengar Pak Anthony adalah orang yang dingin dan kurang bersahabat. Tapi, ada perlu apa beliau mencari saya pagi-pagi begini?" Terdengar suara tarikan nafas Pak Amin. "Beliau bilang hanya ingin berkunjung Pak. Tadi saya ingin segera menghubungi Bapak, namun beliau bilang tidak perlu karena belum membuat janji temu dengan Bapak. Beliau hanya berpesan jika Bapak sudah sampai kantor, Bapak di minta untuk segera datang ke ruangannya." "Baik kalau begitu. Terima kasih banyak infonya Annisa." "Sama-sama Pak." Aku kembali menaruh ponsel di samping laptop dan mulai mengerjakan pekerjaanku. Sekitar 20 menit kemudian, Pak Amin datang dan memintaku untuk segera masuk ke ruangannya. Akupun bergegas mengikuti beliau dari belakang dan masuk ke dalam ruangan. "Annisa, tolong siapkan beberapa dokumen yang sedang kita kerjakan. Saya mau ke ruangan Pak Anthony." "Baik Pak, akan segera saya siapkan." Pak Amin mengangguk. Aku berjalan ke luar ruangan dan bergegas menyiapkan beberapa dokumen sesuai permintaan Pak Amin. Beberapa saat kemudian, Pak Amin keluar ruangan dan menghampiriku. "Gimana Sa, dokumennya sudah siap semua?" "Sudah Pak, alhamdulillah." Aku menyerahkan dokumen yang baru saja selesai aku siapkan. "Terima kasih Annisa. Owh ya, gimana penampilan saya? Sudah rapih kan?" "Sudah Pak." Aku tersenyum. Pak Amin mengangguk dan berjalan ke luar ruangan. Sedangkan aku kembali bekerja dan menyiapkan bahan untuk rapat siang ini. Saat jam makan siang tiba, aku segera makan siang dan shalat dzuhur terlebih dahulu. Hal ini selalu aku lakukan karena khawatir ada pekerjaan dadakan. Aku juga terbiasa membawa bekal sendiri. Selain untuk menghemat pengeluaran, hal tersebut juga tidak membuatku repot membeli makanan di luar. Selesai makan siang dan shalat, aku kembali menyelesaikan pekerjaan. Terkadang, setelah makan siang dan shalat aku menyempatkan diri untuk video call anak-anak. Namun karena pekerjaan hari ini cukup padat, aku tidak melakukannya. Sekitar jam 13.00 WIB Pak Amin kembali ke ruangan. "Persiapan untuk rapat nanti bagaimana Sa, sudah siap?" "Alhamdulillah sudah Pak. Bahannya juga sudah saya print dan taruh di meja Bapak." "Baik, terima kasih banyak Annisa. Owh iya, nanti tolong temani saya rapat ya. Pak Anthony meminta saya mengikutsertakan kamu dalam rapat nanti." "Baik Pak, saya akan segera bersiap." "Nanti dalam rapat kamu coba buatkan notulen juga ya. Agar kamu juga mendapatkan nilai tambah didepan beliau. Maaf ya Sa, pekerjaanmu jadi bertambah. Saya juga tidak tahu kenapa Pak Anthony meminta kamu untuk ikut serta. Tapi tenang saja, saya akan mengcover kamu jika terjadi hal-hal yang mungkin membuat kamu tidak nyaman." "Siap, terima kasih banyak Pak. Owh iya, Bapak sudah makan siang?" "Sudah, tadi bareng Pak Anthony. Entah kenapa saya merasa dia tertarik dengan kamu Annisa. Tadi beliau banyak bertanya tentang kamu lho." Pak Amin memandangku heran. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Amin. Pak Aminpun masuk ke ruangannya dan aku kembali mengerjakan beberapa surat masuk dan bersiap untuk rapat nanti. Untungnya rapat di mulai jam 14.00 WIB, jadi aku masih bisa mengerjakan pekerjaan lain. Beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan chat masuk dari ponselku. Akupun segera mengambil ponsel dan membukanya. Di sana tertera nomor telpon yang tidak aku kenal. Aku membuka chat tersebut. Ternyata chat dari Pak Anthony, dia menanyakan apakah aku sudah makan siang atau belum. Aku segera membalasnya dan mengatakan aku sudah selesai makan. Setelah selesai membalas, aku menaruh kembali ponselku dan kembali bekerja. Waktu sangat cepat berlalu, Pak Amin sudah keluar dari ruangan dan mengajakku untuk berangkat ke ruang rapat bersamanya. Aku membawa beberapa dokumen yang mungkin diperlukan seperti buku dan pulpen untuk mencatat. Setelah siap, kami berjalan beriringan menuju lift. Kebetulan rapat di adakan di lantai 28. Sesampainya di sana, kami langsung masuk dan duduk berseberangan dengan tempat duduk Pak Anthony. Kami segera menyapanya, namun beliau meminta kami untuk duduk di sampingnya. Pak Amin segera bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti perintah beliau. Sedangkan aku mengekor di belakang Pak Amin dan duduk di sampingnya. Rapat berjalan dengan lancar, aku juga telah selesai membuat notulen yang nantinya akan aku ketik dan serahkan kepada Pak Amin. Saat aku dan Pak Amin akan keluar ruangan, Pak Anthony kembali memanggil Pak Amin dan memintanya untuk menjelaskan beberapa hal terkait rapat tadi. Akupun izin kembali ke ruangan terlebih dahulu kepada Pak Amin. Untunglah beliau mengizinkan. Jabatan aku di sini sebagai sekretaris, aku tidak mau pekerjaanku terlalu padat sehingga harus lembur dan waktu bersama anak-anakku berkurang. Sesampainya di ruangan, aku segera mengerjakan notulen rapat. Setelah selesai, aku mengirimkan soft copynya ke email Pak Amin lalu mencetak dan menaruhnya di meja beliau. Saat jam pulang kerja tiba, Pak Amin belum kembali ke ruangan. Akupun segera mengirimkan chat kepada beliau untuk izin pulang. Beberapa saat kemudian, Pak Amin membalas. Beliau menyetujuinya dan menginformasikan bahwa saat ini beliau sudah tidak ada di kantor. Beliau ada urusan pribadi di luar setelah diskusi dengan Pak Anthony. Akupun segera bersiap untuk pulang. Saat sampai di lobby, aku bertemu Pak Anthony. Beliau memanggil dan berjalan menghampiriku. "Baru saja saya mau telpon kamu, ternyata kita malah bertemu di sini." Pak Anthony tersenyum dan memandang lurus ke arahku, akupun membalas senyuman beliau. "Maaf Pak. Sepertinya lebih baik kalau saya pulang sendiri saja." "Ayolah Annisa, tadi pagi kamu sudah setuju. Lagipula, rumah kita kan searah." "Saya khawatir ada omongan yang tidak enak nantinya Pak. Jadi sebaiknya saya pulang sendiri saja. Terima kasih tawarannya ya Pak." Aku berjalan meninggalkan Pak Anthony. "Annisa, tolong beri saya kesempatan untuk mendekati kamu." Aku membulatkan mata dan melihat sekeliling. Khawatir ada rekan kerja atau atasan yang mendengar ucapan Pak Anthony tadi. Akupun membalikkan badan kembali dan berjalan menghampiri beliau. "Maaf, tapi apakah Bapak sadar saat ini kita berada di mana? Saya khawatir orang yang melihat situasi saat ini dan mendengar ucapan Bapak barusan akan salah paham." "Saya tidak perduli Annisa. Saya hanya ingin mengenal kamu lebih dekat." Aku menarik nafas panjang dan mengangguk pasrah, "Baiklah, tapi saya hanya bisa mengizinkan Bapak mengantar sampai depan rumah. Saya belum bisa mengenalkan Bapak kepada keluarga saya. Terlebih jabatan Bapak jauh di atas saya." Pak Anthony tersenyum senang dan tangannya menyentuh pergelangan tanganku, akupun segera menepisnya. "Maaf, kita bukan mukhrim Pak." "Maaf Annisa, saya hanya terlampau senang. Ayo kita ke parkiran." Aku mengangguk dan mengikuti Pak Anthony dari belakang. Setelah sampai di parkiran, kamipun segera masuk ke dalam mobil Pak Anthony. Beliau sempat ingin membantuku mengenakan seat belt. Namun dengan cepat aku menolaknya. Sepertinya beliau cukup lama tinggal di luar negeri jadi kurang paham dengan etika kepada seorang wanita muslim. Saat kami sudah siap, Pak Anthony meminta izin untuk segera melajukan kendaraannya, akupun mengangguk menyetujuinya. Di perjalanan, Pak Anthony sering melihat dan memperhatikanku. Sebenarnya aku merasa risih dengan sikap beliau. Aku juga sempat mengingatkan agar beliau lebih fokus saat berkendara. Beliau hanya tersenyum menanggapiku. "Annisa, kita mampir makan dulu yuk!" "Maaf tidak bisa Pak, saya harus segera pulang. Anak-anak sudah menunggu." "Baiklah kalau begitu." Pak Anthony tersenyum. Dengan jarak sedekat ini wajah beliau terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya. Aku menunduk malu dan beristighfar. "Annisa." "Iya Pak?" "Bagaimana ya caranya agar kita bisa lebih santai? Kamu terlalu kaku saat berhadapan dengan saya. Apa itu karena kita baru kenal atau karena saya atasan kamu?" "Sepertinya cukup sulit Pak. Terlebih kedua alasan yang Bapak sebutkan tadi benar adanya. Terlebih saya.." "Saya apa Annisa? Kita sudah di luar jam kerja jadi jabatan tersebut sudah lepas dari kita berdua." "Saya tahu Pak. Saya hanya ingin mengingatkan kembali kalau saya adalah seorang single parents yang memiliki 3 orang anak. Saya seorang muslim dan saya masih memiliki trauma mengenai hubungan yang lebih dekat dengan seorang laki-laki." Aku tertunduk lesu. "Saya paham Annisa. Memang saat ini saya merupakan laki-laki yang belum memiliki keyakinanan. Tapi itu tidak masalah karena agama tidak penting bagi saya. Yang penting kamu Annisa, entah kenapa saya tidak bisa berhenti memikirkan kamu sejak pertama kita bertemu." "Maaf. Tapi bagi saya agama nomor 1 Pak. Dan kalau Bapak mendekati saya hanya karena bantuan saya kemarin, sepertinya Bapak salah paham dengan perasaan Bapak sendiri. Semua orang pasti akan membantu orang yang berada dalam kesulitan. Jadi saya harap Bapak tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang spesial."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD