3 - Anak

1516 Words
"Saya memang belum bisa menjelaskan detail ke kamu Annisa. Tapi ada getaran di hati saya yang membuat saya ingin selalu berada dekat dengan kamu." "Pak, saya memiliki trauma. Mantan suami saya adalah seorang laki-laki yang bisa dibilang memiliki hobi selingkuh. Bahkan saat kami baru menikah hitungan hari, dia sudah mulai berkenalan dengan perempuan lain. Dia laki-laki yang katanya sangat mencintai saya. Namun perlakuan dan tindakannya di belakang saya sangat bertolak belakang." Aku menunduk sedih. "Wajar kalau kamu belum bisa menerima perlakuan saya, kamu memiliki trauma yang cukup dalam Annisa. Tapi saya tidak akan menyerah, saya akan berusaha perlahan namun pasti untuk bisa lebih dekat dengan kamu." Pak Anthony memandang lekat ke arahku dan berusaha meyakinkanku. Aku tidak membalas ucapan beliau dan mengalihkan pandangan ke arah jendela. Saat sampai di depan rumah, aku mengucapkan terima kasih dan segera turun dari mobil. Akupun berjalan dan membuka pintu pagar. Saat aku melihat kembali ke arah mobil, Pak Anthony membuka kaca dan melambaikan tangan padaku. "Lain kali izinkan saya untuk bertamu ya Annisa." Aku hanya tersenyum menanggapinya. Beliau menutup kaca mobil kembali dan mulai melajukan mobilnya. Aku pun berbalik dan bergegas untuk menutup pagar. Tiba-tiba, Fatih anak pertamaku berlari menghampiri. "Assalamualaikum Bunda, aku kangen." Fatih memeluk erat tubuhku. "Bunda juga kangen sama Abang, Fatir, dan Fath. Abang udah makan, shalat, dan belajar?" Aku meregangkan pelukkan Fatih perlahan. "Udah dong Bunda." Aku mengacungkan jempol, "Bagus, alhamdulillah. Abang memang hebat dan pintar. Yuk masuk sayang." Aku menggandeng tangan Fatih lembut. "Bunda, di dalam ada Ayah. Tadi Ayah bawa donat kesukaan Abang, Fatir, dan Fath." "Alhamdulillah, Abang senang dong." "Iya Bunda, senang banget. Ayah juga bilang nanti akan tidur bareng Abang." Aku tersenyum, dan kami segera masuk ke dalam rumah. Sebenarnya ini adalah rumah impian kami dulu, saat itu Mas Hilman membelinya atas namaku dengan cara kredit. Jujur aku pasrah untuk rumah ini karena memang biaya cicilan rumah yang cukup tinggi dan tidak memungkinkan untuk aku membayarnya. Awalnya setelah kami bercerai, aku berniat untuk mengontrak rumah. Namun Mas Hilman meminta aku dan anak-anak untuk tetap tinggal di sini dengan cicilan rumah yang tetap menjadi tanggungannya. Katanya rumah ini memang milik aku dan anak-anak. Aku cukup bersyukur dengan hal tersebut, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengontrak rumah. Kebutuhan anak-anak pun masih ditanggung olehnya. Dan dia berjanji akan terus membiayai kebutuhan anak-anak sampai mereka dewasa dan cukup mandiri. Aku sendiri bekerja untuk diriku sendiri dan mengantisipasi segala hal. Karena saat ini Mas Hilman belum menikah lagi. Aku hanya khawatir jika dia sudah memiliki istri, semua akan berubah. Sama seperti hatinya yang terlalu mudah berubah. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Aku tersenyum saat masuk ke dalam rumah, dan kedua anakku Fatir dan Fath berlari menghampiriku. Mereka memelukku secara bergantian. Ketiga anakku memang sangat sayang dan cinta padaku begitupun denganku. Akupun menciumi mereka bertiga. Beberapa saat kemudian, Mas Hilman datang menghampiri. "Kamu pulang di antar siapa? Tadi aku lihat kamu di antar pakai mobil BMW The XM." Mas Hilman mengerutkan kening. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum tipis, "Beliau CEO di kantorku, kebetulan kami searah dan dia menawarkan untuk mengantarku pulang ke rumah." Aku mengalihkan pandangan ke anak-anak, "Fatih, Fatir, Fath, Bunda beres-beres, mandi, dan shalat dulu ya. Setelah selesai, Bunda akan segera kembali lagi dan main dengan kalian." Aku tersenyum. "Siap Bunda." Jawab mereka berbarengan. Aku bergegas ke kamar meninggalkan anak-anak bersama Ayahnya. Mas Hilman memandang lekat ke arahku. Sepertinya banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan namun aku memilih untuk menghindar karena khawatir akan membuat kami bertengkar di depan anak-anak. Setelah selesai, aku bergegas keluar dari kamar dan berjalan menghampiri anak-anak yang saat ini sedang bermain dengan Mas Hilman. "Fatih dan Fatir sudah mengerjakan PR?" "Sudah Bunda, tadi di bantu Ayah." "Alhamdulillah kalau begitu, tadi gimana di sekolah? Main apa aja?" Fatih dan Fatir bercerita bergantian, aku tersenyum mendengarkannya. Mereka sangat menggemaskan, aku sungguh cinta dan sayang dengan mereka. Akupun memeluk dan mencium mereka bergantian. Fath tidak mau ketinggalan, dia berlari menghampiri lalu mencium dan memelukku. Aku terkekeh melihat tingkahnya. Si gemas yang paling menggetarkan hatiku. Saat hamil Fath, banyak sekali masalah dan cobaan yang aku rasakan. Rasa sakit yang bertubi-tubi karena tingkah laku Mas Hilman yang sangat menyesakkan. Bahkan kehamilanku sempat bermasalah karena kondisiku yang tidak stabil. Syukurlah, Fath lahir dengan sehat tanpa kekurangan satu apapun. Dia juga tumbuh menjadi anak yang cerdas seperti abang-abangnya. "Annisa, aku mau bicara dengan kamu." "Mau bicara apa Mas? Kalau soal anak-anak, kita bicarakan nanti saat mereka sedang istirahat." "Ini soal kita." Aku menarik nafas panjang, "Fatih, Fatir dan Fath, ayo kita sikat gigi dan istirahat! Sudah larut malam. Kalian sudah shalat isya kan?" "Alhamdulillah sudah Bunda." Jawab mereka berbarengan. "Alhamdulillah, yuk!" Akupun bergegas membawa mereka bertiga ke kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu. Setelah selesai, aku menemani mereka tidur. Fatih, Fatir, dan Fath tidur di kamar yang sama dengan ranjang yang bersusun. Hal ini aku lakukan agar lebih mudah saat menemani mereka untuk tidur. Fath tidur di kasur paling bawah, Fatih di tingkat kedua, dan Fatir di kasur paling atas. Akupun mulai membacakan cerita dan berdoa untuk mereka. Setelah selesai, mereka mulai berdoa masing-masing. Saat mereka sudah tertidur, aku keluar dari kamar dan berjalan menuju kamarku. Aku tidur bersama Mama di kamar sebelah. Sedangkan Mas Hilman biasanya tidur bersama Fatih atau Fath. "Annisa, aku mau bicara dengan kamu." Mas Hilman menghampiri. "Mau bicara apa?" "Kamu sudah nggak cinta lagi sama aku?" Mataku membulat, "Kamu nggak salah nanya ini ke aku? Kita sudah bercerai Mas." "Aku tahu aku salah Annisa, tapi aku masih sangat cinta sama kamu." "Kalau kamu cinta sama aku, kamu nggak akan mungkin melakukan kesalahan berulang dan mengkhianati aku terus menerus Mas. Lagipula, hubungan kita hanya sebatas anak-anak. Aku sudah melepas dan mengikhlaskan kamu. Entah siapa yang akan menjadi istrimu nanti. Apakah itu seorang janda, perempuan single, atau mungkin istri orang." Aku terkekeh. "Dengan mereka aku hanya iseng Annisa, aku nggak ada niat serius. Cinta dan sayangku cuma sama kamu." "Sudah cukup Mas, toh hubungan kita sudah berakhir. Jadi, kita jalani hidup kita masing-masing." "Jadi kamu sudah mulai mencari pengganti aku?" "Aku tidak bisa memastikan hal tersebut. Maaf aku capek mau istirahat. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Aku bergegas masuk kamar tanpa melihat Mas Hilman lagi, rasanya sesak jika aku mengingat perlakuannya terhadapku dari awal pernikahan hingga kami bercerai. Tidak terasa air mata kembali menetes di pipiku. Ya Allah, kapan rasa sesak ini pulih. Aku menghapus air mataku sebelum masuk kamar karena khawatir Mama melihatnya. *** Saat aku dan anak-anak akan masuk ke dalam rumah, mobil BMW The XM yang pernah aku tumpangi berhenti di depan rumah. Aku menatapnya bingung, lalu Pak Anthony turun dari mobil sambil membawa beberapa paper bag dan berjalan menghampiriku dan anak-anak. "Assalamualaikum Annisa." "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Anak-anak memandang Pak Anthony dan beralih memandangku meminta penjelasan. "Anak-anak sholehnya Bunda, ini Om Anthony. Beliau adalah atasan Bunda di kantor." Anak-anak kembali menatap Pak Anthony, "Assalamualaikum Om." "Waalaikumsalam, boleh kenalan dengan kalian? Anak-anak sholehnya Bunda?" "Boleh dong Om." Jawab Fatih, Fatir, dan Fath bersamaan. Anak-anak mulai memperkenalkan diri satu persatu. Setelah selesai, aku mengajak Pak Anthony masuk ke dalam. Beliupun mengangguk sambil menyerahkan beberapa paper bag padaku. Akupun memberikan paper bag kepada anak-anak untuk dapat segera di bawa masuk ke dalam. "Aku boleh parkir di dalam Annisa? Ada beberapa paper bag lagi di dalam mobil." Pak Anthony nyengir. "Iya boleh Pak." Pak Anthony berjalan menuju mobil dan mulai memarkirkan mobilnya. Beberapa saat kemudian, beliau kembali keluar dengan membawa beberapa paper bag. "Ini Annisa." "Kenapa bawa barang banyak sekali Pak?" Aku mengerutkan kening. "Nggak banyak kok." Aku menarik nafas panjang, "Ya sudah, silahkan masuk Pak." Saat masuk ke dalam, anak-anak sudah menungguku dan meminta izin untuk membuka paper bag yang di bawa Pak Anthony. Pak Anthonypun mengangguk mengizinkan dan ikut bergabung bersama anak-anak untuk membuka paper bag tersebut. Akupun berjalan ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil cemilan untuk Pak Anthony. "Ada siapa Annisa?" "Pak Anthony Ma, beliau adalah atasan Annisa di kantor." "Lho, dia ngapain ke sini?" Mama mengerutkan kening. "Annisa juga kurang tahu Ma, tadi beliau juga bawa banyak barang untuk anak-anak." "Wah, jangan-jangan dia suka sama kamu." ledek Mama. "Apaan sih Ma." "Sini Mama bantu bawa cemilannya biar kamu nggak bolak-balik." "Makasih Ma." Aku dan Mama berjalan menuju ruang tamu. Aku tersenyum melihat Pak Anthony yang cukup akrab bermain dengan anak-anak. Bahkan anak bungsuku Fath, sedang asik naik di pundak Pak Anthony. Mereka sedang bermain sambil membuka beberapa paper bag yang berisi mainan. "Silahkan di minum Pak, dan ini cemilannya." Aku tersenyum. "Terima kasih banyak Annisa." Dia mengalihkan pandangan ke arahku. "Sama-sama Pak. Owh iya, perkenalkan ini Mama saya." Pak Anthony segera berdiri dan salaman kepada Mama. "Assalamualaikum Tante, maaf mengganggu Tante dan keluarga yang sedang beristirahat." "Tidak kok Pak Anthony, justru kami senang Bapak bisa datang kesini dan bermain dengan anak-anak." Pak Anthony tersenyum, "Maaf, jangan panggil saya Pak dong Tante. Saya belum terlalu tua kan?" Pak Anthony nyengir. "Tapi kan Bapak merupakan atasan Annisa di kantor." Mama mengerutkan kening. "Betul. Namun saat ini kita sedang di luar kantor Tante. Saya juga berniat untuk lebih dekat dengan Annisa dan keluarga." Mama membulatkan mata dan melihat ke arahku. Aku hanya terdiam tanpa menjawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD